
Johan dan Halsey tampak berjalan beriringan menyusuri koridor sekolah yang pagi ini masih tampak sepi.
"Hale?"
Halsey memandangi cekalan Johan di tangannya kemudian mendongak menatap Pria itu dengan sorot bertanya.
"Apa kau sulit tidur lagi?"
"Tidak," balas Halsey singkat. Detik berikutnya, ia melepas cekalan Johan kemudian melanjutkan langkah lagi.
"Lep-"
"Sampai kapan kau akan tetap bersikap begini, Hale?! Aku lelah, Sayang ...! Kumohon berhenti bersikap begi-"
"Apa?" Halsey terkekeh. Sangat sarat akan sakit yang tak kuasa lagi dijelaskan. "Kau tidak akan tahu rasanya jadi aku, Johan ...!" desisnya sembari menghentakkan cekalan Johan kasar kemudian berlalu pergi begitu saja.
Tangannya mengusap pipi pelan, berusaha keras mengakhiri isakannya yang kian memberontak.
"Hale? Aku rindu. Maafkan aku."
Johan mengusap wajahnya frustrasi kemudian ikut membawa langkahnya menjauh dari sana. Benar, ia tak akan tahu bagaimana rasanya jika berada di posisi Halsey, tapi ... haruskah juga rasa rindunya yang disalahkan?
Setelah langkahnya berhasil menapak di lantai rooftop, ia lekas duduk di tepi kemudian menjuntaikan kakinya ke bawah. Pandangannya lurus ke depan, seolah tengah berpikir keras tentang siapa yang berhak disalahkan atas masalah ini.
Halsey? Jelas tidak. Zara? Tidak juga. Lalu siapa? Tuhan? Mungkin juga tidak, karena yang berhak disalahkan sepenuhnya di sini adalah dirinya sendiri. Selain berdoa untuk yang terbaik, tak ada jalan lain. Ia juga tak punya kekuatan untuk memutar waktu, jadi ... nikmati saja dan ambil pelajarannya.
"Masih terlalu pagi untuk merenung begitu."
Johan mendengus kasar. Mengabaikan kehadiran Alan dan Reyhan yang baru saja mendaratkan bokong di sisi kanan dan kirinya santai.
"Jangan terlalu dipikirkan, Johan. Mending ikut merokok dengan kita saja. Benar, kan, Rey?"
Reyhan mengangguk. "Hm ...."
"Aku khawatir dengan hasil tesnya nanti, Alan, Rey. Bagaimana ... bagaimana jika memang aku yang telah menghamili Zara?" tanya Johan kemudian.
"Berdoa untuk yang terbaik saja. Kalaupun hasilnya positif, maka ... terima. Yakinkan bahwa Allah punya rencana yang lebih baik dari masalah ini," balas Alan sembari tangannya menepuk bahu Johan beberapa kali.
Mengharukan juga, ya, melihat Alan bersikap begitu.
"Benar. Jangan pernah merasa sendirian!" timbrung Reyhan juga.
Johan tersenyum simpul. Detik berikutnya, ia merogoh saku seragam. Mengeluarkan sebuah permen lollipop dari sana, kemudian memamerkannya pada Alan dan Reyhan bangga.
"HAH?!" Reyhan tertawa.
"Astaga apa-apaan itu?! Kau malah terlihat seperti bocah, Bodoh! Hahahahahh!"
Johan mengangguk setuju sembari mulai menjilati lollipop tadi tak acuh. Setidaknya ... ia bisa membayangkan bahwa lollipop itu adalah bibirnya Halsey, kan? Eh. Hm.
***
Seperti selalunya, Johan dan Halsey sudah duduk berdua di bangku taman dengan jarak yang sangat tercipta. Johan menggigit rotinya malas, sedangkan Halsey tetap saja sibuk dengan buku di tangannya. Diajak bicara pun ia hanya membalas singkat. Disuapi juga malah menolak mentah-mentah, hingga Johan hampir frustrasi saking tidak tahunya lagi harus melakukan apa.
"Hale?"
"...."
"Sayang?"
"...."
"Bidadariku?"
"...."
"Belahan jiwaku?"
"...."
"Tulang rusukku?"
"...."
"Pacarku?"
"...."
"Calon Istriku?"
"...."
"Astaga, Hale?"
"...."
"Hey, My Love?"
"...."
"Honeyyy?"
"...."
"Hale?"
"...."
"Hey, Hale?!"
"Ck! Kembalikan," pinta Halsey malas.
"Tidak!"
"Kau kenapa, sih, Johan?! Sini, kembalikan!" ulang Halsey mulai kesal.
"Diacuhkan itu tidak enak, Sayang. Aku tidak akan kembalikan jika kau masih saja bersikap sama!"
Halsey menatap datar beberapa saat sebelum akhirnya langsung bangkit berdiri dan meninggalkan Johan yang kini hanya bisa ternganga sendirian.
Halsey yang dulu bukan lagi Halsey yang sekarang, mengerti? Meski menyiksa dirinya juga, ia akan tetap berusaha melakukan segala cara. Sekali lagi ... karena perihal merelakan. Benar, merelakan.
