
Pak Nasrun baru saja meninggalkan kelas Halsey beberapa detik lalu, tapi para telah pelajar kembali ricuh berhambur menuju kantin.
Seperti biasa, Halsey akan meraih sebuah buku untuk ia baca saat di taman nanti, tak lupa pula menyertakan kotak bekal berisi roti yang sudah hampir setiap hari ia bawakan untuk Johan.
"Hale?!"
Johan sudah berdiri di hadapannya dengan raut wajah geram.
"Johan? Ada apa?"
Johan bungkam dengan kedua tangannya bertumpu di meja Halsey. Berusaha mengatur napasnya yang cukup terengah-engah, juga tatapan penuh amarahnya ia lemparkan pada Gadis di hadapannya. "Apa benar Fito berbuat leceh padamu kemarin?" Johan bertanya dengan nada tenang.
Halsey terdiam. Siapa pun yang mengatakan ini pada Johan, manusia itu benar-benar sialan. Jika sudah begini, pasti akan terjadi sebuah bencana besar. "Tidak ada."
Jemari Johan mengepal dengan wajahnya perlahan ia angkat memandang Halsey. "Jangan berbohong atau aku akan membawa Pria itu kemari dan membunuhnya di hadapanmu!"
Halsey masih dengan raut wajahnya yang sama. Sejak mengenal Johan, hanya sebanyak dua kali Pria itu pernah menampakkan amarah padanya. Pertama karena Malik, dan sekarang adalah Fito.
"JAWAB PERTANYAANKU, HALE!"
Halsey tersentak. Ia lalu menatap Johan dengan sorot kecewa kemudian berlalu dari sana tanpa mengatakan apa-apa.
Bagaimana bisa ia mengaku sebagai Pria sejati tapi masih membentak perempuan seperti itu?
Sementara Johan yang masih pada posisinya langsung menggeram kesal.
Brak!
Brak!
Beberapa meja dan kursi tak lagi pada tempatnya karena ulah Pria itu. Ia lalu berbalik kemudian berlalu dari sana dengan wajah memerah menahan amarah.
Beberapa gadis-gadis centil yang dilaluinya berbalik takut setelah merasakan aura tak baik dari seorang Johan. Mereka mengurungkan niat untuk melempar senyum apalagi hendak menyapa seperti biasa.
Kedatangan Johan membuat suasana ricuh kantin berbalik senyap. Ia lalu mengedarkan pandangannya ke setiap sudut dengan sorot tajam, berusaha menemukan sosok yang ia cari-cari, hingga akhirnya terhenti pada sekumpulan Pria yang kini juga terikut balas menatapnya.
Sosok yang dicarinya telah ia dapati, hingga tanpa menunda lagi, Johan langsung menarik kerah baju Fito lalu membanting Pria itu ke lantai kantin.
Setelah tubuh Fito terkunci hingga tak kuasa bergerak, Johan menarik wajah Pria itu untuk balas menatapnya.
"Gadis mana yang kau sebut sexy di taman kemarin?" tanyanya dengan nada tenang, penuh intimidasi.
"Lepaskan aku, Sialan!"
Para pelajar yang menyaksikan tak berani melerai atau mengadukan pada pihak Guru lagi. Meski selalu membuat masalah, tak sekali pun kasus Johan ditangani lebih lanjut. Entah karena sudah lelah atau bagaimana, jelasnya, mau diberi hukuman seberat apa pun, Johan juga tidak pernah jera.
"Jawab pertanyaanku atau aku benar-benar akan membunuhmu di sini sekarang juga." Johan masih mengancam dengan nada tenang, tak lupa juga kunciannya di tubuh Fito yang semakin ia eratkan.
"Aku hanya duduk di sampingnya tanpa mengatakan apa pun! Gadis itu saja yang melebih-lebihkan cerita, jadi lepaskan-"
Bugh!
Bugh!
Brugh!
Luka di wajahnya yang kemarin saja belum sembuh sama sekali, dan sekarang? Pukulan Johan benar-benar jauh lebih bertenaga dari Reyhan, jadi sekali saja Pria itu memukulinya lagi, mungkin ia benar-benar akan pingsan di tempatnya terkapar. "Kumohon cukup! Aku minta maaf telah mengatakan itu kemarin! Aku menyesal, maafkan dan lepaskan aku!"
Johan menghentikan kepalan tangannya di udara. Ia lalu menarik kerah baju Fito lebih kasar hingga kepala Pria itu ikut terangkat.
"Apa kau tahu betapa mahalnya Hale-ku? Dia bukan gadis murahan, Brengsek!"
Fito mengangguk keras.
"Katakan dengan keras bahwa Hale bukan gadis murahan!" bentak Johan penuh perintah.
"HALE BUKAN GADIS MURAHAN!"
Bugh!
"Kau kira siapa dirimu hingga lancang memanggilnya dengan sebutan Hale? Ulangi!"
"Lalu siapa namanya, SIALAN?! Aku tidak tahu!" teriak Fito terdengar frustrasi.
"Cepat ulangi!"
"Sialan kau, Johan! Siapa pun tolong beritahu aku nama gadis itu! Cepat, kumohon! Tulangku sudah hampir remuk!"
"HA-HALSEY!"
Bugh!
