
Johan mengangguk kemudian menyusul langkah ketiga Pria itu. Sementara Baila, Gadis itu juga baru saja ikut melangkah dengan arah yang berbeda tentunya. Ia benar-benar akan memukuli Sam setelah bertemu dengannya. Pria itu telah membuatnya sangat lelah, belum lagi sekarang ia tak kunjung menemukan keberadaannya.
"Sam?! Atha?!"
Baila berteriak beberapa kali dengan kakinya yang tetap melangkah.
"Sam?! Atha?!"
"Sam?! At-"
"... gila, Sam! Lepaskan aku sebelum ada yang melihat kita!"
Baila terdiam. Dengan jantungnya yang berdetak hebat, ia mengedarkan pandangannya ke sekitar hingga berhasil mendapati dua sosok manusia tak asing, bahkan adalah orang-orang tersayang dalam hidupnya.
Sembari kembali melangkah mendekat, dengan hati-hati ia berusaha mendengar isi perbincangan keduanya.
"Aku sudah terlalu sabar, Hale. Kau tahu, 'kan? Telah sejak lama aku mencintaimu? Tapi kau ... kau bahkan memilih pindah sekolah hanya untuk menghindariku. Aku sudah melakukan segala cara, Hale. Aku bahkan rela memacari saudarimu sendiri hanya agar kita bisa tetap bertemu."
Baila meremas dadanya dengan tangis yang telah pecah. Apa ia tak sedang salah mendengar? Sam? Sam mencintai ... Hale?
"Kau gila! Lepaskan tanganku!"
"Jika aku tak bisa memilikimu, maka pria mana pun juga takkan kubiarkan memilikimu!"
"Aku sangat mencintaimu, Hale. Lalu mengapa kau tak pernah berusaha untuk berlaku sama? Apa yang kurang dariku, hah?! Apa yang Johan sialan itu miliki dan aku tak memilikinya?"
Plak!
"Jangan menyebut Johan dengan sebutan itu! Kau lebih cocok menyandangnya," balas Halsey dingin sembari menyentak tangan Sam kasar kemudian berba0lik pergi.
"Dan ... oh, ya." Halsey kembali berbalik menatap Sam.
"Kau hanya terobsesi padaku, jadi jangan pernah menyebutnya 'cinta'. Aku jijik!"
Baila telah berlari dari sana dengan tangis pecah. Ia merasa tak percaya akan semuanya, tapi ... kebenaran itu keluar dari mulut Sam sendiri. Pria yang selama ini begitu tulus dicintainya, tapi ia malah hanya menjadikannya sebuah perantara. Benar-benar tak berperasaan!
"MALIIIKKKKK!"
Baila berhambur memeluk Malik dan menumpahkan tangisnya di dada Pria itu. Ia merasa tak punya siapa-siapa lagi untuk berbagi kesedihan. Semuanya terasa mengecewakan.
"Baila? Kau kenapa?!" tanya Malik panik sembari berusaha menatap wajah Baila.
"Malik ... hiks, hiks."
"Kau kenapa, Baila? Ada apa? Katakan padaku."
Johan, Alan, dan Reyhan yang menyaksikan itu hanya bisa saling berbagi pandangan. Kaget juga melihat Baila datang dengan tangis terisak-isak begitu.
"Baila? Kenapa? Siapa yang membuatmu menangis?" Malik kembali bertanya.
"Kau kenapa, Baila? Siapa yang membuatmu menangis?" Johan ikut bersuara sembari melangkah mendekat.
"S-sam ... hiks, hiks ...," lirih Baila.
"Katakan padaku apa yang dia lakukan," pinta Malik lembut.
"Dia bukan mencintaiku, Malik ... hiks, hiks. Dia ... dia hanya memacariku karena tak bisa mendapatkan Hale. Dia mencintai Hale sejak lama ... hiks, hiks. Dia hanya memanfaatkanku ...."
Johan terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berlalu pergi begitu saja. Sudah cukup Sam bersembunyi di balik topengnya. Dugaannya ternyata benar. Pantas saja sialan itu berkali-kali telah ia pergoki memandang Halsey diam-diam.
Bugh!
Tubuh Sam telah terpental ke tanah karena tendangan yang Johan mendarat keras di punggungnya.
"Shit! Apa yang kau la-"
Bugh!
Johan mendudukkan dirinya di atas perut Sam kemudian menarik kerah kemeja Pria itu erat. "Akhirnya kebohonganmu terungkap juga. Dasar ********, kau!"
Bugh!
"Pukulan tadi itu karena kau telah berani menyukai Hale-ku."
Bugh!
