
"Jadi kau sudah pulang siang ini, ya?" tanya Halsey terdengar kecewa.
Malik mengangguk. "Aku akan kembali jika ada kesempatan, Hale. Selalu rindu, ya," balasnya seraya menggetil pelan pipi Halsey.
"Iya, Malik. Setelah kembali tetaplah begini, ya. Jangan berubah menyebalkan lagi." Halsey bergegas turun dari mobil Malik. Setelah menyaksikan mobil Pria itu kian mengecil, ia lalu berbalik kemudian mulai melangkah.
"Astaga ... yang benar saja, Rey."
"Aku serius. Meski setelah menghindar, aku tetap saja bertemu gadis itu. Makanya aku menggunakan kaca mata saja, dari pada harus membiarkannya membaca isi pikiranku. Itu sungguh hal paling sialan."
"Kurasa Alan benar. Bertemu tanpa sengaja bisa menjadi penyebab kalian saling menyukai nantinya."
Seketika Halsey memelankan langkahnya. Suara tadi ... suara itu ... itu milik Johan. Setelah mengangkat wajahnya, kini telah ia dapati tiga sosok Pria tengah berjalan beriringan ke arahnya.
Dari jarak beberapa meter, Halsey memandangi Johan yang tampak sangat asik berbicara dengan kedua sahabatnya. Apa Pria itu tak melihatnya, ya?
Tidak. Kini Johan telah balas menatapnya, tapi ... semuanya memang benar-benar berubah. Sejak dua hari terakhir, Johan tak lagi sama. Pria itu bersikap asing, seperti ... seperti mereka hanya saling mengenal, tak pernah begitu dekat. Ia tak lagi mengirimkan pesan selamat malam, menjemputnya lalu ke sekolah bersama, menemui atau bahkan menjemputnya di kelas lalu bersama-sama ke taman, dan ... bersikap manja atau berucap mesum seperti biasa, tak ada lagi. Semuanya berubah.
Bahkan ketika berpapasan, Johan hanya melempar senyum tipis padanya, dan itu ... itu sungguh terasa mengganjal perasaan Halsey. Seharusnya, di sini dia yang marah, bukan? Johan tidak berhak, dan harusnya Pria itu yang meminta maaf.
"Tidak. Ayo ke kantin dulu. Aku sedang lapar." Itu suara Johan.
"Aku masih membawakan kotak bekal rotimu, Johan. Tapi kau ... astaga. Kau benar-benar hanya melempar senyum tipis padaku?" Halsey membatin dengan langkahnya ia pacu lebih cepat.
Setelah tiba di taman, kini ia terduduk dengan pandangannya yang lurus tak berisi.
"Apa mungkin Johan menjauh karena jawabanku hari itu?" Halsey bergumam lalu menggeleng keras setelahnya.
"Dasar pria bodoh! Memangnya siapa juga yang sudi bertunangan di usia muda? Ah, sialaaan! Johan sialan!"
Andai saja bisa, ingin sekali rasanya ia menemui Johan lalu berteriak padanya saat itu juga bahwa ia hanya berbohong. Tapi ... jangankan begitu. Menyapa duluan saja ia sangat merasa tidak mungkin. Itu terlalu mustahil untuknya, sangat.
Halsey memutuskan untuk membuka buku tebal di tangannya saja. Memikirkan Johan sungguh hanya membuang-buang waktunya. Toh, sebelum pria itu datang, hidupnya juga berjalan baik-baik saja. Tidak akan kiamat sama sekali.
***
Bu Kesha telah meninggalkan kelas Halsey beberapa menit yang lalu. Meski bel pulang belum berbunyi, beberapa siswa telah berhambur pulang, begitupun dengan Halsey. Kini, Gadis itu tampak berjalan tenang seperti biasa.
Drrttt .... Drrrtt.
Setelah mengeluarkan ponselnya yang baru saja bergetar, Halsey perlahan mengetuk ikon telepon lalu mendekatkan benda itu ke kupingnya.
"Halo? Hale?"
"Ya, Baila?"
"Aku sudah di depan gerbang sekolahmu. Kutunggu di sini, ya."
"Baiklah. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Aku benar-benar minta maaf, Kak. Kau jadi terluka begini hanya karenaku."
"Jangan dipikirkan lagi."
Baru saja hendak memasukkan kembali ponselnya ke saku seragam, Halsey terdiam setelah mendengar suara percakapan yang terdengar dari ruangan UKS tadi. Jadi ... Johan telah mengulangi kebiasaan lamanya lagi? Mengapa Pria itu tak pernah kapok? Mengapa ucapannya tak ia dengarkan sama sekali?
"Hale? Itu bukan urusanmu lagi, mengerti?"
Setelah bermonolog dengan dirinya sendiri, Halsey kembali melangkah cepat hingga berhasil tiba di depan gerbang sekolah. Ia mendapati mobil Baila yang terparkir di tepi jalan, sebabnya ia kembali berjalan mendekat ke sana.
"Siapa yang menyuruhmu menjemputku?" tanya Halsey pada Baila setelah ia mentok duduk di jok samping kemudi.
"Hale?"
Halsey menoleh dan mendapati Baila tengah memandang ke suatu arah. Setelah mengikuti arah pandang Gadis itu, ia kemudian mengerti tapi hanya memilih bergegas memasang seatbelt-nya.
"Apa kau sedang ada masalah dengan Johan, Hale? Dan ... siapa Gadis yang berjalan beriringan dengannya itu?"
Halsey berdehem pelan. "Tidak tahu juga. Ayo, lajukan mobilmu," balasnya kemudian.
Baila menoleh lalu menatap Halsey dengan sorot sungkan. "Baiklah," balasnya seraya menyalakan mesin lalu mulai melajukan mobilnya pelan.
