
"Selamat makan, Cantik!"
Sudah ia duga, bahwa semuanya hanya akan berjalan seburuk ini. Harus berada di tempat ramai, sekaligus juga bersama Pria genit yang alay. Sempurna sudah penderitaan Halsey.
"Apa kau merasa risih berada di tempat ramai, Hale?"
Halsey menghentikan kunyahannya sebentar. Melirik Johan sekilas, tanpa niat memberi jawaban sama sekali.
"Maafkan aku, tapi lain kali ... ini tidak akan terulang."
Mereka kembali makan dalam keadaan senyap hingga selesai. Sembari menunggu Johan menyelesaikan tagihan, Halsey melirik arloji di tangan kirinya beberapa kali seolah meminta waktu untuk berjalan lebih cepat lagi.
"Ini masih 18.45, Hale. Aku tidak akan membiarkanmu jauh dariku hanya karena telat pulang," ujar Johan tiba-tiba.
Halsey hanya melirik sekilas, bahkan langsung berjalan mendahuluinya hanya karena tak ingin terlihat bersama. Terlebih setelah Gadis itu kini telah duduk sempurna di jok belakang, membuat Johan yang tadinya hanya terkekeh, langsung berganti menggeleng saking tak percayanya. "Duduk di jok depan saja, ya?" bujuknya lembut.
"Memangnya ada masalah jika aku duduk di sini? Ada larangan?!" tanya Halsey ketus.
"Duduk di depan saja, Hale," bujuk Johan lagi, masih dengan nada lembut suaranya yang tak berubah.
"Tidak."
"Hale ...."
"Biarkan aku di sini saja!"
"Tidak. Kau harus duduk di dep-"
"Menyingkir, deh! Ini pertama dan terakhir kalinya aku pergi denganmu, ya. Seharian ini kau benar-benar hanya membuatku sebal!" omel Halsey seraya bergegas keluar dari mobil dan kembali mendaratkan bokongnya di jok depan.
Johan terkekeh pelan. Merasa geli saja mendengar Halsey berbicara panjang-panjang seperti tadi.
Setelahnya, ia lalu ikut mengitari mobilnya kemudian duduk di jok kemudi. Melajukan mobilnya perlahan, hingga berhasil meninggalkan pelataran restoran tadi.
Sepanjang perjalan tak pernah terjadi perbincangan. Halsey sedari tadi sibuk melempar pandangannya keluar jendela mobil meski sadar sekali bahwa Johan sudah melirik ke arahnya beberapa kali.
"Hale? Kau marah, ya?"
"...."
Johan memijat pelipisnya pusing. Mengapa begitu sulit melelehkan Gadis es di sampingnya itu, sih?
"Bagaimana jika kita membeli eskrim? Aku tahu kau menyukainya." Ia berusaha menawarkan.
"...."
"Hale?"
"Tentu saja!"
Johan tersenyum puas sembari mulai menepikan mobilnya. Ya, ampun! Ini kesempatan emas!
Setelah benar-benar berhenti, Halsey langsung keluar lebih dulu tanpa mau menunggu Jogan membukakan pintu. Memang tak pernah berniat melakukannya juga, sebab ia tahu bahwa Halsey bukan type Gadis manja yang suka dengan hal-hal lebay begitu.
Setelah berhasil tiba di dalam, Johan lekas memesan eksrim, dengan Halsey yang berdiri tepat di belakang tubuhnya.
"Rasa vanilla, strawberry, chocolate untuk Pacarku yang manis ini, dan satunya lagi, rasa vanilla saja."
Halsey sontak mendongak.
Pacar?
Selain lancang dan kurang ajar, Pria ini juga ternyata menjijikkan.
Setelah pesanan mereka selesai, Johan lalu menuntunnya duduk di sebuah kursi beserta meja yang disediakan khusus untuk para pengunjung. Halsey mulai mencicipi eskrimnya tenang sambil sesekali melirik jam, sementara Johan yang mendapati itu mulai tersenyum jahil dan melakukan sesuatu setelahnya.
Ia memperhatikan Halsey menikmati eskrimnya dengan sangat rapi dan tenang. Entah memang sudah pembawaan atau hanya ingin berusaha terlihat baik saja, jelasnya ia percaya bahwa Halsey adalah Gadis sederhana yang paling apa adanya.
