Johale'S Destiny

Johale'S Destiny
Kecewa



"Aku akan salat magrib dulu. Tunggu sebentar, ya."


Setelah menyaksikan Johan hilang di balik tangga, Halsey kembali melanjutkan aktivitasnya yang tadi sempat tertunda. Ia memandangi foto-foto berbingkai yang dipajang di dinding dengan tataan rapi.


Kebanyakan potret Johan bersama Hanum saja, tak sekali pun ia terlihat bersama sosok pria yang mungkin adalah daddy-nya. Saat masih bayi, kanak-kanak, remaja, bahkan hingga di usianya yang sekarang.


"Aku sudah selesai, Sayang."


Sontak Halsey berbalik dan mendapati Johan dengan pakaiannya yang telah berganti. Ia menyaksikan Pria itu menuruni anak-anak tangga dengan sangat gesit.


"Ayo. Aku antar pu-"


'Drrrttt .... Drrrttt!'


Johan merogoh saku celananya kemudian mengeluarkan sebuah ponsel dari sana.


"Halo?"


"...."


"Iya, Sayang? Ada apa?"


"...."


"Hah?! Astaga, Atha. Kau di mana sekarang?!"


"...."


"Baiklah. Tunggu kakak ke sana, ya!"


Raut cemas sangat tampak dari wajah Johan. Pria itu kini berpaling menatap Halsey yang sudah sejak tadi memandanginya bingung.


"Halo? Baila?! Bisakah kau menjemput Hale sekarang? Aku ada urusan mendadak."


Setelah memutuskan sambungan teleponnya, Johan kembali menatap Halsey dengan sorot bersalah. "Hale? Maafkan aku, ya. Atha sedang dalam bahaya sekarang, jadi kau tunggu Baila menjemputmu saja, ya?"


Cup!


"Johan?"


Johan yang baru saja niat berlalu langsung berbalik menatap Halsey.


"Tak bisakah kau menunggu Baila datang dulu?"


"Tidak bisa, Hale. Kau tahu Atha sedang dalam bahaya sekarang!"


"Sepenting itukah gadis itu bagimu hingga kau harus membentakku? Baiklah. Aku akan pulang naik taxi saja." Halsey berlalu dari hadapan Johan dengan isakan yang berusaha keras ia tahan. Entah mengapa rasanya hendak menangis, tapi ... hatinya benar-benar sakit jika kembali mengingat bagaimana Johan membentaknya tadi.


Dengan kaki yang bertelanjang, Halsey terus berlari menyusuri jalanan malam yang sudah tampak sepi. Di luar perkiraannya, ia mendapati sebuah taxi berwarna biru muda yang tampak melaju sedang. Padahal tempat ini terlihat sangat jarang dilintasi taxi.


"Taxi!"


Setelah taxi tadi berhenti tepat di depannya, Halsey lekas membuka pintu kemudian mendaratkan bokongnya di jok penumpang. Ia mengatakan alamat rumahnya lalu mulai menumpukan kepala di pintu mobil. Pandangannya kini terlempar keluar jendela.


Ia berusaha berpikir keras. Mungkin tak ada sama sekali yang salah di sini, sebab ... Atha memang sedang dalam bahaya, dan Johan hanya berusaha menyelamatkan Gadis itu. Dan tentang dirinya ... sangat tidak apa-apa, bukan, jika hanya meminta Baila yang mengantarnya pulang? Mungkin seperti itu, jadi ia harus berusaha mengerti dan berhenti menjadi egois.


Tapi ... jika memang begitu, harusnya Johan ada usaha untuk mengejarnya, 'kan? Pria itu pasti tahu bahwa ia sedikit trauma dengan kendaraan umum, tapi ... sepertinya Johan memang sudah berubah.


Hm.


Perubahan pada setiap manusia itu hal yang wajar, jadi-


"Nona? Kita sudah sampai."


Halsey menoleh ke arah suara kemudian mengedarkan pandangannya ke sekitar. Ah, benar. Sibuk berpikir membuatnya tak sadar.


"Pak? Ini bayarannya. Terima kasih."


