
"Aku sudah bilang bahwa aku akan memperjuangkanmu lagi, bukan? Berhenti berusaha menghindar, Sayang. Itu percuma." Johan mengacak-acak rambut Halsey gemas dengan bibirnya yang tersenyum jahil.
Awalnya, Halsey berniat berangkat ke sekolah sangat pagi, sementara Johan juga melakukan hal yang sama. Seperti saat pertama kali mereka akan dekat, ia tahu betul bagaimana Halsey. Gadis itu pasti akan melakukan segala cara hanya untuk menghindarinya. Tidak tahu saja bahwa ia lebih punya banyak cara. Bagaimanapun itu, hubungan mereka harus kembali lagi seperti sebelumnya. Harus.
"Silakan, Calon Istriku," ujar Johan sembari membukakan Halsey pintu mobil. Air wajahnya belum berubah, masih sama menyebalkannya seperti tadi.
"Ya ampun .... murung sekali. Ayo senyum, Sayang." Johan terkekeh geli menyaksikan raut wajah Halsey. Saking menyenangkannya menjahili Gadis itu, tangannya bahkan terulur menoel-noel lesung pipi Halsey gemas.
Plak!
"Berhenti menjahiliku!" bentak Halsey kesal setelah berhasil mendaratkan pukulan di tangan besar Johan.
Setelahnya, ia langsung saja mendaratkan bokong di jok samping kemudi, berusaha tak mengindahkan Johan yang sejak tadi terus berceloteh bahkan menertawai ekspresi wajahnya. Pria sialan.
"Dengar, Johan. Kita itu sudah berakhir! Sering bersama akan membuat kita saling sulit melupakan! Kumohon berhenti mendekatiku lagi. Berhenti memanfaatkan ayah hanya agar bisa terus bersamaku!"
Johan menoleh sekilas dengan senyum santai. "Memangnya untuk apa mengakhiri hubungan jika kita sudah jelas masih saling mencintai? Itu seperti sebuah usaha untuk menyiksa diri sendiri, Hale ...."
"Bukan sebuah usaha untuk menyiksa diri, tapi menyelamatkan hati dari patah yang niat menghampiri."
Johan tersenyum simpul sembari meraih jemari Halsey. Meremasnya pelan, kemudian mengecupnya dalam. "Maafkan aku," bisiknya.
Wajah dan tatapan Halsey masih sama. Sangat datar, tak berubah sama sekali.
Detik berikutnya, ia menarik jemarinya dari genggaman Johan kemudian berpaling memandang keluar jendela. "Fokus menyetir saja. Aku masih ingin hidup," ujarnya datar.
Johan terkekeh. "Kalau mati bersamamu, aku rela, Hale," balasnya terdengar menggoda.
"Kuharap kau tak lupa dengan dosa-dosamu," balas Halsey tanpa menoleh.
"Ah, iya. Dosaku pasti sudah sangat menggunung, tapi tetap. Jika itu mati bersamamu, aku sangat rela."
"Berhenti mengucap omong kosong!"
"Aku juga mencintaimu," balas Johan santai.
***
Seperti biasa, Johan, Alan, dan Reyhan akan duduk di lantai rooftop sekolah saat sedang membolos. Padahal Johan sangat berharap Halsey melarangnya, tapi ternyata tidak. Mungkin, gadis itu sekarang benar-benar niat mengakhiri hubungan mereka.
"Berhenti merokok dulu, Rey! Cepat berikan saran!" Johan kembali merengek kesal sembari mencegah Reyhan menghisap rokok di jemarinya.
"Aku tidak tahu, Johan! Turuti saran Alan saja. Lagi pula memang harus seperti itu. Kau perlu berjuang dari awal lagi jika serius ingin mendapatkan Halsey kembali."
Johan merengut masam. Masa iya, sih, ia harus kembali berjuang? Masalahnya adalah ..., Halsey benar-benar kembali bersikap dingin padanya. Tadi saja, Gadis itu sudah sempat menamparnya tiga kali hanya karena ia modus ingin berpegangan tangan. Benar-benar, deh!
"Aku bersedia saja, tapi ...."
"JOHAN?! Aku ada ide!"
Wajah Johan berubah sumringah seketika. Detik berikutnya, ia melompat dan duduk di sisi kiri Alan kemudian berpindah menatap Pria itu serius. "Apa, Sayang? Cepat katakan!" pintanya antusias.
"Tapi sebaiknya rencana ini kita jalankan nanti malam saja," balas Alan kemudian.
"Kalau begitu cepat katakan!" teriak Johan kesal. Sudah tahu penasaran, malah tidak bicara langsung pada intinya.
"Hubungi Sam dan kawan-kawannya, kemudian minta mereka datang di taman kota nanti malam."
"Lalu?"
"Lalu kau harus menghadapi mereka semua sendirian, sementara aku akan datang ke rumah Hale dan memintanya untuk menjengukmu di tempat kejadian."
Johan mengangguk-angguk mengerti. "Jadi maksudmu ... aku meminta mereka memukuliku, begitu?"
"Tapi ... bagaimana jika mereka benar-benar memukuliku sampai mati?"
"Itu bagus."
Johan memasang tampang sedih. "Kalau aku mati, lalu bagaimana nasib para pembaca cerita ini? Mereka tidak mungkin rela kehilanganku."
