Johale'S Destiny

Johale'S Destiny
Potret Bergandengan



Halsey telah bangkit dari posisinya dan ikut memasuki pintu utama Mall. Malik yang menyaksikan betapa menyebalkannya Gadis itu hanya mendengus berusaha mengerti.


Ia kemudian mengejar langkah Halsey hingga mereka sudah berjalan beriringan.


"Kuharap kau bisa lebih menjaga jarak," bisik Halsey dengan pandangannya yang tetap lurus.


"Jangan berlebihan, Hale. Aku bahkan sudah punya kekasih, jadi tidak mungkin ada terselip niat lain lebih dari teman padamu."


Halsey langsung menghentikan langkahnya kemudian berpindah menatap Malik. "Apa aku ada mengatakan bahwa kau menaruh rasa lebih dari teman untukku?" tanyanya dingin.


Malik tersenyum lembut. "Jangan mengajakku berdebat di sini, Hale. Lebih baik kita membeli buku untukmu, oke?" tawar Malik sembari berusaha meraih tangan Halsey hati-hati.


Pelan-pelan, ia berhasil menyatukan jemarinya dengan Halsey hingga mereka berjalan dengan tangan yang saling menggandeng. "Hanya teman, oke?" bisiknya berusaha menenangkan


Malik membuang napas lega tatkala Halsey hanya meliriknya sekilas. Ia kira Gadis itu akan memberontak dan mempermalukannya di tempat ramai karena telah bersikap lancang. Namun seperti biasa, Halsey itu ... dia Gadis yang selalu penuh kejutan.


"Jadi kau ingin membeli buku dulu?" tanyanya kemudian.


"Bukuku sudah banyak. Cepat selesaikan urusanmu lalu kita pulang."


Malik berdecak pelan. "Ya, ampun. Ayolah, Hale. Aku baru datang ke Indonesia tapi kau bahkan sudah hendak pulang."


"Bagaimana jika kita nonton dulu?" lanjutnya.


Halsey menghentikan langkahnya lalu berpaling menatap Malik. "Sudah cukup, Malik. Lebih baik kita makan saja lalu pulang setelahnya."


Malik mendesah kesal. Halsey memang tak ada asyik-asyiknya, deh! "Tak bisakah sedikit lebih lama, Hale? Mungkin berbelanja pakaian dulu, membeli parfum, tas bermerek untukmu, at-"


"Bagaimana kalau ice cream saja?"


Malik tersenyum puas. "Tentu saja, Hale," balasnya sembari mulai menarik tangan Halsey untuk mengekorinya.


Setelah beberapa jauh berjalan, mereka kemudian memesan ice cream. Malik kembali menuntun Halsey duduk di meja yang lebih tepat di dekat pintu.


Halsey menumpukan kedua siku di atas meja seraya memegangi kukunya. Sedangkan Malik sendiri tampak menyibukkan diri dengan ponselnya yang baru saja berdering tanda panggilan masuk.


"Ya, Honey? No, it's Hale. She's ma childhood friends. Okay. Love you too."


Halsey hanya mendengarkan Malik tengah menelepon seseorang. "Tak begitu cerewet, ya," gumamnya.


"Sudah kukatakan tadi bahwa aku hanya cerewet saat bersamamu. Entahlah. Sikapmu memaksaku lebih banyak bicara," balas Malik lalu terkekeh.


Halsey sudah tak menanggapi dan kembali sibuk memperhatikan kuku di jari lentiknya.


"Apa kau tak menggunakan cat kuku atau sejenisnya, Hale?" tanya Malik dengan gerakan siap menyentuh jemari Halsey, namun ditepis cepat oleh Gadis itu.


"Itu membuat salatku makruh," balasnya kemudian menumpukan badan di sandaran kursi.


Malik hanya manggut-manggut menanggapi. "Tapi jemarimu sangat indah. Kukunya juga sangat berkilau tanpa harus di be-"


"Silakan."


Halsey meraih eskrim rasa vanilla, strawberry, dan chocolate miliknya, begitupun Malik. Mereka menikmati tanpa ada lagi percakapan setelahnya.


Johan baru saja menghentikan mobilnya di pelataran rumah Hanum. Ponselnya yang berdering pendek tanda pesan masuk menahan niatnya untuk keluar dari mobil dan memutuskan untuk memeriksa benda itu lebih dulu.


Rey


Aku tidak ada niat lain karena menunjukkan ini padamu, tapi aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Perihal percaya atau tidak, itu sudah menjadi urusanmu. Tapi saranku, ada baiknya kau menanyakan hal ini lebih dulu padanya sebelum niat menyimpulkan.


