
Pagi ini, Johan menyempatkan untuk jogging pagi setelah melaksanakan salat subuh. Ia merasa sangat bersemangat, dan alasannya tentu saja karena hasil tes DNA tersebut akan keluar hari ini. Demi apa pun, jantungnya pasti langsung berdetak cepat jika tak sengaja mengingat hal itu.
Setelah ikut menikmati sarapan bersama keluarga Bamatara seperti biasa, kini ia dan Halsey sudah duduk di jok masing-masing. Mobilnya melaju sedang, membelah jalan pagi yang pada jam ini mulai padat.
"Hale? Hasil tes DNA-nya sudah keluar hari ini," ujar Johan memecah hening.
Halsey hanya menoleh sekilas tanpa memberikan tanggapan apa-apa. Bersabarlah, Johan. Tersisa hari ini lagi, dan Halsey akan segera berubah.
"Setelah hasilnya keluar dan bukan aku yang menghamilinya, maka kau wajib menciumku. Titik!"
Lagi-lagi tak ada balasan, bahkan Halsey terlihat seperti tak mendengarkan.
"Aku akan mencuri ciuman pertama mu! Huh! Lihat saja!"
Eh, sialan!
"Aku akan membuatmu kecanduan dengan bibirku, Hale ... hahaha-"
Bugh!
"DASAR GILA!"
Johan tersenyum jahat. "Aku tidak main-main, lho. Kau harus mulai belajar cara berciuman, ya? Cari di youtube atau internet saja. Di sana banyak-"
"Diam, deh, Johan! Sekali lagi kau bilang begi-"
"Iya, Sayang, iya. Kita pasti berciuman, kok. Aku janji."
Johan hanya terkekeh keras. Membiarkan Halsey memukulinya sekuat tenaga, bahkan beberapa kali mencuri kesempatan untuk menyentuh tangan mulus Gadis itu. Namanya juga rindu. Kan, Halsey juga tidak sadar. Hehe.
***
Halsey tetap duduk diam, sibuk dengan buku di tangannya seolah tak peduli pada Johan yang baru saja menjepitkan jepitan di rambut gelapnya. Pria itu bahkan membelainya lembut. Memainkannya lama, bahkan membawanya ke hidung hanya karena terlalu suka dengan baunya.
"Wangi rambutmu adalah kesukaanku," bisiknya menggoda.
Bugh!
"Menjauh!" tegas Halsey dingin.
Johan terkekeh, seperti biasa. "Kau itu belahan jiwaku, Sayang. Kalau aku menjauh, maka aku akan sakit jiwa. Benar, kan?"
"Menjauh, tidak? Menjauh!"
"Tid-"
"Menjauh, Johan! Jangan modus menyentuhku!"
Johan melongo menyaksikan wajah geram Halsey sekarang. Nyalinya malah tidak jadi menciut, tapi .... "Maumu itu apa, sih, Hale? Kalau senyum manis sekali. Kalau diam juga cantik sekali. Apalagi kalau sedang marah begini. Kau benar-benar imut! Membangkitkan kejantanan-"
Plak!
"Memangnya jujur itu salah, ya?" tanya Johan polos sembari mengusap pipinya pelan. Ia lalu bangkit berdiri. Membenarkan ritsleting celana abu-abunya sebentar, kemudian mulai menyusul langkah Halsey lagi. "Jangan sering marah, Sayang. Aku, kan, hanya-"
"Jangan menyentuhku!"
"Iya, baik! Aku tidak menyentuhmu, oke?"
Dengan bibir mengerucut kesal, Johan tetap mengiringi langkah Halsey hingga tiba di depan kelas Gadis itu. "Padahal hanya menata rambut saja, kok. Memangnya salah? Kan rambut pacarku sendiri," gerutunya kesal.
Halsey hanya menatap sekilas kemudian melongos masuk ke kelasnya begitu saja. Kenapa, sih, Johan tidak pernah marah? Kalau iya, kan, mereka jadi lebih mudah untuk saling menjauh.
"Tetap tunggu aku di sini, ya. Aku mencintaimu!"
Kan? Bukannya marah, malah melontarkan kalimat cinta lagi.
Sementara di sisi Johan, Pria itu kini melangkah santai dengan senyum mekar yang senantiasa menghiasi wajah tampannya. Apalagi kalau bukan tebar pesona? Ralat. Pesonanya memang langsung menyebar, kok, bahkan tanpa ia berusaha."Sedang apa sialan itu di sini?" gumamnya pelan.
Dengan mata memicing, Johan memandangi sosok Pria yang tampak berdiri beberapa meter di depan sana. Matanya memicing tajam-tajam seolah ia tengah berusaha keras memastikan bahwa penglihatannya memang sudah benar.
"Sam? Apa mulutnya mengalami kerusakan syaraf?" gumamnya lagi.
Tentu saja membuat heran. Sam? Melempar senyum persahabatan padanya? Apa-apaan?!
