Johale'S Destiny

Johale'S Destiny
Berangkat Berdua



Kring ... kring!


Dengan mata yang masih terpejam, Halsey mengulurkan tangannya ke arah benda itu hingga suara nyaringnya berhenti terdengar. Ia pelan-pelan membuka mata, pelan-pelan bangkit hingga tubuhnya terduduk.


Kemarin, Halsey selesai menyucikan diri, sebabnya ia sengaja bangun lebih awal karena hendak menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim.


Setelah beberapa menit mengumpulkan kesadaran, ia perlahan bangkit hendak mandi dan lanjut berwudu setelahnya.


Halsey keluar dari kamar mandi dan segera meraih mukena juga sajadah lalu mulai menunaikan salat. Ia menyempatkan untuk salat sunnah dua rakaat lebih dahulu, lalu salat fardu subuh dua rakaat, kemudian membaca Alquran.


Setelah selesai, Gadis itu beranjak dan bersiap untuk ke sekolah. Ia menyempatkan untuk menengok ponsel berlogo apel miliknya lebih dulu dan langsung menemukan sebuah pesan di sana.


+62xxxxxxxxxxxx


Selamat malam, Calon Pacar! Aku akan berkunjung ke mimpimu nanti, dan jangan lupa besok kita berangkat ke sekolah bersama. Balon cinta di udara.❣


21.35 PM


Halsey melirik waktu dikirimkannya pesan itu. Benar-benar tepat pukul 21.35 menit!


Ia seketika tersadar, hingga dengan gerakan kilat, ponselnya langsung ia lempar kasar ke atas kasur.


"Astaga! Sudah pukul 05.12! Aku harus lebih cepat atau Johan akan datang lebih dulu dan memanfaatkan ayah agar bisa berangkat denganku!"


Dengan gerakan yang lebih cepat, Halsey segera mengenakan seragamnya. Memoleskan bedak tipis di wajah, kemudian sedikit pelembab juga di bibirnya.


Seperti biasa, rambutnya yang hitam pekat lurus nan tebal itu dibiarkan tergerai hingga tulang belakang. Setelah dirasa cukup, ia kemudian menyiapkan buku lalu memasukkan ke dalam tasnya begitu saja.


Selesai, dan Halsey mulai berjalan menuju pintu kamarnya kemudian menyusuri anak-anak tangga hingga tiba di lantai satu.


"Sayang? Kau ke sekolah lebih awal?" tanya Shiren langsung. Wanita itu tampak sedang menyiapkan sarapan.


"Iya, Bu. Apa masih lama sarapannya siap?"


"15 menit lagi, Sayang."


Halsey melirik jam dinding yang kini sudah menunjukkan pukul 06.07 menit. Baiklah, tak apa menunggu lagi. Johan pasti masih tidur sekarang, jadi tidak mungkin ia bisa tiba lebih cepat lalu mereka akan berangkat ke sekolah bersama. Sungguh, membayangkannya saja sudah membuat Halsey hendak mati.


Mahesa tampak muncul dari balik kamarnya kemudian berjalan mendekat ke meja makan. Beberapa detik setelahnya, Baila juga ikut muncul dari balik tangga hingga mentok duduk di kursi samping Halsey.


"Kau sudah lama di sini?" tanya Baila sembari melirik Halsey sekilas.


"10 menit lebih awal."


Shiren sudah muncul dari balik dapur dengan sebuah piring berisi roti di tangannya. Tanpa menunda, Halsey segera beranjak dan meraih miliknya. Mencomotnya cepat, tanpa peduli dengan tatapan-tatapan heran yang tertuju padanya.


"Hale? Mengapa buru-buru sekali, Sayang?" tanya Mahesa heran.


"Tapi pelan-pelan saja, Hale. Lagian sekolahmu sekolah mahal, kan? Piket bukan jadi tugas para pelaj-"


"Assalamualaikum!"


Setelah membulatkan mata lebar-lebar, Halsey langsung terbatuk-batuk hebat.


"Ya ampun, Sayang?! Sudah Ayahmu bilang jangan terlalu buru-buru. Ini minum," tegur Shiren panik, seraya mengulurkan segelas air untuk Halsey dan diraih cepat oleh Gadis itu.


"Waalaikumsalam," balas Mahesa dan Baila bersamaan.


"Johan? Ayo, sarapan bersama," lanjut Mahesa lagi.


Johan tersenyum sopan seraya melangkah mendekat ke meja makan. Pria itu duduk tepat di seberang Halsey dengan santainya.


"Aku harus segera berangkat!" teriak Halsey panik sembari langsung bangkit dan menghampiri Mahesa juga Shiren.


"Johan belum sempat sarapan, Sayang. Tak bisa kau menunggu sebentar lagi?" tanya Shiren membiarkan Halsey mencium punggung tangannya.


"Tidak perlu, Tante. Aku sudah sarapan, kok," sahut Johan sambil ikut berdiri dan melakukan hal yang sama seperti Halsey.


"Tidak, Bu! Johan pasti berbohong. Kau lebih baik sarapan dulu, Johan. Aku akan berangkat sekarang!" sela Halsey cepat.


"Tentu saja aku tidak berbohong, Hale. Aku kemari memang untuk menjemputmu agar kita berangkat ke sekolah bersama," elak Johan juga.


Shiren melirik Mahesa. Seolah tengah bercakap-cakap lewat tatapan mata, keduanya sama-sama tersenyum. "Kau berangkat dengan Johan saja, Sayang. Lagi pula kalian terlihat serasi-"


"Demi kucing mana pun yang orang-orang sebut imut itu, aku tidak berpacaran dengannya, dan itu tidak akan pernah terjadi!" potong Halsey berteriak hingga semua orang dalam ruangan itu sontak tertawa bersama.


"Ya, ampun, Hale!" ujar Baila masih dengan sisa-sisa tawanya.


"Baiklah. Kalian berangkat ke sekolah bersama sebagai teman saja, tidak lebih. Benar begitu, kan?" Shiren melirik Mahesa.


"Tentu saja, Sayang. Kalian berangkat bersama saja," sahut Mahesa membenarkan.


Hancur sudah harapan Halsey. Semua perjuangannya ... hanya sia-sia. Bangun lebih awal, bahkan hingga tersedak hanya karena buru-buru, semuanya hanya sia-sia. Sungguh sia-sia!


Johan menyempatkan berpamitan lagi, kemudian langsung berlari menyusul langkah Halsey.


"Aku akan membuat kita sama-sama terbiasa, Hale. Kau terbiasa dengan kehadiranku, dan aku terbiasa dengan sikapmu. Ini jalan satu-satunya agar kita bisa dekat, jadi maafkan aku jika terus membuatmu kesal," batinnya.


Johan membuka pintu mobil dan mendaratkan bokongnya di jok kemudi. Pelan-pelan, ia melajukan mobilnya. Membelah embun yang tampak mewarnai udara, karena waktu yang memang masih cukup pagi.


❀❀❀