Johale'S Destiny

Johale'S Destiny
Lontaran Doa



Setelah mendaratkan sekali pukulan di wajah Alan lagi, Johan langsung bergegas memapah tubuh Pria itu masuk ke apartement-nya kemudian menghempaskannya begitu saja ke atas sofa.


"Minum ini!" tegasnya sembari mengulurkan sebotol air mineral pada Alan.


"Alan?! Hey?! Cepat, minum ini!"


"Biarkan aku tidur ...!" Alan merengek.


"Tidak! Kau harus menjelaskannya padaku dulu! Cepat, bangun!" Johan terus mengguncang-guncangkan tubuh Alan keras, bahkan langsung menarik Pria itu hingga posisinya terduduk.


"Biarkan aku tidur, Jo-"


"Cepat minum i-"


Bugh!


"KAU KENAPA, SIH, SIALAN?! HUH?! BIARKAN AKU TIDUR! JANGAN MENGGANGGUKU!"


Johan mengusap tulang pipinya pelan setelah bokongnya kini berhasil mendarat di lantai begitu saja. Itulah hebatnya Alan. Semakin mabuk, maka akan semakin kuat pula pukulannya.


Bukan hanya hebat. Tapi sekarang, Pria itu benar-benar sialan.


Dengan geram yang luar biasa, Johan bangkit dari duduknya kemudian bergegas menyusul Alan.


Tapi sayangnya ....


"Astaga! Buka pintunya, Alan!"


Brak!


Brak!


"ALAN?! BUKA PINTUNYA, BODOH!"


"HEY, ALAN?!


"Astaga, sial! Masa, sih, aku harus tidur di sofa?!" Johan mengerang frustrasi.


"Argghh! SIALAN KAU, ALAN!"


BRAK!


Dengan penuh perasaan kesal, Johan berjalan mendekat dan membanting tubuhnya ke sofa. Ah, iya. Itulah juga hebatnya Alan. Semakin dia yang menumpang tidur di tempat orang, maka akan semakin pula ia yang mengunci pintu hingga Johan terpaksa harus tidur di sofa lagi.


"Brengsek memang!"


Baru saja matanya memejam, Johan langsung bangkit duduk kemudian melempar pandangannya ke jam dinding. Pukul 02.24 AM?! Waktu untuk salat Tahajud, bukan?


Setelah menenangkan hati, Johan bergegas ke kamar mandi kemudian langsung berwudu. Setelahnya, ia bersiap dan mengenakan songkok. Membentangkan sajadahnya menghadap kiblat, kemudian mulai menunaikan salat.


Setelah beberapa saat kemudian, Johan selesai. Ia kini tampak berzikir dan perlahan menengadah dengan matanya yang memejam ikhlas.


"Bismillahirrahmanirrahim. Ya, Allah? Malam ini, aku menghadap pada-Mu guna menunaikan salat Tahajud. Aku ingin berbagi banyak hal lagi. Kesedihanku, dan juga bahagiaku."


"Aku ... aku sangat merindukan mommy. Bagaimana kabarnya? Apa dia baik? Aku ... aku benar-benar rindu dengannya. Sampaikan salamku padanya. Katakan bahwa aku sangat baik. Katakan juga bahwa aku sudah melaksanakan salat. Katakan ... katakan bahwa aku ... aku rindu. Seharusnya ia kembali ke Indonesia lagi hari ini, tapi ... tidak masalah. Aku sudah perlahan ikhlas. Kumohon jaga dia baik-baik. Lapangkan kuburnya, beri ia keselamatan, dan ... mudahkan jalannya menuju surga-Mu nanti. Aku yakin tempat mommy adalah di sana. Dia wanita yang baik. Ibu yang baik. Dan aku ...." Johan menyempatkan untuk terisak sebentar kemudian kembali menengadah lagi.


"Dan tentang daddy ... aku juga sangat merindukannya. Selalu beri ia keselamatan, kebahagiaan, dan juga umur panjang. Aku tidak akan meminta diberi penyakit lagi karena mendambakan kasih sayangnya, sebab untuk sekarang, aku masih punya alasan untuk tetap hidup. Aku selalu menyayangi daddy meski ia sudah menganggapku mati. Jadi ... kumohon permudah segala urusannya."


