Johale'S Destiny

Johale'S Destiny
Diculik



Sambil tetap menikmati sarapannya, sesekali Halsey melirik ke arah Baila yang sejak tadi tampak diam tak bicara. Ia benar-benar tak bisa apa-apa dengan situasi saat ini, sebab ... semuanya terlalu tiba-tiba, bahkan di luar perkiraan.


"Eum ... aku harus segera berangkat," ujar Baila memecah hening.


Halsey yang menyadari itu juga ikut berdiri, kemudian meraih lalu mencium tangan Mahesa dan Shiren bergantian.


"Kalian hati-hati, ya," ujar Shiren.


"Iya, tante."


Halsey langsung berlalu cepat dan mengejar langkah Baila. "Baila? Kau marah, ya?" tanyanya hati-hati.


"Hah? Tidak, Hale. Aku hanya sedikit kaget, tadi," balas Baila tersenyum tipis.


"Maafkan aku, Baila. Aku tidak tahu bahwa Sam akan senekat itu," ujar Halsey penuh rasa bersalah.


"Astaga tidak perlu minta maaf, Hale. Oh, ya. Aku berangkat duluan, ya," balas Baila lagi sembari melambai pelan.


Halsey terdiam di posisinya. Meski Baila menampakkan senyum, tetap saja ia masih bisa membaca perasaan lain dari raut wajah Gadis itu.


"Hale? Ayo, berang-"


Halsey langsung melongos pergi kemudian masuk ke mobil Sam begitu saja. Kepalanya benar-benar pusing gara-gara Pria sialan itu. Memangnya dia sudah tidak waras, ya? Bagaimana bisa ia bersikap sebegitu tenangnya tanpa peduli sama sekali dengan perasaan Baila? "Kau gila, ya?!"


Sam menggeleng pelan sembari tetap sibuk memasang seat-belt-nya.


"Apa sebenarnya tujuanmu, Sam?! Huh? Kumohon berhenti melakukan semua ini!" teriak Halsey lagi.


"Seperti sejak awal, Hale. Tujuanku hanya untuk mendapatkan-"


"Apa kau tidak merasa bersalah sama sekali?! Baila, Sam! Jaga perasaannya juga!"


Sam mengangguk santai sembari mulai melajukan mobilnya. "Iya. Aku mengerti maksudmu, tapi ... tak ada jalan lain selain ini. Aku hanya peduli tentang bagaimana caranya mendapatkanmu. Orang lain ..., perset-"


PLAK!


"Turunkan aku."


Sam tetap fokus mengemudi tanpa mengindahkan rasa panas yang kini terasa menjalari sisi kiri wajahnya. Sudah cukup ia menuruti semua kemauan Halsey. Gadis itu mungkin perlu sedikit dikerasi agar bisa menurut.


"TURUNKAN AKU, S-"


"Diam!"


Halsey membeku sesaat sebelum akhirnya langsung memukuli Sam sangat keras tanpa jeda. "TURUNKAN AKU, SAM!"


"TURUNKAN AKU!"


"TURUNKAN AKU, SAM SIAL-"


"KUBILANG DIAM!"


"BRENGSEK KAU, SAM!" Halsey menarik tubuhnya lebih jauh dari Sam dengan tangis yang berusaha keras ia tahan. Di mana Johan-nya? Di mana pria itu?


"Johan? Aku rindu ...," batinnya terisak.


Beberapa saat kemudian, Halsey menyadari mobil Sam yang perlahan berhenti di depan gerbang sekolahnya. Lekas, ia bergegas keluar tanpa pernah menoleh sekali pun pada Pria itu.


Hanya kali ini, hanya sekali. Ia akan mencari Johan sekarang juga dan mengatakan pada pria itu bahwa ia rindu. Hanya kali ini, hanya agar sesak di dadanya bisa bergegas pergi. "Alan? Rey?"


Alan dan Reyhan yang tengah berjalan beriringan sontak berbalik. Mereka mendapati Halsey dengan matanya yang sembab, seperti baru saja menangis.


"Hale?" Alan menatap bingung.


"Di mana Johan?" tanya Halsey langsung.


"Aku dan Alan menginap di apartemennya semalam, tapi setelah bangun, Johan sudah tidak ada," jelas Reyhan.


"Memangnya Johan ke mana, Rey?" tanya Alan setelah ia menyaksikan punggung Halsey sudah menghilang di persimpangan kelas.


"Hm? Entah."


***


"Johan ...? Kau di mana, sih ...? Hiks, hiks ...."


Di bangku taman, Halsey terisak-isak setelah kelelahan mencari Johan-nya sepanjang hari. Rasa rindu yang meluap-luap membuatnya tak bisa tenang, bahkan membuatnya sampai rela membolos hanya demi mencari Johan. "Aku rindu, Johan ...."


"Johan ...?"


