
"Iya, Sayang. Anggap saja aku tak pernah mendengar ucapanmu tadi, ya? Ayo. Aku sudah sangat lapar." Johan memeluk bahu Halsey dari samping kemudian menuntun Gadis itu menuju dapur.
"Jangan modus menyentuhku! Kita hanya sedang berdua di sini!" bentak Halsey sembari menepis kasar lengan Johan dari bahunya.
"Aku memang mesum, Sayang, tapi menyentuhmu sebelum waktunya juga tak mungkin kulakukan. Aku akan menuntutnya setelah benar-benar berhak nanti. Karenanya, kau harus bersiap dari sekarang, ya? Em ... kurasa setiap hari cukup. Aku tak mau jika kau malah kesakit-"
Plak!
"Aku akan pulang sekarang jika kau masih mengucapkan hal-hal begitu!"
Johan terkekeh seraya mengusap pipi kanannya pelan. "Setelah kita menikah nanti, kau bebas menamparku sepuasmu, begitupun aku," balasnya kemudian.
"Kau ingin menamparku juga?"
"Hm. Tapi dengan bibir," balas Johan santai sembari menangkap tangan Halsey yang baru saja hendak menamparnya lagi. Ia kini mengecupi tangan Gadis itu berkali-kali. "Setelah menikah saja, Sayang. Masa hanya kau terus yang menamparku? Kalau sekarang, kan, aku belum bisa menciummu dengan bebas."
"Johan? Ayolah. Berhenti mengucapkan hal-hal begitu!" Halsey membalas dengan nada yang malas.
"Iya, Sayang. Iya. Aku hanya bercanda, oke?"
Johan mengikatkan celemek pada Halsey yang kini sudah memunggunginya. Ia memilih tak menggunakan benda itu saja, merepotkan katanya. "Jadi ... apa yang akan coba kita buat?" tanyanya sembari menatap Halsey antusias.
"Kurasa menu yang simpel saja. Bagaimana dengan nasi goreng? Itu tidak terlalu sulit."
Johan tampak berpikir. "Baiklah. Kurasa cocok."
Keduanya sudah tampak bersiap. Halsey mulai mengupas bawang, sementara Johan menyiapkan cobek.
"Bawang putih dua siung saja, Sayang. Kita akan makan sepiring berdua, 'kan? Biar lebih romantis," ujar Johan sembari memandangi Halsey. Tangannya terulur menyelipkan anak-anak rambut Gadis itu ke belakang kuping. "Apa kau tak ada penjepit rambut, Hale? Rambutmu mengahalangiku."
"Berisik! Diam kau!"
"Cepat tumbuk bahannya sekarang!" lanjut Halsey lagi.
Johan menurut dengan bibirnya yang mengerucut kesal. Mungkin beginilah nasib jika mencintai manusia mahal. Kau harus selalu siap untuk kecewa.
"Johan? Aw! Mataku terasa panas!" Halsey langsung mengibas-ibaskan keras tangannya di depan wajah.
Johan yang menyaksikan itu seketika panik dan langsung saja memegang kepala Halsey dengan kedua tangannya. "Sini, Sayang. Aku tiupkan, ya?" teriaknya sembari mulai meniupi mata Halsey yang sudah tampak berair.
"Bawang sialan! Aku saja belum pernah membuatnya menangis, dan kau malah seenaknya di situ? Sini, Hale. Mendekatlah." Johan terus meniupi mata Halsey, bahkan tangannya beberapa kali mengusap lelehan yang mengalir di pipi Gadis itu. "Apa sudah mendingan?" tanyanya kemudian.
Halsey mengerjap beberapa kali hingga akhirnya ia mengangguk.
"Kalau begini aku saja yang membuat nasi goreng. Kau duduk di sini lalu pandangi aku, oke?" lanjutnya lagi.
"Tidak, Johan. Kita akan membuatnya bersama-sama," balas Halsey sembari bangkit berdiri.
"Jangan, Sayang. Kalau nasi goreng, aku masih bisa membuatnya sendiri. Terkecuali untuk membuat anak kita nanti sudah jelas tak bisa jika tanpamu."
"Tidak, aku serius. Kita akan membuat-"
"Ssst! Duduk diam saja, oke?"
Cup!
Setelah mendaratkan kecupan singkat di kening Halsey, Johan sudah mulai tampak sibuk dengan masakannya.
