
Cup!
Cup!
Johan telah mendaratkan kecupan dalam pada bulir-bulir air di pipi Halsey. Meski dirinya tengah dilanda hasrat, tetap saja ia tak ingin mencuri ciuman pertama Halsey tanpa persetujuan dari Gadis itu. "Maaf telah membuatmu takut," bisiknya lembut.
Cup!
Setelah kembali mendaratkan kecupan dalam di kening Halsey, kini Johan berpindah membingkai wajah Gadis itu. "Jangan lupa minum obat, ya, Sayang? Kau terlihat sangat lemah," ujarnya lagi dengan ibu jarinya yang mengusap mata Halsey pelan.
"Jo- Johan ... hiks, hiks, hiks ...."
"Maaf, Sayang. Jangan menangis lagi," bisik Johan lembut.
Setelah beberapa saat, kini Halsey tampak mulai membaik. Johan kemudian menggandeng tangan Gadis itu, meraihkan tasnya, lalu menuntunnya menuju parkiran.
Setelah tiba di sana, Johan mendapati sosok Pria yang kini tampak bertumpu di tubuh mobilnya dengan raut cemas.
"Pulanglah. Jangan lupa minum obatmu," ujar Johan kemudian berlalu pergi.
Halsey terdiam seraya menyaksikan punggung Johan yang perlahan mengecil dari pandangannya. Meski hanya membayangkan sekalipun, tetap saja ia akan kembali merasa takut dengan sosok Johan yang tadi. Sorot matanya ... sungguh benar-benar seperti bukan dirinya.
Halsey lalu menarik napas kemudian menghampiri Malik yang mungkin belum menyadari hadirnya sejak tadi.
"Hale? Astaga, Hale?! Kau benar-benar membuatku khawatir!"
Halsey berusaha tersenyum tipis. Mungkin matanya telah sembab sekarang, tapi bagaimana lagi. Ini semua karena perbuatan Johan.
"Hale? Apa yang terjadi? Kau seperti habis menangis, Hale."
"Tidak, Malik. Aku baik-baik saja. Setelah tidur pasti akan mendingan, kok," balas Halsey berusaha menenangkan.
Malik memandangi Halsey beberapa saat kemudian langsung menuntunnya hingga terduduk di jok samping kemudi. Setelah berhasil ikut mendudukkan diri, ia perlahan melajukan mobilnya hingga meninggalkan pelataran sekolah tadi.
"Tidurlah, Hale. Nanti kubangunkan setelah kita sampai," ujar Malik kemudian.
Halsey menurut kemudian mulai memejam. Tanpa sepengetahuan siapa pun, Gadis itu kini menangis dalam keadaan tenang. Hatinya sakit setelah perlakuan Johan tadi. Ia merasa benar-benar murahan dan tak bisa menjaga harga dirinya sebagai seorang Gadis. Andai saja ... Johan benar-benar mencium bibirnya tadi, demi apa pun ia memang akan membenci pria itu dan tak sudi bahkan hanya untuk melihat wajahnya lagi.
Mobil Malik sudah tampak berbelok memasuki pelataran rumah keluarga Bamatara. Setelahnya, ia berpaling memandangi wajah damai Halsey kemudian membelai pelan rambut Gadis itu. "Hale? Sudah sampai," bisiknya.
Halsey tak menanggapi.
"Hale? Kita sudah sampai," ulang Malik lagi.
Setelah beberapa saat, Halsey tampak mengerjap beberapa kali hingga matanya benar-benar terbuka. Pandangannya ia edarkan ke sekitar, hingga detik berikutnya, ia menoleh lalu menatap Malik hangat.
"Apa kau sedang tak enak badan? Aku rindu tatapan datarmu, Hale. Matamu terlihat sangat sayu."
Halsey terkekeh kemudian menggeleng pelan. "Tidak apa-apa. Ayo, turun," balasnya seraya bergegas keluar dari mobil.
Keduanya lalu saling beriringan memasuki mulut rumah. Setelah itu, Halsey bergegas menuju kamarnya sementara Malik berjalan menuju dapur. Ia hendak mengambil makanan untuk Halsey, sebab keadaan Gadis itu benar-benar membuatnya sedikit khawatir.
Tok ... tok!
"Hale? Aku membawakanmu makanan!" teriak Malik.
Tak ada sahutan.
"Hale? Kau baik-baik saja, 'kan? Aku membawakanmu ma-"
Ceklek!
"Aku membawakanmu makanan."
Halsey terdiam memandangi piring di tangan Malik. "Ya ampun, Malik. Aku benar-benar merepotkanmu," balasnya kemudian.
Malik tersenyum seraya menggeleng. "Makanlah lalu minum obatmu, ya. Panggil aku saja jika kau butuh sesuatu," ujarnya seraya mengulurkan piring tersebut pada Halsey.
Halsey mengangguk sembari menyaksikan Malik berjalan menjauh. Setelah Pria itu tak lagi nampak, ia kembali menutup pintu kemudian berjalan mendekat ke arah kasur.
Bukannya bergegas memakan makanan di piring itu, Halsey malah meletakkannya di atas nakas kemudian mulai merebah. Ia bukan sedang sakit, hanya saja ... kejadian tadi benar-benar memenuhi isi kepalanya.
