Johale'S Destiny

Johale'S Destiny
Kekecewaan Johan



"Ayo, Hale. Cepat buka mulutmu lagi," rengek Malik entah telah keberapa kian kalinya.


Halsey berdecak seraya menggeleng keras. "Cukup, Malik. Aku sudah kenyang, jadi berhenti memaksaku," balasnya.


"Tapi, Hale ... kau harus makan banyak lalu minum obat setelahnya."


"Aku akan minum obat, Malik. Tapi untuk makan lagi, sudah cukup. Aku merasa hendak muntah," balas Halsey lagi seraya mendorong sendok di tangan Malik yang tadinya terulur.


"Sudahlah, Malik. Hale bisa muntah jika kau terus saja memaksanya," sahut Baila tanpa menoleh dengan matanya yang masih sibuk dengan layar ponsel. Gadis itu kini berbaring telentang di atas sofa panjang kamar Halsey.


"Iya, iya. Kalau begitu minum ini." Malik mengulurkan satu pil obat pada Halsey dan diterima cepat oleh Gadis itu.


"Sekarang tidur yang nyenyak, ya. Jika kau butuh sesuatu panggil aku saja, oke?" ujar Malik dengan tangannya terlurur menggetil pelan pipi Halsey.


"Terima kasih," balas Halsey tersenyum tipis.


Baila tampak bangkit dari posisinya kemudian berjalan menghampiri Halsey.


Cup!


"Cepat sembuh ya, Hale," ujarnya setelah berhasil mendaratkan kecupan di kening Halsey.


"Ini bahkan hanya flu biasa, Baila."


"Tetap saja tubuhmu sedang tak cukup sehat. Tidurlah. Selamat malam."


Baila pun menyusul Malik yang tadinya menunggu di pintu. Setelah menyaksikan kedua manusia itu menghilang bersamaan dengan pintu kamarnya yang tertutup, Halsey menegakkan posisi tubuhnya kemudian mengulurkan tangan meraih ponselnya di atas nakas.


Johan


Selamat malam, Sayang. 😍 Aku akan berkunjung ke mimpimu nanti.


21.35 PM


Entah sadar atau bagaimana, tapi bibir Halsey sontak saja melengkung tatkala mendapati pesan singkat itu. Ia lalu bergegas bangkit dari kasur kemudian melangkah menuju kamar mandi, niat membersihkan tubuh sekaligus berwudhu untuk menunaikan salat isya setelahnya.


***


Baru saja menepikan mobilnya di depan gerbang rumah keluarga Bamatara, Johan terpaku tatkala mendapati Hale-nya sudah berdua dengan sosok Pria di dalam mobil. Mereka mungkin tak menyadari hadirnya, bahkan setelah Pria itu sudah mulai melajukan mobil.


"Siapa sebenarnya Pria itu? Bukannya dia yang Reyhan dapati bergandengan tangan dengan Hale di mall dulu?" gumam Johan dengan pandangannya yang tak lepas dari mobil Pria tadi.


Drrrtt .... Drrtttt ....


Johan meraba saku seragamnya kemudian mengeluarkan ponsel dari sana. "Kenapa?"


"Jemput aku di rumah, ya, Sayang?" balas Alan dari seberang sana.


"Baiklah."


Setelah mengakhiri panggilan sepihak, Johan lekas masuk kemudian mendudukkan diri di jok lalu mobilnya perlahan ia lajukan.


***


"Kalian bisa saja saling jatuh cinta, Rey," sahut Alan seraya mengunyah isi mulutnya bersemangat.


Kini mereka sedang makan bertiga di kantin sekolah, tak lupa disebutkan Johan juga.


"Enak saja kau bicara. Bagaimana mungkin aku suka dengan gadis kecil begitu? Seragamnya saja masih putih-biru," balas Reyhan setelah melempar tisyu bekasnya pada Alan.


"Cinta itu tak kenal umur, Bodoh. Benarkan, Johan?" Alan menoleh pada Johan yang kini tampak mengunyah isi mulutnya lesu. "Johan? Kau kenapa diam saja sejak tadi?" tanya Alan lagi.


"Siapa kira-kira Pria itu?" tanya Johan nyaris berbisik dengan pandangan lurus yang sendu.


Ia memang belum pernah menemui Halsey hari ini. Bukan bagaimana, tapi ingin sibuk berpikir saja. Berpikir bagaimana menanyakannya baik-baik pada Halsey, agar hubungan mereka tak semakin kacau nantinya.


"Johan?" Itu suara Reyhan.


Johan menggeleng kemudian menyuapkan makanan ke mulutnya lagi.


"Jangan menyembunyikan apa-apa," sambung Reyhan datar.


Johan menarik napas panjang. Meraih beberapa lembar tisu, lalu mengelapkan pada setiap sudut bibirnya. "Pria yang hari itu kaudapati bergandengan tangan dengan Hale, aku melihatnya lagi hari ini," jelasnya kemudian.


"Apa? Di mana?"


"Dia mengantar Hale ke sekolah," balas Johan lagi.


Alan mencibir. "Pantas saja kau bergabung makan di sini," sindirnya.


Johan menoleh seraya melempar tatapan kesal. "Aku pusing, Alan! Kau tak akan mengerti bagaimana perasaanku sekarang," ujarnya terdengar frustrasi.


"Tanyakan baik-baik dulu saja," sahut Reyhan.


Johan mengangguk mengerti. Mungkin lebih baik sepulang sekolah saja.




