Johale'S Destiny

Johale'S Destiny
Harris, Hanum, dan Johan



[Silakan baca sambil dengerin lagu apa aja. Yang penting sedih-sedih]


***


Beberapa puluh tahun yang lalu ....


"Tidak ada penolakan, Harris! Ini perintah mutlak dari Ayah!"


"Tapi, Ayah ...."


"Jangan menolak! Ini demi kelangsungan perusahaan kita. Kau dan Hanum akan menikah seminggu lagi, jadi persiapkan dirimu dari sekarang!"


Dengan lesu, Harris bangkit berdiri dan berlalu pergi dari ruangan khusus milik Ayahnya, Romero Fernandez. Haruskah kebangkrutan perusahaan itu membuatnya rela berkorban? Menikah dengan Hanum, lalu meninggalkan kekasihnya yang sudah jelas ia cintai itu?


Terdengar gila, tapi ... keputusan Romero adalah mutlak. Selain menurut, ia tak ada pilihan lain lagi.


***


Setelah dua tahun resmi menjadi sepasang suami istri, hubungan keduanya masih tetap sama. Hanya ada keasingan yang semakin tercipta, bukan tanda-tanda akan saling jatuh cinta.


Hanum kini tampak duduk merenung di taman belakang rumah. Selepas mendengar percakapan dari kedua belah pihak keluarga tadi, lagi-lagi ia hanya bisa terdiam pasrah karena tak tahu akan bagaimana. Mereka menuntut untuk diberi cucu, padahal ....


"Aku menderita."


Sejak awal, ia memang menduga bahwa pernikahannya dengan Harris hanya akan membawa derita. Pria itu berperangai kasar. Cepat marah, bahkan bisa langsung memukuli begitu saja meski karena kesalahan-kesalahan kecil. Ia juga seorang pemabuk. Gemar bermain wanita, bahkan sudah beberapa kali pria itu sengaja membawa wanita dan bercumbu tepat di hadapannya.


Hanum tak bisa apa-apa, sebab ... Harris sudah lebih dulu mengancam akan berbuat nekat jika ia sampai mengadu pada siapa saja. Selama dua tahun terakhir hidupnya terasa seperti di neraka. Ia ingin mengeluh, mengadu, tapi tak tahu kepada siapa selain Allah. Berdoa yang terbaik, semoga hikmahnya bisa segera dipetik.


***


"Wanita bodoh! Apa yang kau katakan?! Huh?! Tidak! Gugurkan anak itu secepatnya! Aku tidak mau tahu!"


Hanum terduduk di sudut kasur dengan sebuah test pack di genggamannya. Wanita itu menangis dalam bungkam. Wajahnya bahkan menunduk saking takutnya.


Suatu malam, Harris pulang dalam keadaan mabuk parah. Setelah masuk ke kamar dan mendapati Hanum tak sedang mengenakan hijabnya, ia khilaf dan langsung mengerjakan Wanita itu secara paksa. Dan sekarang ... Hanum mengadu hamil dan ia malah dengan entengnya meminta untuk digugurkan.


"Kau dengar aku, tidak?! Huh?! Gugurkan benih haram itu! Aku sama sekali tidak mendambakan kehadirannya!"


Hanum menggeleng lemah. "Tidak, Harris. Tidak mau ... hiks."


Plak!


"Awas jika kau tidak menurut!" ancam Harris serius kemudian langsung berlalu pergi begitu saja.


Dalam hati, ia mengumpat keras jika mengingat kejadian malam itu. Riana, kekasihnya sejak SMA, mengetahui tentang pernikahannya yang selama ini berusaha ia sembunyikan. Belum lagi wanita itu meminta untuk mengakhiri segalanya, hingga membuat perasaan bencinya pada Hanum semakin membara saja.


"Ada apa dengan wajahmu?" Romero bertanya dengan enteng.


"Tidak apa-apa."


