Johale'S Destiny

Johale'S Destiny
Horror atau Romansa



"Tentu saja, Sayang."


Lagi-lagi Halsey melihat ke sekitar. Tak bisakah Johan lebih mengenal tempat? Sungguh, sikapnya menarik perhatian beberapa pengunjung lain. Ish! Membuatnya semakin risih saja.


"Hale? Coba lihat lingerie-"


"Johan, ayolah. Kuharap kau bisa lebih menyesuaikan dengan tempat. Orang-orang memerhatikan kita, dan itu membuatku semakin risih!"


Johan menoleh dan mendapati wajah kesal Halsey. "Iya, Sayang. Aku minta maaf," balasnya kemudian.


Mereka kembali berjalan beriringan, menyusuri deretan-deretan toko pakaian wanita dengan merk-merknya yang mendunia.


Johan menarik tangan Halsey mendekati sebuah pajangan dress mini tanpa lengan lagi tanpa kerah.


"Apa kau tak berpikir ini cocok untukmu, Hale?" tanya Johan memandangi dress tersebut tanpa melirik Halsey.


"Apa kau berpikir aku pernah sudi mengenakan itu?" Halsey balik bertanya dengan nada ketus.


Johan menoleh. Setelah mendapati wajah Halsey, ia lalu menampakkan cengirannya tanpa dosa. "Ini cocok untukmu, Sayang. Pasti kau akan terlihat sangat sek-"


"Tidak perlu membeli pakaian apa pun untukku!" potong Halsey seraya berlalu pergi.


Yang benar saja. Otak Pria sialan itu memang tak ada isi lain selain hal-hal semacam itu. Dress mini tadi dia bilang? Apa-apaan?! Di rumah saja ia tak pernah mengenakan celana pendek atau tanktop saat hendak keluar kamar.


"Hale? Sayang? Aku hanya bercanda, tadi," bujuk Johan seraya menyesuaikan langkahnya dengan Halsey. "Iya, baiklah. Aku akan serius memilihkanmu pakaian. Ya, Hale?"


Halsey menoleh. "Tidak perlu membeli pakaian apa pun untukku! Kau tahu? Sikapmu padaku semakin tak senonoh saja!" balasnya dengan nada dingin.


"Iya, Sayang. Maafkan aku. Aku janji akan memilihkanmu dengan serius, ya?"


Halsey hanya melirik Johan sekilas. Sungguh, ia benar-benar menyesal pergi bersama Pria itu hari ini.


"Hale? Bagaimana dengan yang itu?"


Johan kembali menarik tangan Halsey untuk menghampiri sebuah dress berwarna kuning lembut, dengan kerah berbentuk segitiga menggelung leher tanpa lengan.


"Kurasa tidak begitu terbuka. Panjangnya juga menjuntai hingga lutut," sambung Johan lagi.


"Tidak perlu. Aku sedang tak ingin membeli pakaian."


Johan melirik Halsey sekilas lalu berpindah pada shopwoman yang berdiri tak jauh dari mereka.


"Tolong kemaskan yang ini," ujarnya seraya menunjuk dress tadi.


Setelah menyelesaikan pembayaran, Johan kembali menghampiri Halsey dengan paperbag yang ditentengnya. "Ini untuk dinner kita nanti," bisiknya menggoda.


"Dinner?"


Johan mengangguk. "Iya, Sayang. Ngomong-ngomong kau ingin ke mana lagi?"


Mereka kembali berjalan beriringan. "Entah."


"Bagaimana kalau kita nonton dulu? Kau suka genre film apa?"


Halsey menoleh. "Katamu kau orang hebat."


"Otakku tak sehebat itu juga untuk mengingat semuanya dalam sekali baca, Sayang," balas Johan dengan tangannya menggetil pelan pipi Halsey.


Halsey hanya mencibir sebagai tanggapan. "Bagaimana kalau film romance?" tanya Johan dengan wajah penuh harap.


Menurutnya, itu ide yang bagus. Mungkin saja nanti akan ada adegan yang bisa membuat Hale-nya khilaf.


"Isi otakmu benar-benar mengagumkan," gumam Halsey memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan raut gelinya.


Johan sendiri malah terkekeh. "Aku serius, Hale. Genre romance saja, ya? Kurasa hari ini ada yang ditayangkan."


