
Mobil Johan baru saja menepi tepat di depan gerbang kediaman keluarga Bamatara. Apa lagi jika bukan untuk mengajak Hale-nya jalan-jalan? Sungguh. Sejak mengenal gadis itu, ia jadi sangat benci dengan hari Minggu jika mereka harus libur bertemu juga. Kan bisa mati karena rindu.
"Assalamualaikum."
Bisa ia dapati dua sosok Gadis tengah duduk berdua di sofa. Baila sibuk menonton dengan sebuah toples di pangkuan, sementara Halsey hanya sibuk dengan sebuah buku di tangannya. Mengapa, sih, Gadis itu terlalu suka dengan buku?
"Waalaikumsalam," sahut Halsey dan Baila bersamaan.
"Johan?"
"Hey? Ayo, masuk!" ujar Baila bersemangat.
Johan mengangguk sembari tersenyum. Langkahnya perlahan ia tuntun mendekat, mendaratkan bokongnya di sofa seberang Halsey, kemudian berpindah memandangi Gadis itu penuh cinta.
"Kenapa kemari?" tanya Halsey langsung.
"Nanti kuberi tahu. Tidak enak jika harus mengatakannya di depan Baila," balas Johan sembari beranjak berdiri dan merebut toples di pangkuan Baila tadi.
"Baila? Memangnya aku kenapa?" Baila ikut bertanya.
"Kau, kan, jomblo. Tidak enak jika harus romantis-romantisan di depanmu," balas Johan santai.
"Hale ...."
Halsey melirik Baila sekilas kemudian berpindah pada Johan lagi. "Jawab pertanyaanku, Johan. Kalau tidak mau, lebih baik pulang saja jika kau hanya datang untuk membuat Baila galau."
Johan terkekeh tanpa dosa. "Iya, iya. Aku hanya bercanda," balasnya. "Dan ... tujuanku kemari tak lain dan tak akan ada lain jika bukan karena ingin bertemu denganmu. Hari Minggu tidak harus membuat kita libur bertemu juga, bukan?" Johan memasukkan snack ke mulutnya lagi sembari mengedipkan sebelah matanya pada Halsey.
"Aku jijik, Johan! Berhenti melakukannya!" teriak Halsey cepat dengan bukunya tadi ia lempar hingga mengenai Johan.
"Semua gadis mendambakan kedipan ini, Sayang. Sana, bersiaplah. Kita akan jalan-jalan."
"Katakan tempatnya dulu!"
"Terpenting bukan tempat ramai."
Johan tersenyum simpul tatkala menyaksikan Halsey berjalan menjauh. Detik berikutnya, ia berpaling menatap Baila yang kini tampak sibuk dengan ponsel di tangannya. "Bagaimana? Apa sudah move on?"
Baila mendongak kemudian menggeleng pelan. "Tidak semudah itu."
"Nikmati saja. Aku yakin kau bisa mendapatkan yang lebih pantas darinya."
"Hm. Terima kasih."
Johan mengangguk sembari mengedarkan pandangannya ke sekitar. "Ngomong-ngomong, di mana calon mertuaku? Aku sudah lama tidak bertemu mereka."
"Sedang keluar bersama," balas Baila singkat.
Johan berdehem serius. "Eum ... Baila? Kalau aku melamar Hale besok, apa mereka akan setuj-"
"Pria gila! Jangan asal bicara, Johan!" Halsey datang dengan teriakan kerasnya sembari langsung menarik tangan Johan berdiri.
"Kenapa, Hale? Aku memang niat melamarmu, kok," balas Johan cepat.
"Kami pergi dulu, ya, Baila! Assalamualaikum!"Halsey terus menarik Johan seperti sapi hingga mereka berhasil melewati mulut rumah.
Johan tentu saja kesal, hingga akhirnya ia langsung membopong tubuh Halsey kemudian mendudukkan Gadis itu di jok samping kemudi.
Cup!
"Seperti tadi lebih romantis, kan?"
Belum sempat Halsey memukuli, Johan sudah lebih dulu menutup pintu mobilnya kemudian mengitari dan ikut duduk di jok kemudi.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
"Aku tidak ingin bicara denganmu lagi!"
Johan terkekeh sembari mulai melajukan mobilnya. "Iya, Sayang. Tidak perlu bicara denganku lagi, tapi ... bisakah aku bertanya? Itu ... pipimu sangat mer-"
"Diam!"
"Jangan salahkan aku jika sampai khilaf menciumnya."
"Diam, Johan!"
"Iya, Calon Istriku Sayang ...."
Halsey tak lagi menanggapi. Pandangannya kini ia lempar keluar jendela, sementara Johan sudah beberapa kali telah melirik ke arahnya sekilas.
"Hale?"
"Hm?"
"Ayo, menikah."
Sontak, Halsey menoleh dengan raut tak percaya. "Apa pengeroyokan hari itu membuatmu tak bisa berpikir lurus?"
"Hah? Berpikir lurus?"
"Aku serius, Hale. Ayo, menikah," ulang Johan lagi sembari menggenggam tangan Halsey kemudian menempelkannya di dada.
