Johale'S Destiny

Johale'S Destiny
Kisah Tragis



Johan tersenyum lembut setelah menyelesaikan lagunya. Iris coklat gelap Pria itu menyelami netra madu milik Halsey, kesukaannya. Yang selalu berhasil membuatnya jatuh cinta setiap saat, bahkan sudah hampir kecanduan.


"Suaramu indah," puji Halsey terdengar tulus.


Johan sedikit senang dengan pujian Halsey, tapi maksudnya adalah ..., tidakkah Halsey mengerti arti setiap penggalan lirik dari lagu yang ia nyanyikan? Sangat tidak mungkin Gadis itu tak pandai bahasa Inggris, kecuali karena ia memang hanya berusaha mengabaikan.


"Hale? Bisa aku genggam tanganmu?" tanya Johan serius, seolah tak mengindahkan ucapan Halsey.


"Tidak. Bukan mahram."


Johan mendengus. Bagaimanapun, mengungkapkan perasaan tanpa menyentuh tangan dan mengunci pandangan itu takkan terasa afdal. Tentu saja perlu, agar keduanya bisa saling merasakan, bahkan berbagi rasa gugup yang sama-sama menggerayahi.


Johan bangkit dari duduknya kemudian mengulurkan tangan pada Halsey yang kini memandangnya bingung.


"Ada apa?" tanya Halsey kemudian.


"Ayo, cepat. Ikut denganku."


"Ke mana?"


"Kuhalalkan kau sekarang juga, agar kita menjadi mahram dan aku bisa menggenggam tanganmu."


Halsey memutar bola mata kesal. "CK! Apa, sih?!" ketusnya sembari menyentak kasar tangan Johan yang masih betah terulur.


"Ayo, Hale ...!"


"Aku masih ingin berlama-lama di sini."


"Kalau begitu biarkan aku menggenggam tanganmu, Hale. Sebentaaaaaaaaa-"


Halsey menoleh cepat. "Sekali lagi kau bicara soal menggenggam tangan dan sejenisnya, aku akan pulang dengan jalan kaki sekarang juga!"


Johan mengusap wajahnya seraya mengerang frustrasi. Sialan mana yang berani menyebut situasi ini romantis? Ia bahkan benar-benar dibuat gila oleh Gadis di hadapannya itu.


"Duduklah, Johan. Jangan kekanak-kanakan," lanjut Halsey lagi.


Halsey kemudian mengalihkan wajah ke arah hamparan danau seraya menarik napas dalam. Johan yang menyaksikan betapa tak ada sedikit pun rasa bersalah yang nampak dari seorang Halsey merasa semakin geram.


Terakhir, tak ada hal lain yang bisa ia pilih selain kembali duduk dan menelusuk kemasan snack di pangkuan Halsey. Segera ia memasukkan segala yang berhasil diraih oleh tangannya ke dalam mulut dengan perasaan dongkol. Sangat tidak romantis!


***


Setelah mengantarkan Halsey ke rumahnya dengan keadaan sempurna tanpa lecet, kini Johan sudah berhasil tiba di apartemennya. Perasaannya benar-benar dongkol sekarang. Ia kira tempat itu sangat mendukung untuk ia mengungkapkan rasa, tapi ... rupanya berbanding terbalik. Halsey bahkan lebih jatuh cinta pada tempat itu dibanding dirinya yang manusia.


"Bagaimana romantisnya berduaan, Johan? Apa kau melakukan sesuatu dengan Hale di sana?"


Johan sedikit kaget dengan kehadiran Alan yang kini sudah tampak selesai mengacaukan barang-barang di apartemennya. Seperti hal baru saja kepulangannya selalu disambut dengan keberadaan Pria itu.


"Romantis apanya, Sialan?! Hale bahkan lebih jatuh cinta pada tempat itu dan tak mengindahkanku," balasnya kesal.


