
Johan, Alan, dan Reyhan tampak berjalan beriringan dengan tawa mereka yang sesekali terdengar. Seperti biasa, kehadiran ketiga Pria tampan itu selalu saja menarik perhatian orang-orang, termasuk juga gadis-gadis sekolah yang menggemari mereka.
"Astaga, Johan-ku. Aku benar-benar bahagia atas dirimu, Sayang," ujar Alan berseri-seri.
"Iya, Sayang. Terima kasih." Johan membalas tak kalah cerianya.
Reyhan sendiri malah bergidik geli. "Sial! Benar-benar terdengar seperti sepasang kekasih gay yang saling mencintai," sahutnya kemudian.
"Banyak omong kau, Rey. Ya sudah. Aku tunggu nanti malam, ya!"
Johan kini berjalan menjauh, hendak menjemput Halsey di kelasnya. Setelah beberapa lama melangkah, ia berhasil tiba di depan kelas Gadis itu, bahkan mendapatinya tengah sibuk menunggu.
Tanpa sadar sudut bibir Johan kembali terangkat. Demi apa pun, ia sungguh mencintai Gadis itu. Gadis yang cueknya berlebihan, bahkan hingga sesuatu yang harusnya paling ia ingat pun dilupakan. Dasar.
"Hale?"
Halsey menoleh.
"Sudah menunggu lama, ya?" tanya Johan kemudian.
"Tidak, kok."
"Baiklah. Ayo."
Keduanya mulai berjalan beriringan. Halsey memeluk buku di perut, sementara Johan menyelipkan satu tangannya ke saku celana, dan satunya lagi memegang tasnya di pundak. Untuk apa juga membawa tas? Padahal isinya tidak ada sama sekali.
"Apa kau tak keberatan jika kita hanya mampir di rumahmu untuk minta izin?" Johan membuka suara.
"Jadi aku tidak makan dulu?"
"Tentu saja tidak, Sayang. Kita akan memasak bersama di rumah mommy nanti."
Halsey sontak menghentikan langkahnya kemudian berpindah menatap Johan. "Aku tidak begitu pandai memasak, Johan," ujarnya kemudian.
Johan tersenyum simpul. "Tidak masalah. Saling mencintai, artinya juga saling melengkapi, bukan?"
Halsey memutar bola mata kemudian lanjut berjalan. "Kata siapa kita saling mencintai?"
Johan tersenyum jahil lalu bersedekap dada. "Jadi serius kau tak mencintaiku?"
Halsey mengangguk.
"Ah, jadi begitu, ya? Lalu ... bagaimana kita akan menjadi sepasang kekasih jika tak saling mencintai?"
"Siapa juga yang ingin menjadi kekasihmu? Terlalu percaya diri," balas Halsey seraya mencebikkan bibir.
Kali ini Johan benar-benar terkekeh. "Jadi kau serius tak ingin menjadi pacarku?" Ia bertanya dengan nada remeh.
"Iya, tentu saja," jawab Halsey enteng.
"Baiklah. Kita harus membuat perjanjian kalau begitu."
"Perjanjian apa?"
Johan berhenti melangkah. "Perjanjian bahwa ... kau akan bersedia menyerahkan ciuman pertamamu padaku jika aku berhasil menjadikanmu sebagai kekasih. Bagaimana?"
Halsey ikut menghentikan langkahnya kemudian menatap Johan sebal. "Kau kira aku Gadis bodoh, apa?!"
"Mengapa harus marah, Sayang? Lagi pula hanya sebuah perjanjian, bukan? Jika kau benar-benar yakin tak mencintaiku, pasti tak masalah jika menyetujuinya. Benar, 'kan?"
Halsey terdiam dengan sorot tatapannya pada Johan yang tak berubah. Betapa menyebalkannya Pria di hadapannya itu. Malah tersenyum tanpa dosa, lagi.
"Setuju, tidak?
Setelah menarik napas, "Tentu saja, Pria Mesum!" balas Halsey kemudian kembali melangkah.
Johan terkekeh pelan. Ah, baiklah. Gadis ini tak mampan hanya dengan sebuah ancaman ciuman, ya?
Setelah tiba di parkiran, Halsey lekas mendaratkan bokongnya di jok samping kemudi, begitupun Johan. Perlahan Pria itu melajukan mobilnya, hingga beberapa saat telah berhasil meninggalkan pelataran sekolah.
