Johale'S Destiny

Johale'S Destiny
Minggu



Halsey tampak berdiri di hadapan cermin, merapikan rambut hitam panjangnya dengan hati-hati. Hari ini adalah minggu, tapi seperti biasa, Gadis itu tetap akan bangun lebih awal.


Setelah dirasa selesai, ia memutuskan untuk mengecek ponselnya lebih dulu. Bisa ia dapati dua pesan yang dikirimkan Johan untuknya.


Johan


Selamat tidur, Pacarku. Tidur yang nyenyak, ya:*


9.35 PM


Johan


Aku habis salat subuh, Sayang. Jadi, selamat pagi, ya. Aku akan lanjut tidur lagi:*


5.06 AM


Sudut bibir Halsey terangkat sedikit. Pria mesum itu terdengar sangat pamer akan dirinya yang sudah melaksanakan salat. Tapi ... ia turut senang. Setidaknya dosa-dosa Johan yang sudah bertumpuk banyak itu bisa lebih berkurang. Astaga.


Setelah meletakkan ponselnya kembali ke atas meja, Halsey perlahan berjalan mendekat ke arah pintu kamarnya.


Ceklek!


"Happy birthday!"


"Malik? Astaga. Sejak kapan kau datang?" tanya Halsey tak percaya.


Malik terkekeh sembari menyodorkan kue di tangannya pada Halsey. "Semalam, Hale. Ini. Tiup lilinnya. Maaf, ya. Surprise-ku telat hehe."


"Astaga, Malik. Terima kasih, ya. Kau pasti sedang sibuk, tapi masih menyempatkan untuk kemari."


"Memang sedang sibuk, tapi aku, kan, teman yang baik," balas Malik memasang tampang sombong. "Cepat tiup lilinnya, Hale. Ini sudah hampir meleleh," sambungnya lagi.


Halsey mengangguk kemudian menuruti perkataan Pria itu. "Kita makan di bawah saja, ya? Ayo."


Malik ikut mengekori Halsey. Menyusuri anak-anak tangga dengan langkah pelan. Setelah tiba di bawah, tampak semua orang tengah menyantap sarapan bersama.


"Astaga ... setia sekali. Kau sudah menunggu sangat lama, Malik," ujar Baila kemudian.


"Benarkah?" Halsey menoleh pada Malik.


"Iya, benar. Tapi tidak masalah."


Keduanya ikut mendaratkan bokong di kursi masing-masing.


Baila yang baru sadar akan kalung indah yang menggantung di leher Halsey langsung saja memegang benda itu, bahkan memandanginya beberapa saat. "Astaga, Hale. Ini indah sekali," kagumnya.


Halsey mengangguk kemudian mendorong wajah Gadis itu menjauh.


"Apa itu pemberian Malik, Hale?" tanya Baila kemudian.


"Pemberian Johan."


"Astaga, Ayah! Ibu! Ku rasa mereka berdua sudah resmi berpacaran!" seru Baila bersemangat.


Mahesa dan Shiren yang sejak tadi hanya sibuk mendengarkan langsung menoleh.


"Johan siapa, Hale? Kau punya kekasih, rupanya," celetuk Malik.


"Benarkah, Sayang? Kau sudah berpacaran dengan Johan?" Mahesa menimbrungi.


Halsey masih diam membisu, tak tahu harus menjawab apa. Tentu saja malu, sebab dulu ia begitu terang-terangan membenci Johan.


"Sudah Ibu duga. Kalian pasti akan saling jatuh cinta," kekeh Shiren.


"Aaaaa aku malu, Ibu," balas Halsey sembari menutup wajah.


Semua orang langsung saja tertawa.


"Aku ada rencana, Hale. Mumpung sedang hari Minggu, bagaimana jika kita liburan bersama? Aku akan mengajak Sam, Alan, Rey, dan Atha juga. Ah, dan Malik tentunya."


"Kedengarannya bagus," sahut Malik.


Halsey hanya mengangguk. "Nanti kutanyakan pada Johan."


Tak ada lagi perbincangan. Semuanya sibuk menikmati sarapan masing-masing.


Setelah selesai membantu Baila membereskan meja, Halsey mulai memotong kue pemberian Malik dan menyuapi Pria itu, Baila juga. Gadis itu kini tampak sibuk dengan ponselnya, bahkan tengah meletakkan benda itu di atas meja sembari menerima suapan kue dari Halsey.


Terdengar nada sambungan. "Halo? Sam? Kau di mana?"


"Aku baru saja bangun. Kenapa?"


"Mau ikut liburan bersama, tidak? Mumpung hari Minggu."