Alan tampak dramatis. "Ya ampun, sayang sekali, sih?! Padahal ..., aku sudah sangat menantikan wajah antusiasmu bercerita tentang kalian yang berpelukan, saling memandang, lalu bercium-"


"Tutup mulutmu, Sialan! Jangan samakan Hale-ku dengan mantan-mantan kekasihmu. Dia bukan gadis murahan yang selalu suka rela disentuh, bahkan tangannya!" Johan kembali membentak kesal.


Sementara itu, Reyhan juga muncul dari arah dapur dengan setoples popcorn di tangannya. "Kau benar-benar hampir dibuat gila o-"


"Aku sudah gila, Rey. Lagu tadi itu benar. Hale terlalu indah untuk menjadi nyata," potong Johan cepat dengan tampang siap menangis.


"Apa, sih, yang kurang dariku? Pria macam apa yang Hale sebenarnya cari? Aku bahkan sudah cukup mengerahkan bukti cintaku selama ini!"


Reyhan berdecak kesal. Memang, baru kali ini Johan terlihat begitu menyedihkan hanya karena seorang perempuan, sebab sepanjang sejarahnya pula, ini juga merupakan kali pertama ia merasakan jatuh cinta. Meski terdengar  tragis, tapi tetap saja Pria itu tugasnya membuat baper, bukan dibuat menangis hanya karena ditolak menjadi pacar. "Cukup, Johan! Sekarang mandilah. Kita akan ke kelab nanti malam."




Johan tampak memandangi wajah Halsey beberapa saat, kemudian berpindah mengeluarkan sesuatu dari saku seragamnya. "Aku suka rambutmu tergerai, tapi kalau begini, ia malah akan berbalik menghalangi paras cantikmu," ujarnya seraya menjepitkan jepit rambut tadi ke surai hitam Halsey.



Halsey yang bingung lalu meraba\-raba jepitan itu dengan tangan satunya yang bebas. "Mencuri di mana?" tanyanya.



"Aku membelinya selepas pulang dari kelab semalam," balas Johan sembari potongan roti yang ia masukkan ke mulutnya.



Seperti biasa, kedua manusia itu akan menikmati kotak bekal berisi roti yang dibawakan Halsey dari rumah. Sudah beberapa potong roti Johan ulurkan ke mulut Gadis itu, dan sebanyak itu pula tak pernah terjadi penolakan.



"Kelab? Bukankah sepulang dari sana kebanyakan orang akan mabuk?"



Johan mengangguk membenarkan. "Aku juga mabuk semalam, tapi ... itu tak menghalangi. Kau memenuhi isi kepalaku hampir setiap waktu."



Halsey hanya mencibir sebagai tanggapan. Kembali membuka mulut, membiarkan potongan roti yang entah sudah keberapa kali terulur mengisi mulutnya.



YES!



"Itu bekas gigitanku," bisik Johan tersenyum jahil.



"Kau memang sialan."



Johan kembali terkekeh. "Oh ya. Bagaimana olimpiademu?" tanyanya kemudian.



"Lancar."



"Tapi jangan terlalu keseringan belajar juga, Hale. Nanti kelewat pintar, kau bisa gila," ujar Johan seraya meraih buku di pangkuan Halsey kemudian meletakkannya di belakang tubuh.




"Aku serius. Jangan terlalu keseringan belajar, mengerti?" balas Johan tersenyum lembut seraya tangannya merapikan anak\-anak rambut Halsey yang bandel.



Halsey mendengus pelan. "Aku tidak punya hal lain untuk dikerjakan selain belajar."



"Aku akan mengajakmu ke tempat kemarin atau yang lebih indah lagi. Kau sudah terlalu pintar. Itu lebih dari cukup untuk membuat anak kita terlahir genius nantinya," celoteh Johan penuh kesan ceria.



Halsey berdecak malas. "Kau pasti berkhayal."



"Kita pasti menikah, Sayang ...."



"Aku tidak akan sudi. Kau bocah tengil!"