04.12 PM


Johan menggulir layar ponselnya ke bawah pelan. Manik matanya kemudian memandangi nanar sebuah foto yang dilampirkan Reyhan pada pesannya, di mana Halsey tampak bersama seorang Pria dengan tangan yang saling bergandengan.


Tapi ... seingatnya, Halsey adalah gadis yang paling sulit disentuh, apalagi di tempat umum seperti itu.


Sakit, ternyata.


Tapi bagaimanapun Reyhan benar. Lebih baik ia menanyakan hal itu langsung dengan Halsey dulu sebelum lancang menyimpulkan.


"Johan?"


Suara Hanum seketika menyadarkan Johan. Membuat Pria itu memasukkan ponselnya ke saku celana kemudian berjalan menghampiri Hanum dan berhambur memeluk Wanita itu.


"Ada apa, Sayang? Apa Harris menyakitimu lagi? Kau tahu ... Mom sangat khawatir semalam, terlebih kau tak menjawab telepon barang sekali," ujar Hanum di balik dekapannya.


Johan perlahan menarik tubuhnya lalu memandangi Wanita itu lembut. "Lebih baik ajak aku masuk dulu, Mom," ujarnya seraya terkekeh.


Hanum mengangguk cepat. Ia mungkin sudah terlalu khawatir hingga lupa mengajak Putra-nya masuk ke rumah.


Sesampainya di dalam, Johan langsung meletakkan kepalanya di paha Hanum kemudian memejam. Wanita itu tersenyum lembut seraya terus membelai surai Putra-nya. Berdoa dalam hati, semoga ini bukanlah pertemuannya yang terakhir dengan Johan.


"Aku ingin menanyakan sesuatu, Mom," ujar Johan memecah hening, masih dengan matanya yang terpejam.


"Tentu, Sayang."


Johan terdiam sangat lama. "Aku sudah lama memendam pertanyaan ini karena berpikir untuk menunggu waktu yang tepat. Entah mengapa ... aku merasa saat ini adalah waktunya, jadi, Mom, kuharap kau bersedia menjawabnya dengan jujur."


Hanum kembali mengangguk, menunggu Johan segera melontarkan sesuatu.


"Aku sudah berkali-kali mendengar ini dari mulut daddy. Dia bilang, aku adalah anak yang terlahir dari sebuah kesalahan. Apa aku ini benih haram, Mom? Benih haram yang tertanam di luar perni-"


"APA YANG KAU KATAKAN, JOHAN?! Sama sekali ... sama sekali tidak, Sayang ...! Kau bukan benih haram, bukan!" Tangis Hanum telah pecah. Dalam hati ia benar-benar menjerit kesakitan setelah mendengar pertanyaan Putra-nya. Ia tahu, ada banyak sekali makna tersirat dari betapa tenangnya Johan menanyakan hal tadi.


"Tapi mengapa daddy begitu membenciku? Sejak kecil aku hanya selalu merasakan pukulannya, tatapan bencinya. Bukan dekapannya apalagi perlakuan kasihnya."


"Aku kadang merasa tak punya siapa-siapa saat kau kembali ke Turkey, Mom. Terlebih setelah daddy mengusirku hingga aku kemudian tinggal sendirian di apartemen. Itu memaksaku berpikir bahwa aku memang tak berarti apa-apa dalam hidup daddy. Nyaris tak ada kisah suka layaknya seorang ayah dan Putra-nya, sama sekali tak ada ...." Johan tersenyum samar. "Aku pernah berdoa kepada Tuhan untuk diberi penyakit. Berpikir bahwa setelah aku sakit hingga sekarat, daddy akan bersikap lembut dan berbalik menyayangiku. Rupanya tidak. Saat aku demam saja ia malah berkata aku menyusahkan dan menambah beban hidupnya."


"Setelah itu ... aku lalu berpikir kembali bahwa sakitku terlalu ringan untuk dikhawatirkan. Tapi suatu hari ... aku dikeroyok hingga koma. Kukira setelah terbangun, aku akan mendapati daddy menangis di tepi ranjang seraya memohon agar aku bangun, tapi rupanya ... masih berbanding terbalik. Tak ada yang berubah, tak ada sama seka-"


"Cukup, Sayang! Cukup! Mom tak kuat lagi mendengarnya ...!"


Johan beranjak lalu memeluk Hanum. Tangis Wanita itu terdengar sangat keras, bahkan bahunya terguncang naik turun. "Sudah, Mom. Kau tidak harus menangis sekeras ini. Aku bahagia meski tak disayangi olehnya, terlebih masih ada kau yang sangat menyayangiku. Itu lebih dari cukup."


❀❀❀