Johale'S Destiny

Johale'S Destiny
Merelakan



Dari dalam mobil, Johan tampak menyaksikan Halsey melajukan mobilnya hingga berhasil meninggalkan pelataran rumah. Sesaat, keningnya mengerut bingung, tapi detik berikutnya, langsung saja ia meraih ponsel dan memandangi layarnya saksama. "Benar. Hale sudah kedatangan tamu bulanannya," gumamnya kemudian.


Johan ikut melajukan mobilnya juga, dan mengekori Halsey dari belakang tanpa ada kemungkinan untuk ketahuan. Setelah beberapa lama, ia kembali menepikan mobilnya tepat di hadapan sebuah apotek. Bergegas turun dan membeli obat pereda nyeri haid sekaligus dengan sebotol air mineral. Semoga saja bisa membantu sedikit, pikirnya.


"Kau harusnya tidak mengemudi sendiri, Hale ...," gumam Johan lagi.


Beberapa saat kemudian, Halsey sudah membelokkan mobilnya hingga memasuki pelataran parkiran sekolah. Johan langsung bergegas keluar, kemudian memacu langkahnya lebih lebar agar bisa sampai lebih dulu di kelas Halsey.


Setelah tiba di kelas gadis itu, langsung saja ia meletakkan obat dan sebotol air mineral tadi di atas meja kemudian berlari menjauh lagi. Namun ... selepas berbalik, saat itu juga sosok Halsey sudah berdiri tepat di pintu sembari memandanginya dengan sorot datar sekaligus bingung.


"Em ... hey?" Johan tersenyum kikuk, berusaha untuk tidak bersikap salah tingkah hanya karena tertangkap basah. "Aku bawakan obat pereda nyeri haid sekaligus dengan airnya. Jangan lupa makan sesuatu sebelum meminumnya, ya."


Halsey tetap membeku di posisinya meski setelah Johan berlalu pergi. Tepukan pelan di lengannya itu ... mengapa hatinya terasa sakit sekali? "Terima kasih," bisiknya pelan.


Johan yang masih berdiri tak jauh dari Halsey hanya bisa tersenyum, sangat tipis bahkan. Ia tahu Gadis itu sudah menangis, tapi .... "Maaf, Hale. Maaf karena tak bisa mengusap air matamu lagi ketika kau menangis."


Johan berjalan menjauh, kemudian menuntun langkahnya menuju lantai rooftop untuk menunggu Alan dan Reyhan. Entah sampai kapan hubungannya dengan Halsey akan tetap seperti ini, tapi ... ia yakin bahwa Allah punya rencana yang lebih indah. Jika Ia berkehendak, maka ia dan Hale-nya pasti akan kembali bersatu, insya allah.


****


Pelajaran Fisika barusan saja sudah sangat membuat pusing, lalu ... mengapa juga Pria ini harus datang? Menjemput di pintu kelas, lagi.


Halsey terus memacu langkahnya lebih lebar tanpa sekali pun membalas segala pertanyaan Sam. Pria itu terus berceloteh tanpa henti, mengatakan ini itu hingga membuat kupingnya terasa panas.


"Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikirannya Johan, Hale. Demi apa pun dia sangat bodoh karena menyia-nyiakanmu."


"Kalau aku jadi dia, harusnya aku sudah akan cukup bersyukur. Mendapatkanmu tidak mudah sama sekali, lagi pula kau juga sudah sangat cukup untukku. Semua yang aku cari, kau sudah memilikinya. Jadi, untuk apa lagi berseling-"


"Itu bukan urusanmu!" potong Halsey muak. Sungguh, ia sedang sangat berusaha meredam amarahnya saat ini.


"Memang bukan, tapi aku jelas lebih baik darinya," balas Sam lagi.


"...."


"Aku bukan tak cukup dengan satu perempuan, hanya saja cintaku padamu yang memaksaku jadi seperti itu pada Baila."


"...."


"Aku akan tetap mengejarmu, Hale. Aku akan membuktikan bahwa perasaanku tidak main-"


"Bisa diam, tidak?!" Halsey sudah habis kesabaran. Napasnya bahkan sudah memburu saking kerasnya ia menahan amarah.


