
"Em ... Om? Bisakah kita bicara sebentar?"
Mahesa yang tadi sibuk berbincang lekas menoleh pada Johan kemudian mengangguk. Setelah berjalan menjauh dari orang-orang tadi, keduanya saling memandang, menunggu perbincangan terjadi.
"Begini, Om. Aku ... aku ingin meminta izin untuk membawa Hale dinner di luar. Tapi ... itu pun jika kau mengizinkan," jelas Johan kemudian.
Mahesa terkekeh. "Tentu saja, Johan. Tapi setelah acara selesai, ya, Nak?"
"Iya, Om. Terima kasih banyak," ujar Johan berseri-seri sembari berhambur memeluk Mahesa. Rasanya benar-benar bersyukur memiliki calon mertua seperti Pria paruh baya itu.
"Kalau begitu, ayo kita kembali ke sana."
Keduanya kembali berjalan mendekat ke arah sofa di mana yang lainnya tengah berkumpul. Tawa terdengar memenuhi ruangan, benar-benar penuh kebahagiaan.
"Iya, Kak. Aku masih siswi SMP, kelas 9," balas Atha sembari terkekeh pelan.
Halsey tersenyum lembut. Gadis di depannya itu memang sangat ceria dan pandai mengambil hati. Johan benar. Kulit kecoklatan malah membuatnya terkesan lebih manis, apalagi saat sedang tersenyum. Lesung pipi yang dalam, dan gigi kelincinya yang semakin menambah kesan imut.
"Terima kasih, Kak Hale. Aku sangat bahagia bisa sedekat ini denganmu," balas Atha sembari memeluk Halsey dari samping.
"Astaga aku lupa kalau kau bisa membaca pikiran," gumam Halsey.
Atha hanya terkekeh kemudian mengedarkan pandangannya. Setelah berhenti tepat pada sosok Johan, langsung saja Gadis itu melambai dengan sangat riang.
Johan berjalan mendekat kemudian duduk di sisi kanan Atha. "Sini duduk dengan Kak Hale, Kak. Aku tahu sejak tadi kau sangat ingin mendekatinya," ujar Atha sembari bangkit berdiri. Gadis itu berjalan mendekat ke arah Alan dan Reyhan.
"Selamat ulang tahun, Sayang."
Halsey menoleh kemudian mengangguk. "Iya, terima kasih."
Waktu terasa berjalan begitu cepat. Sekarang bahkan sudah menunjukkan pukul 8 malam lebih. Johan sedikit risau, sebab jam tidur Halsey sudah hampir tiba, dan itu artinya mereka tak akan bisa di sana terlalu lama. Padahal, kan, ini hari spesial.
"Johan? Kau bisa pergi dengan Hale sekarang, Nak."
"Pergi ke mana, Ayah?"
"Itu rahasia Johan, Sayang. Sekarang kalian bisa pergi. Jangan pulang terlalu larut, ya?"
Johan menarik tangan Halsey, membantu Gadis itu bangkit dari duduk. Setelahnya, mereka mulai berpamitan pada semua orang.
"Jangan pulang terlalu larut, ya, Johan? Hale? Ayah ada kado untukmu, Sayang. Tapi diberikannya nanti, ya," jelas Mahesa.
Halsey tersenyum kemudian berhambur memeluknya. Setelah pada Mahesa, kini berpindah pada Shiren.
"Selamat ulang tahun, Putri-ku. Ibu juga ada kado untukmu, Sayang. Tapi belum diberikan sekarang."
Halsey hanya mengangguk kemudian melontar terima kasih. Setelahnya ia berpamitan dengan semua orang. Ucapan yang sama ia terima, dan dibalas pula dengan yang sama.
Setelah saling berjalan beriringan hingga tiba di mobil Johan, langsung saja Pria itu membukakan pintu untuknya.
"Terlalu berlebihan, tapi terima kasih."
Johan mengitari mobilnya kemudian ikut duduk di jok kemudi. Setelah perlahan melaju, ia menoleh menatap Halsey dengan sorot bahagia. "Kau sangat cantik," bisiknya pelan.
Halsey tersenyum. "Terima kasih. Ngomong-ngomong ... kau akan membawaku ke mana?"
"Kalau kuberi tahu, namanya bukan kejutan lagi, Sayang."
"Kalau aku tidak terkejut, bagaimana? Itu sama saja bukan kejutan juga."