"Sialan ini pasti ada niat terselubung."
Dengan langkah yang sengaja dibuat keren, Johan berjalan mendekat bahkan balas menatap Sam dengan sorot menantang. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya tajam.
Sam tersenyum simpul. "Bertemu Fito dan teman-teman se-gang-ku."
Johan hanya menatap sinis kemudian mulai berlalu lagi. Gang? Memang dasar tukang keroyok, ya.
"Johan?!"
Johan berbalik cepat. "Apa?! Huh?! Kau mau bertarung lagi? Siap! Tentukan tempatnya seka-"
"Ayo, berdamai!"
Johan ternganga. Wah! Tidak diragukan lagi, deh. Sialan itu pasti benar-benar ada niat terselubungnya! "Sebenarnya apa rencanamu? HUH?!"
"Rencana apa? Aku hanya ingin berdamai, kok," balas Sam seadanya. "Lagi pula ... itu sudah berlalu. Aku sudah merelakan Hale untukmu dan berniat memulai hidup baru lagi," lanjutnya tulus.
"Lalu maksdumu aku harus percaya, begitu?!" Johan melangkah mendekat. "Kau punya niat lain, kan, Sialan?! KATAKAN!"
Dengan emosi yang meletup-letup, Johan mencengkeram erat kerah seragam Sam kemudian mendorong Pria itu hingga membentur dinding. Para pelajar yang berlalu lalang tentu saja saling berhenti hanya demi menyaksikan sebuah fenomena yang belakangan ini sudah jarang mereka temui. Jelas saja. Johan tobat karena Halsey.
"Lepaskan, Johan! Apa yang kau lakukan?!" Fito dan beberapa temannya yang datang langsung melerai dan menarik tubuh Johan menjauh.
"Katakan rencanamu atau kubunuh kau sekarang!" Johan kembali berteriak lantang.
"Rencana apa yang kau bicarakan?! Hah?!" balas Sam balik berteriak.
"Aku tahu kau punya rencana, Sialan! Katakan cepat, sebelum kesabaranku habis!"
Fito menggeram kesal kemudian langsung menarik tangan Johan menjauh. "Apa kau tak lihat betapa ia tulus mengatakannya?!"
"Tulus pantatmu?!"
"Kita serius, Johan. Ayo, berdamai!" Fito, Sam, dan beberapa teman-temannya yang lain mulai mendekat. Menatap Johan dengan sorot perdamaian, bahkan dengan senyum simpul yang sama-sama terbit.
"Aku dan teman-temanku minta maaf untuk segalanya, terkhusus perihal pengeroyokan itu," ujar Fito lagi.
"Benar. Aku juga minta maaf," lanjut Sam juga.
Johan hanya menatap semuanya bergantian. Menggeleng pelan beberapa kali, kemudian langsung berbalik dan pergi begitu saja. "KALIAN SEMUA PASTI SUDAH GILA!" teriaknya keras.
***
Mobil Johan baru saja melaju meninggalkan pelataran rumah sakit, tempat di mana ia melakukan tes DNA tersebut. Senyum antusias terlukis di bibir merahnya yang kini ikut bersenandung mengikuti musik yang terdengar dari radio mobilnya.
Rum ... ngomong-ngomong, sekarang masih pukul 19.11 PM. Sudah malam, tapi belum larut.
Drrrt .... Drrtt ....
Lekas, tangan Johan terulur meraih ponselnya dan mendapati nama Reyhan tertera di balik layar. Perlahan, ia pun mendekatkan benda pipih itu ke kupingnya. "Hm. Kenapa?"
"Aku belum buka."
"Kenapa?"
"Hale. Dia yang harus pertama membukanya."
"APA?! KAU GILA, YA?!" Reyhan berteriak tak percaya.
"Gila apa, Bodoh?" tanya Johan balik.
"Bagaimana jika hasilnya benar-benar positif? Jangan gila, Johan!"
"Tidak mungkin, kok. Aku sangat yakin hasilnya sesuai harapan."
"Mengapa kau bisa yakin?"
Johan berdehem pelan. "Yakin saja, sebab ... aku tidak ingat bahwa junior-ku ini pernah masuk ke 'anunya' Zara."
"Kau, kan, mabuk, Bodoh! Dasar gila! Sudah, deh! Kau membuatku kesal saj-"
"HEY, REY? Aku lupa memberitahumu sesuatu!"
"Katakan saja!"
"Tadi siang, Sam dan teman-temannya mengajakku berdamai. Apa itu tulus?"
"Menurutmu?"
"Entah, tapi kurasa begitu."
"Lalu?"
"Ck! Lalu apa, Sialan?!"
"Aku tidak yakin, tapi mungkin saja iya, mungkin juga tidak."
"Ya sudah, deh. Kau tidak asik!"
"Waalaikumsalam."
"Assalamualaikum."
