Johale'S Destiny

Johale'S Destiny
Berusaha Terbiasa



Entah sudah permen yang ke berapa, jelasnya mulut Johan tak pernah berhenti mengunyah sejak tadi. Ia terduduk di sudut kelas dengan sebuah gitar di pangkuannya, menyisihkan diri sesaat dari keramaian yang bising.


Jemarinya terus memetik senar gitar secara acak, sementara netranya hanya terlempar lurus ke lantai porselen. Alan dan Reyhan yang menyaksikan itu juga tak bisa apa-apa, padahal ... sudah dua minggu berlalu namun Johan tetap dalam kondisi yang sama. Pria itu tak lagi ceria, bahkan nyaris sudah sangat jarang berbicara.


"Johan? Ayo, ke kantin," ajak Alan.


Johan hanya melirik jam tangannya sekilas, berpindah menatap Alan juga, kemudian menggeleng pelan. Detik berikutnya, ia bangkit berdiri dan berlalu pergi begitu saja. Benar, mengawasi Hale-nya dari kejauhan.


Dan ... perihal Zara, entahlah. Ia mungkin akan menikahi gadis itu setelah lulus SMA saja. Lagi pula tinggal beberapa bulan lagi.


Setelah tiba di taman, Johan mendaratkan bokongnya di sebuah bangku yang berjarak cukup jauh dari Halsey. Bukan hanya jauh, bahkan terhalang beberapa pohon yang tumbuh.


"Kau masih saja cinta dengan buku," gumamnya tersenyum lembut. Ia memperhatikan Halsey tengah sibuk membaca, seperti biasa. Memerhatikan wajah tenang Gadis itu, begitujuga dengan hembusan napasnya yang teratur.


Jujur saja ... belakangan ini hatinya selalu sakit jika menyaksikan Halsey tampak bersama dengan Sam. Benar, brengsek itu hanya berusaha menipu. Entahlah dengan niat terselubungnya, yang jelas ia sudah sempat memukuli pria itu sepuas hati. Meski yakin bahwa Halsey tak akan luluh dengan mudah, tetap saja ia harus khawatir. Khawatir gadis-nya itu jatuh cinta, sekaligus juga takut ia terluka.


Johan ikut bangkit berdiri saat menyaksikan Halsey mulai beranjak pergi. Selain seperti ini, tak ada jalan lain. Ia hanya bisa memandangi Hale-nya dari jauh, melindunginya sembunyi-sembunyi, bahkan menjemputnya ke sekolah atau mengantarnya hingga tiba di rumah. Biarkan saja tetap seperti itu, sebab niatnya untuk berhenti mencintai memang tak ada sama sekali.


***


Bel pulang baru saja berbunyi, bersamaan juga dengan kelasnya yang mulai ricuh dan ramai oleh para pelajar berhambur keluar kelas.


Halsey memasukkan buku-buku dan peralatan lainnya ke dalam tas kemudian ikut berhambur keluar juga. Langkahnya pelan, bahkan nyaris tak bersemangat sama sekali.


Subuh tadi, ia kedatangan tamu bulanan. Meski merasa sangat lemah, ia tetap memaksakan untuk hadir ke sekolah, bahkan juga ikut melaksanakan upacara. Seandainya Johan tahu, pria itu pasti tak akan mengizinkan. Tidak, lupakan saja.


"Hale?!"


Halsey berdecak pelan dengan langkahnya yang terus ia pacu. Beberapa hari terkahir ini hidupnya benar-benar buruk, bahkan sangat sial. Sam terus mendatanginya di sekolah, memaksa untuk pulang bersama, bahkan mengajak jalan-jalan. Gila memang. Kalaupun ia mau menerima, palingan mungkin karena syaraf warasnya bermasalah. Mana mau, deh, dengan Pria itu. Melihat wajahnya saja sudah hendak membuat muntah!


"Hale?! Aku memanggilmu," ujar Sam dengan napasnya yang masih memburu. Seharusnya Pria itu berlari lebih keras supaya langsung mati sekalian.


"Hale? Pulang denganku, ya?" Sam kembali membujuk, begitu terus setiap harinya tanpa lelah sedikit pun.


"Hale?"


"Ayo, pulang bersama, Hale ...."