Sembari tetap fokus pada kemudinya, beberapa kali Baila melirik Halsey yang kini tampak memandang keluar jendela. Jika benar Johan telah membuat saudarinya itu bersedih atau sejenisnya, maka ia pastikan untuk menemui pria itu dan meminta penjelasan. Johan tak boleh berlaku seenaknya saja, terlebih setelah berhasil membuat Halsey merasa kehilangan begini.
"Berhenti melirikku begitu, Baila."
Baila tersadar. "Jangan-jangan ... kau ...."
"Aku tak ingin dengar kau bicara," sahut Halsey terdengar malas.
Baila terkekeh. "Ayolah, Hale. Kita ini saudari, bukan? Jika kau butuh seseorang untuk berbagi, aku akan selalu ada untukmu. Jangan pernah merasa sungkan, ya?"
Halsey menoleh lalu menatap Baila heran. "Apa yang sebenarnya kau bicarakan?"
"Maksudmu? Cemburu untuk apa?"
Baila berdecak kesal lalu melirik Halsey sekilas. "Jangan membohongi perasaanmu sendiri, Hale. Kau bisa menyesal," balasnya dengan nada serius.
Halsey kembali terdiam. Tak ada lagi percakapan yang terjadi setelahnya, bahkan setelah Baila membelokkan mobilnya hingga memasuki pelataran rumah keluarga Bamatara.
Keduanya kini berjalan beriringan menuju mulut rumah hingga telah menyusuri anak-anak tangga ke lantai dua.
"Ingat ucapanku tadi, Hale," bisik Baila lalu berlalu begitu saja.
Halsey terdiam beberapa saat kemudian melangkah masuk ke kamarnya. Jujur saja, omongan Baila masih terngiang-ngiang di telinganya. Tapi ... hingga kini ia belum juga bisa menerjemahkan perasaannya pada Johan. Semuanya masih terasa membingungkan.
Ceklek!
"BAILA?! Kau mengagetkanku!"
Tanpa mengindahkan teriakan Halsey, Baila tetap melangkah masuk lalu ikut duduk di sisi kiri Gadis itu.
"Aku ingin berbelanja, Hale. Tapi ... Sam sedang tak bisa menemaniku," jelas Baila kemudian.
"Lalu?"
"Temani aku, ya? Hale, ya?"
Dengan alis bertaut, Halsey menatap Baila heran. Ada apa dengan Gadis ini?
"Hale? Kumohon ...."
"Pergi dengan teman-temanmu saja, Baila. Aku sedang tak mood untuk ke mana-mana," balas Halsey sembari bangkit berdiri lalu mulai mengganti pakaiannya.
Baila merebahkan diri ke kasur begitu saja. "Aku sedang tak punya teman, jadi pergi denganku, ya, Hale? Kumohon, Hale ...," pintanya seraya mengguling-gulingkan tubuh di atas kasur.
"Jangan mengacaukan tempat tidurku, Baila!" teriak Halsey mulai kesal.
"Kalau begitu pergi denganku, ya? Oke?"
Halsey menoleh lalu menatap Baila beberapa saat. "Baiklah. Tapi setelah aku makan dulu," balasnya kemudian.
Baila beranjak cepat dengan wajah riang lalu berlari menghampiri Halsey. "Terima kasih, Hale!"
Cup!
Setelah mendaratkan kecupan singkat di pipi kanan Gadis itu, Baila berlari keluar dari kamar Halsey hingga lupa menutup pintu kembali.
"Ck! Ada apa, sih, dengannya?" gumam Halsey kesal sembari melangkah lalu merapatkan pintu kamarnya.
***
Setelah membelokkan mobilnya ke pelataran sebuah pusat perbelanjaan, kini Baila dan Halsey masing-masing turun hingga bertemu di bagian depan mobil. Mereka lalu berjalan beriringan memasuki pintu utama mall, dan berpapasan dengan banyak orang yang juga berpenampilan high class.
"Pokoknya jangan lama-lama, ya, Baila."
Baila menoleh lalu menatap Halsey jemu. "Kau sudah mengatakannya sebanyak tujuh kali, Hale. Aku tidak tuli, oke?"
Setelah beberapa lama berjalan, mereka kini mampir di sebuah toko pakaian bermerek.
"Aku ingin membeli dress, Hale. Sekalian untukmu juga, ya. Aku yang bayarkan," sahut Baila di sela-sela kesibukannya memilah-milah.
"Baiklah."
Halsey mulai ikut sibuk memilih dress yang sesuai dengan modelnya, hingga setelah beberapa lama, mereka selesai.
"Apa kau ingin membeli sesuatu lagi?" tanya Baila setelah mereka berdua telah kembali berjalan beriringan.
Halsey menoleh. "Kurasa tidak."
"Jadi kita hanya kemari untuk membeli ini saja? Ya, ampun, Hale."
"Kau sudah berjanji untuk tidak lama, 'kan? Ayolah. Aku sudah lapar," balas Halsey tampak malas.
Baila mengerucutkan bibirnya kesal. Inilah mengapa ia kadang menyesal pergi bersama Halsey. Sangat menyebalkan!
'Drrrt ... Drrrt'
Baila merogoh ponselnya yang baru saja bergetar singkat. Sembari tetap berjalan, ia mengeluarkan benda pipih itu kemudian mengamati isi pesan yang tertera di balik layar.
"Baila? Kau ingin makan, 'kan?"
Suara Halsey menyadarkan Baila, hingga dengan cepat, Gadis itu kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas dan menoleh pada Halsey.
"Hah? Um ... baiklah, Hale. Tapi setelah itu, aku ingin membeli sesuatu yang lain lagi," balasnya kemudian.
❀❀❀