Johan melempar ponselnya ke jok samping begitu saja. Selanjutnya, ia mulai fokus mengemudi lagi, sembari pikirannya yang mulai melayang pada kejadian yang akan terjadi setelah ini.
Kira-kira ... bagaimana hasilnya, ya? Kalau benar tidak, maka ... alhamdulillah. Itulah memang harapannya. Tapi ... bagaimana jika sebaliknya? Demi apa pun, semoga itu tidak pernah terjadi. Terlalu mengerikan saja jika harus membayangkan dirinya dan Halsey berpisah. Ia sudah hampir merasa tak bisa hidup tanpa gadis itu. Walaupun tetap hidup, pasti tidak akan ada rasa. Ibarat warna, maka hanya akan kelabu saja. Tak ada merah, kuning, hijau, atau bahkan rangkaian warna pelangi lainnya. Seram, sangat.
Tak terasa, mobilnya sudah berhasil berhenti tepat beberapa meter dari hadapan gerbang rumah kediaman keluarga Bamatara. Haruskah ia menelepon Halsey atau langsung menemui gadis itu di balkon kamarnya saja?
"Telpon saja, supaya nanti bisa sekalian jalan-jalan," gumamnya bersemangat.
Selanjutnya, jemari Johan mulai menggerayahi layar ponselnya lagi. Menemukan label kontak 'Bidadari Juteknya', kemudian mengklik ikon telepon hingga nada sambungan pun terdengar.
"Assalamualaikum. Halo?"
"Waalaikumsalam, Bidadari Surgaku ...."
"...."
"Hale?"
"Ya."
"Hale?"
"Apa?"
"Hale?"
"Apa, sih, Johan?"
Johan terkekeh pelan sembari tubuhnya yang perlahan ia tumpukan di pintu mobil. "Temui aku di depan rumahmu, Sayang. Tes DNA-nya sudah keluar."
"Ekhem. Apa?"
"Iya. Ayo, cepat. Jangan lupa pakai jaket, ya?"
"...."
"Hale?"
"Hm."
"Pakai jaket, Sayang. Aku tunggu di sini."
Tett.
Halsey meremas jemarinya pelan, berusaha menetralkan rasa gugup yang kini terasa sangat menguasainya. Mengapa harus segugup ini?
Perlahan, ia bangkit berdiri kemudian meraih jaket Johan yang tergantung di lemari pakaiannya. Setelah mengenakan dengan benar, langkahnya ia tuntun keluar, lalu lanjut menyusuri anak-anak tangga hingga tiba di lantai satu.
"Hale? Mau ke mana, Sayang?" tanya Mahesa.
"Aku ingin keluar sebentar, Ayah. Ingin menghirup udara malam saja," balas Halsey.
"Jangan lama-lama, ya, Sayang. Nanti kau masuk angin," timbrung Shiren juga.
Halsey mengangguk sembari tersenyum. Detik berikutnya, ia kembali melangkah, melalui pintu utama rumah, hingga kini telah berhasil tiba di gerbang. Dari jauh, bisa ia dapati mobil Johan terparkir di seberang jalan, sementara Pria itu sendiri tengah bertumpu di pintu mobil dengan kedua tangannya memeluk dada.
Halsey menarik napas panjang lebih dulu kemudian kembali melangkah lagi. Ia berusaha keras untuk tetap terlihat biasa saja, meski ... rasa gugup yang entah apa penyebabnya itu benar-benar terasa sangat menguasainya.
"Kenapa zipper-nya tidak ditarik, Hale? Kau bisa masuk angin."
Halsey membeku tatkala Johan sudah menariknya mendekat, sembari tangan Pria itu sibuk merapatkan ritsleting jaket yang ia kenakan. "Ekhem. Aku bisa sendi-"
"Aku juga bisa, makanya aku yang pasangkan."
Halsey kembali terdiam. Sedikit mendongak menatap wajah Johan yang menggelap karena suasana temaram yang dicipta bulan. Dasar angin! Mengapa juga harus berembus, sih?
"Anginnya nakal, ya? Tidak masalah. Kalau kau semakin terpukau, maka aku sudah pasti tanggung jawab," goda Johan sembari tangannya yang terulur mencubit pelan hidung lancip Halsey. "Oh, ya. Ini, hasil tes DNA-nya."
Halsey menatap Johan beberapa saat sebelum akhirnya menerima amplop yang diulurkan Pria itu.
"Ayo, buka."
Setelah berdehem sesaat, perlahan Halsey membuka amplop tersebut dan mengeluarkan isinya yang berupa secarik kertas. Hanya secarik, tapi merupakan penentu akan takdir yang kini dinanti-nanti.
Dengan saksama, ia membaca deretan kalimat yang tercetak di atas kertas. Memahami maknanya pelan-pelan, kemudian .... "A-apa kau sudah baca?"
❀❀❀
Siapa yang penasaran? 😂 Kalau part ini ramai komennya aku up langsung. ✌