Jam kosong membuat Halsey menghabiskan waktunya di taman sepanjang hari ini, sementara bel pulang telah berbunyi beberapa menit yang lalu. Jujur saja, ia mencari\-cari Johan, tapi nyatanya Pria itu tak kunjung datang padahal ia telah membawakan sekotak roti kesukaannya. Mungkin saja sedang tak ke sekolah.



Saat jarak Halsey tersisa beberapa meter lagi dari kelasnya, ia menyadari bahwa beberapa teman\-temannya telah beranjak pulang. Pintu kelasnya kini juga sudah tampak tertutup.



Halsey memandangi sebidang pintu itu beberapa saat kemudian mulai mendorongnya perlahan. Setelah berhasil terbuka, ia melangkahkan kaki masuk, namun betapa terkejutnya ia tatkala tubuhnya kini telah membentur pintu dengan Johan yang lansung mengungkungnya. Pria itu melilitkan tangan di pinggangnya sementara yang satunya lagi bertumpu di pintu.



"Joh\- JOHAN?! LEPASKAN AKU, BODOH! LEPAS\-"



"Aku rindu, Hale," potong Johan seraya menarik tubuh Halsey mendekat dengan tangan satunya lagi membelai lembut wajah Gadis itu.



"Jangan gila, Johan! Cepat lepaskan aku!" teriak Halsey lagi dengan tangannya yang berusaha mendorong tubuh Johan menjauh.



"Jangan bergerak\-gerak, Hale. Kau bisa membangunkan junior\-ku nanti," balas Johan dengan nada menggoda.



Plak!



Plak!



"Lepaskan aku!"



"Tidak."



"Lepaskan, Johan .... Lepaskan aku ...," pinta Halsey semakin meronta dengan suaranya yang kian bergetar.



Johan tersenyum lebar seraya menahan pergerakan Halsey. "Jangan salahkan aku jika junior\-ku ini membuatku khilaf, oke?"





"Jangan membuang tenagamu, Hale. Lebih baik kau letakkan tanganmu di pundakku saja," bisik Johan mulai menatap Halsey sendu. Bibir Pria itu tampak terangkat sedikit.



"Lepaskan aku, Johan ... hiks," pinta Halsey lagi. Isakannya benar\-benar berhasil lolos.



Sungguh ia tak mengenal sosok Pria di hadapannya itu. Johan memang kadang berucap mesum, tapi sampai mengungkung dan memeluknya sedekat itu belum pernah berani dilakukannya sama sekali. Terlebih setelah kini Johan mulai membelai rambutnya penuh hasrat, menyusuri setiap sudut wajahnya dengan tatapan intens, hingga ... Pria itu kini telah menatap matanya sangat sendu.



"Katakan padaku siapa Pria yang bersamamu ke sekolah tadi pagi," ujar Johan dengan sorot tatapannya yang kian berubah datar.



Halsey tetap diam menangis seraya balas menatap Johan takut.



"Jawab pertanyaanku, Sayang ...," pinta Johan lag. Terdengar lembut, tapi penuh kesan menakutkan.



"Johan ...? Hiks, hiks ...,"



"Katakan, Hale."



"Lepaskan, Joh\-"



"KATAKAN PADA\-"



"AKU BERSAMA TUNANGANKU! PUAS?!"



Tak ada lagi yang terdengar bersuara. Keduanya telah saling terdiam, dengan Halsey yang menangis terisak, dan Johan yang tampak membeku juga rahangnya yang mengeras. Perlahan, Pria itu terkekeh lalu kembali menatap Halsey.



"Apa kau tahu, Sayang?"



Halsey memejam takut tatkala merasakan Johan telah kembali membelai wajahnya.



"Aku membalas Fito itu ... karena dirimu. Tahu?"



Halsey masih betah memejam meski setelah tahu sebuah fakta yang berhasil mengejutkannya. Johan memang tak berbuat kasar padanya, tapi sungguh, Pria itu sekarang jauh lebih menakutkan dari orang marah mana pun.



"BUKA MATAMU!"



Setelah tersentak kaget, Halsey memberanikan diri membuka mata kemudian balas menatap Johan.



"Aku mencintaimu, Hale ...! Sangat."



"Aku tak ingin lagi kehilangan perempuan terkasihku untuk kedua kalinya ...!"



"Tapi kau ... kau menyakitiku, Hale. Rasanya sangat ...."



"Joh\-"



"Sssstttt ...!"



Halsey kembali membeku tatkala Johan meletakkan jari telunjuk pada bibirnya. Bahkan, ia menyaksikan Pria itu menelan saliva berat dengan tatapan yang masih terpaku pada bibirnya.



"Joh\-"



Johan kembali memandang Halsey sendu. Menyelami netra madu Gadis itu beberapa saat, kemudian berpindah lagi pada bibir memabukkannya. Jantung Halsey sudah berdetak sangat kencang. Terlebih setelah Johan menyapukan ibu jari pada bibirnya dengan sangat lembut yang penuh hasrat, kemudian kembali menatap matanya lalu berpindah pada bibirnya lagi.



"Sadar, Johan. Kumohon ...," lirih Halsey gemetaran.



"J\-Johan ...?"



"Joh\-"



Setelah menyadari Johan perlahan memajukan wajahnya, Halsey terpaksa memejam ketakutan dengan air matanya yang kembali mengalir deras.



Demi apa pun, jika Johan benar\-benar mencuri ciuman pertamanya hari ini, maka ... semuanya berakhir.



Ia akan membenci Johan setengah mati, bahkan mungkin tidak akan pernah sudi untuk melihat wajah Pria itu lagi.



Cup!



❀❀❀