
"Aku hanya Pria yang tahan dengan sikapmu, Hale. Bukan tahan menahan cemburu."
Halsey membuang napas panjang. "Baiklah. Kurasa cukup curhatannya."
Johan terkekeh lalu mengangguk. Keduanya berdiri kemudian mulai berjalan beriringan. Johan berjalan santai dengan satu tangan menenteng kotak bekal dan yang satunya ia masukkan ke saku celana, seraya memasang wajah hangatnya seperti biasa.
"Apa kau akan membolos lagi hari ini?" tanya Halsey meliriknya sekilas.
Johan tampak berpikir. "Kurasa tidak. Aku suka pelajaran Bahasa Indonesia."
Tak ada lagi percakapan setelahnya, bahkan hingga mereka berhasil tiba di depan kelas Halsey yang masih tampak ramai.
"Aku mencintaimu," bisik Johan tersenyum tulus.
Halsey tak menanggapi, seperti biasa. Tapi baru saja hendak berbalik, Johan sudah mencekal pergelangan tangannya hingga ia harus terpaksa berbalik lagi.
"Balas ucapanku."
"Yang mana?"
"Aku mencintaimu."
Halsey membentuk bulat bibirnya seraya mengangguk mengerti. "Biarkan saja," balasnya santai.
Johan langsung mengerucutkan bibirnya kesal, namun detik berikutnya, ia kembali tersenyum lembut seraya tangannya terulur mengacak-acak rambut Halsey. "Masuklah, Sayang. Aku akan ke kelas."
Setelah menyaksikan Halsey duduk sempurna di kursinya, Johan mulai berbalik kemudian berlalu dari sana. Sepanjang perjalanan, Pria itu sudah beberapa kali membalas senyum bahkan sapaan gadis-gadis yang tadi dilaluinya. Hingga setelah ia mendapati sebuah pemandangan di depan sana, langsung saja bibirnya menyungging puas.
"Aku sudah tidak tahan denganmu, David! Kumohon lepaskan. Ini sakit sekali!"
"Aku takkan melepaskannya sebelum kau menarik ucapanmu kembali. Aku tidak ingin putus darimu sampai kapan pun, mengerti?"
Beberapa hari ini Johan sangat sibuk memprioritaskan Hale-nya hingga tak pernah lagi terlibat perkelahian hanya karena mendapati hal sedemikian. Pria itu lalu menghampiri dua sejoli tadi dengan wajah menyebalkannya yang telah ia setel lebih dulu.
"Kau pasti Pria bodoh."
Keduanya sontak menoleh. "Maksudmu?" Pria tadi bertanya dengan nada dingin.
"Kau harus tampan dulu jika berani menjadi Pria kasar. Jika tidak, maka jangan menangis karena takkan ada Gadis yang menempelimu bahkan hingga kau telah menjelma menjadi tulang belulang sekalipun."
"Kuharap kau mengerti dan tidak perlu mencampuri urusanku," balas Pria itu malas.
Johan tertegun lalu tampak sumringah. "Kalau kau menyakiti perempuan, itu berarti kita berurusan. Lihat ini?" Johan menunjukkan pergelangan tangan Gadis tadi yang kini sudah tampak memerah. "Dia sudah mengatakan sakit tapi kau tidak juga mengendurkan cekalanmu."
Johan tersenyum puas setelah menyaksikan deru napas Pria itu mulai tak teratur. Ia sudah berhasil memancing, itu artinya tinggal perlu mengelak lalu melayangkan pukulannya saja.
"Johan sialan?! Hey, Joh-"
Bugh!
Johan berdecak kesal setelah merasakan sudut bibirnya telah berdarah. Ia baru hendak berbalik saat seseorang meneriakkan namanya tadi, namun Pria Sialan di hadapannya itu malah mengambil kesempatan untuk menyerangnya lebih dulu.
Johan mulai melayangkan pukulannya juga seraya ikut mengelak beberapa kali. Seperti biasa, tanpa butuh waktu lama, ia kini telah berakhir di atas perut David dengan tangannya mencengkram erat kerah baju Pria itu. "Aku hanya memperingatimu, tapi ... kau malah menyerangku duluan."
Bugh!
Bugh!
"Dengan berat hati aku minta maaf atas pukulan tadi, ya. Jangan lupa obati lukamu secepatnya," sambungnya lagi sebelum bangkit dan berlalu dari sana.
Johan berusaha mencari pemilik suara yang tadi memanggilnya, hingga terakhir, bisa ia dapati sosok Alan dan Reyhan yang kini memandangnya seraya menggeleng dan berdecak.
"Aku mencarimu dari tadi, tapi rupanya ... kau benar-benar!"
Johan melempar tatapan kesalnya. "Gara-gara kalian aku terkena pukulan! Lagian mengapa harus memanggilku di saat yang tidak tep-"
"JOHAN?!"
Ketiga Pria itu berbalik ke arah suara dan mendapati sosok Gadis bermata sayu yang sempat bertengkar dengan kekasihnya tadi.
Johan berbalik kemudian tersenyum ramah.
"Terima kasih, ya. Kau tak apa-apa, kan?" tanya Gadis itu tampak khawatir.
Johan menggeleng seraya berpikir sebentar. "Iya, sama-sama. Tapi ... bolehkah aku minta tolong?"
