Johale'S Destiny

Johale'S Destiny
Lepas Rindu



"Sekali lagi kau berkata kasar pada Atha, aku takkan segan-segan memukulimu lebih."


Setelah lift yang ia masuki mulai bergerak, Johan merogoh saku celananya kemudian mengeluarkan sebuah ponsel dari sana. Ternyata, waktu belum selarut perkiraannya.


Lift mentok berhenti, Johan bergegas keluar kemudian menghampiri mobilnya. Setelah berhasil melaju hingga meninggalkan pelataran apartemen, bibir Pria itu bergerak-gerak bersenandung kecil. Ia ingin melepas rindu yang sempat diredamnya beberapa hari terakhir ini. Setelah mengikuti saran Alan dan Reyhan, akhirnya ia berhasil tahu perihal perasaan Halsey padanya. Meski menyebalkan, ia selalu bersyukur memiliki kedua pria itu sebagai sahabat. Terlebih jika mengingat dirinya yang tak lagi punya siapa-siapa.


Mobilnya berhenti beberapa meter dari rumah keluarga Bamatara. Johan bergegas keluar sembari jarinya yang mulai menjamah layar ponsel. Setelah mengetuk label kontak 'Bidadari Jutek', nada sambungan pun kian terdengar.


"Assalamualaikum, Halo?"


Sudut bibir Johan terangkat. "Waalaikumsalam, Sayang."


"Kenapa?"


"Rindu."


Tak ada sahutan.


"Sedang apa?"


"Membaca buku."


"Di mana?"


"Di kamarku, Johan. Ada apa banyak bertanya?"


"Tunggu sebentar, ya. Jangan dimatikan."


Johan menyelipkan ponselnya di saku celana kemudian memanjat pagar.


Hm. Cinta memang butuh perjuangan.


Setelah berhasil melompat, ia membuang napas lewat mulut kemudian mengeluarkan ponselnya lagi.


"Halo?"


"Iya."


"Aku rindu, Hale."


"Lalu?"


"Balas ucapanku, Sayang." Suara Johan terdengar merengek.


"Aku sedang tidak rindu. Lagi pula kita bersama-sama sangat lama tadi."


"Kalau begitu lihat ke balkon kamarmu."


"APA?!"


"Kenapa, Hale?"


"Jangan gila, Johan! Orang rumah masih belum tidur. Bagaimana jika mereka mendapati kita?"


Johan terkekeh. "Memangnya kita akan melakukan apa, Sayang? Lagi pula hanya duduk saja, 'kan?"


Tak ada sahutan. "Atau ... kau ingin melakukan hal-hal lebih, ya? Baiklah. Tak masalah. Kita bisa mengunjungi tempat-tempat sepi kalau-"


'Tett!'


Johan terkekeh setelah Halsey memutuskan sambungan teleponnya sepihak. Gadis itu benar-benar.


Beberapa saat, nada sambungan kembali terdengar. "Kenapa dimatikan, Hale?"


"Siapa suruh berucap mesum."


"Itu hanya bercanda, Sayang. Lagian ..., mengapa harus ke tempat sepi jika aku punya cukup uang untuk menyewa hotel? Benar, bukan? Kita bisa lebih bebas dan leluasa, apalagi dengan kasurnya yang-"


"Sekali lagi kau mengucapkan hal-hal begitu, aku akan memutuskan sambungan teleponnya dan membiarkanmu kedinginan di bawah sana!" Halsey mengancam dengan nada serius.


"Calon pacarku memang sangat manis. Kalau begitu keluarlah, Sayang. Jangan lupa mengenakan jaket, ya. Nanti kau kedinginan."


"Tidak mau."


"Hale?"


"Aku sedang malas bertemu Pria mesum."


"Yang penting kita tak berbuat mesum, 'kan? Cepatlah, Sayang. Ayo keluar."


Halsey memutuskan sambungan teleponnya. Beberapa saat setelahnya, pintu pembatas balkon dikamar Gadis itu tampak terbuka. Langsung saja Johan tersenyum hangat. Ia sudah sangat rindu untuk menoel-noel lesung pipi itu.


Halsey mendekat ke tepi balkon kemudian menengok ke bawah. "Kau ingin apa, Johan?" tanyanya nyaris berbisik.


"Aku sudah bilang ingin melepas rindu tadi."


Halsey mendesah. "Ayolah, Johan. Ini sudah malam."


"Sejak tadi memang sudah malam, Sayang."


"Bertemunya besok saja, ya? Aku janji akan menemanimu kapan pun kau minta." Halsey berusaha melakukan negosiasi.


"Tidak akan terjadi apa-apa, Hale. Ayolah. Cepat juntaikan selimutnya kemari."


Halsey tampak berpikir dengan raut cemas. "Tapi, Johan ...."


Johan membuang napas lalu menampakkan senyum simpulnya. "Baiklah. Aku pulang saja kalau begitu," ujarnya kemudian mulai berbalik.


"Johan? Astaga. Kau baper-an sekali, sih?"


"Johan? Ayo, berbaliklah!"


Johan berbalik dan mendapati Halsey dengan senyum cerahnya. Gadis itu kini telah mengikatkan selimut di besi pembatas balkon.


"Bukankah tadi aku sudah bilang agar kau mengenakan jaket?"


Halsey terdiam. "Tidak perlu."


"Pakai jaket yang kuberikan malam itu."


"Tidak perlu, Johan. Udaranya juga tidak dingin, kok."


Johan mendesah pelan. Pria itu kini mulai memanjat dengan bantuan selimut hingga berhasil sampai di balkon kamar Halsey. "Haruskah aku mengancam akan memelukmu agar kau mau ambil jaket dulu?"