"Kau sangat sudi, dan aku memang bocah tengil yang tampan."



"Aku tidak suka Pria sespesiesmu."



Seketika Johan berseru dalam hati. "Kalau begitu beri tahu aku bagaimana pria idamanmu."



Halsey menoleh sekilas. "Kau, kan, hebat. Cari tahu saja sendiri!"



Tentu saja tidak sampai sehebat itu!



Johan merutuki dirinya sendiri karena telah bodoh mengatakan hal itu dulu. Sekarang, lihatlah! Halsey selalu mengingatkan kata\-katanya itu setiap kesempatan. "Terima kasih telah mengingatkan. Oh, ya. Aku pernah dengar sebuah cerita tentang seorang pria dan wanita yang saling mencintai tapi tak berakhir bahagia."



"Pria itu sangat tulus mencintai wanita\-nya. Wanita\-nya pun sama."



"Mereka saling mencintai, tapi yang berjuang hanya si pria saja. Setiap kali ia mengungkapkan perasaan, maka si wanita hanya akan menolak dengan kata\-kata pedas."



"Sebenarnya hanya untuk menguji, tapi karena kesabaran juga ada batasnya, si pria murka dan langsung menculik si wanita kemudian mengurungnya di sebuah gudang."



"Setelah berhari\-hari diperlakukan sebegitu lembutnya, si wanita tetap saja menolak mentah\-mentah. Itu membuat si pria kesal sekaligus putus asa, sebabnya ...."



"Jika kau tidak bisa mencintaiku, maka kau juga tidak akan kubiarkan mencintai siapa\-siapa. Jalan satu\-satunya hanya ... kau harus mati. Aku akan membunuhmu!" Johan seolah memperagakan secara nyata, kemudian berpindah menatap Halsey lagi.



"Kurang lebih seperti itu, hingga pada akhirnya, si wanita pun sekarat dan ia baru  jujur bahwa ucapannya selama ini hanya untuk sekedar menguji saja."



"Pria bodoh itu lalu menangis histeris dan ... tamat."



Halsey memutar bola mata seolah tidak peduli. "Jangan bilang kau ingin memperlakukanku sama, ya? Aku juga hebat membunuh jika kau tidak tahu!"



Johan mengangguk membenarkan sembari pandangannya yang ia lempar ke atas. "Bisa saja begitu, tapi ... sepertinya tidak mungkin. Melihat wanita lain disakiti saja aku tak bisa, apalagi menyakiti wanita yang kucintai dengan tanganku sendiri," jelasnya terdengar ... bercanda?



"Lagi pula, aku bukan Pria bodoh, kok. Perasaan itu butuh waktu untuk tumbuh, lalu mengapa musti buru\-buru? Bisa saja hari ini dia mengatakan tidak, tapi esok\-esok malah sebaliknya. Tak ada yang tahu, bukan? Tuhan itu Maha membolak\-balikkan hati."



Halsey langsung melirik Johan sekilas."Kusarankan untuk jangan menungguku," ujarnya.



Johan terkekeh pelan sembari satu kakinya yang ia letakkan di atas kaki lainnya santai. "Aku mencintaimu karena aku mencintaimu, bukan karena kau mencintaiku. Entah kau akan berbalik mencintaiku atau mungkin hanya mencipta sejarah jatuh sendirianku, aku tidak mau ambil pusing untuk peduli."



"Aku sudah terlanjur jatuh, dan sebelum itu juga, aku sudah bersiap akan segala kecewa, sedu, atau bahkan bahagianya."



"Aku tidak akan mundur, bahkan meski kauminta."



"Terkecuali ... kita jatuh cinta bersamaan. Aku mencintaimu, sedangkan kau juga tengah mencintai pria lain."



Johan membenarkan posisinya hingga menghadap Halsey langsung. "Aku hanya Pria yang tahan dengan sikapmu, Hale. Bukan tahan menahan cemburu."



❀❀❀