Johan menoleh. "Pokoknya lihat sendiri saja, Hale. Sekarang kau harus tersenyum."
Halsey menurut kemudian menampakkan senyumnya sekilas. Perlahan, ia menumpukan tubuhnya di sandaran jok lalu melempar pandangan keluar jendela. Entah ke mana Johan akan membawanya, yang jelas jalanan ini terlihat sangat sepi dan menyeramkan.
"Jalanan ini menyeramkan, tapi aku percaya padamu," ujarnya tanpa mengubah arah pandang.
Johan menoleh sekilas kemudian tersenyum simpul. "Senang mendengarnya."
Deru mobil dan suara malam dibiarkan mendominasi suasana. Johan berusaha sibuk dengan kemudi nya, sementara Halsey memang tampak menikmati pemandangan yang ia dapati di luar jendela.
Setelah merasakan laju mobil yang melambat, Halsey lekas menoleh sembari pandangannya ia edarkan ke sekitar. "Apa sudah sampai?"
Johan mengangguk. "Mendekatlah, Hale. Matamu harus ditutup dulu."
Halsey terdiam beberapa saat. "Johan? Kau tak sedang berencana membunuhku di tempat seram ini, 'kan?" tanyanya takut.
"Katamu kau percaya padaku, lalu mengapa masih melontar pertanyaan begitu?"
"Tentu saja aku harus takut. Kau bilang pada ayah akan mengajakku dinner, 'kan? Tapi mengapa kita tidak sampai di sebuah restoran?"
"Mengapa cerewet sekali, sih, Sayang? Ayo, sini. Menurut saja, oke? Percaya padaku," balas Johan sembari menarik Halsey agar memunggunginya.
Setelah berhasil menutup mata Gadis itu dengan sebuah kain, perlahan ia bergerak keluar dari mobil kemudian membukakan pintu untuk Halsey.
"Kalau aku terjatuh bagaimana?"
"Aku takkan membiarkanmu jatuh, Hale. Ayo, sini," balas Johan sembari mengulurkan tangannya.
"Tapi aku takut, Johan."
"Pegang tanganku erat, Sayang. Kalau perlu peluk aku jika masih merasa takut."
Johan mulai menuntun langkah Halsey. Ia merasa gugup juga, sebenarnya. Semoga saja segala hal yang sudah ia persiapkan berjalan sesuai rencana.
[Sambil dengarkan lagu yang di mulmed, ya).
"Johan? Ajak aku bicara," bisik Halsey pelan. Jujur saja ia merasa sangat takut akan banyak hal. Bagaimana jika yang memegang tangannya saat ini itu bukanlah Johan? Atau mungkin paling parah adalah bukan manusia. Astaga, tak ada hal yang lebih buruk dari itu jika benar-benar terjadi.
"Baiklah. Jadi, siapa namaku?"
"Johan."
"Nama lengkapku?"
"Johan Fernandez."
Diam-diam Johan terkekeh. Ia tak menduga Halsey tahu nama lengkapnya.
"Warna iris mataku?"
"Coklat gelap."
"Gadis yang aku cintai?"
"Tentu saja aku. Halsey, Hale."
"Apa dia cantik?"
"Katamu iya."
"Apa bibirnya merah menggoda?"
"Katamu juga iya."
"Siapa Pria yang dia cintai?"
"Ayahnya, Mahesa."
"Hanya itu?"
"Iya."
"Benarkah?"
"Iya, benar."
"Kau tahu? Di tempat ini itu kita dilarang berbohong."
"Baiklah. Kita buktikan nanti. Sekarang ... aku akan membuka ikatan kainnya, tapi tetap jangan buka matamu dulu. Oke?"
Halsey mengangguk patuh. Setelah perlahan Johan membuka kebatan kain dari kepalanya, niatnya untuk langsung membuka mata jadi rencana saja. Pria mesum itu lebih cepat menutup matanya lagi dengan telapak tangan.
"Dasar nakal!" ujar Johan.
"Astaga ... aku merasa pusing, Johan. Kubuka sekarang, ya?"
"Baiklah. Tapi setelah hitungan ke-3, ya?"
Halsey mengangguk cepat.
"Satu ... dua ... ti ... ti ... ge ... ge ... g-"
"Cepatlah, Johan."
Johan terkekeh. "Iya, baiklah. Satu ... dua ... tiga."