Entah karena sibuk berpikir sembari memejam atau mungkin memang sedang kelelahan, kini Halsey sudah tampak terlelap. Napasnya berhembus teratur, wajahnya berubah melembut.
***
Halsey perlahan mengerjap tatkala tidurnya terganggu oleh suara pertengkaran Baila dan Malik di kamarnya. Kedua manusia itu kejar-mengejar kemudian berteriak bahkan saling memukuli satu sama lain. Ish! Benar-benar mengganggu.
"Kembalikan ponselku, Maliiiiiik! Kembalikaaaaan!"
"Kembalikan, Malik! Aku harus membalas pesannya Sam! Kembalikaaan!"
Merasa tak lagi tahan, Halsey bangkit mendudukkan dirinya kemudian menatap sebal ke arah Baila dan Malik yang masih saja saling mengejar. "Jangan menjahili Saudariku, Malik!"
Suasana berubah hening. Baila dan Malik kini memandang Halsey tak percaya, kemudian berpindah saling menatap setelahnya.
"Hale? Apa kami mengganggu tidurmu?" tanya Baila seraya berjalan mendekat ke arah kasur.
Halsey menggeleng.
"Ini semua gara-gara kau, Malik! Hale jadi terbangun, 'kan?!"
Malik ikut menyusul lalu duduk di sudut kasur. "Siapa suruh tak mau membuatkanku jus?"
Baila tak menanggapi. Gadis itu kini bergegas keluar kamar entah hendak mengapa.
"Apa Baila marah, ya?" gumam Malik.
Halsey menggeleng. "Jika marah, Baila tidak memilih diam. Dia akan menangis saat itu juga," balasnya.
Malik menoleh. Bergerak mendekat pada Halsey, lalu menempelkan punggung tangannya di kening Gadis itu. "Kau sempat demam tadi. Mengapa tak makan dulu sebelum memutuskan untuk tidur?"
"Aku merasa sangat lelah. Di mana ayah dan ibu?"
"Mereka sedang menghadiri acara kondangan," balas Malik kemudian.
Pintu yang terbuka membuat keduanya sontak menoleh. Tampaklah Baila berjalan mendekat dengan sebuah nampan di tangannya.
"Kukira kau marah," ujar Malik kemudian terkekeh.
"Tidak, jika kau mengembalikan ponselku."
Malik beranjak berdiri. "Biar aku yang menyuapi Hale. Ini, ambillah," sahutnya seraya mengulurkan ponsel milik Baila kemudian mengambil tempat untuk duduk di sisi kanan Halsey.
Baila mengangguk antusias lalu mulai fokus pada ponselnya.
"Apa aku sedang sakit keras hingga harus makan bubur begitu?" tanya Halsey.
"Memangnya kenapa? Lagi pula ini tampaknya enak," balas Malik seraya mulai mengaduk-aduk bubur dalam mangkuk di tangannya. "Ayo buka mulutmu, Hale," sambungnya lagi dengan sendok yang ia ulurkan ke mulut Halsey.
Halsey menurut lalu mulai membuka mulutnya. Ia makan dengan tenang tanpa pernah protes, meski Malik kadang memasukkan bubur ke mulutnya begitu banyak. "Aku ingin minum, Malik."
Malik mengangguk lalu menoleh ke arah Baila. "Ambilkan air untuk Hale, Baila."
Baila yang sejak tadi sibuk pada ponselnya langsung mendongak. "Memangnya tak ada di situ, ya?" tanyanya kemudian.
"Ada, tapi ambilkan saja," balas Malik tanpa dosa.
Baila memasang wajah sebal tapi tetap juga beranjak. Setelah memberikan segelas air di atas nakas tadi pada Halsey, ia kembali duduk pada posisinya kemudian larut lagi dengan benda pipih di tangannya itu.
"Aku sudah kenyang, Malik."
Malik meletakkan mangkuk itu ke atas nakas kemudian membantu Halsey minum. "Baila? Ambilkan Hale obat."
Baila berdecak kesal. "Ishhh! Ambil saja sendiri. Aku sedang chating-an dengan Sam."
"Tidak perlu, Malik. Lagi pula hanya demam biasa. Pasti besok sudah mendingan," sahut Halsey.
"Tapi, Hale ...."
"Aku hanya butuh istrahat. Tidak perlu khawatir," balas Halsey lagi dengan bibirnya yang tersenyum tipis.
Malik mengangguk seraya beranjak berdiri. Ia lalu menarik selimut Halsey hingga dada, kemudian mengacak pelan rambut Gadis itu.
"Tidurlah. Selamat malam," ujarnya kemudian berbalik menghadap Baila.
"Baila? Ayo, keluar. Biarkan Hale istrahat."
Baila mengangguk lalu ikut beranjak. Setelah menyaksikan pintu kamarnya telah tertutup, Halsey kemudian meraih ponselnya yang terletak di atas nakas.
Sudah pukul 9.42 PM, berarti ia tertidur sangat lama. Tapi ... ngomong-ngomong, mengapa tak ada pesan dari Johan? Halsey menggeleng keras seraya bangkit berdiri.
"Astaga! Tidak, tidak. Aku bukan berharap, hanya saja ... aku hanya khawatir. Iya, aku hanya khawatir," bisiknya dengan wajah merona. Ah, sial!
❀❀❀