"Tentu saja. Di mana?"


"Tidak tahu. Nanti Hale dan Johan yang tentukan."


"Maksudmu yang pergi bukan hanya kita?"


"Iya, Sam. Kita akan merayakan hubungan Hale dan Johan yang sudah resmi berpacaran."


"B-berpacaran?"


"Iya. Kenapa?"


"Kurasa aku sedang tak bisa pergi, Baila. Maaf, ya."


"Kenapa, Sam? Bukannya tadi kau mau?"


"Iya, tapi ... ak-"


"Ayolah, Sam. Kumohon."


Terdengar desahan pelan dari sana. "Baiklah. Aku ikut."


"Terima kasih. Ku tutup teleponnya, ya."


Tett!


"Sam ikut, tidak?" tanya Malik kemudian.


Baila mengangguk senang.


"Kalau begitu ayo bersiap sekarang. Kita bisa lebih berlama-lama nantinya."


Malik dan Halsey mengangguk setuju. Mereka lalu saling bubar, sementara Halsey yang kini telah tiba di kamarnya langsung saja menghubungi Johan. Nada sambungan mulai terdengar.


"Assalamualaikum, halo?"


"Waalaikumsalam. Siapa?"


Halsey mendengus. Johan pasti masih dalam keadaan setengah sadar. "Sudah siang, Johan. Bangunlah."


"Astaga, Calon Ibu dari Anak-anakku! Aku kira bukan kau yang menelepon, Sayang."


"Tidak apa-apa."


"Iya, baiklah. Aku sudah bangun. Kau memang ingin membangunkanku, ya? Tumben menelepon."


"Baila mengajakku liburan. Katanya untuk merayakan hubungan kita."


"Benarkah? Iya, Sayang. Tentu saja."


"Tapi tempatnya belum ditentukan."


"Soal itu biar aku yang urus. Ngomong-ngomong ... kau sudah mandi, tidak?"


"Tentu saja sudah."


"Aku akan mandi, Hale. Sudah dulu, ya?"


"Ajak Atha juga."


"Iya, Sayang. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Aku mencintaimu."


"Aku tidak dengar."


Tett!


Halsey memutuskan panggilannya sepihak, kemudian beranjak hendak bersiap.


Sementara di sisi Johan, Pria itu baru saja terkekeh sesaat setelah Halsey memutuskan panggilan teleponnya.


"Hey?! Alan? Rey? Bangun!" teriak Johan keras sembari mengguncang-guncangkan tubuh kedua Pria itu.


"Nggghh! Sudah cukuph kauh menggangguh tidurkuh, Brengsekh!" balas Alan masih dengan suara seraknya. Entah mengapa cara bicara Pria itu jadi kelebihan 'h', tapi memang perasaannya sedang sangat kesal pada Johan.


Tadi subuh ia menganggu tidur dan menyuruh untuk salat, dan sekarang ... apa lagi maunya?!


"Bangun, Bodoh! Sudah siang." Johan beranjak dari kasur kemudian melangkah menuju kamar mandi.


"Jangan bicara, Alan! Mulutmu bau sekali," gumam Reyhan kesal.


"MULUT KALIAN SAMA-SAMA BAU! CEPAT BANGUN DAN BERSIHKAN TEMPAT TIDURKU!" teriak Johan dari dalam kamar mandi.


"ALAAAAAAN?! Menjauh, Sialan! Astaga. Ilermu benar-benar bau! Argghh!" Reyhan bangkit dari tidurnya kemudian mengambil posisi berdiri. Ia kini mengelapi ketiaknya yang sempat tersapu ilernya Alan dengan mulut yang menggerutu kesal.


Alan sendiri masih saja betah memejam, bahkan posisinya sudah dalam keadaan telentang, kedua tangan merentang, kaki terbuka lebar, dan mulutnya yang mangap sempurna. Benar-benar Pria jorok.


***


Dua buah mobil mewah baru saja melaju meninggalkan pekarangan rumah keluarga Bamatara. Johan, Malik, Halsey, Baila, dan Sam berangkat dalam satu mobil, sementara Reyhan, Alan, dan Atha memilih untuk memisahkan diri karena keterbatasan muatan.


"Aku menyesal tak meminta Atha ikut di sini saja. Kedua pasangan baru ini benar-benar membuatku merasa tak dianggap sama sekali," gerutu Baila, menyindir Halsey dan Johan yang sejak tadi terus saja bermesraan tanpa kenal tempat.


