
Mobilnya berbelok memasuki pekarangan rumah Hanum yang tampak sepi seperti biasa. Johan turun dari mobil dan mulai melangkah masuk hingga mulut rumah.
"Assalamualaikum."
Tanpa menunggu jawaban, Johan langsung masuk begitu saja. Langkahnya ia tuntun menuju dapur, namun, tak ada siapa-siapa di sana. "Mom? Kau di mana?"
Johan sempat mengerutkan alis kemudian berbalik niat mencari Hanum di lantai atas.
"Sudah pulang?"
Setelah berbalik dan mendapati Hanum tampak baru saja keluar dari kamar mandi, Johan berjalan menghampiri Wanita itu. "Ya, Mom," balasnya seraya meraih lalu mencium punggung tangan Hanum.
"Mom sudah menyiapkan makanan untukmu. Ayo."
Johan mengekori menuju meja makan lalu duduk di kursi. Menerima piring yang diulurkan Hanum sembari menunggu Wanita itu menuangkan nasi dan beberapa lauknya.
"Ngomong-ngomong ... kapan kau membawa Hale kemari, Sayang?" tanya Hanum seraya ikut duduk di seberang.
Johan melirik Hanum sekilas kemudian meraih gelas dan meneguk isinya hingga tandas. "Hale marah padaku, Mom. Entahlah. dia sangat sulit dibujuk," balasnya seraya mulai sibuk mengunyah. Tanpa selera.
"Memangnya kenapa Hale bisa marah?"
Johan mendengus. "Aku memanggilnya dengan sebutan 'sayang', jadi dia marah kemudian mengejarku."
"Kakinya tersandung hingga tersungkur ke lantai. Aku panik, makanya lekas membopong tubuhnya begitu saja."
"Tapi ... dia marah, bahkan memukuli dan menamparku sembari berteriak minta diturunkan. Aku tidak mendengarkan, malah tetap membopongnya hingga ia kududukkan di kursi."
"Setelahnya Hale menangis dan bilang bahwa tidak ada pria yang pernah menyentuhnya sejauh tadi selain ayahnya. Apa aku salah, Mom?" Johan bertanya seraya menatap Hanum serius.
"Tentu saja, Sayang. Harusnya kau tidak lancang begitu jika sudah tahu bahwa Hale bukan gadis sembarangan."
Johan kembali mendengus. "Aku terlalu panik jadi tidak sempat lagi berpikir. Seingatku, gadis-gadis banyak sekali yang suka digendong olehku, jadi ...."
"Apa kau sudah mencoba membujuknya?" tanya Hanum kemudian.
"Menghangatkannya saja aku belum tahu bagaimana, apalagi memulihkannya dari amarah. Hale sangat sulit dipahami, Mom. Aku benar-benar dibuatnya pus-"
"Mom hendak ke kamar mandi," potong Hanum sembari berlalu dengan tergesa-gesa.
Johan yang menyaksikan itu malah bertampang bingung dan selanjutnya hanya mengedikkan bahu. Tapu baru saja hendak memasukkan makanan ke mulutnya lagi, ponselnya yang ia letakkan di saku celana bergetar.
Nama Reyhan tertera di balik layar. Tangannya kemudian bergerak menggulir ikon telepon, menekan tombol loudspeaker, lalu meletakkan benda pipih itu di atas meja agar lebih memudahkannya berbicara sambil makan. "Halo?"
"Kapan mommy-mu kembali ke Turkey?"
"Tidak tahu. Nanti kutanyakan. Memangnya kenapa?"
"Kau tahu aku tidak sabar lagi untuk segera membalas Fito."
"Haha tunggu sebentar lagi, Sayangku. Pria itu akan kubuat sangat jera dengan tanganku sendiri. Akan kukenalkan padanya pukulan mematikan dari seorang Johan hingga ia tak akan berani macam-macam lagi."
"Ya, baiklah. Kabari secepatnya, ya. Kututup teleponnya."
"Waalaikumsalam."
"Assalamualaikum."
Hanum yang tak sengaja mendengar percakapan Johan di telepon langsung terdiam seraya kembali menutup rapat dan menumpukan tubuhnya di pintu toilet. Waktunya tak lagi banyak, itu berarti sekarang adalah saatnya.
***
Hanum sudah berdiri menghadap sebuah rumah mewah berlantai dua yang tepat berada di hadapannya.
Setelah menarik napas sebentar, Wanita itu kemudian melangkah masuk hingga tiba di pintu utama. "Assalamualaikum."
Shiren yang sedang sibuk di dapur lekas bergerak dan mengelap tangannya yang basah. "Waalaikumsalam."
Ia sedikit tertegun tatkala mendapati sosok Wanita berhijab yang cantik nan anggun tampak berdiri di mulut rumah seraya tersenyum ke arahnya.