"Hale? Ayolah. Kau tidak kasihan melihatku, ya?"


Halsey terkekeh mengejek kemudian melirik Sam sekilas. "Kasihan tidak, jijik iya."


Biasa saja. Malah mungkin Sam sudah kebal dengan ucapan pedas Halsey. Tidak masalah, kok. Ia akan tetap bertahan dan tidak menyerah sampai benar-benar berhasil mendapatkan Gadis itu. Jangan sampai kebodohannya terulang untuk kedua kali, terlebih jika mengingat kesempatan yang terlalu emas ini. Siapa pun yang jadi dirinya, ia pasti akan bahagia dengan putusnya hubungan Halsey dan Johan. Itu pasti. "Ayo."


Bugh!


"Jangan menyentuhku!" bentak Halsey tajam setelah berhasil mengentak cekalan Sam dari tangannya.


"Sudah berapa kali aku menolakmu?!" Halsey mendongak menatap Sam berapi-api, tak peduli bahwa beberapa orang sudah menjadikan mereka bahan tontonan.


"Berhenti mengejarku, deh! Aku tidak akan luluh sampai kapan pun!"


"Hale?"


"Dan harus berapa kali aku bilang bahwa kau tidak berhak memanggilku dengan sebutan itu?! Sadar, Sam! Jangan membuang waktumu untuk mencintaiku!"


Sam terpaku di tempatnya berpijak, kemudian menatap nanar punggung Halsey yang sudah semakin menjauh. Sakit? Sangat, tapi ... mengapa tetap saja ia mau bertahan?


"Aku tidak peduli, Hale. Aku akan tetap mengejarmu sampai kau mau menerimaku! Aku janji!"


Halsey langsung melajukan mobilnya begitu saja, tidak dan tidak akan mau peduli sama sekali dengan ucapan Sam. Ia bahkan tak tahu lagi bagaimana cara menolaknya, sebab ... ditolak lembut atau kasar sekalipun, pria itu tetap tidak memilih berhenti.


Belum lagi dengan pesan selamat malam yang tak pernah absen ia kirimkan setiap malamnya. Sam mungkin berusaha untuk bersikap seperti Johan, tapi ... mengapa ia malah jijik dan risih? Mulutnya bahkan sudah beberapa kali mengumpat kasar jika mengharapkan pesan itu adalah dari Johan, tapi malah ... ck, sudahlah. Intinya ia rindu Johan, sangat. Rindu dengan pesan selamat malamnya yang alay, dan juga ... ucapan-ucapan mesumnya yang kadang membuat sebal.


Sejak malam itu, ia tak pernah melihat Johan lagi, bahkan meski sekedar berpapasan atau mungkin mendapati dari jauh.


Halsey membelokkan mobilnya hingga memasuki pelataran rumah. Mungkin, setelah ini ia akan langsung istirahat. Bagaimana lagi. Repotnya jadi perempuan memang sudah begitu adanya.


***


Johan tampak baru saja selesai menunaikan salat isya. Setelahnya, ia lalu bersiap tidur, tapi hanya di sofa saja. Alan dan Reyhan sedang datang ke kelab, dan mereka juga sudah sempat bilang akan menginap di apartemennya nanti. Daripada harus repot lagi, mending ia tidur di sofa dulu saja, supaya dua sialan itu bisa langsung diseret masuk. "Dua menit lagi," gumamnya pelan.


Johan telah merebah, bahkan tubuhnya sudah terbalut selimut hingga perut. Matanya memandangi jarum jam saksama, menunggu hingga waktu menunjukkan pukul 21.35 menit.


Benar.


Jam tidur Halsey.


"Selamat tidur, Hale. Aku mencintaimu," bisiknya pelan.


Masih dengan bibirnya yang tersenyum, Johan mulai memejam. Beralih dari dunia nyatanya yang belakangan ini terasa sangat hampa, yang segalanya selalu terjadi di luar pengharapan. Menyedihkan, memang.


❀❀❀


**Halo, halo!


Semoga pada sehat-sehat, ya. :)


Sekedar info, nih, tentang jadwal update.


Jadi, untuk part-part selanjutnya, Johale's Destiny bakal up dua kali sehari. Satu pagi, satu malam (jam 9 atau 10). Oke, itu aja. See u**!