
Mobil Johan baru saja melaju, membelah jalan malam dingin yang tenang. Setelah memikirkannya seharian, ia memutuskan untuk menuruti perkataan Halsey. Bagaimanapun, daddy-nya juga berhak menentukan pilihan sendiri, meski jauh di lubuk hatinya masih ada perasaan kecewa sekaligus tak rela dengan kenyataan yang ada.
Meski tak cukup yakin dengan keputusannya, ia tetap akan memilih. Perihal tanggapan Harris, biarlah itu urusan belakangan. Lagi pula hatinya sudah terlalu kebal akan perlakuan buruk dari pria itu.
Setelah beberapa lama, mobilnya sudah tampak berbelok memasuki pelataran rumah mewah milik dari seorang Harris Fernandez. Sepertinya bukan Harris Fernandez lagi, tapi kediaman keluarga Fernandez. Ia hampir lupa bahwa pria itu baru saja menikah selepas baru meninggalnya mommy-nya.
Setelah menarik napas, Johan perlahan bergegas keluar dari mobilnya. Beberapa pelayan rumah sudah tampak menyambut kedatangannya dengan senyum hangat, begitupun ia balas dengan senyum seperti biasa. Langkahnya mulai ia tuntun memasuki mulut rumah, mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan yang beberapa tataannya sudah tampak berbeda dari terakhir kali ia berkunjung.
"Kakak tampan?"
Langkah Johan sontak terhenti. Setelah tubuhnya ia putar ke arah suara, tampaklah Gadis kecil lucu dengan usianya yang kira-kira sekitar 3 tahun.
Johan berjalan menghampiri Gadis kecil tadi dengan senyum tertegunnya. "Manis sekali. Siapa namamu, Sayang?" tanyanya sembari menarik Gadis kecil itu ke gendongannya.
"Ellie ...."
"Nama yang lucu."
Cup!
Johan mengecup pipi Ellie sekilas sembari mulai menyusuri juntaian tangga. Entah anak siapa yang sedang digendongnya itu, nanti akan ia tanyakan pada Harris saja.
Tok, tok.
"Masuk saja."
Johan tersenyum simpul. Harris mungkin sedang dalam mood yang baik, pikirnya.
Ceklek.
"Apa ini anak dari istri barumu, Dad?" tanya Johan langsung kemudian mendaratkan bokongnya di sofa begitu saja.
Harris yang sejak tadi sibuk dengan dokumen-dokumennya, kini tampak terdiam, merasa tak percaya saja bahwa Putra-nya itu akan berkunjung ke sana. "Apa yang membawamu kemari?" tanyanya kemudian. Ia sama sekali tak melirik Johan.
"Memangnya salah jika aku mengunjungi rumah Daddy-ku sendiri?" Johan balik bertanya.
"Bukankah terkahir kali kau sangat menyesal karena terbentuk atas bantuan benihku?"
Johan tersenyum simpul kemudian berpindah menatap Harris lembut. "Aku akan berusaha menerima semuanya, Dad. Kau ... kau berhak menentukan pilihan dan meraih bahagiamu sendiri," balasnya terdengar tulus.
"Lalu?"
"Aku ingin berdamai," balas Johan serius.
Harris menoleh kemudian balas menatapnya.
"Aku telah memikirkannya sepanjang hari, dan sekarang ... kurasa Hale benar. Aku harus berusaha ikhlas dan tidak egois. Jadi ... maukah kau berdamai?"
Harris mengangguk kemudian bangkit berdiri. Detik berikutnya, ia menarik Johan dalam dekapan, berusaha berbagi kehangatan dengan Putra-nya itu.
"Terima kasih, Dad," ujar Johan sembari menarik tubuhnya mundur.
Ia kembali memandangi Ellie yang sejak tadi tetap diam dan betah dalam gendongannya. Tangannya menoel-noel pipi empuk Gadis itu, bahkan beberapa kali menciumnya dengan gemas. "Gadis ini benar-benar lucu, Dad. Apa dia anak dari istri barumu?" tanyanya lagi, tanpa melirik Harris.
Tapi karena tak kunjung ada jawaban, terpaksa ia melirik Harrisb sekilas dan mendapatinya tengah sibuk melamun. "Dad? Apa yang kau pikirkan?"
Harris tersentak kaget hingga refleks menatap Johan. "Tidak. Tidak ada."
"Aku sejak tadi bertanya, Dad. Apa Gadis ini putri dari istri barumu?"
"Hm. Iy-"
"Ternyata kau seorang pembohong, Mas."
Semuanya sontak menoleh ke arah pintu dan mendapati sosok Wanita paruh baya dengan perawakannya yang elegan. Johan menatap heran, Harris menatap kaget, sementara Ellie dengan wajah sumringah.