"Duduk!" titah Johan tegas.
Halsey tetap diam, menatap lurus pada perut Johan yang kini berdiri tepat di hadapannya.
"Mengapa menghindariku?"
Brengsek memang! Dia tidak sedang gila, kan? Pertanyaan bodoh! "Mingg- jangan menyentuhku, Johan!" Halsey berteriak.
"Memangnya kenapa? Kau, kan, pacarku!" balas Johan tidak peduli lagi. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi sebelum kau menjelaskan alasanmu mengapa bersikap begini," lanjutnya enteng.
"Kau gila, ya?" tanya Halsey tak habis pikir. "Minggir, dan kembalikan bukuku!" Halsey bangkit berdiri, kemudian melangkah ke samping kanan, dan ke kiri lagi. Mengapa? Karena Johan mengikuti, lebih tepatnya sengaja menghalangi. "Aku bilang ming-"
"Hale ...?" Johan langsung menggenggam rahang Halsey lembut. Menatap netra madu itu dengan sorot bersalah sekaligus memohon. "Sudah cukup, Hale ...! Kumohon jangan seperti ini lagi ...."
Keduanya saling memandang beberapa saat, tapi detik berikutnya, Halsey langsung memalingkan wajah ke arah lain sembari berusaha melepas tangan Johan di rahangnya. "Lepaskan."
"Hentikan, Hale. Apa kau tidak lelah menyiksa diri sendi-"
"Lepaskan, Johan ...! Kumohon lep- hiks, hiks ...."
Halsey diam tak memberontak meski tubuhnya sudah direngkuh sempurna oleh Johan. Ia ... ia benar-benar menjadi lemah. Tidak tahu lagi bagaimana caranya menolak saat hatinya sudah mengatakan mutlak. Aroma maskulin yang khas, serta ... detak jantung yang mungkin sudah menjadi salah satu musik favoritnya sejak mencintai Pria itu.
Halsey ... Halsey mencintai Johan. Semua orang jelas tahu dan ia tak akan bisa menyangkal itu.
"Aku rindu, Hale ...," bisik Johan lembut sembari bibirnya yang kini mengecup puncak kepala Halsey berkali-kali.
Halsey memejam erat. Menarik napas panjang-panjang, kemudian ... kemudian dengan perlahan mengangkat tangannya hingga melilit pinggang kekar Johan. Hanya kali ini, benar. Kali ini saja.
"Maaf telah mengecewakanmu. Aku janji akan memperbaiki semuanya," bisik Johan lagi.
"Aku tahu aku salah, bahkan sangat. Tidak pantas dimaafkan, apalagi diberi kesempatan lagi. Aku minta maaf, Sayang ...."
"Aku menyesal telah menginjakkan kakiku di tempat sialan itu. Aku ... aku sangat menyesal."
Johan menarik tubuhnya mundur. Kembali menggenggam rahang Halsey, kemudian menyelami netra indah Gadis itu lagi. "Apa kau akan percaya jika hasilnya nanti positif?"
"...."
"Hale?"
"Iya ...."
"Aku janji akan memperbaiki segalanya, Hale. Aku janji."
Halsey mengangguk, membiarkan ibu jari Johan mengusap kedua pipinya lembut. "Aku ... aku ingin kembali ke kelas."
"Aku antar."
Detik berikutnya, mereka telah berjalan beriringan meninggalkan tempat yang mungkin paling banyak menyaksikan perjalanan kisah mereka, taman. Yang paling bersejarah dari yang bersejarah. Tempat di mana Johan pertama kali jatuh cinta pada si gadis dingin, Halsey, Hale-nya.
***
Halsey tampak terduduk di tepi kasur, sembari memandangi pesan yang tertera di balik layar ponselnya dengan perasaan bingung.
Johan
Selamat malam, Sayang. 😘😘😘😘 Semoga mimpi indah, ya. Balon cinta di udara. 💕💕💕💕💕💕💕💕💕
21.35 PM
+62xxxxxxxxxxxx
Selamat tidur:)
21.35 PM
Cepat, Halsey kembali membuka pesan Johan dan baru menyadari satu hal. Ternyata ... ternyata pria itu juga mengirimkan pesan semalam. Hanya saja waktunya sangat tepat 21.35 PM. Pantas saja isi pesan semalam itu tidak alay. Rupanya bukan dari Johan.
"Jadi ... ini nomor siapa?"
Halsey mengangkat bahu tak acuh. Meletakkan ponselnya kembali ke atas nakas, kemudian mulai merebah dan bersiap untuk tidur.
❀❀❀
**Haloooo, Semuanya! Semoga sehat selalu, ya. :)
Author ada info baru, btw.
Jadi, sequel cerita ini udah aku publish lagi.
Kenapa dipublish padahal yang ini aja belum tamat?
Karena Author, tuh, baik. :) Gak usah dijelasin kenapa, ya. Pokoknya mampir aja. Nanti juga bakal ngerti. 😂
Oke, see you! Next part, tes DNA-nya si Zara udah keluar. Selamat menunggu! 🖤**