Johale'S Destiny

Johale'S Destiny
Ciuman Penuh Luka



**SEBELUM


BACA,


PLEASE


MENEPI


DULU


KALAU


LAGI


DI


TEMPAT


RAMAI.


POKOKNYA


BACA


PART


INI


DENGAN


PENUH


PERSIAPAN. πŸ˜‚


OKE?


AYO, TARIK NAPAS DULU.


1


2


3


SELAMAT MEMBACA**. :)


.


"A-apa kau sudah baca?" tanya Halsey terbata-bata. Ia bahkan mengalihkan pandangan ke arah lain. Tak berani menatap Johan sama sekali, seolah tengah berusaha menyembunyikan sesuatu.


"Belum, Sayang. Aku ingin kau orang pertama yang membaca isinya."


Halsey langsung mengangguk kemudian mengembalikan amplop tadi ke tangan Johan.


"H-Hale?! Ada apa?"


Halsey tak berani menatap lagi. Gadis itu bahkan langsung pergi begitu saja dengan tangis yang sudah pecah.


"Hale?"


Johan menelan salivanya kasar. Dengan tangan gemetaran, ia lalu membaca deretan huruf di kertas itu, hingga ... hingga seketika seluruh tubuhnya terasa lemas. A-apa ini?


Hasilnya ....


Hasilnya positif?!


"Hale?! Jangan pergi dulu, Hale!"


"Hale?!"


Johan mencekal tangan Halsey cepat. "Hale?! Ini tidak mungkin benar, Hale! Ini pasti salah!"


"Hale-"


"Lep-hiks. Lepaskan, Johan ...! Lepaskan aku ...!" Halsey tetap melanjutkan langkah tanpa pernah berbalik lagi. Sekuat tenaga, ia berusaha melepas cekalan Johan di pergelangan tangannya yang semakin menggelung erat. Mengentak beberapa kali, tapi tetap, usahanya hanya berakhir sia-sia.


"Hale? Sayang ...? Kumohon ...!"


"Hale ...?"


"Lepaskan, Johan ...!" pinta Halsey lagi.


"Hale? Dengarkan ak-"


Cup!


Johan membeku di tempatnya berpijak. Ini ... ini bukan mimpi, kan? H-Halsey menciumnya? Mencium bibirnya?! Gadis itu bahkan langsung mendorong tubuhnya hingga kini telah bertumpu di pintu mobil.


"Ha-"


Setelah merasakan cengkeraman jemari Halsey di pundak kanannya, perlahan, Johan ikut memejam, sembari tangannya yang juga bergerak melilit pinggang Halsey, dan satunya lagi menggenggam rahang Gadis itu. Sudah terlanjur, bukan? Kalaupun ia menolak, Halsey tetap saja sudah kehilangan ciuman pertamanya. Bagaimanapun, ia mengerti sekali, dan sebisa mungkin ia akan memberi kesan paling indah di ciuman pertama Gadis terkasihnya itu.


Dengan gerakan pelan, ia mulai ******* bibir bawah dan atas Halsey bergantian. Mencecapnya pelan-pelan, seolah menuntun Gadis itu untuk berlaku sama. Tangannya tetap sibuk menarik pinggang Halsey mendekat. Merapatkan tubuh mereka erat, hingga tak lagi ada jarak yang dibiarkan menjadi sekat.


Terlebih setelah Halsey kini mengalungkan kedua tangan di lehernya, Johan pun semakin menarik Gadis itu mendekat, lagi dan lagi. Yang tadinya hanya sebatas ******* di bibir, kini sudah semakin ke dalam. Lidahnya menelusup masuk ke mulut Halsey. Mencecapi segala rasa di sana, bahkan juga ikut mengaitkan lidah miliknya dengan milik Gadis itu.


Semakin lama, ciuman mereka semakin menuntut. Mulai diiringi nafsu yang perlahan bangkit, yang perlahan menguasai keduanya. Menciptakan rasa panas yang kian menjalari, menggelapkan pandangan karena berahi yang kian menguasai.


Tak ada yang niat menghentikan, bahkan meski sudah saling merasa kelewatan. Johan terus menarik Halsey mendekat. Tangannya bahkan sudah semakin turun menyentuh tengkuk Gadis itu. Mengulum bibir bawahnya lembut, menjilatnya penuh gairah, bahkan menggigit-gigit kecil hingga mengisapnya bergantian.


Johan menyadari jika gerakan tangannya sudah semakin liar. Semakin turun, keduanya. Ia tak sanggup lagi menahan, terlebih setelah Halsey juga mulai berlaku sama.


Dengan sebelah tangan, Gadis itu menggerayahi dadanya dengan sangat penuh kelembutan. Halsey semakin lemas. Napas terengah yang diembuskannya benar-benar membuat api gairah dalam diri Johan terbakar dengan sangat cepat.


Johan tidak peduli lagi. Tangan besarnya yang sejak tadi berusaha ia kendalikan, kini sudah berhasil turun hingga menyentuh sebelah bokong Halsey. Ia meremasnya dengan sangat perlahan, beberapa kali.Β  Lagi, lagi, dan lagi, hingga ... Halsey lemas. Desahan kenikmatan berhasil lolos dari bibir basahnya yang membengkak.