"Tentang Hale juga. Aku sangat khawatir perihal dirinya, Ya Allah. Kumohon jangan biarkan sesuatu yang ia perkirakan itu terjadi. Aku tidak ingin melihatnya bersedih. Berikan saja ia kebahagiaan. Semua yang aku sayangi, jangan pernah membuat mereka bersedih. Daddy, Hale, Reyhan, Alan, Atha ... mereka sumber bahagiaku. Sumber kekuatanku. Lindungi mereka selalu."


"Aamiin."


Setelah mengaminkan seluruh doanya, Johan perlahan bangkit berdiri kemudian merapikan sajadah da-


Brak!


"ALAN BRENG- Astagfirullah. Kau baru saja salat, Johan. Jangan mengumpat dulu, oke?"


Johan mengusap-usap dadanya pelan sembari menghampiri ponselnya yang baru saja dilemparkan oleh Alan. Untung saja tidak ada lecet sama sekali.


"Oh .... Jadi alarmku mengganggu tidurnya? Haha! Rasakan!"


Setelah membanting tubuhnya ke sofa dengan asal, Johan mulai mencari label kontak dari Hale-nya, niat memastikan saja. Kalau gadis itu yang diharapkan untuk menelepon duluan, sungguh ... sangat sedikit kemungkinan bahwa itu bisa terjadi.


Perlahan ... nada sambungan kian terdengar. Tapi panggilan pertama tak ada jawaban. Kedua juga sama, hingga ....


"Ekhem. Assalamualaikum."


Johan tersenyum simpul. "Waalaikumsalam. Bagaimana? Apa kau terbangun lagi?"


"Hm."


"Lalu mengapa tidak menelepon?"


"Aku tidak ingin mengganggu tidurmu."


"Jangan bilang begitu, Sayang. Lagian aku memang berencana bangun, kok."


"Hm ...."


"Jadi bagaimana? Apa kau benar-benar kesulitan untuk terlelap?"


"Tidak, kok. Jangan dipikirkan. Kau lebih baik tidur saja."


"Hale-"


"Tidurlah, Johan.  Aku tidak ingin kau sakit karenaku! Tidurlah!"


Johan terdiam.


"Johan? Tidurlah. Aku yang akan menunggumu terlelap."


"Tapi, Sayang-"


"Kumohon ...."


Johan mendesah kasar sembari mulai menarik selimut hingga menutupi tubuhnya. "Baiklah. Selamat tidur."


"Johan ...?"


Pergerakan Johan terhenti sebentar. "Kenapa, Hale?"


"Aku ... aku mencintaimu, Johan. Kumohon jangan mengecewakanku."


"Apa yang terjadi Hale?" tanya Johan lagi, cemas.


"Tidak ada. Tidurlah."


"Katakan du-"


"Tidurlah, Johan."


Setelah mendesah pelan, Johan pun menggenggam ponselnya di dada. Perlahan memejam, beriringan dengan hembusan napasnya yang kian teratur.


Benar.


Pria rapuh itu berhasil terlelap, terjun ke alam mimpi, beralih dari dunia nyatanya yang penuh sedih.


***


"Sayang? Kantung matamu benar-benar nampak," ujar Johan sembari kedua ibu jarinya mengusap bawah mata Halsey.


Selanjutnya, ia menggenggam kedua rahang Halsey. Menarik wajah Gadis itu mendekat, kemudian-


Bugh!


"Kau mau apa?!" tanya Halsey sembari tangan Johan yang langsung ia tepis kasar dari wajahnya.


"Menciumnya supaya tidak nampak lagi," balas Johan terkekeh tanpa dosa.


"Jangan sering mencuri kesempatan, ya!"


Johan merengut kesal sembari kembali mencomot sepotong roti dari tempatnya.


"Dasar galak!" gumamnya.


Halsey hanya balas menatap garang sembari membuka mulutnya. Siapa suruh gemar mencuri kesempatan? Ia bahkan baru sadar bahwa Johan sudah semakin sering menciumnya selama ini. Sebegitu hebatnya, ya.


"Cium itu, kan, artinya cinta, Hale. Aku hanya berusaha menunjukkan," celoteh Johan lagi.


"Kalau aku mati juga kau pasti sangat cepat berpaling."


Johan terdiam. Menghentikan kunyahannya sesaat, sembari tatapannya pada Halsey yang berubah mendingin.


"Apa lihat-lihat?!" ketus Halsey menantang.


