
Sinar mentari yang menelusup masuk melalui jendela membuat Johan terpaksa membuka pejamannya. Silau sekali, ia bahkan belum bisa membuka pejaman sepenuhnya.
"Nghhh! Aw!" Johan meringis tatkala merasakan sakit di tulang pipinya. Meski merasakan pening yang teramat sangat, ia tetap berusaha bangkit duduk dengan pandangannya yang diedarkan ke seluruh ruangan.
"Sial. Jam berapa sekarang?!"
Johan bangkit berdiri sembari berlari terbirit-birit menuju kamar mandi apartemennya. Ia benar-benar belum bisa mengingat apa pun sekarang, tapi itu urusan nanti. Halsey pasti sudah menungguinya sejak tadi, astaga.
Setelah selesai mandi dan bersiap, Johan mulai berlari tergesa-gesa meninggalkan apartemennya kemudian melangkah masuk ke lift. Setelah lift mulai bergerak hingga berhasil berhenti, ia kembali bergegas berlari keluar kemudian menghampiri mobilnya.
"Hale pasti sudah menungguku sejak tadi," gerutunya sembari melirik jam tangan sekilas. Sudah pukul 07.12 AM.
Mobil Johan telah melaju cepat, meninggalkan pelataran apartemennya dalam hitungan detik. Sembari tetap fokus pada kemudinya, ia menyempatkan untuk melirik ke kaca depan, berusaha mendapati wajahnya yang entah sudah bagaimana sekarang.
"Sial. Mengapa bisa lebam begini, sih? Siapa yang memukuliku?" gerutunya kesal. Meski memang merindukan warna-warna keunguan itu menghiasi wajah tampannya, tetap saja tidak sekarang. Halsey pasti akan bertanya panjang lebar nanti
Mengomel sana sini, atau bahkan sampai marah dan tidak mau bicara dengannya lagi.
"Aku bahkan tak bisa ingat apa-apa. Benar-benar sial!"
Laju mobilnya kian melambat hingga perlahan menepi tepat di hadapan gerbang rumah keluarga Bamatara. Johan bergegas keluar, berlari kecil memasuki pelataran hingga berhasil tiba di mulut rumah.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Johan membuang napas lega. Tadi itu suara Halsey, bahkan sosoknya telah muncul sekarang.
"Hale? Aku minta maaf, Sayang. Ayo, cepat. Kau bisa telat masuk ke kelas," ujar Johan sembari menghampiri Halsey dan langsung menarik tangan Gadis itu begitu saja.
Halsey juga hanya diam, membiarkan Johan menariknya bahkan hingga telah terduduk di jok penumpang dekat kemudi. Wajahnya benar-benar terlihat datar, tak ada ekspresi sama sekali.
"Hale? Apa kau marah? Maafkan aku, ya," ujar Johan kemudian, sembari tangannya yang kembali sibuk memasang seat belt.
Setelah kembali melajukan mobilnya, beberapa kali ia melirik pada Halsey yang sejak tadi tetap betah bungkam dan tak mengatakan apa-apa. "Jangan marah, Hale. Aku kesiangan, tadi," ujarnya lagi.
"Hm."
Johan mendengus. Baiklah. Ia akan berusaha mengerti jika Halsey benar-benar marah, lagipula ini memang salahnya.
***
"Dasar sialan! Memangnya kalian memukuliku berapa kali, sih? Ketampananku jadi berkurang, sekarang!" Johan terus saja sibuk memandangi wajahnya di kamera ponsel, menggerutu kesal sejak tadi tanpa henti-henti.
Alan dan Reyhan yang mendengar itu hanya memilih tak menjawab bahkan telah berdecak kesal beberapa kali. Siapa juga yang sudi menjawab pertanyaan yang sama terus menerus? Melelahkan diri saja.
"Jika aku menebak Hale marah karena luka ini, sepertinya itu salah. Dia bahkan tak pernah melirikku barang sekali saja sejak tadi." Johan berpikir sesaat kemudian lanjut memandangi pantulan wajahnya di kamera ponsel.
Ketiga Pria itu tengah berada di lantai rooftop, seperti biasa. Menghabiskan waktu bersama, atau mungkin merokok bersama-sama.
"Kalau begitu apa alasan Hale marah? Tidak mungkin hanya karena aku telat menjemputnya. Dia bukan type manusia seperti itu." Johan kembali bermonolog dengan aktivitas bercerminnya yang terhenti.
"Argh! Ini benar-benar membuatku merasa gila. Kalian, sih! Mengapa juga harus memukuliku sampai separah ini?!"
