Johale'S Destiny

Johale'S Destiny
Nasi Goreng



Seperti biasa, Halsey sudah tampak bersiap tidur sekarang. Tujuh menit lagi jam tidurnya akan tiba. Itu artinya, Johan juga akan mengiriminya pesan dalam waktu tujuh menit ke depan.


Sembari tetap menunggu, beberapa kali ia tampak melirik ke arah jam  dinding kemudian melirik ponselnya lagi. Sebenarnya bukan tanpa alasan, hanya saja, ada hal penting yang ingin ia sampaikan pada Johan, namun lagi-lagi harus terhalang gengsi jika harus menelepon duluan.


Benar, ya? Gengsi itu peng-


Drrrttt .... Drrrttt.


Senyum Halsey terbit. Padahal masih tersisa dua menit lagi.


Setelah berdehem sesaat, perlahan ia mendekatkan benda pipih itu ke kupingnya, kemudian ....


"Assalamualaikum. Halo?"


"Waalaikumsalam."


"Hm?"


"Sudah mengantuk lagi?"


"Hm ...."


Terdengar embusan napas pelan. "Baiklah. Kau sepertinya memang kelelahan. Selamat tidur, ya. Assalamu-"


"Eh, Johan?"


"Ya, Sayang?"


"Eum, itu ... aku ... aku ingin bilang sesuatu ...."


"Baiklah. Katakan saja."


Halsey menggigit bibir bawahnya malu. Ya, ampun! Apa-apaan dirinya mencegah Johan mengakhiri panggilan?!


"Hale?"


"Iya."


"Ingin bilang apa?"


"Itu ... aku ... eh tidak, tidak. Lupakan saja."


"Katakan saja, Hale ...."


"...."


"Hale? Aku tidak akan mengkahiri panggilannya sebe-"


"Aku sudah pandai membuat nasi goreng."


Halsey menggigit ujung selimutnya keras. Benar-benar konyol! Padahal itu bukan hal penting, tapi baginya ... itu suatu pencapaian yang mengagumkan, meski rasanya juga tidak terlalu nikmat.


"Aku senang. Bagaimana jika besok kau membuatnya? Aku ingin coba."


Halsey langsung tersenyum lebar. "Tentu saja! Aku akan buatkan."


"Baiklah. Sekarang kau tidur, ya?"


"Tapi aku belum mengantuk."


"Katamu tadi sudah."


"Tapi itu tadi."


"Jadi kau ingin dinyanyikan lagi?"


"Iy- maksudku jika kau tak keberatan."


Johan terkekeh."Kau menamparku saja aku tidak pernah keberatan, Sayang."


"...."


"Lampu kamarmu sudah dimatikan, tidak? Tarik selimutmu sampai dada, dan mulai memejam, ya? Jangan lupa memeluk sesuatu dan bayangkan bahwa itu adalah aku."


"Hm ...."


"Ayo, memejam."


"Iya, sudah."


"Ekhem. Nina bobo, oh~ nina bobo. Kalau tidak bobo, dicium Johan~"


Seperti semalam, kini Johan sudah bisa mendengar dengkuran halus dari Hale-nya lagi. "Selamat malam. Aku mencintaimu."


***


"Bagaimana, Johan?" Halsey memandangi Johan penuh harap saat Pria itu selesai mencicipi nasi goreng buatannya.


Johan tersenyum lebar. "Enak, Sayang. Aku sangat suka," sahutnya cerah. Ia bahkan langsung menyuapkan sesendok ke mulutnya lagi kemudian menyuapkannya pada Halsey juga.


"Kau sedang tidak berbohong, kan?"


Johan menggeleng cepat. Berusaha tetap tersenyum, meski mulutnya sedang penuh dengan makanan.


"Antara 1-10, kau memberiku nilai berapa?"  tanya Halsey lagi.


"Tentu saja 10."


Setelah mendengar jawaban tersebut, Halsey langsung mengulum senyum malu. Ia bahagia, sangat, meski tahu bahwa nasi goreng buatannya tersebut pasti belum sepenuhnya cukup. "Pelan-pelan, Johan. Kau bisa terdesak," tuturnya pelan.


