
Halsey tampak duduk di taman dengan sebuah buku di tangannya, juga kotak bekal di sisi kiri tubuhnya. Tiupan angin yang lemah lembut menerpa surai hitamnya yang menjuntai membuat beberapa anaknya beterbangan tak beraturan.
Gadis itu tampak sangat menikmati bacaannya yang bukan rumus, seolah tengah terhanyut pada suasana yang entah sejak kapan ia kembali rindui.
Ketenangan yang beberapa lama tak lagi ia rasakan semenjak Johan bersamanya.
Ketenangan yang sudah hampir menjadi teman tak terpisahkannya.
Ketenangan yang selalu membuatnya merasa tenteram tanpa beban.
"Hai~"
Kening Halsey berkerut. Perlahan, ia menoleh ke sisi kiri tubuhnya dan mendapati sosok Pria tengah tersenyum menggoda.
Cih!
Yang benar saja.
Setelah membalas dengan tatapan tak suka, Halsey kembali melirik pada buku di tangannya. Meski ia cukup kenal wajah juga tahu nama, tetap saja ia akan menganggap Pria itu sebagai orang asing yang sangat jauh.
"Namaku Fito, dan kau pasti Hale."
Halsey menarik napas kasar kemudian menoleh dengan raut geram. "Apa kau sudah minta izin sebelum duduk di sebelahku? Dan ... sejak kapan kita kenal? Kau hanya orang asing, jadi jangan memanggilku dengan sebutan tadi!"
Fito menampakkan senyum remehnya. "Sangat galak, ya. Padahal ... kau lumayan cantik dan ...." Pria itu tampak memandang Halsey dari leher jenjangnya, bagian dadanya, pinggang rampingnya, lalu bagian yang paling tak patut disebutkan, kemudian paha mulusnya yang sedikit terekspos. "Sexy. Tubuhmu sang-"
"********!"
Bugh!
Bugh!
Brugh!
Brak!
Reyhan telah memukuli Pria itu tanpa jeda dengan sangat brutal. Pukulannya benar-benar tak terelakkan, hingga Fito bahkan tak ada kesempatan untuk menghindar apalagi memberi pukulan balik.
"Reyhan?! Cukup!" Halsey berusaha meleraikan Reyhan dari tubuh Fito sebelum Pria itu benar-benar mati jika dibiarkan lebih lama lagi. Wajah Fito sudah penuh memar juga darah yang mengalir dari hidung dan di beberapa luka lainnya. Belum lagi tendangan yang beberapa kali Reyhan layangkan ke tubuhnya hingga ia terpental membentur tanah kerikil. Halsey yakin, kepala Fito pasti sudah berdarah, sekarang.
"CUKUP, REYHAN!"
"LEPASKAN! AKU BENAR-BENAR AKAN MEMBUNUH ******** INI DENGAN TANGANKU!"
"REYHAN CUKUP! DIA SUDAH HAM-"
Bugh!
Reyhan menyentuh sudut bibirnya kesal. Bukan. Itu bukan pukulan Fito, melainkan pukulan Alan yang baru tiba dan langsung saja disuguhkan oleh perkelahian kedua Pria itu.
"AL-"
"Maafkan aku, Sayang. Kau bisa dipenjara jika ******** ini benar-benar mati di tangan-"
"PERSETAN! Aku tidak peduli!" Reyhan kembali bangkit menghampiri Fito yang masih terkapar kemudian mencengkram erat kerah baju Pria itu.
"Kau kira Johan tidak ada dan kau bisa bebas menggoda Halsey? Aku masih di sini, Sialan! Sekali lagi kau berani mengganggunya atau berkata leceh seperti tadi, kupastikan kau benar-benar mati di tanganku!"
Bugh!
Bugh!
Reyhan bangkit kemudian berlalu dari sana. Niatnya memberi tahu Halsey perihal keadaan Johan ia urungkan lebih dulu hingga emosinya benar-benar surut.
Sementara itu, Halsey dan Alan hanya bisa diam menyaksikan kepergian Reyhan.