Halsey membuka pejamannya perlahan, hingga .... "Johan? Ini indah sekali," lirihnya pelan.
Pantas saja sejak tadi ia seperti mendengar deru ombak, ternyata ... Johan membawanya ke sebuah pantai. Pantai yang sama, di mana mereka pernah berkunjung bersama hari itu.
Beberapa lubang di pasir sengaja dibuat hingga berbentuk hati. Lubang-lubang itu tidak terlalu dalam, dan di dalamnya juga sengaja disimpan lilin-lilin agar menambah suasana menjadi lebih terang.
Tepat di tengah-tengah lingkaran lilin berbentuk hati tersebut, empat buah tongkat panjang saling ditancapkan ke tanah, dan ujung lainnya lagi diikat bersama hingga membentuk seperti tenda.
Terdapat kain berwarna putih yang saling menjuntai disetiap tongkat panjang tersebut, sementara tepat di bagian ujung atas, sebuah lampion menggantung, menambah penerangan.
Bukan hanya itu, tepat di tengah-tengah tancapan tongkat panjang berbentuk tenda tersebut, ada juga sebuah meja dan sepasang kursi yang berseberangan.
"Johan? Aku benar-benar suka ini. Terima kasih," ujar Halsey dengan nada haru. Ia kini berbalik dan saling memandang dengan Johan.
"Aku senang jika kau suka. Jadi, ayo."
Johan menggandeng tangan Halsey, menuntun Gadis itu hingga berhasil terduduk di kursinya. Setelah ikut duduk di seberang, lagi-lagi ia memandangi Halsey dengan penuh cinta, bahkan meraih tangan Gadis itu dan meremas jemarinya pelan.
"Selamat ulang tahun, Sayang," ujarnya nyaris berbisik.
"Iya, terima kasih," balas Halsey bahagia.
"Kalau begitu kita makan sekarang. Jangan sampai kita pulang terlalu larut."
Halsey mengangguk lalu ikut meraih sendok dan pisau di hadapannya. Beberapa kali Johan sempat menyuapinya, hingga ia bahkan nyaris hanya memakan miliknya beberapa kali.
"Jangan menyuapiku terus, Johan. Nanti makananku sendiri malah tidak habis," ujarnya kemudian.
Johan terkekeh. "Kalau makananmu tidak habis, maka setelah ini kau lagi yang harus menyuapiku."
"Kedengaran lebay, dan aku tidak begitu suka."
"Maksudmu romantis?"
"Lebay."
"Sudah habis. Sekarang kau lagi yang menyuapiku." Johan menumpukan kedua sikunya di atas meja kemudian menopang dagu. Pandangannya tertuju pada Halsey, sangat lembut dan hangat.
"Baiklah. Ini."
Halsey mulai menyuapi Johan kemudian berpindah padanya lagi. Setelah beberapa lama, akhirnya mereka selesai. Johan meneguk habis air dalam gelasnya lalu meraih tisu dan membersihkan tiap sudut bibirnya. Tak lupa ia lakukan hal yang sama pada Halsey, hingga terakhir ....
"Hale?"
"Hm?"
Lagi-lagi tangan Johan terulur meraih jemari Halsey kemudian meremasnya pelan. Keduanya saling memandang lembut, dengan senyum yang pula saling mekar.
"Entah bagaimana pendapatmu tentang perasaanku, aku akan memilih tidak peduli lagi, Hale. Sekarang, tepatnya di sebuah pantai pada hari ulang tahunmu, tolong berikan aku kesempatan untuk memulai sebuah komitmen denganmu. Sebuah hubungan, di mana kita akan saling berusaha mengerti, memahami, dan melengkapi satu sama lain. Jadilah kekasihku, Hale."
Halsey terdiam. Berusaha menemukan hal lain selain ketulusan di netra coklat gelap itu. Berusaha menerjemahkan suaranya, berusaha mencari celah bahwa segala yang dikatakan Pria itu hanyalah sekedar ucapan, tak ada niat tulus atau bahkan lebih.
"Hale? Jadilah kekasihku." Johan kembali bersuara.
"Bagaimana jika aku menolak?"
Johan menarik napas kemudian tersenyum simpul. "Itu hakmu, Sayang. Aku hanya akan berusaha membuatmu mencintaiku, bukan memaksamu menerimaku."
