Johale'S Destiny

Johale'S Destiny
Pantai



"Aku memang selalu salah di matamu, bahkan jika menawarkan bantuan sekalipun."


Bugh!


Halsey mendaratkan pukulan pelan pada lengan Johan.


"Tanpa kesalahan pun, aku tetap saja kaupukuli."


Halsey menghentikan langkahnya dengan wajah tak percaya. Johan yang menyadari itu lekas berbalik kemudian mengikuti arah pandang Halsey. Detik berikutnya, Gadis itu telah berlari meninggalkan Johan begitu saja hingga kaki indahnya kini menapak sempurna di atas pasir pantai.


"Johan?! Ayo cepat kemari!" teriak Halsey riang.


Johan membuka pengalas kakinya lebih dulu lalu ikut berlari menyusul Halsey. Tapi ... baru saja tiba di hadapan Gadis itu, bibirnya sudah langsung menggerutu kesal saat Halsey bahkan telah kembali berlari. "Hale! Jangan mengabaikanku!" teriaknya kesal.


Halsey masih tampak asik berlari dengan raut bahagia yang mendominasi parasnya.


"Jangan mengabaikanku atau aku akan mengejarmu lalu menciummu saat itu juga!" Johan mengancam dengan nada tenang, membuat langkah Halsey terhenti seketika, bahkan langsung berbalik menatapnya tegang.


Johan tetap berusaha menampakkan wajah kesalnya seraya mulai berjalan menghampiri tempat Halsey tengah berpijak. "Apa kau lupa dengan janjimu di taman tadi?" tanyanya dingin.


Halsey memalingkan wajah tak enak. "Johan- itu ... aku terlalu suka tempatnya. Kumohon jangan menciumku, ya?" pintanya dengan wajah memelas.


"Kau sudah melanggar janjimu."


Dalam hati Halsey mengumpat kesal. Andai saja tak sedang berada di tempat sesepi ini, ia akan membalas ucapan Johan semaunya saja. Tapi untuk situasi sekarang, mengambil keputusan tadi adalah hal buruk. Kekuatannya saja tak akan bisa sebanding dengan Pria di hadapannya itu, lalu bagaimana jika ia benar-benar mencium bibirnya atau bahkan hal buruk yang lebih dari itu?


Sungguh, bibir indahnya itu tak akan ia beri pada Pria mana pun selain pada yang berhak atas dirinya kelak.


"Hale? Aku hanya bercanda, Sayang ...."


Halsey mendongak hingga mendapati wajah Johan yang telah berubah melembut seperti biasa. Pria itu bahkan membelai surai hitamnya yang sedikit beterbangan karena angin berhembus.


"Johan ... aku ... kumohon jangan bercanda seperti tadi lagi," ujar Halsey seraya mendorong pelan tangan Johan kemudian berjalan begitu saja.


Johan terdiam di tempatnya, menyaksikan Halsey berjalan menjauh. Setelah beberapa menit kemudian, ia lalu berlari kecil menghampirinya lalu segera menarik tangan Gadis itu hingga tubuhnya berbalik. "Maafkan aku, Sayang. Aku benar-benar hanya bercanda, tadi."


Halsey masih terdiam seraya balas menatap Johan. Detik berikutnya, ia mengangguk lalu mulai berbalik. Johan ikut berbalik lalu mereka mulai saling mengiringi langkah.


"Apa kau sangat suka dengan pantai?"


Halsey menoleh. "Saat kecil, bunda selalu membawaku ke pantai lalu kita akan membangun istana dari pasir. Tapi setelah ia berpulang, sekarang adalah kali kedua aku kembali mendatangi pantai," jelasnya.


"Kenapa?"


"Aku jadi suka menyendiri setelah bunda pergi. Semakin harinya, aku semakin tak suka tempat ramai.  Sementara pantai ... kurasa tak ada yang setenang ini." Halsey menghentikan langkahnya kemudian membalik badan menghadap Johan. "Terima kasih," bisiknya tersenyum, dengan deretan gigi yang nampak.


