Johale'S Destiny

Johale'S Destiny
Balkon Kamar Halsey



"Kemarilah."


"Semoga kau bersedia menyayangi benih harammu ini, Dad ...," lirihnya di balik dekapan.


Sekitar beberapa menit berbagi dekapan, Johan perlahan membuka matanya dengan senyum yang melebar. Tapi ... saat tak sengaja manik matanya terjatuh pada sebuah benda di atas meja kerja Harris, langsung saja ia melepas dekapannya kasar kemudian menghampiri benda yang tergeletak di atas meja itu.


Sebuah foto berbingkai yang menampakkan Harris tengah mencium kening sosok Wanita dengan pakaian pengantin yang sama-sama membalut tubuh keduanya. Masih dengan tatapan tak percayanya, Johan meletakkan kembali bingkai foto tersebut dengan kasar lalu berbalik menghampiri Harris.


"Apa kau telah menikah lagi?" tanyanya berbisik seraya memegang kedua bahu Harris dengan tatapan tak percaya.


Harris mengangguk santai. Membuat tubuh Johan luruh di sofa dengan kedua tangannya meremas kepala. Pria itu terisak keras, bahunya naik turun sesenggukan, hingga detik berikutnya ia kembali bangkit berdiri kemudian menatap Harris penuh amarah.


"DI MANA HATI NURANIMU, DAD?! HAH?! KEPERGIAN MOMMY BAHKAN BELUM BEBERAPA HARI, TAPI KAU ...?"


"Aku sungguh membenci Tuhan atas diriku yang terbentuk oleh bantuan benihmu!"


Johan berlalu pergi meninggalkan ruangan Harris begitu saja. Ia merasa hatinya diremas-remas setelah mendapati kenyataan tadi. Kepergian mommy-nya bahkan belum selang beberapa hari, lalu bagaimana bisa Pria itu telah menikah lagi?


Seraya terisak, Johan terus melanjutkan langkahnya tanpa mengindahkan sapaan-sapaan atau bahkan tatapan bingung oleh pelayan-pelayan rumah yang dilaluinya. Setelah bokongnya terduduk sempurna di jok kemudi, mobilnya ia lajukan cepat begitu saja hingga rumah mewah kediaman Harris telah tertinggal jauh.


"Seharusnya bukan milik daddy yang membantuku terbentuk. Seharusnya aku tak pernah menjadi darah dagingnya. Seharusnya Tuhan berlaku adil! Jika bukan padaku, setidaknya pada mommy saja! Hiks!"


Johan terus terisak hingga kedua bahunya naik turun. Seketika ia menghentikan mobilnya dengan sangat kasar di tepi jalan yang tampak cukup sepi malam itu. Tangannya yang terkepal erat ia pukulkan pada kemudi mobil dengan sangat keras. Pria itu meraung-raung tak terima.


Drrrtttt ... Drrttt!


Johan terdiam sesaat lalu mulai mengatur napasnya. Merogoh saku celana, kemudian mengeluarkan sebuah ponsel dari sana. Setelah netranya memandangi layar dan mendapati sebuah pengingat, jemarinya mulai hendak menuliskan penggalan-penggalan huruf pada layar. Namun tatkala sesuatu tiba-tiba terlintas di benaknya, ia mengurungkan niat lalu melempar ponselnya ke jok samping begitu saja.


Johan kembali melajukan mobilnya cepat. Tangannya terulur menambah volume radio yang akhirnya terdengar menguasai seisi mobil. Setelah beberapa lama melaju, mobilnya lalu berhenti tepat di tepi jalan aspal sebuah perumahan elite.


"Sial! Mataku bahkan telah membengkak," gumamnya seraya meraih tisu lalu mengelap sekujur wajahnya cepat.


Setelah merasa cukup, Johan lalu bergegas keluar dari mobil. Matanya tertuju pada sebuah rumah mewah yang kini berada tepat di seberang jalan, tepatnya pada sebuah kamar di lantai dua yang masih tampak terang oleh cahaya lampu itu.


Johan melangkahkan kakinya hingga tiba di seberang jalan. Ia lalu memanjat tembok pagar yang cukup menjulang tinggi itu dengan susah payah, hingga sesaat kemudian, tubuhnya telah berhasil mendarat pada tanah pelataran rumah tersebut.