Setelah menutup pintu taxi tadi, perlahan Halsey melangkah mendekat ke gerbang rumahnya di seberang jalan. Langkahnya terlihat sangat gontai, bahkan pandangannya juga terlempar lurus. Sungguh, ia belum pernah merasa hingga selemah ini.


'Tok .... Tok!'


"Assalamualaikum." Halsey mengucap salam.


Tak ada jawaban.


"Assalamu-"


"HALE?!"  Halsey berbalik dan mendapati Baila tengah mememandangnya lesu.


"Bai-"


'Ceklek'



"HAPPY BIRTHDAY, HALEEEEE!"


Halsey kembali berbalik dan mendapati pintu telah terbuka. Apa ini? Happy birthday?!


"HAPPY BIRTHDAY, SAUDARIKU!" teriak Baila bersemangat sembari berhambur memeluk Halsey dari belakang.


Setelah tiba di dalam, dekorasi ruangan lagi-lagi membuatnya merasa tak percaya. Sejak kapan mereka sempat membuat semua ini?


"HAPPY BIRTHDAY TO YOU ... HAPPY BIRTHDAY TO YOU ... HAPPY BIRTHDAY, HAPPY BIRTHDAY, HAPPY BIRTHDAY TO YOU~"


"Terima kasih," balas Halsey dengan senyum bahagianya.


Ada banyak sekali balon. Bertebaran di lantai, dan lainnya lagi mengambang di udara. Di dinding juga banyak sekali yang tampak menggantung, bahkan rangkaian balon yang bertuliskan namanya, tak lupa juga usia barunya.


Demi apa pun, ia benar-benar tak ingat sama sekali tentang hari ini. Belum lagi dengan kehadiran orang-orang terdekatnya. Mahesa, Shiren, Baila, Reyhan, Alan, terkecuali Sam dan Gadis hitam itu. Mereka hanya orang asing.


Tapi ....


Sebentar.


Reyhan, Alan, dan Atha? Jika mereka ada di sini ....


"Dasar cuek! Ulang tahun sendiri saja tidak ingat."


Sontak saja Halsey menoleh ke arah suara. "Johan?"


Johan mengangguk sembari mendekat pada Halsey. Tangannya kini mengusap pipi Gadis itu lembut. "Maafkan aku, Sayang. Aku sungguh tak ada niat untuk membuatmu menangis," bisiknya pelan.


Halsey mendongak, balas menatap Johan dengan sorot terharu. "Kau jahat, Johan!"


"Iya, Sayang. Maafkan aku. Aku sangat terpaksa melakukan ini."


"Jadi kau berbohong soal Atha?" Halsey mendongak.


"Hehe iya. Kau tahu aku benar-benar tidak tenang saat kau langsung berlari keluar dari rumah. Untung saja aku teringat akan traumamu, makanya kupesankan taxi setelahnya."


"Pantas saja aku merasa heran, tadi."


"Kurasa cukup dulu bermesraannya. Hale? Cepat naik dan ganti pakaianmu."


Halsey menoleh pada Baila sekilas, kemudian juga pada yang lain. Ia kini mengulum senyum, lebih tepatnya menahan malu. Bagaimana bisa ia sampai lupa tempat? Dasar memalukan.


"Cepat, Kak Hale! Ganti pakaianmu, dan turun kemari," celetuk Atha dengan riangnya.


Halsey menoleh kemudian melempar tatapan datar pada Gadis itu. Berani sekali ia memanggilnya dengan sebutan 'Hale'? Dasar sok akrab!


"Cepat ganti pakaianmu, Sayang. Jangan lupa untuk mengenakan dress yang kubelikan di mall hari itu, ya?" ujar Johan juga.


Halsey menoleh kemudian mengangguk. Detik berikutnya ia mendekat ke juntaian tangga, kemudian menyusurinya hingga tiba di kamarnya.


"Jadi Johan sengaja membuatku menangis?" gumamnya dengan senyum tertahan.


Halsey menarik dress berwarna kuning lembut pemberian Johan dari gantungan lemarinya. Sembari menjuntaikannya di depan tubuh, ia memandangi pantulan tubuhnya di cermin dengan senyum yang mekar sempurna. Itu berarti .., Johan memang sudah lama merencanakan ini.