"Berisik!"
"Aku serius, Alan. Kalau mereka memukuliku sampai mati, lalu siapa yang akan berpacaran dengan Hale? Semua rencana ini jadi sia-sia saja," ujar Johan lagi.
"Bagaimana jika pengeroyokannya kita rekayasa saja?" Reyhan ikut bersuara.
Johan dan Alan sontak berbalik kemudian menatapnya bingung.
"Rekayasa?"
"Iya, rekayasa. Aku dan Alan saja yang akan memukulimu," balas Reyhan serius.
"Bukankah itu terdengar sangat konyol?" tanya Johan tak bersemangat.
"Cinta itu memang butuh perjuangan, Johan. Lagi pula ini salahmu sendiri, kan? Kalau kau serius ingin mendapatkan Halsey kembali, maka turuti rencana ini saja. Atau jika kau merasa keberatan, silakan berjuang dari awal lagi," balas Reyhan panjang lebar.
Johan mendesah kasar sembari bangkit berdiri. "Baiklah. Aku akan ke kelas Hale dulu," ujarnya sembari mulai berjalan menjauh.
Johan menyusuri anak-anak tangga dengan gesit sembari bibirnya yang ikut bersenandung kecil. Andai saja malam itu ia tak datang ke rumah Harris, mungkin semuanya akan tetap baik-baik saja. Entah mengapa, tapi setiap kali mengunjungi kediaman daddy-nya itu, ia pasti akan pulang dengan berbekal sedih dan kekacauan.
Setelah berhasil tiba di kelas Halsey dan mendapati suasana sepi di sana, Johan lekas berbalik lagi kemudian memacu langkah menuju taman sekolah. Kalau seperti ini, ia sudah sangat yakin bahwa Halsey memang bersungguh-sungguh ingin mengakhiri hubungan mereka. Tidak bisa disalahkan juga, sebab ia memang berhak marah atas segala kecewa yang diterima. Bagaimanapun, Johan merasa salah dan memang menyesalinya.
"Kenapa tidak menungguku?"
Halsey yang sejak tadi sibuk dengan bacaannya langsung mendongak kemudian melirik Johan sekilas. Tak ada jawaban yang ia berikan, bahkan kini pandangannya sudah kembali fokus pada buku rumus tebal kekesukaannya.
"Hale?"
"Aku sudah bilang agar kita bisa lebih menjaga jarak, Johan. Tetap menghabiskan waktu bersama-sama akan membuat kita saling sulit melupakan!" balas Halsey kesal.
Johan mendaratkan bokongnya di sisi kanan Halsey kemudian mengambil posisi duduk santai. "Dan aku juga sudah bilang bahwa mengakhiri hubungan kita ini sama saja dengan sebuah usaha untuk menyiksa diri sendiri."
Halsey menutup buku di tangannya kesal kemudian berpindah menatap Johan. "Tak bisakah kau mengerti? Kita memang tak bisa bersama, Johan. Bahkan meski kita saling sangat mencintai, tetap saja kita tidak bisa cocok apalagi bersama!"
"Cinta bisa mengalahkan segalanya, Sayang, termasuk perbedaan," balas Johan lembut, sembari tangannya yang terulur meraih jemari Halsey.
"Sebaiknya tinggalkan aku saja dan berhenti mengucapkan omong kosong terus menerus. Kita sudah berakhir, jadi silakan tempuh jalanmu sendiri!" Halsey menarik tangannya dari genggaman Johan kemudian berpindah membuka bukunya lagi. "Lagi pula aku bukan Gadis yang kau cari. Pergilah. Sangat banyak gadis di luar sana yang menunggumu, bahkan juga bersedia memenuhi kebutuhanmu," sambung Halsey lagi.
Johan langsung beranjak berdiri. Setelah berhasil melangkahkan kaki beberapa kali, kini ia kembali berbalik menghadap Halsey, bersimpuh di hadapan Gadis itu, kemudian meraih jemarinya pelan. "Kembalilah denganku, Hale. Ayo perbaiki segalanya," bisiknya benar-benar tulus.
"Tid-"
"Aku berjanji tidak akan menginjakkan kaki di tempat itu lagi. Aku akan berusaha berubah menjadi lebih baik. Aku akan berusaha memantaskan diri agar bisa bersanding denganmu, tapi tolong ... berikan aku kesempatan sekali saja," pinta Johan serius.
Halsey terdiam, balas menatap netra coklat gelap itu tanpa ekspresi. Hatinya mungkin masih sangat menginginkan Johan, namun tetap, keputusannya sudah bulat.
Setidaknya agar Pria itu bisa lebih tahu bagaimana cara menghargai sebuah kesempatan, dan juga menyadari bahwa tak segala hal dalam hidup akan selalu datang dengan yang namanya 'kesempatan kedua'.
"Maaf, Johan. Aku tidak bisa," balasnya sembari melepas genggaman Johan di tangannya.
Johan tampak menatapnya beberapa saat, hingga detik berikutnya, Pria itu bangkit berdiri kemudian berbalik dan berlalu.
Halsey membuang napas pelan. Mungkin itu jauh lebih baik. Mereka akan saling menjauh, sehingga melupakan tak lagi menjadi hal yang sulit dilakukan.
❀❀❀