"Jangan gila, Johan!"
"Gila? Jadi orang yang menikah itu gila? Kata siapa, Sayang?"
"Kita masih SMA, mengerti?"
"Iya, dan tahun ini kita sudah lulus sekolah, mengerti?"
"Kau pasti memang gi-"
"Setelah lulus, aku akan langsung melamarmu lalu kita menikah."
"Joh-"
"Tidak ada penolakan, Sayang. Pokoknya kita akan menikah setelah lulus sekolah, lalu kau akan ikut denganku menetap di Aus-"
"Kita tidak usah menikah dan silakan menetap di Australia sendiri! Enak saja. Aku harus melanjutkan pendidikanku dulu kemudian menjadi Wanita yang berkarir sukses!" sergah Halsey berapi-api.
"Untuk apa, sih? Aku yang akan membiayai hidupmu, Hale. Tidak perlu bekerja apa-apa. Cukup menjadi istri yang baik untukku, dan aku sudah akan merasa sangat bahagia."
Halsey memilih menutup kedua telinganya saja, tak mau mendengar omongan Johan lagi. Kalau menikah ... tentu saja semua orang akan memilih menikah dengan orang yang mereka cintai, tapi selepas lulus SMA? Itu kedengaran sangat konyol, menurutnya.
"Kalau kau tidak mau, maka dengan senang hati aku akan menculikmu."
"Silakan saja, Pria Gila," balas Halsey santai masih dengan posisinya yang sama.
Johan menoleh sekilas kemudian terkekeh. Tangannya lalu terulur menoel-noel pipi Halsey gemas hingga Gadis itu lekas berbalik dengan tampang geram.
"Aku ingin anak selusin," ujar Johan cepat. Tampangnya ... benar-benar menyebalkan!
"Melahirkan sendiri saja!"
"Tapi punyaku tidak ada lub-"
"Cukup! Masih berstatus kekasih saja kau bahkan sudah kedapatan selingkuh. Cih!"
"Itulah mengapa aku ingin kita meninggalkan Indonesia, Sayang ...."
"Hahaha di sana bahkan lebih keras, Johan. Kau ini ada-ada sa-"
"Dengan tidak bertemu daddy, kurasa akan lebih sedikit kemungkinan."
"Omong kosong."
Johan mendesah kasar. Ia tahu Halsey hanya menganggap omongannya candaan, tapi sungguh ... bukan sama sekali. Ia memang niat melamar Gadis itu selepas lulus SMA, menikah dengannya, kemudian menghabiskan sisa-sisa hidup bersama hingga menua.
Perlahan, mobilnya tampak menepi. Halsey yang menyadarinya langsung menegakkan posisi tubuh, kemudian mengedarkan pandangannya ke sekitar dengan senyum merekah. Ia memang sedang butuh tempat dengan suasana begini. Tenang dan sejuk.
"Aku ingin menjadikan ini sebagai salah satu tempat bersejarah kita, Hale," ujar Johan.
"Setuju! Ayo, turun!"
Dengan bersemangat, Halsey bergegas keluar dari mobil mendahului Johan, berlari mendekat ke arah tepi danau yang hijau. Benar, tempat di mana mereka pernah menghabiskan waktu berdua meski Halsey lebih jatuh cinta dengan tempatnya daripada Johan yang manusia.
"Jangan berlari, Hale!" teriak Johan sembari mulai mengeluarkan sebuah kain segi empat, gitar, dan juga sekantong makanan ringan dari bagasi mobilnya.
"Iya. Aku akan bantu bawakan," balas Halsey kemudian. Perlahan, ia meraih sekantong makanan ringan tadi dari tangan Johan kemudian berjalan beriringan dengan Pria itu.
"Aku tidak akan terima jika kau lebih jatuh cinta dengan tempatnya lagi."
Halsey mendongak menatap Johan dari samping. "Kalau iya, kau mau apa?"
"Tidak ada, hanya kecewa."
Bugh!
"Pacarku baper-an sekali! Hahahah ...."
Johan terkekeh sembari memeluk bahu Halsey dari samping. "Mana yang lebih bisa membuatmu bahagia?"
"Hm?" Halsey kembali mendongak sembari tangannya yang ikut melilit pinggang Johan.
"Tempat tenang seperti ini atau aku?"
"Tentu saja ... tempat ini."
"Jahat sekali."
"Tempat ini memang membuatku tenang sekaligus bahagia, tapi tanpamu ... pasti tetap terasa biasa saja."
"Maksudnya?"
Halsey berhenti melangkah kemudian berbalik menghadap Johan. Bibirnya tersenyum lembut, begitupun netranya yang tengah sibuk menyelami iris coklat gelap itu. "Tempat ini memang sangat indah, karenanya aku bahagia. Tapi jika kemari adalah denganmu, maka ... aku akan merasa semakin luar biasa bahagia."
Cup!
Johan kembali menatap Halsey dengan senyum lembut setelah berhasil mendaratkan kecupan singkat di kening Gadis itu. Detik berikutnya, mereka sudah melanjutkan langkah sembari Johan mulai membentangkan kain segi empat tadi.
❀❀❀