Johan melirik lagi pada kamar di lantai dua tadi dengan senyum senang. Merasa tak mungkin untuk kembali memanjat, ia memutuskan untuk mencari sebuah batu kerikil lalu melemparnya ke atas hingga mengenai tepat pada pintu balkon kamar tadi.


Tuk!


Belum ada sahutan, jadi Johan memutuskan untuk melempar lagi.


Tuk!


Baru saja hendak melempar kembali, suara kenop pintu ditarik lebih dulu terdengar.


"Johan? Apa yang kaulakukan di situ?"


Johan terkekeh mendapati wajah kaget Halsey dengan suaranya tadi yang nyaris hanya berbisik.


"Biarkan aku-"


"Ish, pelankan suaramu!"


Johan kembali terkekeh "Iya, iya. Aku ingin naik ke kamarmu."


"APA?! KAU GI- Kau gila, ya? Aku sudah hendak tidur. Lebih baik kau-"


"Hale? Biarkan aku naik," rengek Johan dengan bibir mengerucut juga kakinya yang dihentak-hentakkan.


Ya, ampun.


Ia sungguh terlihat imut dengan tingkah itu.


"Johan, kumohon! Pergi sekarang juga sebelum orang rumah mendapatimu!" pintaHalsey dengan wajah memelas.


"Kau bilang aku harus meninggalkan kebiasaan-kebiasaan burukku demi mommy. Tapi sekarang? Aku mencoba begitu, tapi kau malah menyuruhku pulang."


Halsey mengusap wajahnya gelisah. "Ya, ampun. Apa, sih, yang kau maksud? Bicara yang jelas!"


Johan membuang napas kasar seraya melirik jam tangannya sekilas. "Ya, sudah. Aku pulang saja kalau begitu. Selamat malam, dan maaf telah meng-"


"JOHAN! Katakan apa maksudmu lalu kau bisa pulang setelahnya!"


Johan kembali berbalik. "Kau adalah rumahku yang tersisa, Hale. Aku tak punya tempat lain untuk pulang saat merasa kacau selain padamu," jelasnya dengan tatapan sendu.


Halsey terdiam sesaat. "Lalu apa maksudmu kebiasaan-kebiasaan buruk?"


"Selain senyummu, aku mungkin bisa merasa lebih baik dengan alkohol juga wanita-wanita itu," balas Johan seraya memalingkan wajah.


Halsey kembali terdiam, berpikir beberapa saat sembari mulai menoleh ke kanan dan kiri, memastikan keadaan. "Aku ... aku akan segera kembali," bisiknya kemudian.


Johan tersenyum lembut seraya mengangguk mengerti. Beberapa detik berikutnya, Gadis itu kembali muncul dengan sebuah selimut di tangannya.


"Kau Pria yang kuat, bukan? Kurasa hanya ini yang bisa membantu," ujar Halsey seraya menjuntaikan selimut tadi hingga ke bawah, lalu mengikatnya di tepi balkon.


Mereka lalu duduk di tepi balkon dengan kaki yang saling menjuntai ke bawah.


"Maaf telah merepotkanmu," ujar Johan seraya melepas jaketnya lalu memasangkan pada tubuh Halsey.


Halsey kini berpaling menatapnya dengan kening berkerut. "Johan? Apa kau habis menangis?" tanyanya dengan raut iba.


Johan mengangguk seraya tersenyum simpul. "Tersenyumlah agar perasaanku bisa lebih membaik," balasnya menatap Halsey dalam.


Mereka saling berbagi pandang selama beberapa saat, hingga detik berikutnya, Halsey menampakkan senyum yang dirasanya paling manis.


"Aku mencintaimu," bisik Johan tanpa mengalihkan tatapannya pada Gadis itu. "Sangat, Hale ...."


Halsey mengangguk dengan senyum yang masih merekah. "Jadi ... apa yang membuat Pria sejati ini menangis?" tanyanya berusaha menghibur.


Johan terkekeh seraya mengacak-acak rambut Halsey gemas. Beberapa saat setelahnya, ia tampak memandang ke depan, berusaha menenangkan air wajahnya lalu mulai menarik napas dalam.


"Aku tidak tahu, tapi seingatku, tadi adalah pertama kali daddy memelukku dengan sangat hangat."