"Kau bilang apa tadi?! Hah?!" Kini, kepala Halsey sudah terjepit di antara tangan dan lengan Johan. Membuatnya sontak tertawa tanpa henti, bahkan sudah tak mengeluarkan suara lagi saking merasa gelinya.


"LEPASKAN, JOHAN!" Halsey berteriak seolah tak tahan lagi. Sungguh ia adalah type manusia yang benar-benar tidak tahan jika bagian lehernya disentuh. Sangat geli, bahkan mungkin bisa membuatnya kencing di tempat. "LEPASKAN!" teriaknya lagi.


"Katakan dulu kau mencintaiku!" balas Johan ikut berteriak, berusaha menahan tawanya yang meronta ingin meledak.


"Lepas!"


"LEPASKAN, JOHAN!"


"Katakan du-"


"Lepaskan, Bodoh! Hiks ... hiks."


Johan langsung berpindah membingkai wajah Halsey panik. "K-kau menangis?!"


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Bugh!


"Ap-mmfttmbwahahahahahaha-"


Plak!


Halsey bangkit berdiri kemudian berlalu begitu saja. Memangnya lucu, apa?!


Detik berikutnya, ia merasakan sesuatu menggelung pergelangan tangannya erat seolah meminta untuk berhenti. "Lepaskan!"


"Aku hanya bercanda, Sayang. Ayo, sini."


"Lepas!"


Johan mendengus pelan dengan bibirnya yang masih tersenyum geli. Kalau sudah begini, sudah jelas bahwa membujuk Halsey akan menjadi sedikit sulit. "Hale? Ayo, Sayang. Aku hanya bercanda, oke?"


"Hale?"


"Hey, Sayang? Aku hanya bercanda ...."


"Aku tak ingin bicara denganmu lagi!" ketus Halsey semakin kesal.


Tapi bukannya menyerah, Johan malah terkekeh pelan sembari terus mengejar langkah Halsey. "Tapi barusan bicara."


"Itu urusanku! Aku bicara dengan mulutku juga!"


"Tapi kotak bekalnya ketinggalan, Sayang. Ayolah .... Jangan marah lagi, ya?" Johan langsung menyatukan jemarinya dengan Halsey kemudian menarik Gadis itu berbalik kembali ke taman. Sudah jelas Halsey meronta, namun harus kembali diingat bahwa kekuatannya sama sekali tak bisa sebanding dengan Johan.


"Sekarang duduk lagi dan aku akan menyuapimu. Oke?"


"Tidak."


"Duduk, Sayang," cegah Johan lagi sembari tangannya yang langsung menarik Halsey kembali duduk.


"Aku ingin kembali-"


"Sssst! Duduk lagi, o-"


"Lepaskan!"


"Kau harus duduk dulu dan bantu aku menghabiskan roti- ARGH! HALE?! APA YANG KAU LAKUKAN?!"


Halsey tetap memasang wajah datar setelah berhasil menggigit tangan besar Johan keras hingga Pria itu meringis kesakitan dibuatnya.


"Hale? Gigimu tajam sekali! Lihatlah! Bekas gigitanmu bahkan membuat kulitku terkelupas."


Halsey tetap diam. Menatap lurus ke depan tanpa mau mengindahkan Johan sama sekali. Sebenarnya merasa bersalah juga, tapi ... biarkan saja! Siapa suruh berani macam-macam!


"Hale? Sudah, kan, marahnya? Kalau iya, sini. Aku akan menyuapimu lagi." Johan coba menarik tangan Halsey hati-hati, seolah berjaga-jaga saja jika Gadis galak itu akan kembali menjadi buas.


"Atau kau masih ingin memukuliku? Baiklah, berbalik saja."


"Hale?"


"Hey, Sayang? Sudah, dong, marah-"


Bugh!


Bugh!


Johan mengusap lengannya pelan sembari menyaksikan Halsey mengubah posisi tubuh menghadapnya dengan senyum puas yang mekar. Astaga, Gadis ini!


"Bagaimana? Sudah puas?"


"Hm."


"Atau ingin menggigit bibirku juga?"


"Cepat, deh! Aku ingin kembali ke kelas!"


Johan mendengus pelan sembari mulai mencomot sepotong roti dari kotak bekal di pangkuannya. Nasib, nasib. Untung sudah terlalu sayang. "Perbanyak minum air putih, ya? Nanti kau jatuh sakit," ujarnya sembari mulai menyuapi Halsey lagi.