Gadis tadi mengangguk antusias. Dalam hati ia bersorak senang, karena pikirnya, Johan pasti akan meminta agar lukanya diobati.
"Kau kenal Hale- em ... Halsey, tidak? Tolong katakan padanya bahwa aku sedang terluka parah di UKS, sekarang."
Setelah melongo cukup lama, Gadis itu akhirnya mengangguk mengerti kemudian mulai berlalu dari sana.
Johan lagi-lagi tersenyum puas.
"Kau sudah gila," ujar Alan menatapnya jijik.
"Aku sedang membutuhkan bantuan kalian. Ayo! Berjalan lebih cepat!"
Setelah tiba di UKS, ketiga Pria itu kini saling memandang dengan sorot yang masing-masing berbeda.
"Sekarang apa lagi rencana gilamu?" tanya Alan memecah hening.
Johan berdehem sebentar seraya melirik ke arah pintu, memastikan situasi. "Pukul wajahku bergantian," bisiknya dengan tatapan memohon.
Lagi-lagi, Reyhan dan Alan hanya bisa tercengang.
"Apa kau sudah benar-benar gila, Johan?!" tanya Reyhan nyaris membentak.
Johan mengangguk mengiyakan. "Hale yang membuatku gila, jadi jangan banyak bertanya lagi! Cepat tinju wajahku, tapi dua kali saja, ya!"
Alan maju lebih dulu, tentu saja. Pria itu bahkan langsung menampakkan seringaian licik seraya meniup-niup kepalan tangannya. "Bersiap, ya!"
Bugh!
Bugh!
Johan meringis memegangi tulang pipinya. "Bagaimana? Apa sudah lebam?" tanyanya cepat.
Alan menggeleng.
Bugh!
Johan kembali meringis seraya memegangi sisi wajahnya yang semakin berdenyut nyeri. "Sudah cukup, Sialan! Jangan memanfaatkan situasi!" bentaknya kesal.
Alan malah terkekeh tanpa dosa sembari kedua alisnya terangkat bergantian.
"Sekarang giliranmu, Rey!"
Reyhan mengangguk lalu mulai berjalan maju.
Bugh!
Bugh!
"Bagaimana? Sudah lebam?"
Bugh!
"Sudah lebam, Sayang. Sekarang cepat berbaring sebelum Hale datang," sahut Alan tersenyum puas sembari langsung mendorong Johan berbaring ke atas ranjang. Apa salahnya memanfaatkan kesempatan? Sangat jarang ia bisa memukuli Johan begini.
"Kubilang jangan menyebutnya Hale, Brengsek!" maki Johan berteriak.
"Ck! Jangan banyak bicara, Bodoh! Kau harus terlihat meringis! Ayo cepat!"
Johan mengangguk menuruti perintah Alan. Beberapa saat kemudian, muncullah sosok Gadis yang baru saja mengucap salam dari balik pintu.
"Waalaikumsalam," sahut semuanya serentak.
Johan membuka matanya sedikit seraya terus meringis. Halsey benar-benar datang, ya ampun! Andai saja tak ada Gadis itu di sini, ia pasti sudah berteriak bahagia lalu memukul-mukulkan kepala Alan ke lantai.
"Hale?"
Johan membuka matanya sempurna. Raut Halsey terpancar khawatir yang teramat, terlebih napasnya pun terengah-engah. Astaga ... Gadis itu berlari hanya demi kemari?
"Johan? Apa yang terjadi?" tanya Halsey masih terpaku di pintu, berusaha terlihat tenang.
"Hale? Wajahku sakit sekali ...," sahut Johan meringis manja.
Halsey melirik Alan dan Reyhan bergantian. "Apa yang terjadi?" tanyanya tenang.
"Dia membuat masalah lagi," balas Reyhan kemudian.
Halsey mendesah lega sembari mulai mendekat ke arah Johan. "Sini, kuobati lukamu."
Johan hanya bisa bersorak dalam hati. Astaga! Ini gila! Rasa sakit di wajahnya sama sekali bukan apa-apa, meskipun kadar ketampanannya akan sedikit berkurang untuk sementara.
Bibirnya kembali melengkung saat memperhatikan wajah tenang Halsey dari dekat. Alis yang tidak begitu tebal pun sebaliknya, bulu mata tebal lentik yang tak terlalu panjang, iris madu yang jernih terang, hidung mungil yang lancip, dan bibir berisi yang terbelah lagi merah tanpa polesan lipstik.
Johan menelan salivanya berat. Yang paling membuat matanya terikat adalah ... bibir Gadis itu. Ia penasaran akan banyak hal. Tentang bagaimana membuat melelehnya jika ia dilengkungkan lebar, dan ... seberapa kenyal dan manisnya jika ia dicicipi. Sungguh Johan berani taruhan bahwa permen Yupi sekalipun akan kalah dengan bibir itu.
"Aw! Arghhh! Sakit, Hale!" pekiknya keras tatkala Halsey sudah berhasil mencubit lengannya.
"Aku tahu isi pikiranmu!"
Johan tersadar lalu terkekeh tanpa dosa. Ah, iya. Tapi bagaimana bisa? "Baiklah. Maafkan aku," balasnya menyengir.
❀❀❀