Johale'S Destiny

Johale'S Destiny
Pukul 19.45 PM



Setelah masing-masing duduk, Reyhan mulai melajukan mobil. Pria itu sibuk dengan kemudinya, sementara Halsey sibuk melempar pandangan keluar jendela mobil.


"Johan bersikap baik pada semua perempuan, dan aku tahu itu membuatmu meragukan keseriusannya. Tapi ... sepanjang mengenalnya, aku belum pernah melihat ia memperlakukan Gadis sangat spesial selain denganmu."


Halsey mendengarnya, tapi seperti biasa, Gadis itu hanya suka mendengarkan.


"Johan akan menghajar pria mana pun jika mendapatinya menyakiti perempuan atau berlaku kasar. Aku dan Alan sendiri adalah salah satu korbannya."


"Jadi ... jangan menyia-nyiakannya. Pria seperti Johan tidak banyak di bumi ini," sambung Reyhan lagi.


Tak ada sahutan dari Halsey, bahkan meski mereka telah tiba di depan rumah Gadis itu. "Terima kasih," ujar Halsey sembari bergegas turun, tanpa pernah melirik Reyhan sekali pun.


"Assalamualaikum." Ia mengucap salam setelah tiba di mulut rumah.


Shiren dan Baila yang tampak duduk di sofa sambil menonton bersama pun sontak berbalik. "Waalaikumsalam," balas keduanya bersamaan.


"Hale? Kau pulang sangat telat, Sayang," ujar Shiren seraya berjalan menghampiri Halsey dan membiarkan Gadis itu mencium punggung tangannya.


Ya, memang sangat telat. Azan magrib bahkan sebentar lagi berkumandang.


"Johan dikeroyok, Bu. Aku mengantarnya ke rumah sakit dan sekarang dia dirawat di sana," jelas Halsey.


"Kita akan menjenguknya besok setelah ayahmu kembali dari luar kota. Sekarang kau mandi dan ganti pakaianmu lalu salat, ya, Sayang. Ibu akan menyiapkan makan malam."


Shiren memang hanya ibu tirinya, tapi tak seperti ibu Bawang Putih, ia selalu berlaku manis setiap waktu, bukan hanya di depan Mahesa saja. Wanita itu memperlakukannya seperti bagaimana ia kepada Baila, tak pernah membeda-bedakan.


***


Setelah memarkirkan mobilnya, kini Halsey dan Baila sudah tampak berjalan beriringan dengan sebuah keranjang mini berisi aneka buah di tangannya.


"... sebelum dia kemari."


Halsey berhenti di depan pintu beberapa saat, berusaha mendengarkan lebih percakapan Alan dan Johan dari dalam ruangan.


"Kau terlalu berlebihan, Johan. Aku bersedia jadi jaminan bahwa Hale-mu akan selamat tanpa goresan hingga tiba di sini!"


"Seorang gadis ke mana-mana di jam sekarang itu tidak baik, Bodoh. Bagaimana jika ter-"


Tok ... tok!


"Ck! Masuklah, Rey. Tolong kau jemput Hale sebelum dia kemari sen-" Johan terpaku mendapati sosok Halsey di pintu. Dia ... dia datang SENDIRI?!


"Hale? Mengapa kau kemari sendirian?" sambutnya langsung.


Halsey memutar bola mata malas sembari melangkah masuk. Setelahnya, ia lalu meletakkan buah yang ditentengnya tadi ke atas nakas.


"Seorang Gadis ke mana-mana di jam sekarang itu bahaya, Hale! Apalagi kau sendirian. Bagaimana jika terjadi se-"


"Berhenti bicara dan istirahat saja agar kau cepat sembuh!" potong Halsey mulai geram.


"Hale datang bersamaku, Johan. Kau tidak perlu khawatir," sahut Baila yang baru saja muncul dari balik pintu.


Alan dan Johan sontak menoleh dan mendapati sosok Gadis berambut sebahu dengan perawakannya yang mungil.


"Ah, Baila? Syukurlah. Ayo, masuk," sambut Johan.