"Tapi itu rasanya sungguh sakit. Aku merasa seperti dibawa terbang sangat tinggi, kemudian dihempaskan jatuh pada yang terdasar."


"Tepat setelah saling mendekap dengannya, aku mendapati sebingkai foto yang menampakkan dirinya telah menikah dengan seorang wanita lain. Kematian mommy bahkan belum beberapa hari yang lalu, Hale ... tapi daddy ... dia itu ... aku sangat membencinya, Hale. Aku sangat membencinya."


"Dia adalah penyebab mommy tak pernah merasakan bahagia semasa hidupnya. Hanya ada rasa sakit dan pengkhianatan, padahal ia sangat pantas mendapat yang lebih dari pada pria sialan itu."


"Johan ...? Sini lihat dan dengarkan aku," pinta Halsey lembut.


Johan menurut lalu menoleh.


"Allah itu selalu punya banyak rencana yang pasti baik untuk mereka, ataupun dirimu. Mungkin saja, mommy dan daddy-mu sengaja dipersatukan hanya agar kau terlahir di tengah-tengah mereka, meski pada akhirnya sebuah perpisahan itu tetap terjadi."


Halsey tersenyum menenangkan. "Jangan senang bersikap egois, Johan. Bagimu mungkin salah, tapi daddy-mu juga berhak menentukan pilihan untuk menggapai bahagianya. Daripada sibuk membenci atau menyalahkan, ada baiknya kau berdoa agar daddy-mu selalu bahagia dan mommy bisa pergi tenang dan ditempatkan di sisi terbaik oleh-Nya."


Johan terdiam seraya terus memandangi wajah Halsey dalam.


"Johan? Kau salat, kan?"


Johan menampakkan cengirannya seraya menggaruk tengkuk. "Aku sudah lupa bacaanya, Hale," balasnya memalingkan wajah.


"Johan? Sini lihat padaku."


"Jika kau merasa hidupmu sulit dan menyedihkan, coba pikirkan sebentar. Saat kau bahagia, pernahkah kau mengucap syukur atas kebaikan-Nya? Atau saat sedih seperti sekarang, pernahkah kau pulang lalu mengadu segala rasamu pada-Nya?"


"Saat hidupmu sedang penuh bahagia, kau tak mencari-Nya, jadi jangan heran jika Ia malah berbalik memberimu cobaan seperti sekarang. Allah menunggumu untuk menemuinya lalu menumpahkan segala perasaanmu padanya, Johan. Allah merindukanmu."


"Hale-"


"Berubahlah, setidaknya untuk mommy. Memohonlah pada Allah, agar ia ditempatkan di sisi terbaik oleh-Nya," potong Halsey dengan senyum lembutnya.


Johan terdiam kemudian menundukkan wajah. Ia lalu melirik jam tangannya sekilas, berpindah memandangi Halsey, seraya tangannya terlurur membelai rambut Gadis itu. "Terima kasih, Hale. Aku mencintaimu, dan kuharap kau juga," bisiknya dengan tatapan sendu.


"Jam tidurmu sudah lewat," sambungnya lagi dengan tubuhnya yang perlahan bangkit.


Halsey ikut berdiri seraya balas menatap Johan.


"Selamat malam," sambung Johan lalu mulai berbalik.


"Johan!"


"Iya, Sayang?" Johan sudah kembali berbalik.


"Kau akan langsung pulang ke rumah setelah ini, kan?"


"Tidak."


"Apa?"


Johan terkekeh "Aku tak punya rumah."


"Maksudmu?"


"Iya, Sayang. Aku akan langsung pulang ke ke apartemen setelah ini," balas Johan dengan senyum lembut.


Halsey mengangguk mengerti. Johan kemudian mulai berbalik lalu mulai meniti selimut hingga tiba di bawah


"Astaga, Johan! Ini jaketmu!" teriak Halsey dengan suara berbisik.


"Tidak perlu, Sayang. Sekarang masuk lalu tidur sambil memeluk benda itu, oke?"


"Kau pasti sudah gila," balas Halsey ketus seraya berbalik begitu saja.


Johan terkekeh seraya menyaksikan Gadis itu menutup rapat pintu balkon kamarnya, kemudian berbalik pergi.


❀❀❀