Halsey bergegas mengganti pakaiannya dengan dress tadi. Mulai merias wajahnya di depan cermin, hingga terkahir, ia meraih high heels lalu mengenakan di kaki indahnya.


Setelah kembali melihat pantulan dirinya di depan cermin, ia mengangguk mantap karena yakin bahwa riasannya masih terkesan sederhana. Baiklah, ini saatnya untuk turun.


Halsey menyusuri anak-anak tangga dengan perasaan gugup. Orang-orang tampak menanti-nanti kedatangannya, hingga setelah benar-benar tiba di lantai satu, bisa ia dapati semua tatapan kagum tertuju padanya.


"Aku benar-benar penasaran dengan gaya kalian dulu saat membuat Hale. Astaga, Calon Istriku. Kau cantik sekali, Sayang," kagum Johan sembari melangkah mendekat dan mengulurkan tangannya pada Halsey.


"Johan? Jaga omonganmu," tegur Halsey dengan suara berbisik.


"Astaga maafkan aku, Om, Tante. Sungguh, tadi itu benar-benar refleks," ujar Johan sembari menatap Mahesa dan Shiren bergantian. Tampak jelas sorot tak enak di matanya.


"Iya, Nak. Jangan dipikirkan," balas Mahesa santai.


"Baiklah! Sekarang waktunya, Haleeeee! Ayooo!" teriak Baila sembari menuntun Halsey menuju kue ulang tahunnya yang tergeletak di atas meja.


Halsey menarik napas  sembari memandangi orang-orang yang tampak sangat antusias. Dalam hati ia berdoa, mengaminkan segala keinginan-keinginan dan harapannya.


"TIUP LILINNYA, TIUP LILINNYA, TIUP LILINNYA SEKARANG JUGA, SEKARANG JUGA, SEKARANG JUGA~"


Halsey memejam lalu mulai meniupi lilin-lilin di atas kuenya. Sorak dan tepuk tangan langsung saja terdengar memenuhi ruangan, hingga kini bisa ia rasakan seseorang mencium puncak kepalanya.


"Selamat ulang tahun, Sayang. Semoga selalu bisa membanggakan Ayah dan Ibumu," ujar Mahesa sembari menarik Putri-nya dalam dekapan.


"Iya, Ayah. Terima kasih, aku menyayangimu," balas Halsey.


Setelah memotong kue, kini waktunya suap-suapan. Suapan pertama Halsey berikan pada Mahesa, lalu Shiren, Baila, dan ... Johan, tentunya, kemudian Alan, Reyhan, Sam, dan ... Atha.


"Wah, Aku mendapat suapan paling terakhir, ya. Tapi tak masalah, Kak. Aku tahu kau sedikit membenciku karena kejadian di mall hari itu. Aku benar-benar minta maaf. Aku sama sekali tak ada niat untuk membuatmu cemburu, tapi Kak Johan yang memaksa. Jadi sekali lagi, aku minta maaf, Kak. Selamat ulang tahun, ya. Semoga usiamu bisa membawa berkah, senantiasa dalam lindungan Allah, dan ... langgeng dengan Kak Johan sampai ajal menjemput." Atha berbicara panjang lebar kemudian berhambur memeluk Halsey.


Jujur saja, Halsey tak mengerti sama sekali apa yang Gadis hitam itu ucapkan. Terlalu lancar dan panjang. "Iya, terima kasih," balasnya berusaha terdengar ramah.


Bagaimanapun, Atha cukup berperan penting dalam segala rencana Johan. Tadi saja, ia memanfaatkan nama Gadis itu lagi hanya untuk membuatnya menangis hingga harus pulang dengan taxi.


Johan yang menyaksikan dua Gadis itu saling mendekap langsung saja tersenyum. Atha memang Gadis yang lucu. Meski tahu bagaimana pikiran Halsey tentangnya, tetap saja ia senang berceloteh panjang dan bersikap sok akrab.


"Em ... Om? Bisakah kita bicara sebentar?"


❀❀❀