Baila mengangguk dan mulai melangkah masuk.


Baila tersenyum."Tentu saja," balasnya kemudian berjalan menghampiri Alan dan duduk di samping Pria itu.


Karakter Baila memang berbanding terbalik dengan Halsey. Gadis itu terkesan lebih friendly, mudah akrab dengan siapa pun.


"Jangan macam-macam dengannya, Alan. Baila sudah punya kekasih jika kau belum ta-"


"Kau sedang sakit, Johan. Beristrahatlah! Berhenti banyak bicara," potong Halsey benar-benar sudah kesal.


Johan menampakkan cengiran. "Baiklah. Maafkan aku, Calon Pacarku," kekehnya.


"Kau sudah meminum obatmu, kan?" tanya Halsey kemudian. Ia masih berusaha mengabaikan ucapan Johan dulu, tapi hanya kali ini saja.


"Sayangnya belum sama sekali. Aku belum makan, apalagi minum obat."


Dasar pembohong!


Seketika Halsey menoleh kemudian berpindah melirik Alan juga. "Lalu apa gunanya Pria itu berjaga di sini?" tanyanya sembari bergerak dan segera membuatkan bubur untuk Johan.


"Tidak tahu, Hale. Alan memang tidak berguna. Aku sakit saja dia tak pernah bertanya mana yang sakit. Ish!" Sebenarnya hanya berusaha menyindir, jadi semoga Halsey bisa peka.


Johan lalu memandangi Halsey yang kini tampak mendekat dengan sebuah nampan di tangannya. Memandangi penuh cinta, bahkan hingga Gadis itu sudah berhasil terduduk di kursi sampingnya.


"Berhenti memandangiku dan buka mulutmu," perintah Halsey dingin seraya mulai mengulurkan sendok ke mulut Johan.


Ternyata tidak peka, ish!


Johan tak juga membuka mulutnya sama sekali. Malah, sekarang, Pria itu hanya mengedarkan pandangannya hingga mentok pada jam dinding. "Meski kau tidak peka, aku akan tetap mengatakan bahwa ... tepat hari ini, pukul 19.45 PM, aku telah mencintai seorang Hale," bisiknya cerah.


"Kalau begitu buka mulutmu, Johan. Kau tidak boleh telat makan dan minum obatmu tepat waktu, mengerti?"


"Aku mencintaimu, Hale. Sangat!"


"Buka mulutmu, Johan!" ulang Halsey dengan suara yang mulai meninggi.


Johan cemberut. "Aku akan membuka mulutku setelah kau membalas ucapanku!"


Halsey menarik sendok di tangannya yang terlurur. "Aku akan membuang bubur ini saja dan kau tidak perlu makan!" ujarnya seraya mulai bangkit berdiri.


Dengan cepat Johan mencekal pergelangan tangan Halsey hingga Gadis itu sudah kembali duduk. "Iya, iya. Aku akan membuka mulutku. Kau jahat sekali, sih!" cegahnya semakin cemberut.


Halsey mulai menyuapi Johan tenang. Mengabaikan tatapan Pria itu yang sejak tadi terus saja memandanginya penuh cinta.


"Aku ingin minum, Hale."


Halsey meraih gelas berisi air yang ia letakkan di atas nakas kemudian membantu Johan minum. Setelah selesai, ia kembali meletakkan gelas itu dan hendak menyuapi Johan lagi.


"Tidak, Hale. Ini sudah pukul 20.32 PM. Jam tidurmu sudah hampir tiba, bukan? Lagi pula aku juga sudah kenyang."


Halsey mengangguk. "Baiklah. Minum obatmu kalau begitu," balasnya sembari memberikan beberapa buah pil dan diterima langsung oleh Johan.


"Apa ayah atau ibumu tidak tahu hingga tak satu pun yang pernah kemari?"


Johan terbatuk keras, seolah ucapan Halsey yang wajar itu adalah hal serius baginya. "Mereka sedang di luar negeri," balasnya singkat.


❀❀❀