"Johan?"
"Iya, Sayang?"
"Maafkan aku, ya. Mengupas bawang saja sudah tidak becus."
Johan menoleh sekilas. "Hale? Jangan dipikirkan."
"Aku janji akan belajar memasak, Johan. Jadi lain kali, kau yang tinggal duduk sepertiku," ujar Halsey terdengar mantap dan bersemangat.
Johan kembali menoleh seraya melempar senyum lembut. "Iya, Sayang. Sekarang kau tersenyum, ya? Aku harus fokus agar hasilnya bisa memuaskan."
Halsey mengangguk lalu memasang senyum manis. Ia memandangi wajah serius Johan dari posisinya. Pria ceria yang hobinya bercanda dan berucap mesum itu terlihat sangat lucu, bahkan menggemaskan.
Setelah beberapa lama, Johan merasai nasi goreng buatannya yang sudah tampak jadi. Astaga, wajah serius itu.
"Hale? Apa menurutmu ini sudah pas?" tanyanya sembari menyuapkan sendok bekasnya tadi pada Halsey.
Halsey membuka mulutnya lalu ikut mencecapi. "Johan? Ini enak sekali," kagumnya.
"Benarkah? Tapi buatan Rey bisa lebih enak dari ini, kok."
"Yang jelas buatanmu jauh lebih enak dariku. Kurasa itu sudah cukup," balas Halsey mantap.
Johan mengangguk. Detik berikutnya, ia mulai menuangkan nasi goreng buatannya tadi ke atas piring dan berpindah menatap Halsey.
"Sudah jadi, Sayang," ujarnya riang.
Halsey mengangguk senang dengan senyum di bibirnya yang mekar.
"Kita memakannya di taman belakang saja, ya? Kau pasti suka suasananya," lanjut Johan lagi.
"Iya, ayo!"
Sembari membawa nampan berisi teko dan gelas di tangannya, Halsey mengekori langkah Johan hingga keduanya berhasil tiba di taman belakang rumah. Suasananya memang sangat nyaman. Angin yang berhembus pelan membuat udara terasa hangat kala dihirup.
Johan tampak berjalan mendekat ke arah ayunan besi di sisi kanan taman. "Ayo, duduk di sini," pintanya sembari menepuk-nepuk sisi kanannya.
Halsey menurut lalu ikut mendaratkan bokongnya tepat di sisi kanan Johan. "Biar aku yang menyuapimu," sahutnya kemudian.
Johan terkekeh pelan lalu mengulurkan piring yang tadi ia pegang pada Halsey.
"Apa aku tampan?" tanyanya sembari membuka mulut.
Halsey ikut menyuapkan sendok tadi ke mulutnya kemudian menggeleng.
"Apa senyumku menawan?"
Halsey kembali menggeleng.
"Tidak tahu."
"Apa kecupanku mencandukan?" Johan kembali membuka mulutnya dengan tatapan yang tak pernah lepas dari Halsey.
"Nope."
"Aku tidak tampan, senyumku tidak menawan, dekapanku tidak hangat, kecupanku juga tak mencandukan, lalu apa lagi? Ah, iya." Johan berceloteh seraya kembali membuka mulutnya.
"Apa kau mencintaiku?"
"Tidak."
"Baik. Aku menganggap semuanya adalah 'iya'," ujar Johan kemudian.
"Kenapa begitu?" tanya Halsey.
"Segala jawaban perempuan itu adalah kebalikan dari maksud yang sebenarnya. Aku hanya berusaha peka," balas Johan santai.
Halsey tak menanggapi. Gadis itu tampak sibuk menyuapi Johan, sangat persis seperti seorang ibu menyuapi putranya. Astaga.
"Aku ingin minum, Hale."
Halsey menuangkan air pada gelas kemudian mengulurkannya pada Johan. Pria itu menerimanya cepat, meneguknya setengah, lalu ikut membantu Halsey minum.
"Aku sudah kenyang, Hale."
"Baiklah. Aku akan membawa ini masuk," balas Halsey sembari bangkit berdiri dan berlalu dari hadapan Johan.
Bukannya tetap diam menunggu, Johan malah mengekori Halsey hingga keduanya tiba di kitchen sink.
"Kau ingin apa, Sayang?"
Halsey menoleh sekilas sembari mulai menyalakan keran air. "Mencuci piring. Kau sebaiknya tunggu di luar saja."
