
Lagi-lagi dengan sebuah buku tebal, Halsey tampak berjalan menuju tempat paling favoritnya dalam lingkungan sekolah. Bu Liana yang mengisi kelasnya setelah jam istrahat sedang ada keperluan, sebabnya ia memilih untuk menepi dan menyisihkan diri dulu dari ricuhnya kelas.
Baru saja langkahnya tiba di taman, ia sudah mendapati sosok Johan yang sudah duduk nyaman di bangku dengan wajah menyebalkannya seperti biasa. Dasar Pria tengil!
"Hai~" sapa Johan genit sembari sebelah matanya yang ia kedipkan.
Halsey tak sudi lebih lama, sebabnya, ia langsung berbalik pergi dan berlalu dari sana.
"Kau tidak harusnya bersikap demikian pada calon pacarmu, Hale ...."
Halsey tetap bersikap acuh tanpa mengindahkan Johan yang sudah kembali mengiringi langkahnya.
"Aku penasaran tentang semakin cantiknya wajahmu saat kau tersenyum," celoteh Johan lagi. Kedua tangan tampak ia masukkan ke saku celana.
"Aku berharap akan menjadi Pria pertama yang bisa membuatmu tersenyum, tertawa sangat lebar. Jika itu benar-benar terjadi, maka aku sudah harus merasa sebagai Pria paling beruntung di bumi karena telah dikirimkan Gadis sepertimu."
"Bisa diam, tidak?!" Halsey sudah berbalik menatap Johan geram, tanpa peduli jika beberapa pelajar sudah menyaksikan mereka dengan raut geli bahkan hingga terkekeh.
"Oh, sial! Aku tidak pernah melihat orang marah hingga bisa secantik dirimu, Hale. Demi apa pun, kau sang-"
Plak!
Bukan di wajah Johan, tapi di tangan Pria itu yang baru saja berniat mencubit hidungnya. "Jangan menyentuhku sembarangan, mengerti?!"
"Aaaaa! Kau imut sekali, sih, Hale?!"
"Sinting!"
Halsey memilih berlalu saja sebelum emosinya benar-benar meluap hingga ia khilaf membunuh anak orang. Sungguh, ia bisa menjadi orang paling menakutkan saat sedang marah, terlebih dengan kemampuan hebatnya melontarkan sarkasme itu.
"Aku akan mengantarmu hingga ke kelas dulu."
"Aku tidak dengar!"
Johan tak lagi membalas seperti biasa. Bahkan, air wajahnya tak lagi terlihat semenyebalkan tadi.
Mereka kini berjalan beriringan dalam keadaan senyap. Membiarkan suara-suara berbisik itu mengiringi langkah keduanya hingga tiba di depan kelas Halsey.
"Aku akan menjemputmu nanti dan kita pulang bersama," ujar Johan seraya langsung mencekal tangan Halsey hingga langkah Gadis itu tertahan.
"Jadi maksudmu aku harus membuang mobilku lalu pulang denganmu, begitu?" balas Halsey tajam.
"Baiklah. Mungkin tidak untuk hari ini. Aku harus ke kelas dulu, dan ... aku menyukai namamu. Dan mungkin nanti kau juga."
***
Halsey tampak baru saja selesai memarkirkan mobilnya di garasi rumah. Setelahnya, ia kembali melanjutkan langkah dengan gontai hingga berhasil tiba di pintu utama.
"Assalamualaikum."
Baila dan Sam yang tengah duduk berdua di sofa sambil menonton TV sontak menoleh bersamaan. "Waalaikumsalam. Sudah pulang?"
Halsey mengangguk pelan. "Seperti yang kaulihat." Pandangannya ia alihkan ke arah Sam yang kini juga tampak ikut memandangnya seolah hendak melempar senyum namun juga ragu-ragu. Halsey yang menyadari itu berbalik cepat. Mulai berjalan menyusuri anak-anak tangga, hingga kini ia sudah berhasil tiba di kamarnya.
Hari ini hari yang berat, dan membaca buku adalah satu-satunya metode agar penatnya reda.
Pelan, Halsey mendaratkan bokongnya di tepi kasur kemudian mengeluarkan sebuah novel yang baru saja dibelinya sepulang sekolah tadi. Tubuhnya kemudian bangkit berdiri hendak mengganti pakaian, namun ponselnya yang berdering membuatnya sontak mengurungkan niat.
Deretan nomor dengan label 'kontak tak dikenal' tertera di balik layar. Halsey menggeser ikon telepon lalu mendekatkan benda pipih itu ke kupingnya perlahan.
"Assalamualaikum, Halo?"
"Hai~"
"Siapa?"
"Calon pacarmu, Hale. Johan."
Air muka Halsey seketika berubah. Benar juga. Bagaimana bisa ia tak mengenali suara Pria sinting itu? "Dari mana kau mendapatkan nomor ponselku?"
"Ya ampun, Hale-ku. Kau harusnya tahu bahwa calon pacarmu ini adalah seorang yang hebat."
"Maksudmu?!"
"Bukan hanya nomor ponselmu. Aku bahkan tahu di mana rumahmu, nama ayahmu, ibu dan saudari tirimu, tanggal lahirmu, makanan kesukaanmu, bahkan hingga ukuran bra-"
"Berhenti menghubungiku, Johaaaannnn!"
Tett!
Halsey memutuskan sambungan telepon sepihak dengan perasaan kesalnya yang sangat membuncah. "Pria itu benar-benar kelewatan, deh. Aku merasa hidupku penuh gangguan, sekarang," omelnya seraya bangkit dan bergegas mengganti pakaian.
❀❀❀