Halsey menggeleng. "Kalau kau memelukku, aku akan berteriak."


"Dan setelah itu kita akan dinikahkan? Ah, sungguh ide yang bagus."


Setelah berhasil duduk, ia lalu mengedarkan pandangannya ke langit sana sembari menunggu Halsey kembali. Ada banyak bintang, bahkan bersinar begitu terang.


"Aku sudah mengenakan jaket."


Johan sontak berbalik. Ia mendapati Halsey dengan tubuhnya yang tampak tenggelam oleh jaketnya yang kebesaran.


"Sayang? Jaket itu membuatmu tenggelam," komentarnya sembari tertawa pelan.


Halsey mengangguk lalu ikut duduk di sisi kanan Johan. "Apa yang membawamu kemari?" tanyanya sembari menatap Johan serius.


"Lesung pipimu."


"Aku tidak mengerti."


Johan tersenyum lembut sembari memandangi wajah Halsey dengan tatapan sendu. Tangannya terulur menyelipkan anak-anak rambut Gadis itu yang sempat tertiup oleh tenangnya angin malam. "Ayo, senyum," pintanya kemudian.


Halsey menurut lalu mulai menampakkan senyumnya. Tak ingin menunggu, Johan lekas mengulurkan tangannya lalu mulai menoel-noel lesung pipi Gadis itu.


"Apa kau sangat terobsesi dengan lesung pipiku?" tanya Halsey kemudian.


Johan menggeleng. "Aku mencanduinya."


"Johan?"


"Hm?"


"Soal sikapku di taman tadi ... anggap saja tak pernah terjadi, ya?"


Johan terdiam seraya memandangi Halsey dengan sebelah alis terangkat. "Kenapa, Hale?"


Halsey menunduk. "Aku ... aku merasa seperti Gadis murahan, Johan ...," balasnya lirih.


Tangan Johan terulur menarik dagu Halsey. Kini, keduanya saling berbagi pandangan. "Apa kau tahu arti murahan yang sebenarnya?"


Halsey mengangguk. "Suka rela disentuh?"


Johan terkekeh. "Kalau begitu semua orang akan menjadi murahan, Sayang."


"Aku tak suka kau mengatakan dirimu seperti tadi. Kau tahu, Hale? Dirimu itu sangat dan terlalu jauh dari kata murahan. Kau mahal. Kau berbeda, dan itulah salah satu alasanku mengapa mencintaimu menjadi sangat mudah," jelas Johan lagi.


"Aku tidak percaya."


"Bagaimana aku harus membuatmu percaya?"


"Aku tidak tahu."


"Lalu apa maumu, Sayang?"


"Aku ingin ice cream tiga rasa," balas Halsey sembari menampakkan cengirannya tanpa dosa.


Johan terdiam beberapa saat lalu terkekeh pelan. Tangannya lagi-lagi terulur menoel-noel lesung pipi Halsey yang tampak karena Gadis itu tengah terkekeh. "Baiklah. Aku akan pergi membelinya untukmu," ujar Johan kemudian beranjak berdiri.


Halsey mencekal pergelangan tangan Pria itu cepat. "Aku hanya bercanda, Johan."


"Mengapa bisa begitu?"


"Hanya ingin menguji, hehe."


Johan tersenyum simpul kemudian duduk kembali. Tangannya terulur mengacak-acak rambut Halsey gemas.


"Tapi aku serius, Johan. Anggap saja kejadian di taman tadi tak pernah terjadi, ya?"


"Iya, Sayang."


Sesaat, suasana menjadi hening. Johan terus saja sibuk menoel-noel lesung pipi Halsey.


"Johan? Sudah malam."


"Sejak tadi juga sudah malam, Sayang."


"Maksudku sudah larut."


Johan melirik jam tangannya sekilas. "Ah, iya. Jam tidurmu sudah lewat enam menit."


"Tapi ... aku masih rindu," lanjutnya lagi terdengar manja.


"Kita masih bisa berjumpa besok, Johan. Tak baik berdua terlalu lama malam-malam begini," balas Halsey berusaha membujuk.


"Baiklah." Johan menarik Halsey lebih dekat kemudian mendaratkan kecupan dalam di kening Gadis itu.


Halsey membeku di tempatnya. Matanya kini sudah membulat sempurna, sementara Johan malah terkekeh tanpa dosa.


"Joh ... Johan!"


Johan menangkap tangan Halsey yang baru saja hendak mendaratkan tamparan di pipinya. Pria itu kini tersenyum mesum. Ia bahkan menciumi tangan Halsey berkali-kali.


"Astaga, Joh-"


Halsey menggantung ucapannya tatkala ia ingat tempat. Jika ia nekat berteriak, maka orang rumah akan mendengar suaranya.


Tak ada pilihan lain. Ia kini hanya bisa memukuli Johan sekuat tenaga kemudian berakhir dengan dirinya yang lelah.


"Pergi kau, Pria sialan! Dasar mesum!"


Johan terkekeh memandangi Halsey yang sudah berlalu pergi. Membuatnya kesal memang menyenangkan. "Selamat tidur, Sayang. Aku akan membangunkanmu salat subuh nanti."


Pintu pembatas balkon kamar Halsey kembali terbuka.


"Johan?" Gadis itu muncul dengan wajah cerah.


"Jadi kau sudah hafal bacaan salat?"


Johan mengangguk. "Iya, Sayang. Sana, masuklah. Jangan lupa memeluk jaket itu saat kau tidur, ya?"


"Sinting!"


"Love u too!"


Brak!


Johan berbalik setelah menyaksikan Halsey menutup pintu kamarnya begitu saja. Padahal, Gadis itu yang harusnya menunggu ia pergi, bukan sebaliknya. Dasar!


❀❀❀