"Ayah ingin bicara serius, Harris."


Harris melonggarkan dasi di lehernya sembari menyaksikan Romero ikut duduk di seberang.


"Apa kau tak kunjung memiliki perasaan pada istrimu itu?" tanya Romero kemudian.


"Ck! Aku, kan, sudah mengatakannya sejak dulu. Pernikahan ini tidak membawa kebahagiaan apa-apa padaku sedikit pun, Ayah," balas Harris ketus.


"Maafkan Ayah, Nak. Ini juga demi kelangsungan perusahaan kita. Lagi pula ..., setelah Ayah mati, kau juga, kan, yang akan mengurusnya?"


Harris tak menjawab lagi. Kini, ia tampak sibuk menyeruput secangkir teh di tangannya.


"Tapi, Harris ..., kau dan Hanum harus segera memberikan kami cucu. Kau tahu, kan, alasan mengapa Ruel merelakan putri tunggalnya itu menikah denganmu?" ujar Romero lagi.


"Ayah?! Kau tahu aku tidak akan mau!" balas Harris semakin tidak habis pikir.


"Lagi pula Ayah juga menginginkan hal yang sama, Harris. Dan ... Ruel pernah bilang akan menyerahkan hampir seluruh dari kekayaannya pada calon anak kalian nanti. Itu sudah jelas juga. Anakmu adalah pewaris satu-satunya."


"Aku akan kembali ke kantor," ujar Harris sembari mulai bangkit berdiri.


"Pertimbangkan baik-baik, Nak."


***


"Johan harus makan, Sayang ...! Supaya cepat sembuh, ya?"


Bocah lelaki yang sudah tampak berusia 7 tahun itu semakin menggeleng keras, berusaha untuk tetap menolak. Sekarang sudah pukul 12 siang, dan ia bahkan belum pernah makan sejak tadi pagi. "Tidak mau, Mommy ...."


"Tapi, Sayang-"


Johan langsung bangkit dari posisinya dengan raut cerah tatkala suara Harris terdengar dari luar kamar. "Mommy? Daddy sudah datang!" serunya bersemangat.


Johan berlari keluar kamar tanpa mengindahkan teriakan Hanum sama sekali. Padahal ia sedang demam, tapi itu tetap saja tak mencegahnya untuk mengulang kebiasaan, yakni menjemput Harris di pintu ketika Pria itu pulang dari kantor.


"Iya. Segera selesaikan, dan serahkan besok padaku."


"Daddy ...!" Johan berteriak. "Daddy sudah pul-"


Prang!


Ponsel Harris terjatuh ke lantai hingga retak tak berbentuk. Johan yang benar-benar tidak sengaja hanya bisa menunduk takut tak berani menatap Harris. Tak punya kesalahan saja Pria itu selalu memarahinya, apalagi jika sudah seperti ini.


"Anak bodoh! Apa yang kau lakukan?!"


Harris membungkuk meraih kepingan-kepingan ponselnya di lantai.


"M-maafkan aku, Daddy. Aku tidak senga-"


"Kau harus dihukum!" Harris langsung menarik lengan kecil Johan dengan kasar, sementara Hanum yang menyaksikan itu pun juga ikut berlari dan menyusul mereka berdua.


"Harris! Johan sedang demam!"


Harris tak mengindahkan. Bahkan, tangannya tetap menarik Johan kasar hingga mereka berhasil tiba di kolam renang sisi kanan rumah.


"Harris ...? Kumohon jangan ...! Johan sedang dem-"


"Diam! Anak ini memang harus dihukum supaya jera!"


Dengan sorot bersalah, Johan berbalik menatap Hanum yang kini sudah memecahkan tangis. "Mommy ...? Maafkan aku karena tidak mendengarkanmu. Jangan menangis, ya? Aku baik-baik saja, kok. Aku memang harus dihukum supaya tidak nakal lagi. Ayo, senyum!"


