Johale'S Destiny

Johale'S Destiny
Aksi Balas Dendam



Halsey menggeleng keras, berusaha mengatur napasnya seraya mulai menyusuri anak-anak tangga kumuh penuh debu itu.


Pria penelepon tadi mengatakan bahwa tempatnya berada di atap gedung, sebabnya, kini ia memutuskan untuk memacu langkah lebih cepat.


'Meouw'


Langkah Halsey yang tadi terpaut lebar kini tertahan pada posisinya. Apa tadi itu? Benarkah suara seekor kucing? Katakan saja dirinya tak penyayang, tapi sungguh, phobia terbesarnya adalah memang pada hewan yang menurut orang lain paling imut dan menggemaskan itu.


"Aaarrgghhh!"


Halsey langsung berlari terbirit-birit dengan peluh di sekujur keningnya yang kian menetes. Apa benar seseorang hanya niat mengerjainya? Jika iya, mengapa harus dengan hewan itu? Bagaimana jika kucing itu benar-benar menampakkan diri padanya hingga ia benar-benar pingsan karena ketakutan?


Dalam hati Halsey bersorak lega tatkala matanya telah menangkap pintu pembatas antara tangga dan rooftop gedung. Baru saja berhasil melampaui pintu, pemandangan yang kini ia dapati malah membuat tubuhnya kembali membeku.


Lima orang Pria lainnya telah terkapar lemah di lantai, sementara tiga lainnya lagi tampak memukuli dan memandangi mereka dengan raut puas.


"Johan?"


Semua Pria di atap gedung itu menoleh sekaligus, terlebih dengan Johan yang kini hanya bisa mengumpat keras dalam hati. Bagaimana bisa Hale-nya ada di sana di waktu yang bahkan sedang sangat buruk-buruknya itu? Belum lagi dengan Fito dan ke empat temannya yang kini telah mereka buat terkapar. Sungguh, ia yakin semuanya adalah jebakan. Fito sialan itu pasti sengaja menyusun semuanya hanya agar ia dan Halsey jadi bermasalah.


"Kau benar-benar mengabaikan janjimu."


Halsey telah berbalik pergi dari sana, sedangkan Johan kini sudah mengeluarkan berbagai macam umpatan seraya terus menggeram gemas. Tak sampai di situ, matanya telah ia alihkan hingga menggapai Fito, menghampiri lalu menginjakkan kaki berbalut sepatunya pada tubuh Pria itu berkali-kali.


"SIALAN! SIALAN! ********, KAU BRENGSEK!"


Johan membungkuk lalu mencengkram kerah seragam Fito. "Aku masih akan memukulimu nanti, mengerti?"


Bugh!


Setelah melayangkan sekali pukulan, Johan berlari menyusul Halsey yang entah telah tiba di mana. Ia berlari dengan sangat gesit menuruni anak-anak tangga, hingga pada suatu detik, langkahnya terhenti seketika tatkala mendengar suara isakan dengan wujud Halsey di sudut dinding tengah meringkuk ketakutan.


"Hale? Ada apa, Sayang? Kenapa kau mena-"


Johan membeku tatkala Halsey menarik lengannya mendekat hingga kini posisi mereka telah nyaris berpelukan.


"Johan ... aku takut! Kumohon tolong aku! Bawa aku pergi dari sini!"


Johan berusaha mengesampingkan perasaan aneh yang kini terasa menjalari seluruh tubuhnya. Ia lalu meraih tubuh Halsey kemudian membopong Gadis itu hingga mereka berhasil keluar dari gedung tadi.


Setelah mendapati sebuah bongkahan batu persegi panjang tepat di tepi jalan, Johan mendudukan Halsey di sana kemudian bersimpuh di hadapan Gadis itu. "Hale? Ada apa? Katakan padaku," pintanya lembut seraya merapikan rambut Halsey yang menutupi wajah Gadis itu.


"Johan?! Apa yang terjadi?"


Johan menoleh dan mendapati sosok Alan dan Reyhan dengan tampang mereka yang sama-sama bingung.


"Cepat ambil mobilmu!" Setelah berteriak tanpa menjawab pertanyaan Alan, kini Johan kembali melirik Halsey yang masih tampak sesenggukan.


"Hale? Apa yang terjadi, Sayang? Apa kau habis melihat hantu di dalam sana?" tanyanya lagi.


"Ak-aku melihat ku-kucing. Hiks."


Johan mengangguk mengerti seraya kembali menyelipkan anak rambut Halsey ke belakang kuping. "Kucing seperti apa, Sayang? Apa dia menyeramkan? Berbulu hitam dan matanya berwarna kuning?"


Halsey mengangkat wajah dengan ekspresi tampak berpikir. Wajah Gadis itu kini memerah, belum lagi dengan matanya yang sembab bahkan masih tampak sedikit air yang menggenang. "Ti-tidak. Bulunya berwarna putih belang-belang, dan matanya ... aku tidak ingat karena saat itu aku langsung lari."