Bugh!
"Yang barusan adalah karena kau telah menyakiti Baila. Dia tulus mencintaimu, Bodoh! Kau harusnya bersyukur banyak karena mendapatkan Gadis secantik itu dengan tampangmu yang pas-pasan!"
"Jaga ucapanmu, Sialan! Lepaskan aku!"
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Bugh!
"Johan?! Apa yang kau lakukan?!" Halsey berteriak panik.
Hampir semua orang sudah berkumpul mengelilingi perkelahian kedua Pria itu. Tak satu pun yang berniat melerai. Mereka semua hanya diam menyaksikan.
"Dan yang barusan lagi ... karena aku ingin kau mengenalku lebih. Aku tahu kau adalah temannya Fito, dan aku tahu bahwa kau juga termasuk salah satu Pria yang ikut mengeroyokku dulu. Benar, tidak?"
Sam terdiam. Bagaimana bisa semuanya terungkap secepat ini?
Bugh!
"BENAR, TIDAK?! JAWAB PERTANYAANKU, BRENGSEK!"
Alan dan Reyhan mungkin tidak terlalu kaget lagi, tapi yang lain ... tentu saja kaget sekaligus takut dengan teriakan Johan barusan, termasuk Halsey sendiri. Belum pernah ia melihat Johan berteriak sekeras tadi, sama sekali.
"Johan ... kumohon ... hiks. Cukup ... berhenti memukulinya ...," lirih Baila sembari berhambur memeluk Johan dari belakang. "Cukup, Johan .... Berhenti memukulinya ... hiks, hiks ...."
Perlahan, Johan melepas cengkeraman tangannya di kerah kemeja Sam kemudian berbalik menghadap Baila. Tangannya terulur mengusap pipi Gadis itu pelan. Memberikan senyum hangat yang menenangkan, kemudian menuntun agar berdiri dari posisinya. "Kau itu cantik, Baila. Coba temukan pria yang bisa menghargai segalamu, jangan dengan Sialan itu."
Halsey sendiri hanya bisa membulatkan matanya tak percaya. Apa ini?! Jangan bilang Johan bebas menyentuhnya hanya karena mereka telah resmi menjadi sepasang kekasih.
Bugh!
"TURUNKAN AKU, JOHAN! TURUNKAN AKU! PRIA GILA! TURUNKAN A-"
"Diam."
Seketika Halsey membeku pada posisinya. Nada dingin Johan barusan saja sudah membuat nyalinya menciut, bagaimana jika Pria itu sampai murka lalu membentaknya?
Selain diam menurut, Halsey hanya bisa memandangi wajah datar Johan dari bawah. Rahang yang mengetat, bahkan napasnya masih sedikit memburu.
Setelah berhasil tiba di sisi tubuh mobil, Pria itu lalu menurunkannya hingga terduduk di jok penumpang tengah. Halsey masih betah menunduk, tak berani sekaligus masih kesal untuk menatap Johan saat ini. Pria itu masih betah berdiri di sampingnya, bahkan tak niat menutup pintu mobil sama sekali.
"Coba kulihat tanganmu," ujar Johan dengan nada suara yang tak berubah sembari langsung meraih tangan Halsey. Johan memandangi tangan Gadis itu beberapa saat, hingga detik berikutnya ia bergegas pergi dan kembali dengan sebotol air di tangan.
"Johan? Apa yang kau-"
"Jangan pernah mau disentuh oleh pria itu lagi atau aku benar-benar akan marah."
Halsey hanya memandangi wajah datar Johan dari samping. Membiarkan Pria itu membasuh pergelangan tangannya, tepat di mana Sam menyentuhnya tadi.
Reyhan, Alan, dan Atha yang baru saja tiba hanya bisa memandangi mereka tanpa ekspresi. Ketiga manusia itu hanya langsung duduk di jok masing-masing, menunggu Johan selesai dengan kegiatannya.
"Selesai. Bergeserlah."
Halsey lagi-lagi menurut dan menggeser bokongnya ke samping. Johan langsung saja masuk, menutup pintu mobil, hingga Alan perlahan melajukan mobilnya.
Suasana terasa sangat canggung. Hanya membiarkan lagu dari radio terdengar, begitupun deru mobil yang mengalun pelan.
Cup!
"Maafkan aku, Sayang," bisik Johan setelah mendaratkan kecupan dalam di puncak kepala Halsey.
"Setelah tiba nanti, kau langsung istirahat, ya? Lain kali jangan memaksakan diri lagi."
Halsey mengangguk pelan, sementara Atha yang menyaksikan itu hanya bisa menelan saliva berat. Siapa pun memang akan luluh oleh sikap Johan. Terlalu lembut, dan ... romantis.