"Hale?" Alan melangkah mendekat pada Halsey. "Aku antar ke kelasmu sekarang. Lain kali, sebisa mungkin hindari bertemu ******** itu jika kau tak ingin kami bertiga menjadi pembunuh."
Halsey hanya diam menyamakan langkahnya dengan Alan tanpa tanggapan.
***
Setelah menikmati makan malam dan baru saja menunaikan salat isya, kini Halsey sudah tampak berkutat di meja belajarnya dengan beberapa buah buku yang ikut bertumpuk rapi di sana. Gadis itu tengah mengerjakan beberapa tugas sekolah, yang mungkin hanya akan memakan waktu beberapa menit saja jika mengingat betapa besar kapasitas otaknya.
Tok .... Tok ....
Halsey melirik sekilas ke arah pintu.
"Hale?"
"Masuk saja, Bu. Aku tidak mengunci pintunya," sahutnya dari dalam.
Ceklek.
Dengan wajah hangatnya, Shiren tampak dengan segelas susu dan beberapa camilan yang termuat di nampan yang ia bawa di tangannya. Wanita paruh baya itu kemudian meletakkannya di atas meja dekat sofa lalu menghampiri Halsey. "Ibu bawakan susu dan camilan untukmu, Sayang. Jangan terlalu kelelahan, ya."
Cup!
"Terima kasih, Bu."
Setelah mendaratkan kecupan di kening Halsey, Shiren mulai berlalu kemudian merapatkan pintu kamar Putri-nya kembali.
Halsey berniat berdiri hendak menghampiri nampan yang dibawa Shiren tadi, namun niatnya ia urungkan tatkala ponselnya bergetar singkat tanda pesan masuk.
+62xxxxxxxxxxxx
Lihat ke balkon kamarmu.
20.12 PM
Halsey tampak berpikir sebentar. Siapa kira-kira pengirimnya?
Ia mulai bangkit kemudian berjalan menuju pintu balkon kamarnya. Selepas tiba di sana, Halsey langsung mengedarkan pandangannya ke bawah, hingga ... netra madunya terhenti pada sesosok Pria yang kini tampak memandanginya dari kejauhan dengan senyum lembut yang mekar.
Segera Halsey membalik tubuh kemudian berlari keluar kamar. Gadis itu menyusuri anak-anak tangga dengan tergesa-gesa, hingga Mahesa dan Shiren yang tengah menonton TV bersama pun menoleh kaget.
"Ada apa, Sayang?" tanya Mahesa panik.
"Tidak apa, Ayah," balas Halsey singkat memudian kembali berlari keluar pintu rumah.
Dari jauh ia bisa mendapati sosok Pria tadi yang tampak menunggunya di seberang jalan. Tak ingin menunda, kembali Halsey memacu langkahnya sedikit lebar hingga ia benar-benar telah berdiri tepat di hadapan Pria tadi.
Plak!
Plak!
"Dari mana saja kau tiga malam ini?"
Johan meringis seraya memegangi kedua pipinya yang terasa panas. "Sayang ...?! Kau menamparku ...," lirihnya dengan wajah shock dibuat-buat.
"Jawab pertanyaanku, Johan!"
"Ya, ampun, yang benar saja. Mengapa tak menangis lalu memelukku erat dulu sih, Hale? Kau tak merindukanku, ya? Ish, benar-benar tidak punya sisi romantis!" Bibir Johan sudah mengerucut kesal.
"Apa pria yang kauhajar hari itu adalah penyebabnya? Kau
tahu aku sungguh mengkhawatirkanmu, Johan!"
Wajah Johan kian melembut. Dengan senyum mengembang, tanganny terulur membelai surai lembut Halsey yang bertambah hitam akibat sinar bulan yang mencipta cahaya temaram. "Aku baik-baik saja, Hale. Sekarang, ayo ke rumahmu. Di sini sangat dingin," balasnya sembari meraih lalu menggandeng tangan Halsey.
Mereka telah berjalan beriringan menyeberangi jalan hingga tiba di gerbang rumah mewah keluarga Bamatara. Setelah tiba di pintu utama rumah, keduanya sudah langsung disambut raut panik oleh Mahesa juga Shiren.