"Berhenti memandangiku dan segera habiskan eskrimmu. Aku sangat lelah," sindir Halsey datar.
Johan tersadar dan langsung beralih menikmati eskrimnya lagi. "Boleh aku tahu jam tidurmu?"
"Berhenti menanyakan hal tak penting, deh, Johan! Aku ingin istrahat, jadi cep-"
"Beritahu saja, Hale."
"9.35 menit. Kau puas?!"
Johan berpikir sebentar lalu segera beranjak dari duduknya. "Aku sudah tak ingin. Ayo kita pulang."
***
Setelah beberapa lama, kini, Halsey bisa merasakan laju mobil Johan yang kian pelan hingga benar-benar berhenti. "Berikan ponselmu," ujarnya memerintah, bahkan tanpa niat melirik sedikit pun.
"Untuk apa?"
Halsey berpaling menatap Johan datar, seolah menampakkan jelas bahwa dirinya tengah berusaha keras menahan amarah yang hampir meledak. "Kau lupa perjanjian kita, ya?"
"Hm? Perjanjian apa?" tanya Johan lagi. "Ah, yang itu?" lanjutnya terkekeh. "Aku belum tua, jadi tentu saja aku ingat."
"Kalau begitu berikan ponselmu, Johan! Berhenti menunda waktuku!"
Johan melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya sekilas, kemudian berpindah menatap Halsey lagi. "Sekarang masih pukul 19.06 menit, Hale. Belum lewat, kan?"
Halsey mendengus kasar. "Aku sudah mengikuti puluhan olimpiade Matematika, Kimia, Fisika dan meraih banyak juara satu, lalu kau masih mau membodohiku, begitu?"
Johan langsung tertawa kecil, sangat tanpa dosa. "Aku sama sekali tak ada niat membodohi, Hale."
"Maksudmu?!" tanya Halsey dengan nada suara yang mulai meninggi.
Setelah menarik napas panjang, Johan mengubah posisi tubuhnya menghadap Halsey dengan senyum yang belum juga lenyap. "Sebelum pergi tadi, kau tidak pernah menentukan jam di mana kita mengambil patokan, bukan? Itu berarti, mengikuti jam tanganku juga tetap sah."
Baiklah.
Ini gila.
Tapi ..., bagaimana ... bagaimana bisa ia melupakan hal itu?!
Johan hanya bisa menahan tawa menyaksikan reaksi Halsey. Siapa suruh niat berlaku curang? Ia tahu, bahwa Halsey memang sengaja menerima tawarannya untuk mampir makan eskrim, hanya agar mereka bisa telat tiba di rumah. Karena tak ingin kalah, maka ia pun ikut berlaku curang dengan waktu di jam tangannya yang sengaja ia buat menjadi lebih lambat.
"Kau gila, ya?!"
"Aku memang tampan, terima kasih."
Halsey keluar dari mobil Johan dan berlalu begitu saja. Johan sendiri tidak ingin tetap tinggal, sebabnya, ia ikut keluar dari mobilnya kemudian mengekori langkah Halsey lagi.
"MENGAPA LAGI KAU MENGIKUTIKU, JOHAN?! HUH?! MENGAPA?!" Halsey sudah berteriak, tak sanggup lagi meredam amarahnya.
"Tentu saja untuk memastikan kau tiba di rumahmu dengan selamat. Ah! Sekaligus juga pamit dan mengucapkan terima kasih pada calon mertuaku karena telah menghadirkan Gadis cantik dan seunik diri-"
"AYAAAHHHHHH!"
Halsey langsung menghentikan langkahnya cepat. Berjongkok melepas high heels-nya kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Johan. Ia berharap Pria itu benar-benar lenyap saja agar hidupnya bisa kembali normal seperti dulu. Kehadirannya benar-benar menguras emosi!
Johan sendiri malah semakin terkekeh menyaksikan Halsey berlari sembari menenteng high heels-nya itu.
"Suatu saat kau akan merindukan Johan-mu yang menyebalkan ini, Hale."
Johan kembali mengejar langkah Halsey, tak peduli sama sekali jika Gadis itu bisa gila hanya karena dirinya.
❀❀❀