Johan terdiam, bahkan nyaris tercengang. Tangannya terlurur memegangi lubang di pipi Halsey, memandanginya beberapa saat, lalu netranya mulai ikut memandang Gadis itu dalam. "Senyummu ... mengapa senyummu manis sekali, HALE?!" tanyanya dramatis.


"SIAL! Rasanya aku benar-benar ingin mencium-"


Bugh!


Pukulan Halsey di dada Johan membuat Pria itu terdorong mundur. Ia sama sekali tak mengindahkan pukulan tadi, tapi senyum Gadis itu ... mengapa bisa lenyap begitu saja?


"Hale?! Kenapa kau berhenti tersenyum?" tanyanya terdengar menuntut.


"Jangan bicara denganku! Kau sangat menyebalkan!" balas Halsey ketus seraya langsung berlalu pergi.


"Aku hanya mengatakan ingin, Hale. Bukan akan!"


Halsey tetap berjalan hendak pulang begitu saja.


"Hale! Ayolah, maafkan aku!" bujuk Johan lagi.


"Aku Pria normal, Hale. Pria normal mana pun tak akan sanggup jika hanya memandangi bibir merahmu. Kau tahu itu sungguh sexy dan membuat kejantan-"


PLAK!


"TUTUP MULUTMU, JOHAN SIALAAAAANNN!"


Halsey telah berlari mengejar Johan dengan perasaan geram. "KUBILANG BERHENTI, JOHAN!"


Johan malah semakin tertawa tatkala mendapati wajah Halsey yang memerah. Gadis itu tak bisa meraihnya bahkan meski ia berlari dengan badan menghadap belakang. "Ya, ampun! Kau lemah sekali!" teriaknya seraya tertawa mengejek.


"Berhenti, Johan!"


"Tidak mau. Kejar saja kalau kau bis-"


"Aw! Kakiku terkilir!"


Tawa Johan terhenti seketika. Dengan raut panik, ia lalu berlari menghampiri Halsey yang kini telah terduduk sempurna di pasir.


"Hale?!"


"Sayang ... maafkan aku! Sini, bagian mana yang sakit?"


Halsey diam-diam tersenyum jahat dengan sebelah tangannya yang tengah sibuk menggenggam segumpal pasir. "Di sini. Di bagian sini," balasnya berusaha meringis.


Dengan kadar kepanikan yang tidak berkurang, Johan mulai memijiti pergelangan kaki putih Halsey. "Lain kali, aku tidak akan membuatmu berlari lagi. Maafkan aku, ya, Sayang?"


Halsey hanya diam seraya terus memasang wajah kesakitannya.


"Apa kau bisa berjalan? Sebaiknya kita pulang-" Johan terdiam setelah merasakan butir-butir pasir melumuri wajahnya.


Johan sontak terkekeh seraya menyapu wajahnya. Pantas saja Gadis ini bersikap lebay. "Baiklah. Kau bebas melakukan apa pun padaku," ujarnya pasrah.


Halsey mengangguk puas. Kedua gumpalan pasir di tangannya itu langsung ia lempar hingga mengenai wajah dan dada Johan. Belum merasa puas, Gadis itu kembali berjongkok lalu mulai memukuli Johan dengan kepalan tangannya tanpa jeda.


Tapi, kian menit berlalu, tidak ada hasil. Dengan napas terengah-engah, ia perlahan bangkit berdiri. "Aku ... aku belum puas."


Johan ikut berdiri seraya menepuk-nepuk celana jeans-nya. Saking antusiasnya Halsey, mereka bahkan tak sempat lagi mengganti pakaian, tadi.


"Johan?! Aku punya ide!"


Johan menoleh. "Katakan saja, Sayang."


"Aku akan menimbun tubuhmu dengan pasir. Bagaimana? Kau mau, kan? Mau, ya?" rengek Halsey sembari tangannya yang kembali memukuli lengan Johan.


Johan tampak berpikir. "Dengan satu syarat."


"Apa?"