"Assalamualaikum, Om, Tante ...."
"Waalaikumsalam. Apa yang terjadi, Johan? Om lihat Halsey berlari keluar rumah dengan wajah panik, tadi," balas Mahesa cepat.
Johan melirik Halsey yang kini sudah memalingkan wajah malu.
Duh!
Calon pacar yang menggemaskan!
"Dia mungkin terlalu rindu," balasnya seraya terkekeh menggoda.
Mahesa dan Shiren ikut tertawa. Mereka kemudian berjalan masuk ke rumah lalu duduk di ruang keluarga.
"Tante akan buatkan minuman dulu. Tunggu sebentar, ya," ujar Shiren hendak beranjak.
"Tidak perlu, Tante. Aku hanya ingin meminta izin untuk mengajak Hale keluar sebentar," cegah Johan sembari melirik Halsey sekilas.
"Ini sudah malam, Johan. Sekarang jawab-"
"Kita hanya makan ice cream, Hale. Setelah itu aku pasti akan mengantarmu pulang tanpa lecet. Benar, kan, Om?"
Halsey melirik Mahesa dan Johan bergantian. Bagaimanapun, ia masih butuh penjelasan dari Pria itu. "Tapi jangan lama," sahutnya kemudian.
Johan mengangguk mantap. Setelah berpamitan, mereka berangkat pergi hingga mobil Johan telah berhasil membelah malam kelam yang dingin.
"Sekarang jawab pertanyaanku," tuntut Halsey memecah hening.
Johan tersenyum geli. Belum pernah Hale-nya secerewet ini. "Kujelaskan nanti, Hale. Sebentar lagi kita sampai, kok."
Halsey membuang napas berat, kemud8an menumpukan tubuhnya ke jok dengan pandangan yang terlempar keluar jendela mobil. Jika tahu begini, maka ia pasti akan berusaha tidak mau tahu saja dengan penjelasan Johan. Pria itu seolah memanfaatkan situasi untuk selalu menunda-nunda.
Setelah beberapa lama, laju mobil Johan kian melambat hingga benar-benar berhenti.
"Aastaga, Johan? Aku hanya mengenakan piyama!" ujar Halsey panik.
Johan meliriknya sebentar. Pria itu lalu membuka jaket yang ia kenakan kemudian memakaikannya langsung pada Halsey. "Tidak apa, Sayang. Ayo, turun."
Halsey mengangguk kemudian menyusul Johan yang telah menantinya. "Sudah kubilang jangan memanggilku dengan sebutan itu!"
"Iya, Sayang ...."
"Ish, Johan-"
"Ssst! Sekarang duduk di sana. Aku akan memesan ice cream-nya dulu," potong Johan dengan telunjuknya yang langsung ia letakkan di bibir Halsey. "Kenyalnyaaaaa ...," batinnya terkekeh.
Halsey berlalu dari hadapan Johan kemudian mengambil tempat untuk menunggu Pria itu selesai. Setelah beberapa saat, Johan pun tampak muncul dengan dua buah cup ice cream di tangannya.
"Ikuti aku, Hale. Aku punya tempat bagus untuk menikmati ini," ajak Johan kemudian.
Halsey hanya mengangguk lalu mengekori Johan yang tampak berjalan menuju sebuah pintu besi berwarna merah. Johan mendorong pelan, kemudian melaluinya. Setelah itu, sebuah ruangan dengan suasana temaram mulai menyambut mereka.
Setelah beberapa kali berbelok, nampaklah juntaian anak-anak tangga yang panjang lagi berliku-liku.
Johan menoleh pada Halsey. "Apa kau kuat menyusurinya?"
Halsey ikut menatapnya sesaat kemudian berpindah pada juntaian tangga tadi.
"Hale? Mau kugendong saja?" tanya Johan lagi.
"Hey! Tidak usah!" sahut Halsey ketus.
Johan terkekeh. "Gadis baik."
Keduanya pun kembali berjalan lalu menyusuri anak-anak tangga yang tak terkira itu. Sekitar 5 menit, mereka tiba di anak tangga terakhir dengan sebuah pintu besi berwarna merah sama tampak menghadang.