Sebenarnya bukan bermesraan, sebab yang bersikap agresif di sini adalah Johan, sementara Halsey lebih sering memberontak bahkan telah melayangkan beberapa kali tamparan di pipi Pria itu.


"Astaga, Baila. Diam saja, deh. Kau mengganggu!" balas Johan ketus.


"Menjauhlah, Johan! Sekali lagi kau menaruh lenganmu di pundakku, maka aku tak akan segan-segan untuk membunuhmu saat itu juga. Ish! Menyebalkan sekali," omel Halsey sembari mendorong tubuh Johan menjauh darinya. Sudah tahu sedang kedatangan tamu bulanan, masih saja gemar bersikap menyebalkan.


"Gadis PMS memang kejam, ya? Aku jadi semakin merasa tertantang," balas Johan santai, bahkan kembali menggelungkan lengannya di pundak Halsey.


"Kekasihmu itu selalu kejam, Johan. Tidak peduli sedang kedatangan tamu bulanan atau tidak sekalipun," celetuk Malik.


Johan melirik sekilas pada kaca depan kemudian menampakkan senyum jahatnya. Ia merasa semakin tertantang, sekarang. "Jangan berkata begitu, Malik. Hale-ku sama sekali tidak galak, kok. Benar, kan, Sayang?" balasnya sembari membelai lembut rambut hitam Halsey pelan.


"Menjauhlah, Johan. Berhenti membuatku kesal."


"Iya, Sayang. Maafkan aku, ya? Sini. Bersandar di dadaku saja. Aku tahu kau sedang merasa sedikit pusing," balas Johan sembari menarik Halsey mendekat. Gadis itu tampak menurut, bahkan benar-benar menumpukan kepalanya di dada Johan.


"Ekhem. Ke mana arah jalannya?" Itu suara Sam. Ia hanya sibuk mengemudi sejak tadi.


"Setelah mendapati lorong kecil di sebelah kanan, berbelok di sana," sahut Johan.


Mereka hanya memilih pantai yang sering Halsey dan Johan kunjungi. Selain karena lebih dekat, suasananya juga lebih cocok. Cukup tenang, dan agar Halsey bisa lebih menikmati.


Setelah laju mobil yang perlahan berhenti, semuanya mulai bergegas turun dari mobil. Johan sendiri malah merasa menyesal mengiyakan ajakan ini, sebab Halsey ... Gadis itu terlihat sangat lemah sekarang. Jelas sekali bahwa ia hanya memaksakan diri untuk ikut.


"Hale? Kau terlihat sangat lemah, Sayang." Johan menarik Halsey untuk menghadapnya kemudian memandangi wajah Gadis itu dengan raut cemas.


Halsey sendiri hanya menggeleng pelan.


"Ini sudah biasa," balasnya berusaha tersenyum sedikit.


"Apa kau-"


"Kau kenapa, Hale?"


Johan hanya menoleh sekilas pada Baila kemudian berpindah menatap Halsey lagi.


"Kita akan berjalan, Sayang. Apa kau bisa?"


"Iya, Johan. Aku bisa."


Johan mendesah pelan kemudian mengangguk. Ia lalu menyatukan jemarinya dengan milik Halsey dan menuntun Gadis itu untuk mulai melangkah.


Bugh!


"Kau mengacuhkanku, Johan Sialan!"


Johan memegangi lengannya sembari menoleh pada Baila. "Astaga, Gadis ini. Apa masalahmu denganku, sih?!"


"Kau mengacuhkan ucapanku!"


"Aku atau pacarmu? Mengapa kalian tak bersama?"


"Enak saja! Dia sedang pergi dengan Malik. Ingin membeli beberapa makanan, katanya."


Johan hanya mengangguk mengerti. Ketiga manusia itu kini berjalan beriringan hingga berhasil menapakkan kaki di pasir pantai, disapa oleh sejuknya angin yang berhembus, ditambah dengan deru ombak yang mencipta suara gemuruh.


"Kalian akan ke mana?" Baila kembali bersuara.


"Mencari tempat untuk duduk," sahut Johan.


"Astaga. Aku tidak akan bergabung dengan kalian. Sudah cukup tadi saja aku merasa tak dianggap."


Johan menoleh dengan senyum senang.


"Dengan senang hati aku mempersilakan. Kau memang baik, Baila," balasnya sembari mengacak-acak rambut Baila keras.


Baila hanya menatap sebal kemudian berlalu pergi. Johan yang sadar bahwa Halsey sejak tadi tak pernah membuka suara langsung menunduk dan menatap wajah Gadis itu. "Hale? Apa kau masih kuat?" tanyanya benar-benar cemas.