Setelah menyaksikan Hanum tersenyum, Johan mulai mendongak menatap Harris.


"Maafkan aku, Dad. Aku mau dihukum."


Selanjutnya, Johan pun turun ke kolam renang dan harus menyelam selama beberapa detik sesuai perintah Harris. Itu terulang sebanyak beberapa kali, hingga pada akhirnya, bocah lelaki itu mengalami demam tinggi selama empat hari lamanya.


Kian hari, Harris menyadari bahwa Johan semakin tumbuh dan menjadi nakal juga. Seolah hanya berusaha mencari perhatian, dan akan diam juga saat sedang dimarahi atau diberi hukuman.


Dan kini ....


Di masa ini ... di mana dirinya kini tengah berada, ia menyesali semuanya. Ia menyesal tak pernah memberi cukup cinta untuk putranya itu. Ia menyesal pernah menghukumnya menyelam di air. Menguncinya di dalam gudang karena ketahuan pura-pura demam, memukulinya habis-habisan saat mendapatinya merokok, berkelahi, tawuran, mabuk-mabukan, bahkan bermain wanita. Ia memukuli putranya karena melakukan semua itu, padahal ... sudah jelas dirinyalah yang memberi contoh tak baik.


Ia menyesali semuanya. Ia menyesal telah mengatai putranya itu anak haram, terutama mengusirnya dari rumah. Ia menyesal. Menyesal karena tak pernah sadar bahwa semua yang putranya lakukan itu, semata-mata hanya untuk menarik perhatiannya saja. Ia menyesal tak pernah melimpahkan kasih sayang yang cukup


Bahkan, di saat-saat terakhirnya saja, ia tak ada di sana. Ia tak ada di sana saat Johan-nya pergi, apalagi mengantarkannya ke peristirahatan terakhir, tidak.


"Johan ...."


"Maafkan Daddy, Nak ... hiks."


"Mengapa ... mengapa kau pergi lebih dulu? Mengapa, Johan ...?"


"Kau belum menikmati hidupmu sepenuhnya, Nak ... hiks. Kumohon, kembalilah ...."


Tak ada lagi kembali, saat jiwa sudah terlanjur pergi. Ia mungkin menyesal, tapi tetap, Johan tidak akan bisa kembali lagi. Johan tidak akan kembali hidup setelah sempat mati. Johan sudah pergi, dan raganya sudah menyatu sempurna dengan tanah di bawah kaki. Hanya makam dan nisan itulah yang jadi pertanda, bahwa di bumi ini, sempat hidup seorang manusia dengan hidupnya yang penuh alur sedih.


Johan sudah pergi, berpulang pada Yang Maha Kuasa, Sang Pencipta langit dan bumi. Ia pasti tenang di alam sana, bertemu dengan mommy-nya tercinta.


"Daddy menyayangimu, Nak. Tenanglah di alam sana, sebab ... pria yang membunuhmu itu ... Daddy telah berhasil menghentikan masa depannya."


"Ia sudah berada di balik jeruji besi, dan itu ... akan berlangsung hingga ajalnya menanti."


❀❀❀


❝Sebab manusia itu rumit. Mereka gemar menyia-nyiakan kesempatan, lalu baru menyesal setelah tahu rasanya kehilangan.


Tapi tidak masalah. Segala hal yang berkebalikan memang kadang perlu diimbangi.


Kita perlu tahu rasanya sendiri, agar tahu bagaimana caranya menghargai sepi. Kita perlu tahu rasanya kehilangan, agar tahu bagaiamana caranya menghargai kehadiran seseorang.


Jangan menyesal. Tidak ada yang perlu disesali. Cukup berpikir bahwa kau tidak akan selalu punya kesempatan untuk memperbaiki sesuatu.❞


─ Author, Zephaniah Dinar


👇



Little Johan. :") BTW, next udah Epilogue, ya. 😉