Johale'S Destiny

Johale'S Destiny
Kelemahan Halsey



"Pria itu benar-benar kelewatan. Aku merasa hidupku penuh gangguan sekarang."


Sementara di sebuah apartemen mewah, Johan baru saja tertawa kecil setelah Halsey memutuskan panggilannya. Pria itu tengah duduk di sofa dengan tubuhnya terbalut kaos putih tipis juga celana santai.


"Menjalin hubungan serius itu menyusahkan, Johan. Setelah kau mendapatkannya, maka saat itu pulalah kau tidak akan bisa bebas bermain perempuan lagi ataupun melakukan hal-hal yang kausukai," ujar Alan serius sembari matanya yang tetap fokus pada acara komedi di TV.


"Tentu saja, Bodoh. Aku Pria sejati, jadi tentu saja tidak suka menyakiti apalagi mempermainkan perempuan," balas Johan malas.


Reyhan tiba-tiba muncul dari arah dapur dengan sepiring nasi goreng di tangannya. "Astaga. Jadi kau serius?" tanyanya juga.


"Serius apa?" tanya Johan balik.


"Dasar sampah! Jangan menyentuh makananku! Sana, buat sendiri!"


Johan terdiam menyaksikan Alan dan Reyhan yang kini tampak saling mendorong hanya karena memperebutkan nasi goreng tadi.


"Ish, berbagi juga, Rey! Aku lapar!" rengek Alan.


"Buat sendiri! Enak sa-"


"JAWAB PERTANYAANKU, REY!"


Reyhan tersentak kaget hingga refleks menoleh pada Johan. "Kau mengagetkanku, Bodoh!"


"Kalau begitu cepat jawab pertanyaanku!" teriak Johan lagi.


Setelah menikmati sesendok, Reyhan duduk bersila kemudian berdehem pelan. "Anu ... kau serius menyukai gadis itu?"


Alan langsung memanfaatkan situasi dengan merebut piring di pangkuan Reyhan kala Pria itu kembali sibuk menjawab.


"Aku belum tahu pasti, tapi sebelum dengannya ... aku tidak pernah menaruh rasa seserius ini pada perempuan," balas Johan seadanya. Maksudnya, sesuai kenyataannya. "Kau tahu Gadis sepertinya sudah sangat jarang dijumpai. Terlalu dingin dan tertutup. Benar-benar membuat penasaran."


Bugh!


"Masuk dan buatkan aku nasi goreng!"


Alan hanya terkekeh tanpa dosa sembari langsung berlari menjauh dan mengunci dirinya dari dalam kamar. Di mana-mana, manusia pendiam adalah spesies paling menyeramkan saat sedang marah.


BRAK!


BRAK!


"BUKA PINTUNYA, ALAN BRENGSEK!"


"Kau monyet yang imut, hahahahahh!"


Johan mendengus. Baiklah. Curhatannya terabaikan gara-gara nasi goreng sialan itu.


***


Di bawah langit gelap, mobil Johan tampak berhenti tepat di depan sebuah rumah mewah. Setelah kembali melihat pantulan wajahnya di kaca depan, ia lalu bergegas keluar kemudian mulai berjalan masuk hingga tiba di pintu utama rumah.


"Assalamualaikum."


Mahesa yang tengah duduk di sofa langsung berbalik dan seketika tersenyum hangat. "Waalaikumsalam. Ayo, Nak. Masuklah," sambutnya ramah.


Johan menurut kemudian ikut duduk di sofa seberang. Baila yang baru saja hendak ikut bergabung memutuskan untuk berhenti sebentar, berusaha menguping pembicaraan kedua Pria beda generasi itu.


"Ya, ampun. Anaknya Harris Fernandez, ya? Kau tampan seperti ayahmu, Nak," ujar Mahesa terdengar bersemangat.


Johan tersenyum sopan. "Terima kasih, Om. Ngomong-ngomong ... apa Hale ada di rumah? Aku ingin mengajaknya makan malam di luar."


"Ah, benarkah? Mungkin di kamar-"


"APAAA?! HALEEE?!"


"Sayang? Tolong panggilkan Hale untuknya. Mereka akan pergi makan malam bersama," pinta Mahesa.