"Lain kali saja. Aku sedang ingin film thriller atau mungkin horror."


Johan kembali berpikir. Ia rasa ... itu juga bukan hal yang buruk. Jika tak bisa membuat Hale-nya khilaf, setidaknya akan ada beberapa adegan mengejutkan pada film itu. Pasti sangat menyenangkan, apalagi jika Gadis itu sampai memeluknya seraya berbisik 'Johan, aku takut'. Ah, sial!


Saking sibuk memikirkannya, Johan bahkan tak sadar bahwa dirinya sudah sempat tertawa kecil tadi.


"Apa kau hanya akan terus sibuk dengan pikiran konyolmu itu lalu kita tak jadi menonton? Kau ... astaga! Benar-benar!"


Johan menoleh dan mendapati Halsey tengah menggeleng-geleng. Baiklah, ia sendiri mengakui betapa otaknya benar-benar kotor. "Tidak, Sayang. Kita akan menonton film horror saja," balasnya kemudian.


Mereka lalu mulai menuntun langkah menuju area bioskop. Selepas tiba di sana, Johan meminta Halsey untuk duduk saja sementara dirinya akan memesan karcis masuk. Pria itu telah kembali kemudian mengambil tempat untuk duduk di sisi kiri tubuh Halsey.


"Filmnya dimulai sebentar lagi. Ngomong-ngomong, jika nanti kau ketakutan, jangan sungkan untuk memelukku, ya?"


Halsey menoleh seraya berdecak malas. "Jangan bicara padaku!" balasnya dengan tatapan tajam.


"Aku serius, Sayang. Tubuhku selalu siap untuk memelukmu kapan pun kau butuh."


"Diam!"


"Jangan lupa memelukku, ya~"


"Diam!"


"Iya, Sayang. Peluk saja sampai kapan pun kau mau."


"Joh-"


"Filmnya sudah akan dimulai. Ayo masuk."


Johan menggandeng tangan Halsey tanpa permisi begitu saja. Setelah menyerahkan potongan karcis pada wanita cantik di depan tadi, kini mereka telah memasuki gedung bioskop.


Masih dengan tangannya yang menggandeng milik Halsey, Johan sibuk mencari kursi untuk mereka berdasarkan yang tertera di karcis.


"Yang ini. Ayo, Hale."


Halsey terus mengekori hingga benar-benar telah duduk di sisi kanan Johan. Tak lupa Pria itu memesan dua buah popcorn juga minuman, hingga terakhir, lampu mulai dipadamkan dengan film yang mulai tayang.


"Jangan lupa ucapanku tadi, ya," bisik Johan lalu terkekeh pelan.


Halsey tak menggubris seraya mulai memasukkan bulat-bulatan popcorn ke mulutnya. Setelah beberapa lama film berjalan, beberapa adegan menyeramkan mulai muncul. Johan tersenyum senang. Ini adalah yang paling ia nantikan.


"Arghhhh!"


Apa-apaan tadi itu?! Saat semua penonton telah berteriak ketakutan, bagaimana bisa Halsey malah tetap tenang dengan raut wajah seriusnya?


Sial, sial. Rencananya kali ini tampaknya tak akan berjalan sesuai rencana.


"Jangan dipaksakan, Sayang. Sini peluk aku jika kau mulai takut," bisik Johan lalu mendekatkan pipet minuman ke mulutnya.


Halsey menoleh. "Kau tidak menonton, ya? Itu sedang sangat seru-serunya."


Johan menggeleng seraya memasukkan popcorn ke mulutnya santai. "Aku lebih suka film action, jadi tujuanku kemari memang hanya untuk memelukmu jika kau ketakut-"


"Diam kau, Johan!"


Johan terkekeh pelan. Mungkin belum sekarang, karena klimaksnya memang belum sampai. Bisa saja yang paling menyeramkannya terletak di akhir, jadi nanti Halsey akan ketakutan lalu berbalik dan ... memeluknya!


Seraya ikut menyaksikan film, sesekali Johan melirik Halsey. Ia merasa filmnya sudah sangat menyeramkan, tapi mengapa Hale-nya belum juga ketakutan? Ah iya, benar. Ini memang belum klimaksnya.


Saat adegan menyeramkan kembali muncul, Johan melirik Halsey lagi.


"Tenang. Ini belum klimaksnya." Ia membatin.