"Johan?"
Johan menoleh sekilas. "Iya, Sayang?"
"Kau ... kau pandai memasak, ya?"
"Lumayan."
"Oh ...."
Johan kembali menoleh pada Halsey. "Tenang saja. Kau tahu aku tinggal di apartemen sendirian, 'kan?"
"Jadi kau memasak sendiri, ya?"
"Hanya kadang-kadang, karena aku lebih sering memesan makananan atau makan di luar. Apalagi jika ada Alan dan Rey." Johan melirik Halsey sekilas. "Tak perlu khawatir jika kau tak bisa memasak. Kita akan belajar bersama."
"Iya, Johan," balas Halsey sembari tersenyum tipis.
Johan ikut tersenyum sembari mengacak-acak rambut Gadis itu pelan. Setelah beberapa lama, mobilnya kemudian berhenti tepat di depan gerbang kediaman keluarga Bamatara.
Keduanya langsung saja keluar dari mobil kemudian berjalan beriringan hingga tiba di mulut rumah.
"Assalamualaikum." Johan mengucap salam. "Lebih baik ganti pakaianmu sekarang. Aku akan menunggumu di sini," lanjutnya lagi.
"Baiklah. Duduk di sana dulu," balas Halsey sembari mulai berjalan ke arah juntaian tangga.
Shiren yang baru saja muncul dari arah kamarnya terkejut mendapati Johan.
"Johan? Ayo, Nak. Masuklah," ujarnya kemudian.
Johan mengangguk kemudian melangkah mendekat ke arah sofa.
"Apa kau kemari bersama Hale?" tanya Shiren lagi.
"Ah, iya, Tante. Dia sedang mengganti pakaiannya di atas," balas Johan sembari mendaratkan bokongnya di sofa.
"Kalau begitu tante buatkan minuman untukmu, ya? Tunggu sebentar."
Shiren kembali mendudukkan dirinya lalu berpindah menatap Johan serius. "Tante turut berduka cita atas kepergian Hanum, ya, Johan?" ujarnya terdengar tulus.
Johan mengangguk senang. "Iya, Tante. Terima kasih."
"Aku sudah selesai."
Sontak keduanya menoleh ke arah suara dan mendapati Halsey dengan pakaiannya yang telah berganti. Johan bangkit berdiri kemudian meraih dan mencium punggung tangan Shiren, begitupun Halsey.
"Kalau begitu kita pamit, Tante. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Johan dan Halsey mulai berjalan beriringan hingga melalui mulut rumah. Setelah berhasil tiba di mobil Pria itu, keduanya langsung saja mendaratkan bokong di jok masing-masing.
"Kau sederhana, tapi aku sangat suka," ujar Johan sembari memandangi Halsey dari samping.
"Kau berujar manis di setiap kesempatan, ya?"
Johan hanya tersenyum lembut sembari mulai melajukan mobilnya. "Itu bukan gombalan semata, Hale. Aku benar-benar serius saat mengatakannya."
Halsey hanya mengangguk, hingga setelahnya tak ada lagi percakapan yang terjadi. Johan sibuk dengan kemudinya, sementara Halsey dengan pandangannya yang ia lempar keluar jendela.
Setelah beberapa lama, laju mobil Johan tampak melambat hingga benar-benar berhenti. Halsey langsung saja mengedarkan pandangannya ke sekitar, dan sungguh ... pelataran rumah yang damai dan asri. Memang tampak sederhana, namun kesan mewahnya sama sekali tak lepas.
"Cantik sekali," gumamnya tanpa sadar.
Johan yang masih sempat mendengar itu lekas menoleh. Sudut bibirnya kini terangkat sedikit. "Kau suka?"
Halsey menoleh kemudian mengangguk pelan. "Kalau begitu, kita akan tinggal di sini setelah menikah nanti," ujarnya kemudian.
"Apa kau sungguh niat padaku, Johan?" Halsey bertanya dengan nada serius.
"Haruskah aku membelah lautan atau menerjang angin topan dulu lalu kau akan percaya pada cintaku, Hale? Kau tahu, Sayang. Aku memang menyayangi semua perempuan, tapi hanya sebatas tak suka melihat mereka disakiti, bukan karena hatiku yang memilih. Hanya kau dan mommy saja perempuan yang aku cintai sepenuh hati, tak ada yang lain," jelas Johan panjang lebar, bahkan terdengar meredam kesal.
