Johale'S Destiny

Johale'S Destiny
Gara-gara 'Sayang'



Halsey tampak berjalan dengan sebuah buku rumus nan tebal di tangannya. Tak lupa disebutkan, Johan juga ikut mengiringi langkah Gadis itu dengan kedua tangan yang ia masukkan ke saku celana.


Halsey seolah tak menganggap hadir Johan. Bersikap seolah tak ada siapa pun di sisi tubuhnya, sama sekali. Bahkan, hingga mereka telah benar-benar tiba di taman, keduanya tetap betah menghening tanpa ada percakapan.


Halsey mendudukkan bokongnya di kursi taman kemudian disusul Johan. Pria itu masih dengan tangannya yang berada di saku celana, sementara Halsey sendiri sudah sejak tadi menikmati deretan rumus dalam buku di tangannya dengan napas yang ia mainkan santai.


Satu menit.


Dua menit.


Tiga menit.


Empat men- sudah cukup. Batinnya tersiksa jika harus lebih lama lagi.


Johan langsung menghadapkan tubuhnya ke arah Halsey. Tangannya terlurur meraih buku Gadis itu kemudian meletakkannya di pangkuan. Tanpa peduli bagaimana tatapan Halsey sekarang, ia malah dengan lancang meraih tangan Gadis itu dan memandangi pergelangannya.


"Apa yang kaulakukan?!" tanya Halsey panik seraya menarik tangannya yang malah semakin dipegang erat oleh Johan. "Joh-"


"Maafkan aku."


Keduanya saling berbagi pandangan. Johan memandang sendu, sementara Halsey berbalik bingung.


"Aku tak bisa mengendalikan diriku tadi, Hale. Maafkan aku," sambung Johan lagi seraya mengusap lembut pergelangan tangan Halsey.


Dengan raut yang berganti datar, Halsey menarik tangannya. Johan melepas sebentar, namun detik berikutnya, ia kembali meraih tangan Halsey dengan senyum jahil dan tatapan yang tak pernah teralih dari Gadis itu.


"Berhen-"


"Maafkan aku dulu."


"Jangan memotong ucap-"


"Maafkan aku dulu."


"Joh-"


"Maafkan aku dulu."


"Johan-"


"Ya, Sayang?"


Halsey memandangi Johan geram, sementara Pria itu malah dengan santainya tertawa geli.


"Astaga ... kau semakin manis saja saat sedang marah," ujar Johan sembari mencubit gemas hidung Halsey.


Halsey masih diam dengan tatapan datarnya yang tak berubah. Membiarkan Johan melepas tawa, hanya karena ekspresinya yang sama sekali tak bisa dikatakan lucu.


"Aku penasaran dengan senyummu, Hale. Bisa kau tunjukkan untukku?" pinta Johan setelah tawanya kian mereda.


Halsey memutar bola matanya muak kemudian berdiri berniat pergi. Setelah meraih buku yang dibawanya tadi, ia menyempatkan untuk melempar tatapan nyalang pada Johan, sebelum akhirnya benar-benar berlalu pergi dari sana.


Johan masih di posisinya memandangi punggung Halsey dengan senyum lembut. Tidak, jangan! Jangan menebak jika ia akan membiarkan Halsey pergi begitu saja. Mustahil!


"Aku sudah muak denganmu, Johan! Pergi dan biarkan aku kembali hidup tenang. Jangan mengikutiku lagi! Kumohon ...!" Halsey sudah menatap Johan dengan sorot memohon.


Johan ikut berhenti melangkah seraya membalas tatapan Halsey. Perlahan, ia menarik napas lalu membuangnya kembali. Berpindah melirik tangan Halsey, kemudian meraihnya pelan. "Maafkan aku. Aku janji tidak akan membuatmu kesal lagi," ujarnya sembari mengusap punggung tangan Halsey lembut, dengan netra coklat gelapnya menyelami milik Gadis itu dalam.


Tapi sayangnya ... Halsey hanya menghempas tangan Johan kasar kemudian berlalu dari sana dengan perasaan kesal yang mendominasi.


Johan mendengus pelan. Sepanjang sejarahnya, ia selalu dengan mudah membujuk gadis lain hanya dengan perlakuan juga tatapan lembutnya. Namun untuk kali ini ... mengapa benar-benar sulit? Ia bahkan belum menemukan cara setidaknya hanya sekedar menghangatkan Gadis beku itu.


Mereka tiba di kelas Halsey yang tampak sedikit sepi karena jam istrahat masih berlangsung.


Halsey langsung mendaratkan bokong di kursinya kemudian kembali membuka buku, sedangkan Johan ikut menarik kursi lain lalu mendekatkannya ke sisi Halsey dan ikut duduk menghadap Gadis itu. "Ngomong-ngomong ... di mana roti yang kaujanjikan?"