"Iya, Hale. Ini pelan-pelan, kok."


Awalnya, Halsey masih terlihat biasa atas raut wajah Johan. Tapi, beberapa saat kemudian, ia langsung mengerutkan kening bingung setelah sekian lama memperhatikan wajah Johan. Ekspresi Pria itu tampak cemas. Wajahnya juga jadi memerah, bahkan matanya sampai berkaca-kaca entah apa alasannya.


"Johan? Kau kenapa?" tanya Halsey mulai panik.


"Hm? Ti-tidak, Sayang. Tidak apa-apa," balas Johan cepat.


"Tapi wajahmu jadi merah. Apa ... nasi gorengnya tidak enak, ya? Kalau iya, sebaiknya-"


"HEY! Tidak, Hale. Tentu saja tidak. Ini bahkan sangat enak, kok."


Halsey menerima suapan Johan masih dengan ekspresi yang sama. Tapi ... jika dilihat-lihat lagi, Johan terlihat lucu dengan ekspresi itu. Ia terlihat seolah tengah menahan hasrat buang air. "Johan? Kau bisa tersedak jika makan terlalu cepat begi-"


"ARGH! HALE?!"


Halsey terperanjat kaget tatkala mendapati Johan bangkit berdiri dengan kedua tangan yang ia ibas-ibaskan di depan wajah. Ya, ampun. Apa-apaan ini?!


Johan menepis kasar tangan Halsey kemudian kembali duduk ke kursi taman. Kedua tangannya memeras kepala, bahkan napasnya terlihat sangat memburu.


Halsey ikut kalut saking tidak tahunya harus berbuat apa. "Johan? Kau kenapa? Tenang dulu dan beri tahu aku apa masa-"


"Cepat, Hale! Kumohon! Aku tidak kuat lagi!"


Halsey mengusap wajahnya frustrasi . "Cepat apa, Johan?! Ayo bicara yang jel-"


"Air, Sayang! Air! Kumohon, Hale. Aku ingin air!"


Halsey terdiam. Air? Dengan cepat, ia memacu langkah kemudian berlalu dari sana meninggalkan Johan sendirian. Jika ingin membeli air, otomatis ia hanya bisa mendapatkannya di kantin sekolah. Jadi ... haruskah-


"Kali ini saja! Demi Johan!" gumamnya mantap.


Setelah langkahnya berhasil memasuki area kantin, suasana mendadak senyap. Ah, benar. Siapa yang tidak akan kaget dengan kehadirannya di tempat itu? Meski sudah cukup lama menjadi siswi di sekolah unggulan tersebut, bisa dikatakan bahwa ini adalah kali pertama ia menapakkan kaki di sana.


"Permisi. Saya ingin beli air mineral," ujarnya cepat, sembari uang selembar ia sodorkan pada Ibu kantin tersebut.


Setelah menerima uluran botol air mineral di tangannya, Halsey kembali berlari menjauh dan menuntun langkahnya lagi menuju taman.


"Hale? Setan apa yang merasukimu sampai kau bisa khilaf ke kantin?"


Bugh!


"Maaf, Alan! Aku tidak sengaja!" Halsey terus berlari begitu saja tanpa niat berbalik dan meminta maaf dengan baik pada Alan yang baru saja ditubruknya. Dan setelah berhasil tiba di taman, langsung ia dapati Johan dengan posisinya yang tidak berubah sama sekali.


"Johan?! Ini!"


Dengan napas  yang masih terengah-engah, Halsey memandangi Johan meneguk sebotol air mineral tadi hingga benar-benar habis.


Beberapa saat kemudian, keduanya sudah tampak terengah-engah, bahkan saling berusaha menormalkan deru napas  masing-masing. Ya, ampun. Seperti habis melakukan sesuatu bersama saja. Eh.


"Sayang? Maafkan aku, ya? Kau harus terpaksa datang ke kantin karenaku," ujar Johan kemudian, sembari tangannya kini menata rambut Halsey pelan.


Halsey menggeleng lemah. "Tidak! Ini ... ini salahku. Aku benar-benar tidak tahu bahwa kau tak kuat makan pedas, makanya-"


"Tidak, Sayang. Jangan dipikirkan lagi," potong Johan cepat. "Kau harus makan lagi. Aku akan menyuapimu," lanjutnya.


