
"Ini sarapanmu, Sayang," ujar Wanita paruh baya itu sembari dua potong roti dan segelas susu yang ia letakkan di hadapan Halsey.
"Terima kasih," balas Halsey tenang.
Suara nyaring oleh peraduan sendok dan piring mulai terdengar memenuhi isi ruangan. Seperti biasa, pagi ini, keluarga harmonis itu sudah menyantap sarapan masing-masing.
"Bagaimana sekolah barumu, Hale?" Baila memecah hening.
Halsey menoleh sekilas kemudian menggeleng pelan. "Biasa saja."
Baila tampak mendengus pelan sembari potongan roti yang kembali ia masukkan ke mulutnya. "Aku-"
"Assalamualaikum."
Sontak, semuanya menoleh ke arah suara dan mendapati sesosok Pria jangkung dengan wajahnya yang dibarengi senyum.
"Sam? Ayo, sarapan bersama," sambut Shiren berseri.
"Eum ... aku harus segera berangkat. Selamat menikmati." Tanpa sempat bersalaman dengan Shiren juga Mahesa seperti biasa, Halsey langsung berlalu pergi begitu saja tanpa mengindahkan tiga pasang mata yang kini telah memandangnya heran.
Pria bernama Sam itu masih tampak terpaku di tempatnya sembari memandangi Halsey dengan sorot sesuatu.
"Beri aku jalan."
***
Ketiga Pria dengan wajah yang sama tampannya itu tampak berjalan beriringan. Johan yang memang selalu ramah dan murah senyum pada semua orang telah beberapa kali melakukannya sepanjang perjalanan mereka bertiga hendak ke kantin.
"Apa kau tidak lelah tersenyum terus? Mulutmu bisa rusak jika terlalu keseringan, Bodoh," tegur Alan terdengar jemu.
Johan langsung menoleh sekilas, bahkan semakin sengaja melebarkan senyumnya lagi. "Selain bisa membuat hati tenang dan bahagia, tersenyum juga bisa menambah ketampananku, Sayang," balasnya santai seraya tangannya yang langsung menyapu rambut ke belakang.
Ketiganya mungkin sama-sama hobi menebarkan pesona, tapi Johan ... Pria itu sepertinya sudah hampir melampaui batas wajar, terlalu keseringan.
"Baiklah. Semoga mulutmu segera robek sa-"
Seketika Johan menghentikan langkah tatkala netranya mendapati sesuatu. Tampak sekumpulan Pria tengah asik duduk di teras kelas, mencabuli para Gadis-gadis sekolah yang hendak melintas dengan meremas bokong mereka santai.
"Ck! Aku sudah lapar, Johan! Berhenti mencari masalah du-"
"Tutup mulutmu, Sialan!"
Johan berjalan menjauh kemudian langsung mencekal sebuah tangan, memaksa pemiliknya untuk menoleh sekaligus menghentikan langkah. "Aku benar-benar akan membunuh mereka jika sampai kau diperlakukan sama, Hale. Tetap di sini, ya."
Halsey hanya memandangi Johan bingung, terlebih ketika Pria itu sudah melangkah mendekat ke arah sekumpulan Pria tukang cabul tadi.
"Aku kadang berpikir ... bagaimana bisa Pria seperti kalian ini masih dibiarkan hidup oleh Tuhan? Jadilah Pria sejati yang bermodal sepertiku! Jika ingin hal-hal yang semacam ini, aku hanya perlu merogoh saku lalu pergi ke tempat di mana wanita yang memang menyerahkan diri, bukan berlaku sampah seperti kalian semua!"
Bugh!
"Bibirku berdarah, tapi ... tetap saja kau harus dikatakan pengecut sebab hanya berani menyerang dari belakang."
Bugh!
Bugh!
Brak!
Johan sudah terduduk di atas perut Pria itu seraya mencengkram erat kerah bajunya. "Aku tahu pacarmu meminta putus sejak hari itu. Makanya ... kau menyimpan dendam yang dalam untukku, benar?"
"Lepaskan aku, Breng-"
Bugh!
"Manusia tidak ada yang suka diperlakukan kasar, jadi jangan heran jika kau ditinggalkan atas hal itu!"
Bugh!
Johan beranjak dari tubuh Pria tadi lalu segera menghampiri Halsey. Halsey tetap betah manatapnya datar, seperti selalu. "Kau tidak apa-apa, kan?" tanyanya penuh nada khawatir.
"Seperti yang kaulihat," balas Halsey singkat seraya mulai berjalan meninggalkan Johan.
Johan mendengus. "Hale, tunggu! Aku ak-"
"Berhenti memanggilku dengan sebutan itu, Johan! Kau hanya orang asing!"
Johan tetap mengejar Halsey, menyesuaikan langkahnya dengan Gadis itu, sembari air wajahnya yang sudah kembali melembut. "Aku akan mengantarmu hingga ke kelas," ujarnya kemudian.
"Aku akan sangat lebih berterima kasih jika kau bersedia pergi dan berhenti mengganggu ketenanganku," balas Halsey tanpa niat melirik.
Johan hanya terkekeh santai tanpa sedikit pun merubah air wajahnya. "Jangan pernah berharap. Itu tidak akan terjadi."
Halsey menghentikan langkahnya kemudian berpaling menatap Johan kesal. "Tutup mulutmu, deh! Aku tidak suka diusik!"
Johan tersenyum simpul sembari tetap memandangi punggung Halsey yang perlahan menjauh. "Kalau begitu aku akan berjuang untukmu, Hale! Sampai jumpa nanti!" teriaknya bersemangat sembari mulai melangkah mundur. "Ck! Kalian mengagetkanku, Brengsek!" teriaknya kesal setelah berbalik dan langsung mendapati Alan juga Reyhan. Kedua Pria itu masih tampak memandangi punggung Halsey serius.
"Kuharap aku sedang bermimpi," gumam Alan tak percaya.
"Maksudmu?" tanya Johan.
"Aku tidak percaya kau akan jatuh cinta dengan gadis se-spesies itu," timbrung Reyhan juga.
"Memangnya dia kenapa?" tanya Johan lagi.
"Tidak apa. Hanya saja ... bersiaplah selalu untuk patah hati. Ayo, ke kantin!"
❀❀❀