Johale'S Destiny

Johale'S Destiny
This I Promise You



"Aku baru ingat bahwa kau Pria mesum sialan yang suka modus," bisik Halsey terdengar geram. Ia bahkan belum juga membuka pejamannya.


Johan malah tersenyum simpul. Setelah berdehem sebentar, perlahan ia mendekatkan bibirnya ke telinga Halsey.


"Kau harus bisa melawan rasa takutmu, Sayang. Enyahkan segala pikiran burukmu itu. Jangan berpikir akan terjatuh, dan bayangkan saja bahwa rumput di bawah itu adalah kasur empuk yang ada di kamarmu," bisiknya pelan. "Ayo, coba buka pejamanmu," lanjutnya lagi.


Halsey tetap saja menggeleng keras. Cengkeramannya di dada Johan bahkan semakin mengerat.


"Ayo, Hale. Coba buka pejaman matamu, dan bayangkan seperti perkataanku tadi. Ayo, Sayang. Aku yakin kau bisa." Johan kembali bersuara.


Setelah terdiam sangat lama, akhirnya Halsey berusaha memberanikan diri. Perlahan ia membuka pejamannya, mengedarkan pandangannya, dan ... yang benar saja. Ternyata tak seburuk perkiraannya tadi.


"Bagaimana?"


Halsey mendongak menatap Johan. Astaga, sial! Mengapa ia baru sadar dengan posisi mereka sekarang?


"A-aku merasa baik. Cepat menjauhlah. Jangan memanfaatkan situasi."


Johan terkekeh sembari menarik tubuhnya mundur. Ia kini berpindah  memandangi Halsey geli. "Kau selalu lucu saat ketakutan," ujarnya terkekeh.


"Johan? Aku ingin duduk. Rasanya pusing jika harus berdiri begini," sahut Halsey seolah tak mengindahkan ucapan Johan.


"Iya, Sayang. Duduk di situ," balas Johan sembari menunjuk dahan pohon tepat di belakang Halsey.


"Kau? Kau duduk di mana?"


"Aku akan duduk di sini. Jadi kita berhadapan saja."


"Aaaaaaa! Tidak mau, Johan! Bagaimana jika aku terjatuh?"


Johan terkekeh pelan. "Lalu bagaimana, Sayang? Apa kau ingin duduk berdampingan denganku saja? Atau mungkin ... kau mau dipangku saj-"


"Ini salahmu, sih! Mengapa juga harus di atas pohon begini? Sangat merepotkan! Belum lagi jika akan turun nanti. Oh, astaga! Aku ingin turun sekarang, Johan! Pokoknya aku ingin turun!"


"Ya ampun, berisik sekali. Tidak akan terjadi apa-apa, Hale. Kalau perlu-"


"Kalau perlu apa, Johan?! Pokoknya aku ingin turun sekarang ju-"


"Sssst! Ayo, pegang tanganku," potong Johan sembari mengulurkan tangannya pada Halsey.


"Benar, 'kan? Kau pasti sengaja merencanakan semua ini. Pokoknya aku ingin turun saja, Joh-"


Johan menarik tangan Halsey hingga Gadis itu tertarik membentur dadanya. "Sekarang coba duduk di sini, dan aku akan berdiri saja," ujarnya kemudian.


Halsey menurut dengan hati-hati. Setelah bokongnya berhasil terduduk sempurna di dahan pohon, segera saja ia berpegangan kuat di dahan lain. Jantungnya kini berpacu sangat cepat, saking ketakutannya, mungkin.


"Coba berusaha tenang, Sayang. Tidak perlu ketakutan begitu," ujar Johan sembari merapikan anak-anak rambut Halsey ke belakang kuping.


"Kau tidak mengerti, Johan! Aku memang ketakutan, tahu!"


"Iya, Sayang. Iya. Aku mengerti, tapi coba berusaha tenang. Enyahkan rasa takutmu," balas Johan berusaha menenangkan.


Setelah beberapa lama, Halsey tampak menuruti omongannya. Gadis itu kini menarik napas lalu membuangnya pelan.


"Bagaimana?"


"Tidak tahu."


Johan menarik tubuhnya mundur kemudian bertumpu di batang pohon. Tangannya kini terulur meraih gitar tadi sembari mulai memandangi Halsey dengan sorot lembut.