"Johan? Bisakah kita berhenti di sini saja? Perutku sakit sekali."


Johan langsung saja menarik Halsey menepi kemudian menuntun Gadis itu untuk duduk. "Lain kali jangan memaksakan, Sayang. Apa lebih baik kita pulang duluan saja?"


"Jangan! Lagi pula aku baik-baik saja."


Johan mengangguk pelan kemudian ikut duduk di sisi kiri Halsey. Tangannya membelai rambut Gadis itu dari samping, memainkannya lama. "Hale?"


"Hm?"


"Aku masih tidak percaya bisa memilikimu."


"Kenapa begitu?" tanya Halsey sembari menoleh menatap Johan, hingga keduanya saling memandang beberapa saat.


"Karena ka-"


"KAK JOHAN?! KAK HALE?!"


Keduanya sontak menoleh ke arah suara dan mendapati Atha, si Gadis berkulit coklat dengan senyum manisnya yang mekar tengah berlari ke arah mereka.


Halsey tersenyum tipis menyaksikannya. Tubuh Gadis itu benar-benar mungil, belum lagi dengan gaya rambut ekor kudanya yang khas.


"Atha? Di mana yang lain, Sayang?"


Atha langsung mendudukkan dirinya sembari berusaha mengatur napas. "Kak Alan dan kak Rerey ikut pergi bersama kak Malik dan kak Sam. Katanya mereka pergi mencari bahan untuk bakar-bakar ikan nanti," jelasnya ceria.


"Benarkah? Johan? Kau sebaiknya menyusul mereka. Aku akan di sini saja dengan Atha," ujar Halsey sembari menoleh pada Johan.


"Tapi, Sayang ... kau-"


"Aku baik-baik saja, Johan," potong Halsey cepat.


"Kak Hale sedang kedatangan tamu bulanan, ya? Astaga itu memang sangat sakit, Kak," celetuk Atha.


"Lagi pula ada Atha, Johan. Kau menyusul mereka saja. Tidak enak jika kau tetap tinggal di sini denganku sementara yang lain-"


"Sssstt! Iya, Sayang. Baiklah," potong Johan sembari bangkit dari posisinya.


Cup!


Setelah mengecup kening Halsey sekilas, ia berpindah menatap Atha. "Jagakan Kak Hale, ya, Sayang. Kakak akan menyusul yang lain."


Atha mengangguk senang, hingga detik berikutnya, Johan perlahan melangkah menjauh. Setelah beberapa lama, dari jauh ia bisa mendapati Malik dan dua Pria lain sampingnya tengah berjalan beriringan.


"Hey! Tunggu aku!" teriak Johan sembari mulai berlari. Pasir-pasir putih saling menempel di telapak kakinya yang basah.


"Dari mana saja kau?" tanya Alan kemudian.


"Halsey merasa sedikit lemah tadi, tapi aku meninggalkannya setelah Atha datang."


"Mengapa kau meninggalkannya, Johan?" Malik ikut bersuara.


"Hale yang memaksaku. Katanya ia merasa tidak enak jika aku tinggal dengannya lalu kalian sedang mencari bahan bersama," jelas Johan.


Keempat Pria itu mulai berjalan beriringan.


"Kau mungkin membosankan, jadi ia beralasan begitu," celetuk Alan terkekeh jahat.


"Enak saja. Hale itu gadis yang jujur. Dia menyampaikan segala maksudnya dengan lurus."


"Sesempurna itukah Hale di mata-"


"HEY?!"


Sontak semuanya berbalik dan mendapati Baila dengan napasnya yang terengah-engah hebat.


"Di mana Sam? Aku benar-benar sudah lelah mencari Pria itu," tanyanya masih dengan napasĀ  tersengal-sengal.


"Memangnya tak bersamamu, ya?" Malik balik bertanya.


"Aku malah mengira dia bersama kalian."


"Dia tadi menyusul Atha," celetuk Reyhan.


Johan terdiam. Atha?


"Hey? Ayo, cepat. Kita melangkah terlalu pelan!" seru Alan berteriak.


Malik berbalik setelah mendapati Johan masih terpaku di tempatnya. Astaga, Pria itu. "Hey, Johan? Ayo cepat!"


Johan mengangguk kemudian menyusul langkah ketiga Pria itu. Sementara Baila, Gadis itu juga baru saja ikut melangkah dengan arah yang berbeda tentunya. Ia benar-benar akan memukuli Sam setelah bertemu dengannya. Pria itu telah membuatnya sangat lelah, belum lagi sekarang ia tak kunjung menemukan keberadaannya.


***