"Johan?"
"Ya, Sayang?"
"Sejak kapan kau tahu bahwa Sam juga ikut mengeroyokmu?"
"Sejak pertama kali bertemu dengannya di rumahmu."
"Tapi mengapa kau tak bilang?"
"Sama sepertimu. Aku juga berusaha menjaga perasaan Baila."
Halsey mendongak menatap Johan bingung. "Memangnya aku kenapa?"
"Jangan dipikirkan. Sekarang tidurlah. Sini." Johan menarik Halsey hingga bersandar di dadanya.
***
Tok .... Tok.
"Baila? Bisa aku masuk?"
Halsey mendesah pelan. Entah sudah berapa kali ia mengetuk dan mengulangi kalimat yang sama, tapi Baila tak kunjung juga membalas apalagi membuka pintu kamarnya. Andai saja masih ada Malik, mungkin akan lebih baik. Sayangnya, pria itu sudah harus pulang sore tadi.
Perlahan ia berbalik. Mungkin Baila sedang ingin sendiri.
Ceklek!
"Hale?"
Cepat, Halsey berbalik lagi dan mendapati sosok Baila dengan mata sembab dan penampilan berantakannya. Sam benar-benar membuatnya kacau sekali.
"Masuklah," ujar Baila sembari berbalik dan melangkah masuk.
Halsey mengekori, tak lupa juga untuk kembali merapatkan pintu. Setelah kembali berbalik, bisa ia saksikan Baila duduk meringkuk dengan tubuhnya bertumpu di kepala ranjang. Pandangan Gadis itu lurus ke depan, tak berisi.
Perlahan, Halsey melangkah mendekat kemudian duduk di tepi kasur dengan hati-hati. "Apa kau marah padaku?"
Baila menoleh hingga netra keduanya beradu beberapa saat. "Kenapa?"
Halsey membuang napas kemudian menghadapkan tubuhnya pada Baila. "Maafkan aku, tapi sungguh ... aku ... aku hanya ingin kau bahagia, Baila. Sejak awal, aku memang sempat tak percaya bahwa kau berpacaran dengan Sam. Aku ... aku hendak memberitahu tentangnya padamu, hanya saja ...." Halsey menggantung ucapannya sembari membuang wajah.
"Tidak perlu dijelaskan, Hale. Aku mengerti," balas Baila terdengar tulus sembari bergerak memeluk Halsey.
"Aku berpikir untuk membiarkan kalian saja karena kukira Sam benar-benar tulus denganmu. Lagi pula ... kau sudah terlalu mencintainya, jadi aku merasa semakin takut mengungkap. Aku ingin kau bahagia, Baila. Kumohon maafkan aku ...," jelas Halsey lirih.
Baila mengangguk-angguk sembari menarik tubuhnya mundur. "Aku mengerti, Hale. Jangan minta maaf," balasnya berusaha mencipta senyum. Bagaimana pun, Halsey memang tak bersalah sama sekali. "Aku sudah putus dari Sam, dan dia ... dia juga mengiyakan. Jadi kupikir ... mulai sekarang aku akan berusaha ikhlas," lanjutnya lagi.
Halsey terdiam. Andai saja sejak lama ia mengatakan kebenaran ini pada Baila, mungkin saudarinya itu tak harus merasakan sakit sebesar ini.
"Bisakah kau tidur di sini malam ini, Hale? Aku butuh teman untuk berbincang, agar sedih bisa sedikit menghilang."
Halsey menatap Baila kemudian mengangguk dengan senyum lembut. "Baiklah. Aku akan kembali lagi."
Setelah beranjak berdiri, ia melangkah keluar hingga telah tiba di kamarnya. Halsey melirik sekilas pada jam dinding, dan ternyata, jam tidurnya sudah lewat tiga menit.
Segera ia menghampiri ponselnya, hendak melihat pesan dari Johan yang setiap malamnya selalu dinanti-nantikan.
Johan
Selamat tidur, Sayang. Perbanyak minum air putih, ya. Aku mencintaimu. 😍
9.35 PM
Sudut bibir Halsey terangkat sedikit. Tak ingin membuat Baila menunggu, segera ia bergegas ke kamar mandi dan membersihkan tubuh seperti biasa.
***
UNTUK VERSI NOVELTOON, CERITA HANYA DIPUBLISH SAMPAI PART INI. BACA VERSI LENGKAP + EXTRA PART-NYA DI APLIKASI ****** DENGAN MENGETIKKAN JUDUL YANG SAMA. 😀