"Apa kau tahu lagu yang berjudul 'This I Promise You'?"


Halsey tampak berpikir kemudian mengangguk singkat. "Yang dipopulerkan oleh 'N Sync?"


"Iya, benar. Lagu ini banyak digunakan orang-orang sebagai lagu pernikahan, tapi karena nanti kita memang akan menikah, jadi aku akan menyanyikannya untukmu sekarang," jelas Johan panjang lebar.


Halsey hanya bisa mengangguk. Sebenarnya ia merasa sedikit geli karena penjelasan Johan. Apa tak ada hal lain lagi selain pernikahan di kepala Pria itu? Mereka berdua saja bahkan masih duduk di bangku kelas dua belas. Perjalanan hidup masih terlalu panjang.


Halsey memandangi Johan yang sudah tampak memetik senar gitarnya. Melodi yang ia hasilkan mulai terdengar mengalun, bahkan Pria itu sudah memandanginya dengan penuh cinta.



When the visions around you


Ketika pemandangan di sekelilingmu


Bring tears to your eyes


Membuatmu meneteskan air mata


And all that surround you,


Dan semua yang di sekitarmu,


Are secrets and lies


Hanyalah rahasia dan dusta


I'll be your strength,


Aku kan menjadi kekuatanmu,


I'll give you hope,


'Kan kuberi kau harapan,


Keeping your faith when it's gone


Menjaga keyakinanmu saat hilang


The one you should call,


Orang yang harus kau panggil,


Was standing here all along


Berdiri di sini selalu


Halsey tersenyum lembut sembari terus menikmati suara berat Johan. Seraya balas menatap hangat tatapan sendu Pria itu padanya, ia juga berusaha meresapi makna dari setiap penggalan lirik yang teralun dari mulutnya.


And I will take you in my arms


Dan akan kurengkuh engkau di lenganku


And hold you right where you belong


Dan mendekapmu erat di tempat seharusnya


'Till the day my life is through


Hingga akhir hidupku


This I promise you, babe


Just close your eyes


Pejamkanlah matamu


Each loving day


Tiap hari yang penuh kasih


I know this feeling won't go away


Aku tahu perasaan ini takkan berlalu


Every word I say is true


Semua yang kukatakan adalah kenyataan


This I promise you


Ini janjiku padamu


Ooh, I promise you ....


Ooh, ini janjiku padamu ....


Sangat mendalam. Bahkan terdengar begitu tulus, seolah Johan adalah pencipta lagu, dan memang ia tujukan untuknya.


"Suaramu sangat indah," puji Halsey kagum.


Johan tersenyum simpul. "Every word i say is true, Hale," balasnya sembari menatap Halsey serius, dalam.


"Iya, Johan. Aku percaya."


Keduanya saling memandang beberapa saat. Halsey memandang hangat, Johan memandang dalam, hingga ....


"Haleeeee?! Jam berapa sekar-"


"JOHAN?! KALAU AKU KAGET DAN TERJATUH BAGAIMANA?! KAU INGIN AKU MATI, YA?! MASIH MENDING JIKA LANGSUNG MATI. KALAU AKU HARUS MENDERITA STROKE DULU?!"


Johan malah terkekeh tanpa dosa. Entah, tapi selalu saja akan terdengar lucu jika Halsey berbicara panjang-panjang seperti tadi.


"Kenapa kau tertawa?! Dasar Pria gila!"


"Aku akan mengantarmu pulang sekarang," balas Johan sembari menyerahkan gitar di tangannya pada Halsey. Detik berikutnya, ia mulai bersiap hingga berhasil melompat ke bawah.


"Lempar gitarnya kemari, Hale."


Halsey menurut kemudian melempar gitar tadi pada Johan. Pria itu menangkapnya santai.


"Baiklah. Sekarang giliranmu yang melompat," ujar Johan setelah meletakkan gitarnya ke atas rumput. Ia kini mendongak menatap Halsey yang sudah tampak hendak menangis. "Hale? Astaga, Sayang. Kau tidak akan terjatuh."


"Tidak mau, Johan .... Pokoknya ambilkan aku tangga saja."