"Fisikku tidak lemah."


"Begadang membuat tubuhmu kurang fit."


"Hm." Halsey terus membuka mulutnya saat Johan mengulurkan potongan roti


Mengunyahnya santai, dan menelannya tanpa beban. "Johan?"


"Hm?"


"Maafkan aku ...."


"Maaf? Untuk apa?"


Halsey mendongak sesaat. Balas menatap Johan dengan sorot bersalah, kemudian menarik tangan Pria itu dan memandanginya beberapa saat. "Karena telah melukaimu ...," lirihnya pelan.


Johan terkekeh. "Astaga ... ini bukan masalah, Hale. Lagi pula memang salahku, kan?"


"Tapi tetap-"


"Mati karenamu saja aku rela. Ini, satu suapan lagi lalu kita kembali ke kelas."


Halsey mengangguk sembari membuka mulutnya lagi. Memperhatikan pahatan wajah Johan dari bawah, menikmati hembusan napas hangatnya yang menyapa. "Mengapa kau tidak pernah marah padaku?"


"Karena tidak bisa dan memang tidak mau."


"Kenapa?"


Johan menghentikan aktivitasnya kemudian berpindah menatap Halsey dalam. "Karena terlalu cinta," balasnya sembari menyelipkan anak-anak rambut Halsey ke belakang kuping.


"Kenapa cinta?"


"Sangat banyak, dan itu rahasia."


"Katakan!"


"Kalau aku tidak mau?"


"Aku akan menggigitmu lagi."


Johan mengangguk senang. "Kalau di bibir, tentu saja bisa!"


"Ish! Katakan, Johan ...."


Johan menarik napas panjang kemudian mengusap mentega di sudut bibir Halsey lebih dulu. "Mencintaimu mungkin sudah merupakan takdir, Hale. Entah, tapi ... pertemuan kita jadi hal yang paling kusyukuri untuk sekarang. Kau memberiku banyak energi positif. Menjadi motivasiku untuk berubah lebih baik, sekaligus ..., menjadi alasanku tetap hidup dan tersenyum bahkan sampai detik ini."


Halsey terkekeh. "Apa itu bualan?"


"Menurutmu?" tanya Johan balik. Eum ... dengan setitik nada kesal. Hanya setitik.


"Katakan dulu alasanmu."


"Ya, Allah. Memangnya tadi itu apa? Pidato?" Johan masih berusaha bersabar.


"Masih belum jelas. Aku tidak puas," balas Halsey semakin kukuh.


"Lalu aku harus mengapakanmu agar kau puas?" tanya Johan lagi.


Halsey merengut sebal. "Mau aku mengambek, ya?"


"Mengambek saja kalau kau mau dinikahi sekarang."


"Ish, Johan?"


"Kenapa, sih, Sayang?"


"Ayo katakan," rengek Halsey lagi.


"Iya, baiklah." Johan menarik napas. "Tapi janji dulu."


"Janji apa?"


"Janji kalau kau bersedia melahirkan anak satu lusin setelah kita menikah nanti."


Halsey mengangguk. "Berdoa saja semoga aku khilaf."


"Khilaf? Khilaf apa? Khilaf mengajakku membuatnya dulu-"


PLAK!


Johan mendesah pelan. Memegangi pipinya pasrah, kemudian lanjut menyuapi Halsey lagi setelahnya.


Dasar, ya.


Padahal baru saja minta maaf karena sudah menyakiti, tadi, tapi barusan sudah mengulangi lagi.


"Karena ... kau itu beda. Unik, dan tentunya tidak gampangan," ujar Johan kemudian.


"Jadi ...." Halsey menelan isi mulutnya cepat. "Kalau aku tidak beda, tidak unik, dan juga gampangan, kau tidak akan mencintaiku? Begitu?"


"Sayangnya aku mencintaimu atas siapa dirimu yang sebenarnya."


"Aku tidak mengerti."


"Seiring dengan waktu, kau pasti akan mengerti. Ayo."


Halsey memandangi tangan Johan yang terulur padanya beberapa saat, kemudian mendongak menatap Pria itu juga. "Baiklah."


Detik berikutnya, mereka pun berjalan beriringan meninggalkan area taman, dengan tangan yang saling menenteng sesuatu.


❀❀❀