Setelah memberi pukulan penutup, Johan bangkit kemudian menuntun langkahnya meninggalkan area kantin. Ia harus menghampiri Hale-nya di taman sekarang juga sebelum jam istrahat berakhir.
Baru saja tiba di sana, ia sudah mendapati Halsey yang tampak tenang membaca buku. Wajah itu ... ia benar-benar suka. Bahkan rasanya ingin tetap berdiri di sana saja dan menikmatinya dari jauh, tapi ... ck! Mengapa harus dari jauh jika ia bisa menikmatinya dari dekat? Cantiknya bahkan bisa lebih nampak jelas.
Merasa Halsey belum menyadari hadirnya, Johan berjalan mendekat lalu mendudukkan dirinya di sisi kanan Gadis itu. "Sayang ...? Maafkan aku, ya?" rengeknya seraya menusuk-nusuk lengan Halsey dengan telunjuk.
Halsey awalnya tak menanggapi, tapi aktivitas gila Johan itu semakin lama malah semakin mengganggu saja.
"Ha-"
"Ck! Pindah! Kau membuatku geli!" bentak Halsey seraya menepis kasar tangan Johan lalu melempar tatapan tajam pada Pria itu.
Johan masih pada air wajahnya yang menggoda, sementara Halsey yang baru menyadari sesuatu dari Pria itu seketika berubah terdiam. "Apa yang baru saja kaulakukan?" tanyanya menyelidik.
Johan berpikir. Jika ia mengatakan baru saja menghajar Fito, Halsey pasti akan semakin marah. Tapi jika dipikirkan lagi, bukankah kemarahannya tadi melainkan karena Pria itu mengganggu Hale-nya? Sama sekali tak ada hubungannya dengan pengeroyokan hari itu.
"Aku habis merokok, Sayang. Ngomong-ngomong di mana rotiku?"
Halsey masih menatap Johan dengan mata memicing seolah tak percaya. "Aku tahu kau berbohong."
"Aku sudah lapar, Hale. Di mana rotiku?"
"Mengapa menanyakannya padaku?"
"Hale ...? Jam istrahat sudah hampir selesai."
"Lalu apa peduliku?"
Johan tersenyum nakal. Pria itu kemudian merebut buku di tangan Halsey lalu menyembunyikan langsung di belakang tubuhnya.
"Beri-"
"Aku sudah lapar, Sayang. Berikan rotiku, atau bibirmu yang akan jadi lahapan makan siangku."
Dengan mata membulat penuh amarah, Halsey baru hendak memukuli Johan namun kalah cepat oleh Pria Mesum itu yang lebih dulu menangkap tangannya. Terlebih setelah Johan sudah semakin mendekat, membuatnya terpaksa menahan napas, masih juga dengan matanya yang membulat kaget.
"J-Jo-Johaaaan?! Tidak mauuuu! Lepaskan aku atau kutendang 'itu'-mu!" teriaknya meronta dengan mata memejam keras.
Johan terkekeh geli.
"Johan cepat menjauh dariku, Johan! Rotinya ada di sini! Di sini! Di- di sebelah kiriku, iya!"
Johan semakin tersenyum geli menyaksikan raut panik Halsey yang menurutnya menggemaskan. "Aku sudah tidak butuh itu, Sayang. Aku sudah lebih nafsu dengan bibir-"
"AKU TIDAK MAIN-MAIN, YA! JIKA KAU TIDAK MUNDUR SEKARANG JUGA, AKU BERSUMPAH AKAN MENENDANG 'ITU'-MU HINGGA PATAH TAK BERBEN-"
"Buka matamu."
"Joh-"
"Buka matamu, Hale."
Halsey menelan salivanya lebih dulu kemudian membuka pejamannya perlahan.
Cup!
Johan mendaratkan kecupan dalam di keningnya kemudian mulai menjauh. Pria itu tampak sangat santai seolah perbuatannya bukan hal besar, sementara Halsey sendiri, Gadis itu bahkan masih pada posisi membekunya yang nyaris lagi tak bernapas.
"JOHAAAAAN?! KAU SIALAN! APA YANG KAULAKUKAN, JOHAN GILAA?! KAU TAHU PERBUATANMU ITU JAUH LEBIH LECEH DARI FITO!" Halsey semakin memukuli Johan keras dengan segenap tenaga perempuannya.
Sementara Johan sendiri, Pria itu bahkan hanya melindungi diri dengan kedua tangannya yang menyilang seraya terus tertawa.
Merasa lelah, Halsey mundur dengan napas terengah. Memukuli Johan hanya membuang-buang tenaganya saja, sebab Pria itu ... ia tak terlihat kesakitan sedikit pun. Padahal, tadi sudah pukulan paling bertenaganya yang ia kerahkan semua.
"Pria Mesum Sialan! Sinting!"
Sembari berusaha meredakan tawanya, Johan kembali menatap Halsey lembut dan mengacak-acak rambut Gadis itu pelan. "Jadi mau berikan rotiku, atau-"
"TUTUP MULUTMU!" potong Halsey berteriak seraya langsung mengulurkan kotak bekal berisi roti tadi pada Johan.
Johan meraihnya dengan senyum puas. Cepat ia membuka tutup kotak bekal tadi lalu segera mencomot sepotongnya.
❀❀❀