"Aku tak suka dibentak!" ujar Halsey terdengar manja dengan bibirnya yang mengerucut.
"Aku sama sekali tak membentakmu, Sayang. Aku hanya berusaha menjelaskan, oke? Ayo kita turun."
Halsey tetap diam di tempatnya, tak bergerak sama sekali. Johan yang sudah sejak tadi menunggu di kepala mobil pun langsung saja membuka pintu samping Gadis itu dengan senyum yang berusaha ia kulum.
"Jika ingin dibukakan, bilang saja. Ayo." Tangannya terulur pada Halsey, namun Gadis itu malah hanya memandangnya tanpa ekspresi.
"Aku bisa sendiri! Pindah!"
Johan melongo menyaksikan Halsey berlalu pergi begitu saja. Ada apa dengan Gadis itu? Memangnya ia salah mengucapkan kata-kata, tadi?
"Hale? Kau kenapa, Sayang? Jangan marah-marah, dong," teriaknya sembari berusaha meraih lengan Halsey.
"Lepas-"
"Kau kenapa, Hale?"
"Menurutmu?"
"Katakan saja, Sayang. Apa aku pernah salah mengucap, tadi?"
Halsey menyentak kasar cekalan Johan dari tangannya. "Pikirkan saja sendiri!"
"Aku sudah berpikir, tapi tetap saja tidak tahu," balas Johan polos.
"Kau memang menyebalkan, Johan!"
Johan mengusap wajahnya sekilas sembari kembali mencekal tangan Halsey. Demi apa pun, ia benar-benar tak tahu lagi bagaimana untuk berusaha mengerti Gadis itu.
"Katakan padaku, oke?" Johan kini menatap Halsey lembut, dengan tangannya yang sibuk membelai pelan wajah Gadis itu. "Apa aku pernah salah mengucap, tadi?" tanyanya lagi.
Halsey menggeleng.
"Lalu apa, Hale?"
"Maafkan aku, tapi emosiku sedang tidak stabil sekarang," balas Halsey sembari menarik tubuhnya menjauh.
Tangan Johan terulur membelai rambut Gadis itu dari samping. "Apa kau sedang datang bintang?"
Halsey hanya mengangguk. Tampak dari ekspresinya bahwa memang ada yang mengganggu perasaannya.
"Aku tahu bukan itu alasanmu, tapi aku juga tak akan memaksa. Jika kau ingin mengatakannya nanti, katakan saja, ya? Ayo, masuk."
Johan mulai mengancingkan kunci pada sekrup. Perlahan, tangannya mendorong pintu yang kini telah berhasil terbuka.
Halsey mengekori masuk, sembari pandangannya ia edarkan ke setiap sudut ruangan.
"Aku akan mengganti pakaian dulu, Hale," ujar Johan. "Tunggu di sini dulu, ya," lanjutnya lagi.
Halsey mengangguk singkat sembari mendaratkan bokongnya di atas sofa. Sebelah alisnya langsung terangkat tatkala ia mendapati Johan kembali berbalik menatapnya. "Kenapa?"
"Menungguku di kamar juga tidak apa-ap- arghh!"
Halsey menggeleng kesal kala menyaksikan Johan telah lenyap di balik tangga. Seraya berjalan meraih bantal sofa yang baru saja ia lemparkan pada pria itu tadi, kini bibirnya tampak bergerak menggerutu kesal.
"Sudah mesum, menyayangi banyak perempuan juga, lagi! Menyebalkan!"
"Ah, jadi ... kau marah-marah tadi adalah karena ucapanku itu, ya?"
Seketika Halsey membeku di tempatnya berpijak. Ia tak mengira Johan kembali secepat itu.
"Katanya tidak mencintaiku. Cih!"
Halsey berbalik dan mendapati Johan dengan kaos tipis berwarna hitam juga celana santai membalut tubuhnya. Wajahnya tampak sangat menyebalkan sekarang. "Apa yang kau bicarakan?" tanyanya kemudian.
"Iya, Sayang. Anggap saja aku tak pernah mendengar ucapanmu tadi, ya? Ayo. Aku sudah sangat lapar." Johan memeluk bahu Halsey dari samping kemudian menuntun Gadis itu menuju dapur.
❀❀❀