
Bagaimanapun, Halsey tak suka terlihat lemah. Ia tetap berusaha berlari menggapai Johan. Ia tidak akan menyerah, tapi tidak setelah kakinya tersandung kaki kursi dan tubuhnya pun tersungkur ke lantai.
"Johan sialan!" batin Halsey mengumpat kesal.
"Ya, Allah! Ini benar-benar memalukan!" batinnya lagi.
Halsey hanya bisa membatin tanpa berusaha mengeluarkan segala hendak ucapnya. Cepat-cepat ia mendudukkan diri agar Johan tak lebih dulu berbalik kemudian mendapati dirinya telah dalam keadaan yang memalukan.
Johan yang baru menyadari bahwa Halsey tak lagi terdengar mengejarnya memutuskan untuk berbalik. Gadis itu terduduk di lantai seraya memandangi lututnya yang sudah berdarah. Sungguh, ini benar-benar di luar perkirannya, sebab ... Halsey bahkan tak mengeluarkan sedikit pun jeritan.
Tanpa menunda, Johan berlari menghampiri Halsey dan segera membopong tubuh Gadis itu. Sementara Halsey sendiri, ia langsung bungkam membeku. Seluruh niat memakinya tertahan di tenggorokan tatkala ia sadar bahwa dirinya sudah berada dalam bopongan Johan.
Dengan perasaannya yang memang sudah terlalu geram, ia meronta-ronta keras seraya menyalurkan segala kuasanya memukuli Johan.
"KAU BENAR-BENAR SUDAH SANGAT LANCANG PADAKU, JOHAN! TURUNKAN AKU, SIALAN! JANGAN MENYENTUHKU! TURUNKAN AKU JOHAN! TUR-"
Plak!
Johan lebih memilih mendudukkan Halsey di kursi daripada mengindahkan rasa panas yang kini terasa menjalari sisi kanan wajahnya.
"Pergi." Halsey memandang lurus dengan tatapan penuh amarah.
"Hale ...? Maaf-"
"Aku merasa seperti Gadis murahan, Johan! Kau sudah terlalu kurang ajar padaku! Hiks."
Johan terdiam. Rasa bersalah terasa semakin menggerogoti jiwanya tatkala ia menyaksikan Halsey menangis akibat perbuatannya sendiri.
"Kau tahu betapa keras aku menjaga kehormatanku sebagai seorang Gadis selama ini? Tidak ada pria yang pernah menyentuhku sejauh tadi selain ayahku sendiri, Johan ... hiks. PERGI DAN JANGAN MENEMUIKU LAGI! AKU MEMBEN-"
"Biarkan aku mengobati lukamu dulu, Hale. Setelahnya, terserahmu saja ingin me-"
"Pergi."
"Hale ... kumo-"
"PERGI, JOHAN! JANGAN MENEMUIKU LAGI! AKU SANGAT MEMBENCIMU! TINGGALKAN AKU SENDIRIAN! PERGI! Hiks."
Tangis Halsey semakin pecah. Gadis itu kini menangis senyap seraya menutupi wajah dengan kedua tangannya. Ia benar-benar tak pernah merasa sekacau ini hingga harus menangis dan membiarkan teman-temannya menontoni.
Johan bangkit dari posisinya dan berlalu dari kelas Halsey. Melalui beberapa pasang mata juga mulut berbisik yang memang sejak tadi memperhatikan betapa tak romantisnya ia dan Halsey.
"Bagaimana bisa aku lupa bahwa Hale bukan type gadis yang akan luluh jika diperlakukan seperti tadi? Arghhh! Aku memang bodoh! Johan sialan yang bodoh!"
Setelah beberapa saat, ia kemudian tiba di tempat tujuannya.
"Ada yang bisa kubantu?" tanya seorang Siswi yang sedang bertugas di ruang UKS.
"Ah, iya. Bisa tolong berikan aku kotak P3K?"
Siswi tersebut mengangguk.
"Terima kasih," ujar Johan seraya menerima kotak P3K yang diulurkan Gadis tadi, kemudian memacu langkahnya berlalu dari sana.
Persetan jika Halsey akan semakin membencinya, sebab yang terpenting adalah, luka di lutut gadis itu harus segera diobati agar tidak infeksi.
Johan tiba di pintu kelas Halsey. Tak ada gadis itu di sana. Lalu ke mana perginya?
Halsey tak pernah mengunjungi tempat mana pun selain taman sekolah.
Setelah tiba di taman, Johan mendapati Gadis itu tengah menopang wajahnya dengan tangan seraya menatap lurus kosong. Perlahan, ia menarik napas lalu kembali melangkah dan mendudukkan dirinya di kursi taman sebelah Halsey.
"Apa kau tak dengar tadi? Pergi dan jangan me-"
Ucapan Halsey terpotong tatkala ia mendapati Johan telah mengobati luka di lututnya dengan sangat tenang.
"Lukamu bisa infeksi jika tak segera diobati, Hale. Maafkan a-"
Halsey langsung bangkit dari duduknya kemudian melangkah mundur. Tatapannya lurus, dan air matanya semakin keras mengalir. "Luka ini tidak menyakitiku sama sekali," ujarnya kemudian berbalik dan berlalu dari sana.
