
"Baiklah. Maafkan aku," balasnya menyengir.
"Kau tahu itu tidak sopan, Johan." Halsey sudah kembali sibuk mengobati lebam-lebam di wajah Johan.
"Iya, Sayang. Maafkan a- eh?!"
Johan kembali terkekeh setelah menyadari ucapannya. Astaga ... mulutnya itu.
"Sshh ... aw! Hale? Di sini sakit sekali, aw!" Benar. Sebuah usaha untuk mengalihkan suasana.
"Kau sedang terluka, jadi kali ini kumaafkan," balas Halsey pada akhirnya.
Johan tersenyum senang kemudian berpindah mengedarkan pandangannya ke sekitar. "Ke mana Alan dan Rey?" tanyanya heran.
"Sudah pergi."
"Hah?! Sejak kapan?"
"Sejak kau sibuk dengan pikiran kotormu." Halsey bangkit berdiri sembari mulai merapikan kotak P3K tadi.
"Eh, Hale? Mau ke mana?" tanya Johan cepat.
"Sudah selesai."
"Apa?! Aaaa ...! Masih sakit, Hale. Aku pasti tidak bisa jalan," rengek Johan langsung sembari tangannya yang menarik lengan Halsey agar duduk kembali.
"Wajahmu bisa berjalan?"
"Ish, sakit, Hale. Temani aku di sini dulu, ya ...," rengek Johan lagi seraya mulai memejam dan memeluk erat tangan Halsey.
"Jangan manja, Johan. Aku tahu lukamu itu bukan masalah," balas Halsey berusaha lembut.
"Tapi ini sangat sakit, Hale. Aku tak bisa membuka mataku ...!"
"Aku akan membeli air untukmu, Johan. Sebentar saja, ya?"
Johan menggeleng keras seraya terus memeluk erat tangan Halsey. "Biarkan seperti ini," bisiknya pelan.
Halsey mendengus lalu kembali mendudukkan tubuhnya di kursi. "Tak bisakah kau berhenti mencari masalah?" tanyanya terdengar kesal.
"Dia yang menyerangku lebih dulu," balas Johan parau tanpa membuka pejamannya.
"Kasihani nyawamu juga, Johan ...."
Tak ada lagi sahutan dari Pria itu. Wajah damainya menjelaskan lebih dulu bahwa ia telah terjun tertidur.
***
"Kami pamit dulu, Om, Tante, dan ... Hale."
Mahesa dan Shiren mengangguk bersamaan, sementara Halsey tetap sibuk dengan makanannya tanpa menoleh sedikit pun.
"Iya, Nak Sam. Hati-hati, ya ...."
"Assalamualaikum."
Selepas perginya Baila dan Sam yang hendak makan malam di luar bersama, suasana meja makan di rumah itu kembali tenang seperti sebelumnya.
"Bagaimana sekolahmu, Sayang?" tanya Mahesa memecah hening.
"Tak ada masalah. Bagaimana dengan pekerjaan Ayah?" Halsey balik bertanya.
"Alhamdulillah. Perusahaan Ayah mendapat banyak keuntungan lebih besar," balas Mahesa tersenyum hangat seraya kembali sibuk dengan makanannya.
"Alhamdulillah."
"Oh, ya. Ayah sudah transfer uang bulananmu"
Halsey sontak menoleh lagi. "Tapi Ayah ... uang bulananku yang lalu-lalu saja masih banyak."
"Tidak masalah, Sayang. Gunakan saja uangmu jika sewaktu-waktu ada kebutuhan mendadak."
"Benar, Hale. Ibu lihat pakaianmu di lemari juga sudah sering kaupakai," timbrung Shiren juga.
"Iya, Ibu, Ayah. Terima kasih banyak."
Setelah membantu Shiren membersihkan meja dan mencuci piring, kini Halsey bersiap kembali ke kamarnya hendak salat isya. Sebenarnya Mahesa sudah sangat sering merengek agar Shiren memberi izin untuk ia mempekerjakan pelayan, hanya saja wanita itu tetap kukuh dengan keinginannya. 'Aku ingin menjadi seorang Istri dan Ibu yang baik', begitu katanya.
Setelah menutup pintu kamarnya kembali, Halsey menuntun langkahnya menuju kamar mandi. Ia menyempatkan melirik jam yang menggantung di dinding. Sudah pukul 19.45 PM.
Ia harus segera menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya setelah ini.
***
Ia berpikir untuk tak peduli, sebab mungkin saja, Johan sedang ada urusan atau hal lainnya. Tapi setelah berpikir beberapa kali, Halsey memilih untuk tak tetap diam.
Kemarin, Pria itu baru saja membuat masalah lagi. Bagaimana jika ia kembali dikeroyok hingga mati lalu mayatnya dibuang ke jurang atau laut? Atau bagaimana jika saat ini ia sedang disekap di sebuah tempat kemudian diberi siksaan sadis agar ia mati tersiksa secara perlahan?
Setelah bel jam istrahat terdengar, Halsey langsung memacu langkahnya hendak menghampiri Alan dan Reyhan yang ia ketahui sebagai sahabat dari seorang Johan. Mungkin saja dua pria itu tahu keberadaannya, jadi ia tak perlu lagi khawatir bahwa Johan akan mati lalu Hanum menganggapnya tak bisa menjaga janji.