"Mommy!" Gadis kecil itu berlari kemudian berhambur memeluk betis Wanita tadi.
"R-Riana ...?" Harris benar-benar kaget setengah mati. "Bukannya ... kau sedang keluar berbelanja?"
"Kau benar-benar tak punya perasaan, Mas ...! Mengapa kau begitu tega?!" tanya Riana dengan suara bergetar penuh kecewa.
Harris bangkit berdiri dengan raut bersalah. "Riana? Ini ... ini tak sesuai dengan yang kau lihat. Aku ... a-"
"Kau jahat, Mas! Di mana hati nuranimu?!"
Johan sejak tadi hanya diam menyaksikan. Sedikit bingung juga dengan percakapan Harris dan Wanita di hadapannya itu.
Harris berjalan mendekat pada Riana, berusaha meraih tangan Wanita itu namun dientak cepat olehnya. "Rian-"
"Apa kau tak sadar dengan perbuatanmu, Mas?! Dia itu Putramu! Darah dagingmu! Tapi bagaimana bisa kau malah mengatakan padaku dulu bahwa dia sudah meninggal?!" Riana berteriak di depan wajah Harris dengan tangis yang pecah.
"M-meninggal ...?" Johan berlirih. Ia merasa benar-benar sakit dengan penuturan Riana barusan. Harris ... Harris mengatakan bahwa dirinya telah meninggal ...?!
Riana mendekat pada Johan kemudian mendekap Pria itu erat. Detik berikutnya, tangannya terangkat membingkai wajah Johan, membelainya pelan dengan penuh rasa iba. "Di mana kau tinggal selama ini, Johan?"
"Apartemen."
"A-apartemen?!"
Riana terisak. "Coba lihat dia, Mas! Tak satu pun anak di dunia ini yang akan sangat suka rela menyaksikan salah satu dari orang tua mereka men-"
"Cukup, Riana!"
"Cukup apa, Mas? Haruskah aku tetap diam setelah tahu semua kebenaran ini?! Ayah macam apa yang rela mengusir Putranya dari rumah kemudian dengan santainya mengatakan bahwa dia telah mening-"
"KARENA DIA HANYA MEMBEBANI HIDUPKU, RIANA! DIA ANAK YANG TAK BERGUNA! DIA HANYA BENIH YANG TERLAHIR DARI SEBUAH KESALAHAN! KAU DENGAR?!"
Johan telah berhambur memeluk Harris. Jika harus mengibaratkan betapa perasaannya benar-benar hancur, sungguh itu tak bisa diutarakan lagi. Ia benar-benar merasa tak berharga.
"B-bisakah aku tak mendengar kata-kata itu lagi setelah ini, Dad ...? Itu ... itu sangat menyakitiku ... hiks. M-mengapa ...? Apa salahku? Haruskah sebegitunya kau membenciku ...?" bisiknya lirih.
"Bagimu ... aku mungkin tak berharga, tapi ketahuilah ...." Johan melepas dekapannya kemudian berpindah menatap Harris penuh luka. "Aku sangat menyayangimu, Dad. Aku mendambakan kasih sayangmu, hiks. Aku juga sering berharap untuk mati hanya karena terlalu ingin kau peduli. Maafkan aku jika hanya selalu membebani. Semuanya kulakukan karenamu, Dad. Aku ingin perhatianmu, kasih sayangmu. Aku ingin merasakannya juga walau hanya sekali."
Johan mengusap air matanya pelan kemudian memandang Harris lagi. "Mulai sekarang ... tak perlu menganggapku siapa-siapa lagi. Kalau perlu, anggap aku benar-benar telah mati. Terima kasih untuk segalanya. Terima kasih telah menyumbangkan benihmu hingga aku terbentuk seperti ini. Terima kasih untuk segala uang dan materimu hingga aku bisa tumbuh sebesar ini. Aku akan tetap menyayangimu, Dad. Selalu, selamanya."
Johan berlalu pergi dengan bahu mengguncang karena isakan.
"Kakak tampan? Kenapa menangis?"
Sontak langkahnya terhenti, sementara tubuhnya berbalik ke arah Ellie. Perlahan ia melangkah mendekat, mulai berjongkok menyetarakan tinggi tubuhnya dengan Gadis kecil itu. "Panggil Kakak Johan, hm?"
"Kakak Johan ...."
Cup!
"Iya, Sayang?"
"Kenapa menangis? Apa daddy memarahimu karena memecahkan vas bunga?"
Johan tersenyum simpul. "Tidak, Sayang."
"Ingin ke mana? Bolehkah aku ikut?"