Johan memandangi punggung Halsey yang kian mengecil dari pandangannya. Tidak, ia tak lagi niat mengejar, sebab tahu bahwa gadis itu mungkin sedang tak ingin diganggu.
Jadi ... semoga waktu bisa memperbaiki segalanya.
Segera.
"Kalian pulang saja. Kelas Hale belum berakhir," balas Johan seraya menghisap dalam gulungan tembakau di selipan jarinya.
"Aku teringat kejadian hari itu. Bagaimana jika kau kembali dikeroyok selepas kepergianku dan Rey?"
Johan berpaling melirik Alan. "Tumben kau mengkhawatirkanku," balasnya mencibir.
"Aku memang selalu salah di matamu. Ayo pulang, Rey." Alan menarik lengan Reyhan berlalu dari sana.
"Alan sialan! Hahahahah." Johan berteriak seraya melempar puntung rokoknya hingga mengenai punggung Alan.
Tawanya mereda setelah menyaksikan kedua pria tadi menghilang. Setelahnya, ia lalu berpindah melirik jam yang melingkar di tangan kiri kekarnya. "Sial! Hale pasti sudah pulang duluan."
Johan berdiri tergesa-gesa kemudian berlari keras menuruni anak-anak tangga. Reyhan dan Alan yang memang belum terlalu jauh hanya memandangi Pria itu mendahuluinya seraya menggeleng.
"Bucin ... bucin ...," gumam Alan berdecak.
Reyhan meliriknya. "Bucin?"
"Hm. BUDAK CINTA. JOHAN BUDAK CINTA, WHOOOO!"
Johan masih sibuk berlari hingga ia benar-benar tiba di depan kelas Halsey. Padahal, kelas gadis itu bahkan belum selesai, hingga jadilah ia merutuki dirinya sendiri.
Halsey meliriknya hingga manik mereka saling tersua. Gadis itu memandang sangat datar, sementara Johan malah tersenyum dengan tatapan menggoda.
"Baiklah. Cukup sekian untuk hari ini. Sampai jumpa di pertemuan selanjutnya."
Para pelajar mulai berhambur meninggalkan kelas, begitupun Halsey. Gadis itu berjalan dengan tatapan lurus melalui Johan yang berdiri tak jauh dari pintu.
Sudah Johan duga, sebabnya ia ikut bergerak lalu menyesuaikan langkahnya dengan Halsey. "Hale-ku semakin cantik saja, deh," godanya cepat.
"Apalagi jika ingin pulang bersamaku dan membiarkanku mengobati lukanya."
"Pasti semakin cantik."
"Tentu saja! Hale sudah cantik sejak lahir, tapi pasti semakin cantik jika ingin pulang bersamaku."
"Benar, bukan?"
"Belum lagi jika membiarkanku mengobati luka di lututnya. Aw, ya ampun! Hale-ku pasti benar-benar cantik."
Johan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Berbicara sendiri tidak lucu sama sekali, ya, tapi ... Halsey sama sekali tak menanggapinya. Berarti, kali ini, Gadis itu memang benar-benar marah.
"Pulang bersamaku, Hale," ujarnya seraya menggenggam tangan Halsey kemudian menuntun Gadis itu menuju mobilnya terparkir.
"Jangan samakan aku dengan wanita-wanita murah yang kerap kaukencani di kelab," balas Halsey datar.
Johan memejam sebentar kemudian berbalik dan memasang wajah hangatnya lagi. Demi cinta, ia akan rela berganti seratus ekspresi dalam sehari jika itu bisa membuat Hale-nya berhenti marah."Kalau begitu pulang bersamaku, ya? Aku takkan menyentuhmu." Ia berusaha membujuk kemudian melepas tangan Halsey dari genggamannya.
"Pak Ali sudah menjemputku."
"Pak Ali siapa?"
"Sopir suruhan ayah." Halsey berbalik kemudian berlalu dari hadapan Johan.
Baiklah, tak masalah. Setidaknya ia bisa lebih tenang jika Gadis itu akan pulang dengan supir suruhan Mahesa. "Jangan lupa obati lukamu, Hale!" teriak Johan.
Dari tempatnya berpijak, Johan menyaksikan Halsey memasuki sebuah mobil mewah yang dengan perlahan membawanya menghilang pergi. Ia ikut menghampiri mobilnya, mendudukkan bokong di jok kemudi hingga pelan mobilnya juga melaju.
Sembari tetap fokus pada kemudinya, Johan sedikit berpikir perihal akhir dari cintanya pada Halsey nanti. Bersatukah? Atau malah menjadi sejarah jatuh cinta sendiriannya? Gadis itu bahkan belum menampakkan sedikit pun rasa tertarik padanya yang hampir sempurna.
Kadang Johan berbalik penasaran dengan pria idaman Halsey. Ia sendiri sudah sangat tampan, berlimpah uang, perkasa, berperangai lembut, lalu apa lagi yang gadis itu cari?
Bencong?
Ish.
Memikirkannya malah membuat Johan pusing sendiri.
Terpenting, Halsey adalah gadis beku yang sangat cantik lagi sulit dipahami. Sekian.
❀❀❀