Johan kembali mendorongnya pelan, hingga detik berikutnya, tibalah mereka di lantai atap bangunan dengan pemandangan malam kota yang tersuguhkan.
"Ini sangat indah," gumam Halsey yang masih terpaku di pintu.
Johan tersenyum seraya mulai mendudukkan dirinya, menyaksikan Halsey yang tampak berjalan mendekat ke tepian lantai. "Ayo, duduk di sini," pintanya seraya menepuk-nepuk kursi di sisi kiri bokongnya.
"Aku ingin berdiri saja," balas Halsey seraya pandangannya yang kembali ia lempar ke bawah sana.
"Kau bisa menikmatinya meski sambil duduk, Hale. Ayo duduk di sini dan makan ice cream-mu sebelum meleleh," ujar Johan lagi.
Halsey berbalik dengan wajah kesal. Gadis itu kemudian duduk cukup jauh dari Johan seraya langsung meraih ice cream-nya dongkol.
"Jangan jauh-jauh atau aku tidak akan memberimu penjelasan."
Halsey tetap bergeming. Tetap diam menikmati ice cream tiga rasanya tenang.
"Hale? Ayo mendekat padaku ...."
"Kau Pria mesum!"
"Jangan jauh-jauh, Hale. Sini mendekat," ulang Johan lagi.
"Ceritakan saja."
"Kalau aku yang mendekat, aku akan menciummu. Setuju?"
"Silakan saja kalau kau ingin digampar," balas Halsey santai.
Johan tersenyum geli. Pria itu lalu menggerakkan tubuhnya lebih dekat dengan Halsey kemudian menarik napas dalam dan membuangnya pelan. "Cium, tidak, ya ...?" bisiknya menggoda.
"Menjauh!" bentak Halsey, masih tanpa menoleh.
"Cium, ahhh!"
"Kubilang menja-"
"Iya, Sayang. Aku menjauh, oke?" potong Johan kemudian.
Setelahnya, suasana berubah hening. Halsey tetap betah menikmati pemandangan malam yang tersaji di hadapannya, sementara Johan tampak terdiam seolah tengah menimang-nimang sesuatu untuk diucapkan.
"Mommy telah berpulang pada Tuhan," ujar Johan pelan.
Sendok ice cream Halsey sudah terjatuh ke lantai. Apa katanya? Mommy? "Mo-mommy?" bisiknya shock.
Johan mengangguk.
"Jangan bercanda, Johan!" bentak Halsey seraya tubuhnya yang langsung ia balikkan menghadap Johan.
"Meski sangat terpukul, aku berusaha ikhlas sejak hari itu. Memang sulit, sebab sebagian jiwaku telah terikut pergi bersamanya ...," lirih Johan menatap lurus. Bibirnya yang masih betah melengkung.
Tapi ... seberapa pun ia berusaha tersenyum, mata akan selalu bisa menjelaskan meski tanpa disuarakan. Tak ada yang akan tetap baik-baik saja setelah kehilangan sosok ibu dan segenap ketulusannya, bahkan manusia setangguh Johan sekalipun.
Halsey masih diam dengan tatapan sendunya terpaku pada Johan. Ia sungguh tak tahu cara menenangkan seseorang selain dengan sebuah dekapan, tapi ... itu tak mungkin, bukan?
Siapa yang tahu jika kemesuman Johan bisa bangkit bahkan meski suasana sedang sedih-sedihnya?
"Johan ...? Aku turut bersedih, ya. Kau harus tetap hidup untuk mommy. Selalu kirimkan doa untuknya dan jangan pernah membuatnya kecewa," ujar Halsey sembari menyentuh pundak Johan. "Jangan balas dendam," lanjutnya lagi.
Johan lekas menoleh. "Balas dendam?"
Halsey mengangguk. "Demi aku dan mommy. Berjanjilah kau tak akan mengecewakan kami," balasnya dengan jari kelingking yang terlurur.
Johan tersenyum lembut seraya memandangi wajah Halsey dalam. Meski dengan cahaya temaram oleh bulan, paras indah Gadis itu sama sekali tak terhalangi.