Johan menggeleng pelan kemudian terkekeh lagi. "Tidak ada tangga, Sayang. Kalau perlu melompat ke arahku saja, jadi aku tinggal menangkapmu."


Halsey menggeleng keras dengan matanya yang sudah berkaca-kaca. Mengapa Johan begitu jahat padanya? Sudah tahu ia takut ketinggian, tapi Pria mesum sialan itu malah sempat-sempatnya lagi memanfaatkan situasi.


"Ambilkan aku tangga, Johan. Hiks. Aku ... aku takut ...," lirihnya dengan mata memejam kuat.


"Iya, baiklah. Tapi ada syaratnya."


"Aku membencimu, Johan! Hiks, hiks. Aku ingin turun ... kumohon ...."


"Katakan dulu bahwa kau mencintaiku, lalu aku akan mengambilkan tangga!" teriak Johan tanpa dosa.


Halsey terdiam beberapa saat. Pejamannya bahkan belum juga terbuka. "Aku ingin turun-"


"Cepatlah, Hale. Ayo kata-"


"AKU MENCINTAIMU, JOHAN SIALAN! DASAR PRIA MESUM! KAU JAHAT! AKU MEMBENCIMU! Hiks."


"Itu tidak romantis, Sayang. Ayo, ulangi lagi."


Seketika Halsey membuka pejamannya kemudian menatap Johan dengan sorot amarah yang berapi-api.


"Cepat, Sayang. Ayoooo!"


"Aku ... mencintaimu, Johan Sayang ...."


"Iya, Hale. Aku juga. Bahkan sangat," balas Johan sembari tersenyum puas.


"Kalau begitu ambilkan aku tangga, Johan! Aku sudah merasa hendak pingsan!"


Dengan segera, Johan berlari kemudian mengambil tangga kayu yang terletak tak jauh dari posisinya. Ia lalu menumpukannya pada batang pohon, hingga detik berikutnya, Halsey mulai menuruni anak-anak tangga hingga berhasil turun dari pohon tadi.


"Astaga, Sayang. Kau menangis keras rupanya," ujar Johan sembari mendekat pada Halsey, niat mengusap pipi Gadis itu seperti biasa.


Bugh!


Tubuhnya lebih dulu terdorong hingga bokongnya mendarat di atas rumput. Bukannya meringis, Johan malah menampakkan cengirannya tanpa dosa seraya membiarkan Halsey memukulinya sekuat tenaga.


"Kau jahat, Johan! Katanya mencintaiku, tapi kenapa malah membiarkanku menangis?! Aku membencimu! Hiks."


Johan tersenyum lembut menyaksikan Halsey terisak-isak sembari mengusap matanya. Biarkan saja dulu, agar perasaan Gadis itu bisa seimbang nantinya.


"Sudah, Sayang. Jangan menangis lagi, ya? Maafkan aku," ujarnya sembari mengusap pipi Halsey pelan.


"Aku ketakutan, Johan! Mengapa kau begitu tega padaku, tadi?"


Cup!


Setelah mengecup kening Halsey dalam, kini Johan memandangi Gadis itu lembut.  "Sudah. Jangan menangis lagi, ya? Aku akan mengantarmu pulang sekarang," ujarnya kemudian.


Bugh!


"Aku bukan Gadis murahan! Jangan sering mencuri-curi kesempatan untuk menciumku!" teriak Halsey sembari bangkit berdiri dan meninggalkan Johan yang hanya bisa memandangi punggungnya geli.


Belum juga tinggal serumah, mereka sudah sekonyol ini. Bagaimana jika telah menikah nanti? Ah, pasti sangat seru! Apalagi kalau sudah punya anak.


Unch.


Ia jadi tidak sabar lagi.


Johan mengintip Halsey dari balik pintu. Gadis itu kini tampak memandangi sebuah bingkai foto di tangannya dengan senyum yang sesekali terbit. Seingatnya, Halsey baru saja menangis, tadi. "Kau lihat apa, Sayang?" Johan melirik jam dinding sekilas. Sudah pukul 06.07 PM.


"Johan? Kau melewatkan dua waktu salat!"


Johan mengangguk membenarkan. "Aku akan salat magrib dulu. Tunggu sebentar, ya," balasnya sembari menyusuri anak-anak tangga hingga ke lantai dua.


❀❀❀