Baila tampak terdiam sebentar tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya dari Johan. Bukan, bukan jatuh cinta. Hanya saja ... selama ini ia tak pernah tahu bahwa Halsey dekat dengan seseorang, apalagi dengan Pria. "Baiklah. Tunggu sebentar," balasnya kemudian.


Setelah berhasil menyusuri anak-anak tangga beberapa saat, langkahnya terhenti tepat di depan pintu kamar Halsey.


Tok tok!


"Siapa?"


"Aku, Hale. Ada yang mencarimu di bawah."


Tak ada sahutan lagi, sebabnya Baila langsung berlalu dari sana dan kembali berjalan menuju kamarnya terletak.


Halsey yang tadinya tengah sibuk membaca novel mulai beranjak dan meletakkan benda itu. Melangkah menuju pintu kamarnya, kemudian mulai menuruni anak-anak tangga hingga tiba di bawah.


Seketika ... matanya membulat tatkala mendapati Johan yang kini memandangnya dengan senyum menyebalkan. Astaga ... apa-apaan Pria ini?!


"Hale? Kemari, Sayang," pinta Mahesa.


Halsey masih tampak terpaku, namun detik setelahnya, ia perlahan melangkah mendekat kemudian ikut mendudukkan dirinya di sisi kanan Mahesa.


"Aku ingin mengajakmu makan malam, Hale," ujar Johan langsung.


"A-APA?! Kau gila- eh." Seolah baru sadar, Halsey langsung melirik Mahesa sekilas. "Maksudku ... aku sedang sibuk," lanjutnya lagi.


"Hale? Johan sudah terlanjur menjemputmu, Sayang ...," tegur Mahesa lembut seraya tangannya yang mengelus rambut Halsey dari samping.


"Maafkan aku, Ayah, tapi aku benar-benar sedang sibuk," balas Halsey lagi, masih berusaha untuk menolak.


Yang benar saja, ya. Dunianya jauh lebih menarik dan membuat bahagia daripada pergi bersama Johan. Yang ada nanti hatinya hanya akan panas karena meredam kesal, terlebih jika mengingat kembali betapa entengnya Pria itu menyebutkan ukuran bra-nya tadi.


Ukuran bra, lho!


Bra!


Hal yang seharusnya paling privasi bagi seorang perempuan!


"Tidak masalah jika Hale sedang sibuk, Om. Mungkin kita bisa pergi lain waktu saja," sela Johan terdengar tenang.


Halsey langsung menoleh dan menatap Johan lama. Ia tahu, bahwa pura-pura mengerti pasti hanya akal-akalan Pria itu saja. Kegemarannya tak hanya tebar pesona, ternyata.


"Om juga pernah muda sepertimu, Nak. Hale? Bersiaplah. Setidaknya pergi dulu dan cepatlah pulang jika kau harus mengerjakan sesuatu. Ya, Sayang?"


Halsey menggigit bibir. "Tapi, Ayah .... Aku serius sedang sangat sibuk ...."


"Iya, Sayang. Ayah mengerti. Makanya kau harus segera bersiap sekarang, jadi nanti pulangnya tidak akan terlalu larut."


Halsey mendengus pelan. Kalau sudah Mahesa yang minta, ia benar-benar tidak pernah tahu caranya menolak.


Setelah melirik jam dinding sekilas, perlahan ia bangkit berdiri kemudian berpindah menatap Johan datar. "Kita harus tiba di rumah tepat pukul 19.20. Jika sampai lebih, maka kau harus menghapus nomorku dari ponselmu dan berhenti muncul di hadapanku lagi, bagaimana?"


Mahesa terpaku melihat bagaimana Putri-nya itu memperlakukan Johan. Sungguh sangat mirip dengan Lena ketika awal-awal ia mendekati wanita itu. "Anak kita sangat mirip denganmu, Sayang. Semoga kau senantiasa bahagia di sana," batinnya.


"Iya, Hale. Apa pun untukmu," balas Johan mantap.


"Dan oh, ya. Aku menerima ajakanmu karena Ayah, jadi jangan menaruh banyak kemungkinan!" tegas Halsey lagi kemudian berlalu pergi setelahnya.


Johan dan Mahesa langsung terkekeh bersama. Baiklah. Sekarang, ia sudah tahu kelemahan gadis dingin itu. Ayahnya, Mahesa.


❀❀❀