Setelah sesuatu melintas di benaknya, Halsey lekas bangkit berdiri kemudian membawa langkahnya pergi dari sana. Benar. Ia akan mencari Johan di apartemennya. Jika tidak ada, berarti di rumah Hanum. Kalau tidak, di rumah Harris. Dan jika masih tidak ada ... Panti Asuhan Yatim Dhuafa.


Matanya yang sulit tidur beberapa hari ini membuatnya benar-benar tidak tenang. Entah apa, tapi ... ia merasa Johan adalah penyebabnya. Sebelum memastikan keadaan pria itu, ia tak akan bisa tenang. Demi apa pun, ia tak akan terima jika Johan sedang tidak baik-baik saja. Tidak akan pernah.


"Halsey? Kau kenapa?"


"A-aku sedang tidak enak badan," balas Halsey cepat sembari meraih tasnya dan langsung berbalik pergi.


Ryan bangkit berdiri dan langsung menyusul langkah Halsey yang masih tertahan di pintu kelas. "Kau baik-baik saja, kan? Aku bisa mengantarmu pulang-"


"Tidak, terima kasih." Halsey berlalu pergi setelah cekalan Ryan terlepas dari tangannya.


Semoga saja keadaan Johan benar-benar baik-baik saja. Jika keberadaan pria itu bisa ia temukan hari ini juga, maka ... ia berjanji akan segera memperbaiki segalanya. Ia akan menghapus semua jarak dirinya antara Johan, dan membuat situasinya kembali seperti semula. Seperti ... seperti duduk berdua di taman. Jalan-jalan sepulang sekolah. Saling menelepon sebelum tidur, saling menyuapi roti, dan ... semuanya. Moment-moment berharga itu akan berusaha ia ulang kembali, meski pada akhirnya mereka tidak berakhir bersama.


Dan ....


Jika ia sampai tidak menemukan keberadaan Johan hari ini, maka ..., tak ada hal lain yang boleh ia laku-


"MMPPHHHHHHH!" Halsey memberontak keras saat dua orang Pria telah membekap mulutnya erat kemudian mendorongnya masuk ke sebuah mobil. Sebelum ia sempat mendapati wajah kedua Pria itu, matanya sudah lebih dulu tertutup karena obat bius yang menyeruak masuk ke indra penciumannya.


Halsey pingsan saat tiga orang Pria telah membawanya pergi ke sebuah tempat dengan wajah yang saling tersenyum puas. Benar, Halsey diculik.


***


Semua orang sudah tampak terduduk di ruangan itu dengan wajah cemas yang sama-sama menghiasi. Bukan hanya cemas, sebab Baila, Atha, dan Shiren sudah sejak tadi saling memeluk sambil menangis bersama.


Sudah pukul 10 malam, dan keberadaan Halsey belum juga diketahui. Gadis itu menghilang tanpa jejak, hingga membuat semua orang khawatir sampai harus berkumpul seperti ini.


"Di rumahnya. Cepat ke sini." Alan mematikan sambungan teleponnya sebentar kemudian ikut duduk lagi di sisi kanan Reyhan. Awalnya, ia menduga bahwa semua ini hanya perbuatan Johan, tapi ... rupanya bukan. Pria itu tidak datang ke sekolah karena Zara yang tiba-tiba dikabarkan jatuh dari tangga. Makanya ia membawa gadis itu ke rumah sakit lebih dulu sampai-sampai berita tentang Halsey juga baru saja ia ketahui.


Beberapa menit kemudian, Johan datang dengan napasnya yang terengah-engah hebat. Pandangannya langsung ia edarkan ke seluruh ruangan, tapi .... "Di mana Hale?! Hah?! Kumohon katakan padaku di mana dia?!"


Mahesa bangkit berdiri kemudian mendekat dan berusaha menenangkan Johan. Ia tahu bahwa semua ini adalah perbuatannya Sam, dan demi apa pun, pria itu benar-benar akan ia bunuh saja jika sampai putri-nya terluka. "Tenang, Nak. Tenang ...!"


Johan menggeleng keras. "Bagaimana aku bisa tenang, Om? Hale menghilang!"


"Iya, Johan. Om sudah mengirim beberapa orang suruhan dan juga meminta bantuan polisi, jadi kau tenang, ya? Om yakin Hale pasti baik-baik saja."


Sementara di lain tempat, sesosok Gadis tampak terduduk di sebuah kursi dengan kedua kaki dan tangannya yang saling terikat tali. Matanya perlahan terbuka, bersamaan juga dengan rasa sakit yang mulai ia rasakan di sekujur tangan dan kakinya.


Sambil tetap berusaha menahan ringisan yang hampir keluar dari mulutnya, ia mengedarkan pandangan ke sekitar. Sebuah ruangan dengan penerangannya yang temaram. Tidak terlalu berantakan, dan tidak juga terlalu rapi. Tempat itu terlihat seperti ... seperti tempat perkumpulan?


"Tidurmu lama sekali, Hale."


Halsey sontak menoleh ke arah suara dan mendapati sosok Pria dengan sebuah nampan di tangannya. "K-kau?"


❀❀❀