Halsey menurut. Mengambil posisi duduk bersilang, hingga tubuhnya sudah tepat berhadapan dengan Johan. "Ekspresimu sangat lucu," kekehnya pelan.


Johan ikut terkekeh sembari kembali menyuapi Halsey. "Aku mengunyah cabai itu utuh, Hale. Mulutku benar-benar serasa terbakar dibuatnya."


"Padahal tidak pedas, kok. Aku bahkan sering mengunyahnya seperti permen saja."


"Ck! Jangan diulangi lagi. Itu tidak baik untuk kesehatanmu," ujar Johan datar.


"Tapi enak."


"Berciuman denganku juga en-"


"Aku hanya tidak tega jika harus menamparmu sekarang," potong Halsey kesal.


Johan malah terkekeh sembari kembali menyuapi Halsey. Memandangi Gadis itu mengunyah isi mulutnya, bahkan mengusap pelan peluh yang bercucuran di sekujur keningnya. "Hale? Matamu tampak kelelahan."


"Benarkah?" tanya Halsey tak percaya.


"Kau tidak sering begadang, kan?" tanya Johan serius.


Halsey terdiam, bahkan mulutnya kini berhenti mengunyah.


"Hale?"


Halsey menggeleng pelan. "Tidak, kok, tapi belakangan ini ... aku memang sering terbangun tengah malam dan tidak bisa terlelap lagi sampai paginya."


"Apa?! Kenapa, Hale? Sejak kapan? Mengapa kau tak memberitahuku sama sekali?! Bagaimana jika kau jatuh sak-"


"Ish! Satu-satu, Johan ...." Halsey menerima suapan Johan lebih dulu kemudian berdehem pelan setelahnya. "Ayah pernah bilang, bahwa ... beberapa hari sebelum bunda meninggal, dulu aku juga sering terbangun tengah malam, bahkan menangis-nangis sampai paginya."


"Dan sebelum ayah memberitahuku bahwa ia memutuskan untuk menikah lagi, aku juga mengalami hal yang sama," sambungnya lagi.


Halsey mendongak menatap Johan serius. "Johan? Aku mungkin akan mendengar atau mengalami sebuah peristiwa yang sulit atau bahkan tidak akan bisa aku terima ...," bisiknya lirih.


Johan menggeleng pelan. Tersenyum tipis seolah berusaha menenangkan.


"Aku tidak siap, Johan ...," lanjut Halsey menunduk cemas.


"Tidak, Sayang. Jangan khawatir."


Cup!


"Hm ...."


"Ini, satu suapan lagi." Johan kembali memandangi Halsey mengunyah isi mulutnya pelan dengan takaran senyumnya yang tak berubah. "Jika malam ini kau terbangun lagi, langsung telepon aku, ya?" ujarnya lembut.


"Hm?! Tidak perlu, Johan!" balas Halsey menggeleng.


"Aku serius, Hale. Telepon aku saja, jadi kau tidak akan merasa kesepian. Oke?"


"Tapi-"


"Sekalian kita salat tengah malam bersama. Berdoa pada Allah semoga tidak terjadi apa-apa," potong Johan lagi.


Halsey terdiam beberapa saat. Tapi detik berikutnya, ia langsung mengangguk dengan senyum yang ikut mekar. "Terima kasih."


"Dan, oh ya. Aku akan menjemputmu nanti sore."


"Untuk apa?"


"Membawamu ke suatu tempat."


Halsey mengangguk mengerti. "Tapi, Johan ... kita bersama-sama setiap hari. Bagaimana jika kau bosan denganku nantinya?"


Johan terkekeh sembari langsung mengacak-acak rambut Halsey gemas. "Mana bisa, Sayang? Tidak ada hal dalam dirimu yang membosankan, bahkan meski aku memandangimu sepanjang hari sekalipun."


"Tapi aku tidak baper."


"Aku memang tak ada niat untuk membuatmu baper."


"Terserahmu, Pria Mesum!"


"Terima kasih. Aku memang tampan."


❀❀❀