Dari jauh, ia bisa menyaksikan Alan dan Reyhan tampak berjalan beriringan menuju kantin. Lihatlah. Mereka bahkan hanya berdua.
"Alan! Reyhan!"
Kedua Pria itu berbalik dan melempar tatapan heran padanya. Halsey tetap menghampiri tanpa mau pusing dengan isi tatapan itu.
"Ada apa, Hale?" tanya Alan langsung.
Halsey berusaha mengatur napasnya sebentar. "Di mana ... di mana Johan?"
Alan dan Reyhan langsung saling memandang dengan kedua alis yang saling bertaut.
"Aku memang mampir ke apartment-nya sore kemarin, tapi setelah itu kita tidak pernah bertemu lagi hingga sekarang," sahut Reyhan kemudian.
"Aku hanya bertemu Johan saat di UKS kemarin, setelahnya tidak lagi. Aku sibuk membawa Gabbie berbelanja dan makan ice cream," tambah Alan juga.
"Kurasa telah terjadi sesuatu dengannya. Dua malam terakhir adalah pertama kali ia tak mengirimkanku pesan selamat malam. Nomor ponselnya juga tak kunjung bisa dihubungi," jelas Halsey tanpa basa-basi.
Alan langsung terkekeh. "Kau mengkhawatirkan sialan itu, rupanya," godanya tak kenal situasi.
"Aku akan berusaha mencari tahu. Nanti kukabari," ujar Reyhan lagi.
Halsey mengangguk kemudian berbalik pergi. Bagaimana ... bagaimana jika pria mesum itu benar-benar sudah tak bernyawa sekarang? Bukan mendoakan, hanya saja ia tak bisa membayangkan betapa terpukulnya Hanum nanti jika terkaannya benar-benar terjadi.
***
Setelah berbelanja dan mengunjungi banyak tempat seharian, keluarga harmonis Bamatara tampak menikmati makanan mereka di sebuah restoran.
Meski sebenarnya sudah sangat merasa hendak pulang, Halsey tetap berusaha menyembunyikan perasaan risihnya dan tetap diam menyantap makanan. Mahesa, Shiren, dan Baila cukup tahu bahwa Gadis itu tak merasa nyaman berada di tempat ramai, sebabnya mereka bersikeras untuk mencari tempat yang lebih tenang namun dicegah tak kalah keras oleh seorang Halsey. Ia tak ingin egois lalu menyusahkan orang-orang tersayangnya, keluarganya, dunianya.
"Aku sangat senang hari ini!" pekik Baila riang.
Mahesa tersenyum lembut. "Kebahagiaan kalian adalah duniaku. Ayah akan selalu berusaha untuk itu," balasnya penuh tulus.
Mereka saling berbagi senyum lalu kembali larut dengan santapan masing-masing.
"Oh ya, Hale. Ayah tidak pernah melihat Johan beberapa hari ini," lanjut Mahesa lagi.
Halsey mengangkat wajahnya kemudian langsung menoleh. "Johan sedang ada urusan, Ayah," balasnya.
Mahesa mengangguk mengerti.
"Bagaimana dengan Hanum, Hale? Rasanya Ibu ingin lebih dekat dengannya sebagai sesama calon besan," timbrung Shiren juga.
Halsey langsung memasang wajah sebalnya yang malu-malu. "Ibuuuu .... Aku dan Johan tidak akan
pernah punya hubungan lebih dari teman!"
Shiren terkekeh pelan. "Ibu hanya bercanda, Sayang."
Halsey tersenyum tulus sebagai tanggapan. Tak berusaha mengelak, Johan memang hanya mengisi ruang sebagai seorang teman di hatinya. Tak ada ketertarikan lebih dari itu meski mereka sudah cukup sering menghabiskan waktu bersama-sama. Tak ada, dan semoga seterusnya selalu begitu.
Jam sudah menunjukkan pukul 19.45 PM. Setelah selesai dengan makanan masing-masing, mereka memutuskan untuk pulang. Mobil Mahesa telah membelah jalan basah yang malam ini tengah diguyur hujan, melaju dalam pekatnya malam menuju kediaman Bamatara yang selalu dipenuhi cinta.
Membahas perihal hujan, Halsey kembali teringat akan Johan yang hingga sekarang belum ia ketahui keberadaannya. Jika benar Pria itu sedang dalam bahaya atau mungkin mayatnya telah dibuang ke jurang, pasti kini ia sudah berlumur lumpur atau mungkin malah bercampur darah.
Halsey memutuskan untuk memeriksa ponselnya. Seharian sudah ia mengabaikan benda itu, barangkali Johan telah mengiriminya pesan atau mungkin ada panggilan tak terjawab darinya.
Tak ada, tapi seseorang telah mengiriminya pesan dan beberapa panggilan tak terjawab, meski bukan nama Johan yang tertera di sana.
+62xxxxxxxxxxxx
Aku sudah berusaha mencari Johan, tapi entah ke mana pria itu perginya. Nanti kukabari lagi setelah menanyakan ini pada mommy dan om Harris.
17.21 PM
Ini pasti dari Reyhan. Halsey kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas selempang berwarna jingga lembut yang menyandang di bahunya. Ke mana sebenarnya Johan pergi?
❀❀❀