Beberapa menit berlalu, adegan menyeramkan kembali muncul.


"Yang ini juga belum klimasknya."


Lagi.


"Belum ...."


Lagi.


"Masih belum. Pasti sebentar lagi."


"Ini juga pasti belum. Mungkin beberapa menit-"


Johan mengedarkan pandangannya dengan sorot tak percaya. Film selesai, lampu kembali menyala, dan semua penonton mulai berhambur meninggalkan kursi masing-masing. Sementara dirinya dan Halsey?


Apa benar-benar tak ada acara berpelukan di antara mereka?!


"Pembuat filmnya benar-benar payah. Bagaimana bisa adegannya hanya itu-itu saja? Kau bahkan tak ketakutan sedikit pun."


Mereka mulai bangkit lalu berjalan keluar dari bioskop.


"Jangan asal bicara. Tadi itu sudah sangat seru," balas Halsey.


"Aku tak membahas perihal serunya, tapi menyeramkannya."


"Tadi sudah sangat menyeramkan, kok."


"Lalu mengapa kau tak ketakutan?"


"Tidak tahu."


Johan mengusap wajah dengan tangannya satunya yang bebas. "Sudahlah. Lebih baik kita mengisi perut saja."


Johan berjalan dengan wajah ditekuk sebal. Halsey sendiri tak mengacuhkan, sebab ia sendiri jadi terikut kesal karena Johan marah hanya karena hal kecil begitu.


Setelah beberapa kali menyusuri eskalator, mereka akhirnya tiba di restoran dalam pusat perbelanjaan itu. Johan menggandeng tangan Halsey hingga duduk di meja bagian sudut, setelahnya mereka memesan makanan masing-masing. Di sana hanya ada beberapa meja yang terisi, karenanya pesanan mereka datang cukup awal.


"Jangan lupa membeli buku panduan salat," ujar Halsey datar.


Johan mengangkat wajahnya. "Iya, Calon Istriku Sayang."


Seketika Halsey terdiam dengan kunyahannya yang tertahan. "Kondisikan dengan tempat."


Johan memasukkan makanan ke mulutnya santai. "Memangnya kenapa? Toh, kau memang calon istriku," balasnya kemudian


"Johan-"


"Iya, Sayang? Kau ingin kusuapi, ya?"


"JOHAN!"


Johan terkekeh seraya melirik pengunjung lain yang baru saja menoleh ke arah mereka. "Calon istriku ini memang galak. Maaf jika menganggu," ujarnya pada salah satu Wanita yang kini juga membalasnya tersenyum.


Johan kembali melirik Halsey. "Kita akan membeli buku panduan salat lalu makan ice cream setelahnya."


Halsey tak menanggapi. Setelah beberapa lama, mereka selesai dengan santapan masing-masing. Johan menyelesaikan tagihannya lebih dulu, setelah itu mereka berjalan keluar meniggalkan area restoran.


"Apa jalan-jalan kita hari ini tak membuatmu senang?" tanya Johan seraya mengeratkan tentengan paperbag di tangan kirinya.


Halsey hanya bergumam sebagai jawaban, hingga Johan langsung berhenti melangkah dengan kedua tangannya bertumpu di lutut.


"Johan? Kau kenapa?" tanya Halsey khawatir.


"Aku merasa sangat lelah."


"Kalau begitu kita pulang saja. Buku panduan salatmu nanti aku yang belikan," ujar Halsey kemudian.


Johan mendongak. "Tidak, Hale. Aku hanya perlu dicas."


Halsey melirik ke sekitarnya "Dicas? Bukankah kau baru saja makan?"


Johan meluruskan tubuhnya kembali, masih dengan ekspresi lelah. "Kau harus tersenyum dulu. Aku hanya bisa mendapat energi dari sana."


"Ck! Ya, ampun. Kau ini modus sekali, sih? Membuat khawatir saja!"


"Cepatlah, Hale. Aku benar-benar bisa mati jika kau biarkan lebih lama lagi."


Halsey mendesah seraya melihat ke sekitar. Ia lalu berpindah menatap Johan datar, hingga detik berikutnya, bibirnya telah melengkung sempurna sampai-sampai Johan terdiam bahkan langsung ikut tersenyum.


"Aku benar-benar kembali kuat," gumamnya.


❀❀❀