"Kau harus mengerjakannya sambil tersenyum."


"Kau ingin membuat bibirku pegal, ya?"


Johan terkekeh. "Bibirku akan selalu ada untuk membuatnya lemas, Say-"


"JOHAN!"


"Iya, Sayangku, iya. Apa pun kulakukan untukmu," balas Johan seraya mulai bersiap.


"Kau harus bertelungkup, Johan. Aku ingin menjadikanmu mermaid."


Johan lagi-lagi menurut lalu mulai memposisikan badannya bertelungkup. Halsey yang menyaksikannya langsung terkikik girang, bahkan sudah mulai menimbuni tubuh Pria itu.


"Apa perlu aku membuka baju? Putri duyung itu sexy, bukan?" tanya Johan dengan mata memejam juga kepala yang menumpu pada kedua tangannya.


"Ck! Kau hanya ingin pamer bodi!" balas Halsey seraya terus sibuk menimbuni tubuh Johan.


"Putri duyung itu memang sexy, Sayang. Setiap aku mendapatinya di-film-film, belahannya-"


Plak!


"Ish, sakit, Hale!" jerit Johan meringis.


"Bisakah kau berhenti membicarakan hal-hal mesum begitu, Johan?!"


Johan mengusapi punggungnya yang baru saja di tampar Halsey. Ia kemudian membalik kepala menengok ke belakang dan mendapati kaki hingga pinggangnya sudah tertimbun pasir. Itu berarti tinggal merapikan bentuk di bagian ekornya.


"Setelah selesai, aku punya keinginan yang harus dikabulkan," ujarnya kemudian.


"Jangan meminta hal-hal aneh atau aku akan membunuhmu, lalu mayatmu kubuang ke pantai!" ancam Halsey cepat.


Johan berdecak seraya menggeleng. "Calon Istri dan Ibu dari anak-anakku ini memang galak."


"SELESAI!"


Johan berbalik. "Kau belum tahu keinginanku, Hale!"


"Ya, sudah, cepat katakan!"


"Tersenyumlah jika kuminta. Bagaimana?"


Halsey mendesah. "Kaukira tersenyum itu tidak membuat bibir pegal, ya? Permintaan yang-"


"Tapi permintaanku, kan, tidak aneh, Hale," potong Johan ikut kesal.


"Iya, baiklah. Sekarang tunggu sebentar, ya. Aku akan mengambil ponselku," balas Halsey mulai beranjak pergi.


"Hale! Jangan berlari, Sayang!" Johan berteriak susah payah. Setelah menyaksikan Halsey tak lagi berlari, ia kemudian melirik punggungya ke belakang.


Saat kecil, ia kadang ke pantai, tapi hanya bersama Hanum. Ada banyak anak saling mengejar dan melempari pasir dengan ayah mereka. Membangun sebuah istana bersama-sama, atau bahkan menimbun tubuh ayah mereka dengan pasir seperti sekarang. Johan mendambakan semua itu. Meski kadang sedih, ia hanya bisa mengatakan pada dirinya bahwa suatu saat mereka akan bermain di pantai bersama meski usianya tak lagi muda.


"Johan?!"


Johan tersadar hingga sontak menoleh.


"Aku akan mengambil gambarmu. Sekarang, ayo berpose!" teriak Halsey.


Johan mengangguk. Ia lalu membuka tiga kancing teratas kemeja lengan pendeknya. Setelah itu, kerahnya ia lipat ke dalam, tak lupa setiap lengannya ia tarik hingga melampaui pundak.


"Johan? Apa yang ...."


"Agar terlihat cocok, Hale," balas Johan enteng, seraya mulai membuatkan poni depan pada rambutnya.


Halsey terkekeh geli atas tindakan Johan, terlebih setelah Pria itu benar-benar mengambil pose. Kedua sikunya menumpu di tanah, wajahnya ia tumpukan di tangan, dengan senyum yang tampak sangat feminin tanpa paksaan.


"Satu ... dua ... tiga ...."


Cekrek!


❀❀❀