"Hey, Bodoh?! Apa kau tak sadar sudah berbicara sendiri sejak tadi?!" teriak Alan kesal. Sejak tadi ia sudah sangat berusaha memendam, padahal.
"Kalau aku berbicara sendiri, itu artinya kalian tak kuanggap ada. Aku masih waras, ya. Tutup mulutmu sebelum aku khilaf merobeknya!"
Alan menoleh cepat. "Robek pantatmu?! Hah?! Dasar Pria bodoh!"
"Kau memang bodoh, Johan! Aku sungguh tak mengerti dengan jalan pikiranmu!" Reyhan ikut menimbrungi.
"Kalian kenapa, sih?! Mengapa menyebalkan sekali?!" Johan bangkit berdiri kemudian berlalu dari sana. Tangannya bergerak membuka kancing kemeja teratasnya, berusaha meredakan perasaan kesal yang tengah mendominasi. Ia melirik jam tangannya sekilas, dan ... tersisa 12 menit lagi lalu jam istirahat akan segera berlangsung.
"Mengapa semuanya menyebalkan sekali?" gumamnya kesal.
"Tapi ... aku tidak sedang berulang tahun. Lalu apa penyebabnya?"
Langkahnya kini terhenti di depan kelas Halsey. Sosok Pria berperut buncit tampak berdiri di depan kelas. Menerangkan dengan suaranya yang menggelegar, tak lupa tangannya beberapa kali memperbaiki letak kaca mata.
Johan melirik pada Halsey, berharap bahwa Gadis itu akan menoleh padanya kemudian melempar senyum. Tapi tidak. Padahal ia sangat yakin Halsey menyadari hadirnya.
"Baiklah. Cukup sekian dulu untuk hari ini."
Setelah menyaksikan Pria tua tadi berjalan melewati pintu, cepat, Johan melangkah masuk ke kelas dan menghampiri Halsey di kursinya.
"Selamat siang, Sayang," ujarnya sembari mendaratkan bokong di atas meja Halsey. Johan kini duduk menghadap Gadis itu, memandanginya dengan sorot menggoda seperti biasa. "Apa kau tak ke taman?" tanyanya kemudian.
Halsey hanya sibuk mengeluarkan buku dari tasnya, bersikap seolah tak mengindahkan kehadiran Johan. Menyaksikan itu, Johan mendengus kesal. Apa, sih, kesalahannya?
"Hale? Kalau aku ada salah, tolong katakan saja. Jangan diam begini," ujarnya.
Halsey bangkit berdiri kemudian mulai berlalu. Johan tetap mengekori, bahkan langsung menggenggam tangan Halsey tanpa izin.
"Lepaskan."
"Tidak akan."
"Lepaskan, Johan! Jangan menyentuhku!" bentak Halsey sembari mengentak kasar cekalan Johan dari tangannya.
"Kau kenapa, Hale? Katakan masalahmu," pinta Johan masih berusaha lembut.
Halsey hanya balas menatapnya datar, tak ada ekspresi sama sekali. "Obati lukamu."
Detik berikutnya, ia kembali berjalan lebih dulu, tak menghiraukan panggilan Johan sedikit pun. Entah mengapa, tapi ia sudah berusaha keras untuk biasa-biasa saja namun tidak bisa. Hatinya menolak, terlalu banyak kecewa yang menghinggapi.
Setelah bokongnya terduduk sempurna di bangku taman, kehadiran Johan lagi-lagi membuat perasaannya kembali kacau. Ia sedang butuh waktu sendiri, sekarang. Memikirkannya baik-baik, mempertimbangkan pilihan yang terbaik.
"Di mana rotiku?" tanya Johan sembari menghadapkan tubuhnya pada Halsey. Tangannya menopang dagu, sementara netranya sibuk memandangi segala pahatan wajah Gadis di hadapannya itu dari samping.
Merasa tak ada tanggapan, tangan Johan lalu terulur menarik dagu Halsey. Meminta Gadis itu untuk menoleh dan balas menatapnya. "Katakan padaku, Sayang. Jangan diam saja," pintanya lagi.
Halsey menggeleng sembari menepis pelan tangan Johan dari dagunya.
"Hale ...?"
"Astaga, kumohon, Sayang. Katakan jika sedang ada masalah. Jangan diam begini ...."
"Hale?"
Johan berniat menarik dagu Halsey lagi, namun detik berikutnya ....
"Aku ingin putus."
❀❀❀