"Silakan masuk," ujarnya tersenyum.
"Silakan duduk sebentar, ya. Aku akan buatkan minuman dulu," ujar Shiren kemudian hendak berdiri.
"Ah, terima kasih, tapi tidak perlu repot-repot. Aku hanya ingin bertemu Hale," cegah Hanum hingga Shiren mengangguk mengerti.
"Kalau begitu aku akan memintanya turun," balas Shiren kemudian berlalu pergi.
Setelah menyusuri anak-anak tangga hingga tiba di lantai dua, ia kembali melanjutkan langkahnya hingga tiba di depan pintu kamar Halsey.
'Tok tok'
"Hale?"
Halsey yang baru saja selesai mengobati luka di lututnya lekas menoleh ke arah pintu. Gadis itu lalu beranjak, membuka pintu kamarnya cepat, dan mendapati sosok Shiren yang kini memandangnya hangat.
"Ada apa, Bu?" tanyanya kemudian.
"Ada yang mencarimu di bawah, Sayang. Turunlah," balas Shiren kemudian berbalik pergi.
Halsey memandangi punggung Shiren menghilang dari pandangannya. Ia kemudian ikut berjalan menuju tangga lalu menyusurinya satu-persatu hingga tiba di lantai bawah.
Ia tak kalah tertegunnya mendapati sosok wanita berhijab yang kini tersenyum ke arahnya lembut. Sangat jelas dari wajahnya, bahwa wanita itu ada perpaduan darah-darah Timur Dekat.
Halsey kemudian berjalan mendekat lalu mendudukan dirinya di seberang Hanum.
"Dia Mommy-nya Johan, Sayang," jelas Shiren sambil kembali berdiri. "Baiklah. Kurasa kalian butuh ruang untuk berbincang berdua. Aku tinggal dulu kalau begitu,"ujarnya lagi kemudian berlalu dari sana.
Halsey dan Hanum saling memandang kembali selepas perginya Shiren.
"Tidak perlu kaku begitu, Sayang. Anggap saja kita sudah sangat dekat sebelumnya," ujar Hanum tersenyum lembut.
Halsey mengangguk lalu balas tersenyum tipis. Senyum Wanita itu sangat mirip dengan Johan.
"Panggil Mommy saja jika kau tidak keberatan," ujar Hanum lagi.
Halsey terdiam beberapa saat. "Tentu ... Mom," balasnya terdengar kaku.
Hanum kembali tersenyum. "Mom ingin mengajakmu keluar sebentar jika kau bersedia. Bisa?"
"Aku akan bersiap," balas Halsey kemudian beranjak berdiri dan berbalik pergi.
Hanum hanya memandanginya dengan tenang. Benar kata Johan. Gadis itu memang sangat cantik dan menarik dari segi kepribadiannya.
Beberapa lama berlalu, Halsey sudah tampak muncul dari balik tangga. Mereka memutuskan untuk berpamitan pada Shiren lebih dulu, hingga kini, mobil Hanum telah membawa keduanya meninggalkan pelataran rumah mewah keluarga Bamatara.
"Johan benar, ya. Kau memang cantik, " ujar Hanum memecah hening.
Halsey meliriknya kemudian tersenyum tipis. "Terima kasih."
"Johan banyak sekali bercerita tentangmu, Sayang."
"Benarkah?"
Hanum mengangguk mantap. "Benar, Hale. Dia sepertinya benar-benar jatuh cinta."
Halsey tak tahu bagaimana menanggapi selain tersenyum tipis, itu pun masih terkesan tak ikhlas. Sejujurnya, rasa kesal yang bergejolak dalam dirinya masih menyembul kembali jika mendengar nama Johan disebut. Terlalu menyebalkan.
Tapi ... bagaimanapun, ia harus tetap berusaha menyembunyikannya di hadapan Hanum. Entah dengan kemungkinan-kemungkinan buruk bahwa ia bisa kelepasan menampakkan benci nantinya.
Hanum membelokkan mobilnya di pelataran sebuah taman yang sore itu tidak begitu ramai.
"Sebenarnya kita bisa berbincang di cafe, sayangnya Mom takut menangis lalu menarik perhatian banyak orang di sana. Maafkan, ya, Sayang," ujar Hanum sembari keluar dari mobilnya, disusul Halsey.
"Tidak apa, Mom. Aku juga tidak begitu suka tempat ramai," balas Halsey.
Mereka lalu memilih duduk di kursi taman. Halsey tampak terdiam seraya melihat sekitar, sedangkan Hanum tengah memandangi Gadis itu dengan senyum haru juga matanya yang sudah tampak menggenang.
"Eum ... Mom? Kenapa menangis?"
❀❀❀