Halsey mengangkat wajahnya sebentar. "Aku lupa."


"Padahal aku tidak ke kantin karena mengandalkan janjimu," ujar Johan membuang napas berat lalu menumpukan tubuhnya di sandaran kursi.


"Kau bisa ke kantin sekarang. Masih ada beberapa menit sebelum jam istrahat berakhir," balas Halsey seraya melirik arlojinya sekilas.


"Pergi."


"Tidak bis-"


"Pergilah, Johan."


Johan membalas tatapan Halsey lembut. "Seberapa pun kau memintaku, aku tidak akan nekat meninggalkanmu sebelum mereka berhasil kubuat jera. Kau bisa dalam bahaya, Hale," jelasnya serius.


"Aku baik-baik s-"


"Kumohon jangan mencegahku dulu, setidaknya setelah aku selesai balas dendam," potong Johan menjelaskan.


Halsey menatap Johan sebentar kemudian mendengus kasar. Setelah beberapa lama berpikir, ia lalu beranjak meraih tasnya, kemudian mengeluarkan sesuatu dari sana. "Makanlah."


Johan memandangi kotak bekal yang kini tergeletak di atas meja kemudian berpindah melirik Halsey. "Saking kerasnya kau menginginkanku pergi, ya?"


"Bagus jika kau tahu diri," balas Halsey santai sembari kembali fokus pada buku di tangannya.


"Sebagai hukumannya, kau harus menyuapiku."


Halsey mengangkat wajah kemudian berpindah menatap Johan jijik. "Enak saja kau bicara."


Johan mendengus kasar. "Ayolah, Hale ...," rengeknya manja sembari menusuk-nusukkan telunjuk ke lengan Halsey.


"Bawa saja roti ini lalu tinggalkan aku," balas Halsey kemudian mengulurkan kotak bekal tersebut pada Johan.


"Jahatnyaaaaa, Ya Allaahhhh."


Pada akhirnya, Johan menyantap kotak bekal berisi roti tersebut tanpa disuapi oleh Halsey. Sebenarnya, ia hanya suka memanjangkan topik, karena berharap bahwa si Gadis beku bisa meleleh kemudian berubah hangat.


"Ngomong-ngomong ... Mom ingin bertemu denganmu, Hale," celoteh Johan lagi seraya di sela-sela kesibukannya menggigit roti.


"Ia sangat penasaran dengan Gadis cantik bernama Hale hanya karena berhasil membuat Putra-nya yang tampan ini jatuh cinta."


Halsey melirik Johan.


"Kau mau, 'kan?" tanya Johan kemudian.


"Kau tidak sedang merencanakan hal buruk padaku, kan?" Halsey balik bertanya dengan tatapan menyelidik.


"Ya, tentu saja. Aku berencana membuatmu pingsan lebih dulu, lalu membawamu ke penghulu, kemudian kita akan menikah tanpa sepengetahuan sia-"


"Johan!"


"Tentu saja tidak, Hale! Bagaimana mungkin aku mati-matian ingin melindungimu, lalu bisa-bisanya berniat mencelakaimu juga?"


"Bisa saja ada maksud terselubung dari betapa memuakkannya kau selama ini, bukan?" balas Halsey ketus.


Johan mendengus lagi. "Aku saaaaangat sangat sangat mencintaimu, Sayanggggg- AARGGHHHH!!!!"


Johan mengerang tatkala Halsey sudah mencubit lengannya keras.


"ATAS IZIN SIAPA KAU LANCANG MEMANGGILKU DENGAN SEBUTAN MENJIJIKKAN ITU?!!!"


Mereka sudah saling berlarian di dalam kelas. Halsey sebenarnya tak ingin, tapi mendengar Johan yang begitu lancang tadi membuatnya menjadi semakin kesal saja.


Johan sendiri malah tertawa geli. Bagaimana bisa Halsey baru sadar perihal panggilan 'sayang'-nya, sementara ia bahkan sudah melontarkan kata itu sebanyak dua kali?


"Ayo, Hale! Kejar aku!"


Halsey terus berusaha menggapai Johan dengan melintasi kursi meja yang tadinya tertata rapi. Pria itu terlihat sangat santai berlari, tapi dirinya ....


Bagaimanapun, Halsey tak suka terlihat lemah. Ia tetap berusaha berlari menggapai Johan. Ia tidak akan menyerah, tapi tidak setelah kakinya tersandung kaki kursi dan tubuhnya pun tersungkur ke lantai.


Astaga.


Apa yang bisa lebih memalukan daripada itu?


❀❀❀