"Ellie harus cepat besar. Setelah itu, kita akan sering bertemu. Kakak akan membawamu jalan-jalan sepanjang hari, tapi bukan sekarang. Mengerti?"
"Iya, Kakak. Ellie akan makan yang banyak mulai sekarang. Tapi janji, ya? Kita akan jalan-jalan sepanjang hari?"
Cup!
"Iya, Sayang. Kakak harus pergi."
Johan beranjak berdiri kemudian berlalu pergi. Dalam hati, ia menanamkan pada dirinya untuk tak pernah lagi menginjakkan kaki di rumah ini. Semoga saja adalah yang terakhir kali, tak akan ada lagi esok dan nanti.
Setelah mentok duduk di jok kemudi, perlahan ia menginjak pedal gas hingga mobilnya melaju pergi. Meninggalkan pelataran rumah mewah keluarga Fernandez, yakni sebuah tempat yang selalu saja menorehkannya luka dalam setiap kali beranjak pergi.
Tangannya merogoh saku celana. Mengeluarkan sebuah ponsel dari sana sembari mobilnya yang ia tepikan.
Setelah label kontak 'Bidadari Jutek' tertera di balik layar, perlahan terdengar nada sambungan.
Tak ada jawaban, namun Johan tak langsung menyerah. Ia kembali menghubungi nomor ponsel Halsey, bahkan sudah sebanyak sepuluh kali, namun tetap tak ada jawaban.
Ke mana Hale-nya pergi? Tidak mungkin sudah tidur, sebab itu masih tersisa dua jam lagi.
"Maafkan aku, Hale. Aku benar-benar butuh minum untuk melupakan semua ini, walau ... walau hanya sesaat. Aku kacau, maafkan aku."
Johan kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Membiarkan lelehan-lelehan terus mengalir membasahi pipinya, menangis dalam bungkam yang semakin menyesakkan.
Setelah beberapa lama, laju mobilnya perlahan melambat, dan berbelok memasuki pelataran salah satu kelab yang malam itu cukup ramai. Tanpa pikir panjang lagi, Johan bergegas keluar dari mobilnya kemudian melangkah masuk.
Dentuman musik keras kian terdengar. Lampu kerlap-kerlip kian menyambut, begitupun dengan suara sorakan manusia-manusia yang asik menari mengikuti irama.
Johan langsung saja duduk di hadapan meja bartender. Meminta untuk diberikan sebuah minuman yang paling ampuh untuk membuatnya segera mabuk, kemudian meneguknya hingga tandas dan meminta dituangkan lagi. Begitu seterusnya, tanpa jeda meski setelah merasakan kesadarannya yang mulai hilang.
"Kau pasti sedang banyak masalah." Sosok Wanita seksi berbisik tepat di telinga Johan kemudian bergelayut manja di lengannya.
"Namaku Clare. Aku bersedia jika kau butuh dipuaskan," bisiknya lagi, sangat penuh godaan.
Johan meneguk isi gelasnya hingga tandas kemudian menoleh pada Clare. Tanpa jeda dan pikir panjang lagi, tangannya langsung menarik kepala Wanita itu mendekat, meraupnya erat, kemudian saling merapatkan bibir dengan sangat intens.
Di sela-sela ciuman mereka yang menuntut dan penuh hasrat, Clare tersenyum puas. Saling *******, mencecapi dan berbagi segala rasa, hingga beberapa kali desahan telah berhasil lolos dari mulut keduanya.
Tangan Clare ikut menggerayahi dada bidang Johan. Membiarkan Pria itu mendorongnya ke sudut-sudut, bahkan memberi ruang untuk tangan Johan menelusup masuk meremas bokongnya. "Kau ... kau hebh ... at, ahh ...," bisiknya penuh desahan.
Johan berpindah mengecupi leher jenjang Clare. Meninggalkan bercak merah di sana, sembari tangannya yang juga tetap sibuk meremas pelan buah dada Wanita itu.
"Ugh! Joh ... Johanh ... kumoh ... on ...."
Pergerakan Johan terhenti. Bibirnya yang tadi sudah sempat sampai di sebelah payudaraClare kini ia jeda. Napasnya terengah-engah. Sangat nampak dari kedua matanya bahwa ia tengah dilanda hasrat berahi yang mesti terpenuhi. Sesuatu dalam dirinya telah berhasil dibangunkan, gelenyar-gelenyar aneh dalam dirinya seolah meronta untuk dipuaskan.
"Aku membutuhkanmu."
Detik berikutnya, Clare telah berada dalam gendongan Johan dengan bibir mereka yang kembali bertaut. Malam kesedihan ini akan dilupakannya sesaat, bagaimanapun caranya.
❀❀❀