Johan menggeleng pelan. "Kalau aku rindu bagaimana? Aku akan tetap di sini, memandangimu sepuas hati."
Halsey tak menanggapi. Gadis itu kini tampak sibuk mencuci piring dan gelas sebuahnya. Benar-benar saling melengkapi.
"Hale?"
"Hm?"
"Apa aku mencintaimu?"
Sontak saja Halsey menoleh dan menatap Johan bingung. "Pertanyaan bodoh."
Johan terkekeh. "Aku akan mengambil sesuatu di atas. Tunggu sebentar, ya."
Halsey hanya mengangguk. Setelah cucian piringnya selesai, ia kemudian menumpukan tubuhnya di pinggiran kitchen sink lalu menunggu Johan kembali.
"Calon istri yang setia." Suara Johan terdengar, bersamaan dengan sosoknya yang muncul. Ia tampak menenteng sebuah gitar berwarna kecoklatan di tangan kanannya.
"Kau ingin bernyanyi untukku?"
"Iya, Sayang. Ayo."
Johan menggenggam tangan Halsey lalu menuntun Gadis itu menuju taman belakang rumah.
"Jangan menyentuhku sembarangan, Johan. Aku sudah bilang tadi," ujar Halsey mulai kesal lagi.
"Iya, Hale. Aku refleks," balas Johan kemudian.
Setelah tiba di taman belakang, ia melangkah mendekat ke arah pohon mangga yang berada tepat di ujung taman. Halsey mengerutkan keningnya bingung. Mau apa Johan di pohon mangga itu? Padahal sedang tak berbuah.
"Kau mau apa, Johan?" tanyanya kemudian.
"Kita akan naik ke pohon itu," balas Johan santai.
Halsey menggeleng cepat. "Tidak mau! Memangnya untuk apa kita memanjat pohon begitu?"
"Kau pasti suka, Hale. Ayo cepat naik."
"Tidak mau, Johan. Aku takut!"
"Takut apa, Sayang?"
"Aku takut jatuh."
Johan terkekeh pelan. "Aku bersamamu, oke? Kau tidak akan jatuh."
"Tidak mau. Kau naik saja sendiri," balas Halsey berusaha menolak.
"Kalau begitu aku yang akan naik lebih dulu, jadi setelahnya aku tinggal menarikmu. Bagaimana?"
Lagi-lagi Halsey menggeleng keras. Kakinya bahkan berjalan mundur.
"Hale? Aku bersamamu, Sayang. Kau tidak akan terjatuh. Pegang ini, ya?"Johan mulai memanjat ke atas pohon hingga berhasil tiba di atas. Ia langsung berpegangan pada dahan terdekat, kemudian kembali menoleh ke bawah. "Ulurkan gitarnya kemari, Sayang," pintanya sembari mengulurkan tangan pada Halsey.
Halsey hanya terdiam memandangi tangan Johan. Jujur saja, ia sedikit takut dengan ketinggian. Bagaimana jika tiba di atas, dan pandangannya tak sengaja jatuh ke bawah, lalu tubuhnya akan mengeluarkan keringat dingin, kemudian terjatuh bebas hingga membentur tanah? Memang tidak terlalu tinggi, tapi tetap saja rasanya pasti sakit.
"Hale? Apa yang kau pikirkan?"
Seketika Halsey mendongak ke atas kemudian menatap Johan ragu. "Bagaimana jika aku terjatuh? Pasti sangat sakit, Johan," ujarnya pelan.
Johan terkekeh. "Kau bersamaku, Hale. Ayo, Sayang. Cepat ulurkan gitar itu kemari."
Setelah berhasil meletakkan gitar tadi di dahan sampingnya, Johan langsung mengulurkan tangannya pada Halsey yang masih tampak memandang ragu. "Ayo, Hale. Aku bersamamu, Sayang," ujar Johan lagi.
Perlahan, Halsey menerima uluran tangan Johan. Setelah berhasil tiba di atas, langsung saja ia mencengkeram kaos tipis Pria itu erat sambil memejam takut. Johan kini memandanginya dengan senyum lembut, bahkan tangan kekarnya telah melilit pinggang Halsey erat.
"Aku baru ingat bahwa kau Pria mesum sialan yang suka modus," bisik Halsey terdengar geram.
❀❀❀