Sam mengangguk pelan. "Baiklah. Ayo, pulang bersama. Aku akan menteraktirmu makan ice cream tiga rasa!"


"Tidak perlu berusaha bersikap seperti Johan. Dia tidak akan bisa tergantikan, dengar?!" balas Halsey tajam sebelum bergegas masuk ke mobilnya begitu saja.


Benar.


Tidak ada yang bisa menggantikan Johan-nya, bahkan meski ada yang berusaha untuk bersikap sama. Johan tetap pria mesumnya yang tulus. Yang akan selalu berusaha menjaganya, bahkan tak akan pernah sengaja untuk berniat menyakitinya.


Perlahan, Halsey melajukan mobilnya hingga berhasil meninggalkan pelataran sekolah. Sementara di sisi lain, Johan yang menyaksikan itu hanya bisa terkekeh mengejek dari dalam mobilnya. Ada rasa senang yang menghinggapi, dan tentu juga rasa bersalah yang mungkin lebih mendominasi.


Setelah turun dari mobilnya, Johan langsung bergegas menghampiri Sam kemudian ....


Bugh!


Sam berdecih sembari mengusap sudut bibirnya kasar.


"Tidak perlu berusaha bersikap sepertiku!" geram Johan lagi.


"Diam, Brengsek!"


"Sudah kuduga bahwa kau ada niat lain, hahah!"


Sam tersenyum jahat. "Benar, itu pasti! Memangnya ... siapa yang akan sudi berdamai denganmu? Aku masih terlalu waras, terlebih jika harus merelakan Hale bersama Pria bodoh seperti-"


Bugh!


Bugh!


Brak!


Johan sudah terduduk di atas perut Sam sembari tangannya yang sibuk mencengkeram erat kerah kemeja Pria itu. Napasnya yang memburu, rahang yang mengetat, dan wajah yang berubah memerah karena emosi yang sudah luar biasa. "Berhenti mendekati Hale," desisnya tenang.


"Apa?" Sam terkekeh pelan sebelum akhirnya berpaling menatap Johan serius. "Jangan egois, Johan. Sejauh ini, apa kau belum pernah merasa bersalah sama sekali?"


"Bahkan meski setelah pengkhianatan dan berita kehamilan wanita itu, Hale tetap saja mengatakan kau yang terindah! Rasanya sakit, Johan! Aku yang lebih dulu mencintainya, tapi mengapa malah kau yang mendapatkannya?!"


Raut Sam berubah memelas. "Kumohon, biarkan aku menyembuhkannya dari luka. Aku sudah cukup mengalah! Aku membiarkanmu bersama Hale, memendam cemburuku sendirian, karena aku berpikir kau bisa menjaganya dan membuatnya bahagia!"


"Tapi untuk sekarang ... kurasa tidak akan lagi, Johan. Hale terlalu berharga untuk dikecewakan berkali-kali."


Johan perlahan bangkit, kemudian mengulurkan tangannya pada Sam dan membantu Pria itu bangkit. "Baiklah. Aku menyerahkan Hale padamu. Kumohon, jaga dia baik-baik."


Sam tersenyum sembari mengangguk.


"Kalau aku tahu bahwa kau menyakitinya, maka-"


"Aku bukan kau."


Johan terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berlalu menghampiri mobilnya dan melajukannya begitu saja.


***


Bel apartemennya yang yang sejak tadi berbunyi membuat Johan tidak bisa fokus dalam salatnya.


Setelah selesai mengucap salam dan sedikit berzikir, lekas ia bangkit berdiri tanpa melepas songkok di kepalanya lebih dulu. Kalau bukan Alan, pasti ini kerjaan Reyhan. Entah sedang kerasukan setan apa sampai sialan itu tidak langsung menyosor masuk saja. "Ck! Sebentar, Bodoh!" teriaknya kesal.


Setelah pintu berhasil terbuka, barulah Johan membeku di tempatnya berpijak.


Plak!


"Wanita mana yang telah kau hamili?! HAH?!"


❀❀❀