Johan mengangguk mengerti, berusaha mengulum senyum gelinya. "Begitu, ya? Tapi ... kucingnya tidak menyeramkan, lalu mengapa kau ketakutan sampai menangis begini?"


"Itu karena aku sangat phobi-" Dengan tampang yang seolah baru tersadar, Halsey sontak bangkit berdiri kemudian menyentak tangan Johan hingga tubuh Pria itu terdorong ke belakang.


"Hale? Kau ingin ke mana?!" teriak Johan berusaha bangkit berdiri lalu menyusul langkah Halsey.


"Hale? Kau-"


"Lepaskan aku!" bentak Halsey menepis tangan Johan yang baru saja niat meraihnya.


"Kau ingin ke mana, Sayang? Hale?"


"Mengendarai apa kau datang kemari?" Johan bertanya dengan nada datar.


"Bukan urus-"


"Jawab pertanyaanku, Hale!"


Halsey terdiam seraya memalingkan wajah. Jika sudah begini, Johan sungguh terlihat sangat menakutkan, terlebih setelah Pria itu telah langsung menarik tangannya untuk mau mengikut.


"Aku akan mengantarmu pulang. Lain kali-"


"Tidak mau! Lepas-"


"Pulang denganku atau aku akan menggendongmu paksa!"


Halsey kembali terdiam dan membiarkan Johan menarik tangannya begitu saja. Setelah tiba di sisi mobil, Johan membukakan pintu untuknya hingga ia bergegas masuk. Setelahnya, Pria itu juga ikut menyusul masuk hingga Reyhan mulai melajukan mobil.


"Apa kau sempat terluka? Coba kulihat lutut-"


"Tidak perlu."


Johan medengus menyaksikan Halsey duduk menjauh kemudian sibuk memandang keluar jendela. Bahu Gadis itu masih tampak mengguncang naik turun, hingga selanjutnya ia meraih sebotol air mineral lalu mengulurkannya langsung. "Minum ini."


"Tidak perlu."


Johan kembali mendengus seraya memijat keningnya berusaha berpikir. Dan setelah mendapati paha mulus Halsey yang sedikit terekspos dan menyadari bahwa ada dua Pria mesum lain yang juga bersama mereka, ia lalu membuka seragamnya hingga menyisakan kaos tipis kemudian menggunakannya menutupi paha Halsey tanpa permisi.


"Tidak perlu."


Johan membungkuk meraih seragamnya yang baru saja dilempar Halsey. "Hale? Ada dua Pria mesum lain di sini, Sayang ...."


"Dasar sialan! Aku tahu kau yang tak tahan, Johan! Hahahaha!" sahut Alan tertawa keras, begitupun Reyhan.


"Jangan sembarangan, Sialan! Ini Hale. Setidaknya pakai saja dan tak perlu bicara denganku jika kau tak mau, ya?" bujuk Johan seraya menutupi paha Halsey hati-hati.


Setelahnya, tak ada lagi percakapan yang terjadi, bahkan hingga Reyhan mulai menepikan mobilnya di hadapan gerbang rumah keluarga Bamatara. Halsey memindahkan jaket Johan dari pahanya kemudian keluar dari mobil begitu saja tanpa sekali pun pernah menoleh.


Johan yang menyaksikan itu sontak melirik jam tangannya sekilas. "Astaga. Dia membolos untukku!"


Pria itu lalu keluar dari mobil kemudian menyusul Halsey. "Hale? Aku bisa menjelaskan semuanya, Sayang! Kumohon dengarkan aku," bujuknya berusaha meraih tangan Halsey.


"Lepaskan!"


"Hale? Aku membalasnya bukan tanpa alasan! Lagi pula-"


"Kalau begitu katakan alasanmu!"


Johan terdiam seraya balas menatap iris madu Halsey.


"Kau tahu itu sama sekali tak membuatmu terlihat keren, Johan! Sama sekali tidak," sambung Halsey datar kemudian berbalik pergi.


"Untuk terlihat keren sama sekali tidak ada hubungannya-"


"Lalu apa, Johan?! Kau tidak akan pernah ada pekerjaan lain selain untuk terlihat keren dan tebar pesona!"


"Hale-"


"Apa kau tak ingat janjimu malam itu? Kau berjanji untuk dua orang sekaligus, dan hari ini pula kau mengecewakan dua orang, juga sekaligus!"


Johan terdiam menyaksikan Halsey berjalan menjauh. Jika sudah begini, tak ada lain yang berhak disalahkan selain Fito si sialan itu, dan orang-nya yang bekerja tak becus.


Setelah tiba dan berhasil mendudukkan bokongnya di jok mobil, Johan balas memandang Alan dan Reyhan yang tampak berbalik ke arahnya. "Cepat kembali ke sana. Aku masih harus membuat kapok sialan itu."


❀❀❀