
"Hah? Um ... baiklah, Hale. Tapi setelah itu, aku ingin membeli sesuatu yang lain lagi."
Halsey hanya mengangguk. Setelah beberapa jauh melangkah, kedua Gadis itu akhirnya masuk ke sebuah restoran dan lekas mencari tempat untuk duduk.
"Eh, Hale? Sebaiknya kita duduk di sana saja."
Halsey yang baru saja hendak duduk seketika melirik Baila dengan sorot bingung. "Memangnya kenapa jika kita duduk di sini?"
"Ah, iya. Baiklah. Di sini saja."
Setelah saling duduk dan memesan makanan masing-masing, kini Baila tampak memainkan ponselnya dengan senyum yang sesekali terbit.
Lain dengan Halsey, Gadis itu hanya menumpukan kedua sikunya di atas meja sembari melihat-lihat ke sekitar.
"Johan ...." Halsey membisikkan nama Johan tatkala ia mendapati sosok Pria itu tengah duduk di meja lain bersama seorang Gadis di hadapannya.
Jadi Johan sudah mendekati Gadis lain lagi? Salahnya memang karena terlalu percaya, padahal sudah jelas bahwa perasaan Johan hanya sekedar candaan. Tidak, ia sama sekali tidak cemburu. Hanya saja ... ia menyesal atas segalanya. Menyesal telah membuka diri sepenuhnya, sementara Johan memang mendekati hanya karena ingin memenuhi rasa penasarannya.
"Silakan."
"Hale? Apa yang kau lihat?"
Suara Baila menyadarkan Halsey, hingga dengan cepat Gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah lain lalu berpindah lagi pada Baila setelahnya. "Huh? Um ... tidak," balasnya cepat sembari meraih makanan yang telah ia pesan tadi.
Baila hanya mengangguk singkat. Setelahnya, kedua Gadis itu pun sibuk dengan makanan masing-masing tanpa lagi terselip perbincangan singkat.
Halsey masih sibuk dengan pikirannya tentang Johan. Demi apa pun, ia sungguh menyesal telah mengenal Pria mesum itu. Andai saja bukan karena Hanum, ia mungkin tak akan pernah sudi untuk lebih dekat dengan Johan. Sial, sial! Sekali lagi, demi apapun ia sangat menyesal. Sangat.
"Hale? Mengapa kau hanya mengaduk-aduk makananmu?"
Lagi-lagi suara Baila menyadarkan Halsey.
"Aku sedang tak nafsu. Habiskan saja makananmu," balasnya kemudian menarik tubuh hingga bertumpu pada sandaran kursi.
Kening Baila mengerut. Beberapa saat kemudian, Gadis itu meletakkan sendoknya begitu saja lalu berpindah menatap Halsey serius. "Katakan padaku, Hale. Mengapa kau berubah seperti ini?"
Halsey berdehem. "Apa maksudmu? Aku hanya kehilangan selera makanku."
"Kau tadi lapar, 'kan? Kalau begitu apa yang membuatmu hilang nafsu makan?"
"Aku juga tak tahu," balas Halsey seadanya.
Baila bangkit berdiri kemudian berlalu dari hadapan Halsey. Halsey malah tampak tak acuh, sementara pandangannya kini ia lempar lagi ke arah Johan dan Gadis yang bersamanya itu.
Mereka tampak tertawa kecil, bahkan sesekali Johan mencubit gemas hidung lancip Gadis ceria itu. Memang, sangat berbanding terbalik dengan dirinya yang terla-
"Aku sudah membayar tagihannya. Ayo kita pergi."
Halsey terdiam memandangi Baila beberapa saat kemudian berpindah ke arah Johan dan Gadis itu lagi. Jika mereka pulang sekarang, pasti Johan akan melihatnya. Eh, memangnya kenapa? Toh, pura-pura tak lihat saja bisa, 'kan?
Halsey bangkit berdiri sembari meraih paperbag-nya tadi. Ia menarik napas panjang, hingga detik berikutnya kedua Gadis itu mulai berjalan beriringan ke arah pintu restoran.
"Apa Gadis itu tak punya malu, ya? Percaya diri sekali tertawa terbahak-bahak di tempat seperti ini," batin Halsey sewot.
Tersisa beberapa langkah lagi, mereka akan benar-benar melintas tepat di sisi kanan kedua manusia itu.
"Benarkah, Kak?"
"Iya, Sayang."
Sialan memang. Johan mungkin memanggil semua perempuan dengan sebutan 'sayang', bukan hanya dirinya saja.
"Kalau begitu aku tidak takut. Wleeee!"
"Sini! Biar kugelitik perut-"
'Syurr!'
Halsey terdiam memandangi pakaiannya yang kini telah basah karena tertumpahi minuman. Semuanya terjadi begitu cepat. Gadis itu berusaha mengelak saat Johan mengancam akan menggelitik perutnya, hingga ia baru saja niat berbalik tapi malah tubuh Halsey yang ia tubruk. Jadilah minuman yang ia pegang tadi tertumpah dan membasahi pakaian Halsey tepat di bagian dada.
"Hale? Ya ampun, Atha?! Apa yang kaulalukan?!" Itu suara Johan.
"Kau ini apa-apaan, sih? Pakaian Hale jadi basah begini, 'kan?!" susul Baila sembari meraih beberapa lembar tisu kemudian mengelapi pakaian Halsey.
Halsey hanya terdiam dengan wajah tanpa ekspresinya. Jujur saja ia sangat kesal, tapi entah mengapa ia tak sanggup menyuarakan amarahnya.
"Ini salahmu, Kak! Aku hanya menghindar karena kau ingin menggelitikku," balas Gadis itu berusaha membela diri.