Ia lalu mengaitkan kelingking miliknya dengan Halsey hingga mereka saling berbagi tatapan. Hembusan angin malam menerpa wajah keduanya. Membiarkan hembusan napas bertemu di udara, membiarkan suara malam mengisi suasana.
Setelah beberapa kian menit berlalu, keduanya telah saling menumpukan badan di tunjangan kursi dengan jarak yang masih dibiarkan mencipta.
"Sejak masih kanak-kanak, daddy sudah sering memukuli mommy sepulang kerja hanya karena masalah kecil."
"Suatu malam, aku mengintip mereka bertengkar hebat entah dengan penyebabnya. Pertama, daddy berteriak keras lalu menampar mommy. Setelahnya ia berjalan maju hingga mommy terkurung di sudut dinding kemudian mencekik lehernya hingga sulit bernapas."
"Aku menangis sesenggukan melihat itu. Merasa tak tahan lagi, aku berlari menghampiri mereka kemudian memeluk betis daddy."
"'Daddy pria jahat! Aku benci daddy! Jangan menyakiti mommy-ku! Lepaskan dia!'. Begitu teriakku, tapi daddy malah hanya menendangku hingga terpental jauh."
"Sebegitu seringnya menyaksikan daddy menyakiti mommy, aku menanamkan pada diriku sendiri untuk jangan pernah menyakiti perempuan hingga di usiaku sekarang. Aku akan berusaha mengerahkan segala mampuku untuk menghajar siapa pun yang kudapati menyakiti perempuan. Cukup di hadapan daddy saja aku menjadi Pria lemah, jangan pada yang lain."
Halsey menggigit bibir bawahnya tak enak. "Aku jadi merasa bersalah. Kau tahu? Sejak awal aku sangat membencimu hanya karena hobi memuakkanmu itu."
Johan terkekeh. "Benci saja dulu. Nanti kuganti jadi cinta," balasnya santai.
Halsey tak menanggapi dan lebih memilih mengedarkan pandangannya ke sekitar.
"Baiklah. Jam tidurmu sudah hampir tiba," ujar Johan seraya bangkit berdiri. "Ayo, pulang."
Halsey menoleh cepat. "Tapi ... aku masih ingin menikmati ini," balasnya dengan wajah kecewa.
"Sudah hampir larut, Hale. Kapan-kapan kubawa ke sini lagi, ya?"
"Tapi, Johan ...."
Halsey mengedarkan pandangannya lagi kemudian mendengus kasar. "Baiklah," ujarnya seraya bangkit berdiri.
Mereka lalu berjalan beriringan meninggalkan tempat tadi hingga keduanya sudah duduk di jok masing-masing. Johan perlahan melajukan mobilnya, membelah jalan malam yang tak pernah lelah untuk selalu ramai.
"Tapi mengapa tidak memberitahu siapa pun sebelum kau pergi?" Halsey memecah hening.
"Ponselku hilang saat di bandara. Kautahu aku tidak bisa fokus pada hal lain lagi selain segera tiba di sana," jelas Johan.
Setelah mengangguk, Halsey kembali diam lalu melempar pandangannya keluar jendela. Ia tahu benar rasanya kehilangan sosok ibu, tapi untuk Johan ... mungkin jauh lebih sakit dari yang ia rasakan.
Mahesa ayah terbaik, paling menyayanginya, bahkan sebagai ayah sekaligus ibu. Belum lagi dengan Shiren. Meski ibu tiri, kasih sayangnya tak kalah tulus. Baila juga sama. Mereka jelas saling menyayangi meski hubungan keduanya tak cukup dekat. Lalu Johan? Selain Alan dan Reyhan ia tak punya siapa-siapa lagi. Daddy-nya mungkin masih di bumi, tapi ia tahu benar bahwa Johan tak diperlakukan baik olehnya. Dan dengan semua itu, bagaimana bisa Johan masih cukup kuat untuk menampakkan senyum?
Halsey mungkin tak berjanji, tapi setidaknya ..., ia akan berusaha untuk di sana ketika Pria itu butuh.
❀❀❀