"Cukup, Hale!" JohanΒ  mendorong tubuh Halsey keras . Napasnya memburu, matanya bahkan sudah hampir gelap oleh kabut hasrat. Terlebih setelah merasakan sesuatu dalam dirinya yang sudah sangat bangkit. Ini tidak benar. Apa yang ia lakukan?!


"Joh ... an? K-kau mendorongku?"


Johan masih berusaha menormalkan deru napas, bahkan pandangannya yang belum juga jelas. "H-Hale? Aku ... maafkan aku, Sayang. Aku mencintaimu. Aku bisa merusakmu jika sampai kelepas-"


Brugh!


"H-Hale?"


"Biarkan seperti ini ... se-sebentar saja. Hiks ...."


Johan memejam dalam. Mengecup puncak kepala Halsey berkali-kali, sembari tangannya yang juga ikut mendekap Gadis itu erat. Setelah mengkhianati dan membuat kecewa, mengapa ia malah lancang bersikap terlalu jauh begitu? Mengapa dirinya benar-benar brengsek?! "Hale ...? Aku benar-benar minta maaf .... Maafkan aku, Hale. Maafkan aku ...."


Halsey mengangguk keras, bahkan semakin mengeratkan lilitan tangannya di perut kekar Johan. Bahunya terguncang, isakannya juga tak lagi tertahan. Katakan saja dirinya murahan, silakan. Itu sama sekali tidak masalah, sama sekali tidak.


"Aku memang brengsek, Hale .... Aku memang brengsek. Maafkan aku. Aku minta maaf ...."


Halsey menggeleng sembari tubuhnya yang ia tarik mundur. Perlahan, wajahnya mendongak menatap Johan. Membingkai rahang kokoh Pria itu, sembari netranya yang juga mulai menyelami iris coklat gelap kesukaannya.


"Maafkan aku, Hale ...," bisik Johan lagi sembari bibirnya yang kembali mendaratkan kecupan dalam di kedua kelopak mata Halsey, begitupun bulir-bulir air di pipi Gadis itu.


"Joh ... Johan?"


"Iya, Sayang ...."


"A-aku ... hiks. Aku tahu bahwa kau Pria yang bertanggung jawab. Aku percaya itu, bahkan sangat."


Johan menggeleng keras. "Hale ...."


"Aku mencintaimu, dan aku tahu bahwa kau juga, tapi ... tapi hubungan kita mungkin memang hanya bisa sampai di sini, Johan ... hiks. Meski sulit, aku akan berusaha ikhlas. Aku yakin Allah punya rencana yang lebih baik di balik semua ini. Aku ... hiks ...."


"Cukup, Sayang. Kumohon cukup ...."


"Maaf jika hanya selalu merepotkanmu. Maaf juga tak pernah mau memenuhi kebutuhanmu. Tadi ... aku hanya bisa memberikan itu, Johan, hiks. Maafkan aku ...." Halsey mengusap bibir Johan lembut. "Tidak apa jika kau mau menyebutku murahan, tapi ... aku benar-benar ikhlas memberikannya. Aku mempercayakan itu padamu, hanya padamu. Aku benar-benar minta maaf karena tak bisa memberi lebih."


"Cukup, Hale! ***-"


"Aku mencintaimu, Johan. Terima kasih atas segala kenangannya. Kau yang terindah, dan akan selalu seperti itu."


Johan terdiam memandangi Halsey telah berlari menjauh. Benar. Mereka mungkin saling mencintai, tapi ... Allah tak akan menghendaki jika Halsey harus bersamanya. Ia terlalu kotor jika harus bersanding dengan Halsey. Gadis itu terlalu sempurna. Terlalu baik, dan terlalu suci untuk dirinya yang pendosa.


"Aku akan tetap mencintaimu, Hale. Aku akan tetap mencintaimu, meski kita tak lagi bersama, bahkan selamanya."


"Kau benar. Allah pasti punya rencana di balik ini, termasuk ... termasuk membuatku untuk lebih tahu diri bahwa kita memang tak layak untuk bersama lagi."


❀❀❀


Duh, Hale. 😱


Maaf banget, ya, Kakak2 dan Emak2 semua buat adegan yang agak vulgar ini. πŸ™ Bisa dibilang, ini mungkin adegan tervulgar dari sepanjang part. Di part ini kayaknya juga agak campur. Ada sedih, dan ada ekhem-nya juga. Semoga salah satunya atau bahkan keduanya bisa mengena. Tapi kalau cuma sedihnya yang mengena, harap maklum. Author masih 15 tahun buat bikin adegan lebih. πŸ˜‚ Gimanapun, segala sesuatu harus disesuaikan sama umur. Ini aja rasanya udah ngerasa bersalah banget wkwkkwkwk. πŸ™


Ngomong-ngomong, saya pengen tahu perasaan kalian pas baca part ini. Komen, ya. Yang banyak kalau perlu. 😍