Johale'S Destiny

Johale'S Destiny
Keterpaksaan



"Eum ... Mom? Kenapa menangis?"


Hanum tersenyum lembut dengan tangannya yang terulur membelai surai Halsey. "Tiak salah Johan jatuh cinta denganmu," bisiknya pelan.


"Mom ingin memberi tahumu banyak hal, Hale," sambungnya lagi sembari mengambil posisi yang ia rasa paling nyaman untuk bercerita.


"Mom tidak tahu. Entah ini adalah terakhir kalinya kembali ke Indonesia, atau Tuhan masih berbaik hati memberi umur panjang."


"Mom menderita leukimia dan menghabiskan banyak waktu di Singapura untuk berobat. Sepanjang itu, Johan hanya tahu bahwa Mom menetap di Turkey karena urusan pekerjaan hingga tak selalu bisa mengunjunginya kemari." Hanum memandang lurus sembari membiarkan genangan air di pelupuk matanya kian meleleh banyak.


"Pemeriksaan terakhir, dokter memvonis bahwa umurku tidak lama lagi. Aku meraung-raung seraya terus menyalahkan takdir. Jika aku pergi, lalu bagaimana dengan putra-ku? Hidupnya sudah terlalu sendirian, lalu mengapa Tuhan malah begitu tega hendak memisahkan kami?"


Halsey terdiam menyaksikan Hanum tampak larut bermonolog.


"Putra-ku itu kerap menangis di pangkuanku kala bercerita tentang bagaimana Harris mengatainya benih haram. Bagaimana ia merasa bahwa kelahirannya tak diinginkan pria itu, bagaimana ia selalu berusaha menarik perhatiannya meski kini berakhir dengan dirinya yang diusir dari rumah."


Hanum mengusap pipinya pelan. "Johan tidak pernah menceritakan perihal gadis hingga seheboh saat menceritakan tentangmu, Hale. Mom bersyukur kalian dipertemukan," lanjutnya sembari menarik Halsey dalam dekapan.


"Jagakan Johan untuk Mom, Sayang ...," bisiknya lagi.


"Mom-" Ucapan Halsey menggantung tatkala Hanum melepas dekapan dan langsung menatapnya sendu.


"Saat makan siang tadi, Mom mendengar perbincangan Johan dengan Rey. Mereka akan melakukan balas dendam, tapi menunggu kepulangan Mom dulu. Andai saja bisa, Mom akan memilih menetap di sini agar anak itu tak lagi gemar mencari masalah. Tapi ... tetap saja Mom tidak ingin Johan tahu soal ini, Hale ...."


"Jika Mom pergi, tolong cegah Johan untuk balas dendam. Harris akan semakin memukuli putra-nya sendiri jika tahu anak itu kembali membuat masalah. Jadi, Mom mohon ...." Tangis Hanum pecah. Rasanya tak ada kekuatan untuk tetap lanjut bercerita lagi.


"Johan ... Johan tidak punya siapa-siapa lagi jika Mom pergi, Hale. Hiks, hiks ...."


Halsey merasa bingung hendak bagaimana menanggapi. Sebenarnya ada sedikit rasa haru setelah mengetahui perihal hidup Johan. Rupanya ... tak semudah yang ia bayangkan selama ini.


Gadis itu kemudian menarik Hanum dalam dekapannya. "Aku akan berusaha, Mom," balasnya berbisik.


Meski dalam hati ada keraguan yang mendominasi, Halsey berusaha mengatakan bisa. Membayangkan bahwa ia mencegah Johan untuk balas dendam malah membuatnya jijik duluan. Pria itu pasti semakin cerewet dan meracau, belum lagi jika ia kembali lancang lalu melakukan hal tak sopan seperti siang tadi. Rasanya ... mereka akan selalu menjadi jauh. Halsey benar-benar tak suka pria sespesies itu.


"Johan bercerita tentang kau yang marah padanya karena ia lancang menggendongmu tadi. Tolong maafkan dia, ya, Hale? Kau tahu? Putra-ku itu memang akan bersikap sangat berlebihan jika sudah menyangkut orang-orang yang ia sayangi. Mom harap kau mengerti."


Tak ada sahutan. Perihal ini, Halsey tak berani berjanji. Ia perlu waktu untuk berpikir, sebab yang dilakukan Johan tadi memang sudah cukup kelewatan.


"Mom menitip Johan padamu, Hale. Tolong isi hari-harinya jika Mom benar-benar berpulang. Jangan biarkan ia larut dalam kesedihan yang panjang."





Lalu bagaimana? Ia sendiri saja masih sangat kesal pada Johan. Tapi ... jika mengingat Hanum kembali, segalanya serasa terkalahkan. Mungkin ia akan bersikap seolah kejadian tadi siang tak pernah terjadi. Setidaknya belajar melupakan agar hatinya tak terasa terbebani.



Sekali lagi ia tegaskan, ini karena permintaan Hanum. Wanita itu berhati lembut dan pandai menenangkan, dan sungguh ... Halsey nyaman bersamanya.



Tapi tetap saja. Jika ia meminta Johan untuk tidak balas dendam, maka Pria itu pasti dengan senang hati mengiyakan agar bisa terus dekat dengannya sepanjang hari. Jika saja tidak menyebalkan, mungkin Halsey tak harus sepusing ini dalam mengambil keputusan.



Perhatiannya teralih saat ponselnya di atas nakas berdering pendek. Halsey bangkit menghampiri benda pipih itu kemudian memeriksa isi pesan yang baru saja diterimanya.



Mommy Hanum


Mom sudah di bandara, Sayang. Sebentar lagi pesawatnya akan take off. Semoga sehat selalu, ya. Jangan lupa jagakan Johan.


19.27 PM



Halsey mengetukkan ujung jarinya pada layar, menulis balasan singkat 'Hati\-hati'. Ia kemudian meletakkan lagi ponselnya ke atas nakas lalu kembali ke sofa hendak melanjutkan bacaannya yang sempat tertunda.



❀❀❀