Ish! Apa-apaan? Bukannya minta maaf malah berusaha mengelak? Begitu?
"Hale? Kau tak apa-apa, 'kan?" tanya Johan niat mendekat pada Halsey.
Johan menghentikan langkahnya kemudian menoleh pada Atha. "Bukan begitu, Atha. Kau sebaiknya meminta maaf pada Hale, ya?"
"Kau bahkan menyuruhku meminta maaf hanya karena kesalahan sekecil itu? Tidak akan!"
"Atha?! Kau kena-"
"Apa kau menyukai Gadis ini, Kak?"
"Atha? Say-"
"Cukup! Kau memang seorang pembohong!"
"Pembohong apa?" Itu suara Halsey.
Baila mengusap wajahnya cemas. Apa-apaan ini? Mengapa masalahnya malah dibesar-besarkan? Para pengunjung lain bahkan telah melirik ke arah mereka berempat.
"Mengapa kau ingin tahu?"
"Katakan padaku atau kurobek mulutmu sekarang juga," perintah Halsey masih dengan nada tenangnya.
Atha tampak terdiam. "Kau lihat itu, Kak?! Gadis itu mengancam akan merobek mulutku! Hiks."
Tak ada yang bersuara, hingga kini Atha kembali melempar pandangannya pada Halsey. "Kak Johan bilang dia menyayangiku. Kau puas?!"
Halsey memandangi Atha berlalu pergi dengan sorot datar.
"Atha?! Astaga, sial!" Johan berpindah menatap Halsey dan Baila bergantian. "Hale? Kau baik-baik saja, 'kan? Maafkan aku, ya? Aku harus menyusul Atha."
Halsey hanya memandangi punggung Johan yang kian menjauh. Mengapa hatinya terasa sakit sekali?
"Hale? Kau tak apa-apa, 'kan?"
Halsey menggeleng pelan. "Kalau begitu ayo kita pulang sekarang."
Halsey kembali mengangguk kemudian mengekori langkah Baila. Bagaimana bisa sikap Johan berubah secepat itu? Di mana Johan yang dulu selalu mengkhawatirkan dirinya secara berlebihan?
"Hale? Masuklah."
Halsey lagi-lagi mengangguk tatkala Baila membukakan pintu mobil untuknya. Ia kemudian mendudukkan dirinya di jok dekat kemudi dengan lesu lalu mulai terisak setelahnya.
Baila yang baru saja ikut duduk dan mendapati Halsey telah menangis hanya bisa bereaksi panik. "Hale? Mengapa kau menangis?!"
Halsey hanya terus terisak. "B- Baila? Hiks, hiks. A- aku membenci gadis itu ... hiks."
"Gadis siapa, Hale?"
"Gadis yang bersama Johan itu, Baila. Aku membencinya, hiks. Dia ... dia merebut Johan dariku ...."
Baila terdiam memandangi bahu Halsey yang terguncang naik turun. Bagaimana bisa ... Halsey menangis begini? Karena Johan?! Astaga. Ia benar-benar tak menyangka Gadis itu telah merasakan jatuh cinta. "Ya, ampun, Hale ...."
"Baila? Aku- aku merindukan Johan ... hiks. Bagaimana bisa ia berubah secepat itu? Di mana Johan yang dulu begitu mengkhawatirkanku secara berlebihan? Yang membukakan tutup botol air mineral hanya karena tak ingin tanganku terluka, yang rela tak ke kantin hanya untuk menjagaku dari Fito, yang melarangku berlari agar kakiku tak terkilir, yang- hiks, hiks. Aku rindu, Johan .... Aku merindukanmu ...."
Baila menarik Halsey ke dekapannya, membiarkan Gadis itu menumpahkan segala tangisnya. Jujur saja ia merasa geli dengan Halsey. Gadis itu sangat jarang menangis, kalaupun iya, paling hanya karena ia melihat seekor kucing saja. Tapi menangis karena pria? Sungguh. Johan benar-benar beruntung telah menjadi cinta pertama dari seorang Halsey. Perjuangannya selama ini tak sia-sia.
"Apa kau sudah merasa mendingan?" tanya Baila pelan.
Halsey mengangguk kemudian menarik tubuhnya mundur. Matanya kini sudah terlihat sembab, padahal menangisnya hanya sebentar.
"Sini, lihat aku," ujar Baila sembari menarik wajah Halsey hingga menatapnya.
"Lain kali ... kau harus belajar menghargai keberadaan seseorang, oke? Seberapa pun besarnya Johan mencintaimu, jika kau terus bersikap seenak dan semaumu saja, maka ia bisa dan sangat mungkin untuk pergi. Semua hal punya batasan masing-masing, Hale. Perasaan Johan mungkin belum habis, tapi kesabarannya yang habis. Ia mencintaimu dan ingin agar kau juga menghargai perasaannya."
"Tapi jika kau masih ragu, coba pikirkan lagi. Johan itu punya segalanya, Hale. Dia pria yang tampan, sifat dan sikapnya juga sangat mengagumkan, punya banyak uang dan kekuasaan. Dengan semua itu, gadis mana pun bisa ia dapatkan, jadi mengapa juga masih betah denganmu?"
"Perasannya tulus, Hale. Tak peduli bagaimana kau menanggapinya, ia tetap betah dan tak memilih pergi."
Halsey balas menatap Baila yang kini sibuk mengusap pipinya pelan. "Lalu mengapa sekarang ia pergi?" tanyanya kemudian.
"Karena lelah dan butuh jeda."
Alis Halsey bertaut. "Maksudmu?"
Baila melempar senyum lembut. "Sudah, jangan menangis lagi, ya?"
Halsey mengangguk, sementara Baila mulai menyalakan mesin hingga mobilnya kian melaju.
❀❀❀