Halsey mengangguk seraya menarik tangannya dari genggaman Johan. "Maaf, Johan, tapi ... aku tidak sanggup," balasnya kemudian.
"Tidak sanggup?"
"Hm."
"Tidak sanggup apa, Sayang?"
"Hale?"
Halsey menoleh sekilas. "Maafkan aku, tapi ...."
"Tapi ...?"
"Tapi aku tidak sanggup merasakan penyesalan lagi karena kehilanganmu."
Baginya, ini adalah yang pertama, dan mengambil keputusan bukanlah hal mudah. Tapi ... Halsey takut untuk merasakan penyesalan lagi. Ia takut, Johan benar-benar pergi, dan Tuhan tak akan memberinya kesempatan kedua kali.
Tak ingin berbohong, Pria di hadapannya itu memang telah berhasil membuatnya jatuh cinta. Cinta akan segala hal yang ada padanya. Cinta dengan nada suaranya yang selalu lembut dan tetap rendah meski sedang marah; cinta akan segala perlakuan manisnya; kekhawatiran lebihnya; dan ... cinta akan kecupan hangatnya yang selalu saja berhasil membuat merona.
"Terima kasih, Hale. Aku benar-benar bahagia." Johan bangkit dari duduknya kemudian mengulurkan tangan pada Halsey. Gadis itu kini tersenyum lembut, bahkan langsung saja menerima uluran tangan Johan.
Sembari melangkah mendekat pada Halsey, Johan merogoh sesuatu dari saku celananya. Sebuah kotak merah, bermuat kalung berlian berwarna putih berbentuk hati. "Aku tahu kau bukan type Gadis yang terlalu suka dengan hal-hal begini, Hale, tapi ... kumohon biarkan aku memasangkannya di lehermu."
Halsey menerima uluran tangan Johan kemudian ikut bangkit berdiri. Keduanya saling memandang beberapa saat, hingga perlahan Halsey berbalik, membiarkan Johan memasangkan kalung tadi di leher indahnya. "Aku merasa ini berlebihan, Johan, tapi ... terima kasih. Aku sangat suka," ujar Halsey sembari memandangi kalung di lehernya dengan senyum mekar.
Johan mengangguk dengan tangannya terulur mengangkat dagu Halsey, menyelami netra madu Gadis itu dalam-dalam.
"Jadi ... bisakah kita berciuman?"
Mata Halsey membulat sempurna.
BERCIUMAN?!
"A-apa?!"
"Berciuman, Sayang. Sesuai perjanjian kita tadi siang."
Halsey menelan saliva berat sembari memalingkan wajahnya ke arah lain. Bagaimana bisa ia lupa akan perjanjian konyol itu? Sungguh ia belum rida jika harus menyerahkan ciuman pertamanya pada seorang Pria yang belum tentu adalah jodohnya.
"Eum ... Johan? Apa kau serius?"
Johan mengangguk mantap. "Tentu saja. Memangnya aku terlihat seperti sedang bercanda?"
Halsey menarik tangannya dari genggaman Johan dengan perasaan penuh cemas. Ia sangat takut untuk menolak, sebab ... mereka hanya sedang berdua di tempat menyeramkan ini. Bisa-bisa Johan khilaf dan- astaga. Mungkin terdengar berburuk sangka, tapi bisa saja, bukan?
Setelah mendengar sebuah kekehan, Halsey langsung mengangkat wajahnya hingga menatap Johan. "Mengapa kau terkekeh?"
"Tentu saja, Hale. Kau terlihat sangat lucu, tadi," balas Johan kemudian. Tangannya kini terulur membelai wajah Halsey lembut. "Aku tahu kau Gadis baik-baik, Hale. Untuk gadis lain, berciuman mungkin bukan lagi hal yang serius. Tapi sekali lagi, kau beda. Aku mungkin Pria mesum, tapi tetap, aku tidak akan memintanya sebelum aku berhak atau kau yang menyerahkan sendiri. Cintaku padamu murni berlandaskan perasaan cinta, bukan nafsu seluruhnya.
Demi apa pun, Halsey benar-benar terharu dengan penuturan Johan barusan. Pria mesum di hadapannya itu ... dia ... dia sungguhlah pandai berucap manis.
Cup!
"Aku mencintaimu, Hale."
Halsey membuka pejamannya perlahan setelah Johan selesai mengecup keningnya. "Iya, Johan. Aku ... ekhem. Aku juga."
❀❀❀