
"Gadis itu ..., Zara, akulah yang menghamilinya."
Halsey membeku di tempatnya. Sangat lama. "A-apa ...?"
"Dia hamil, dan aku tidak sudi bertanggung jawab," balas Sam tersenyum lebar. "Dan karena tak ada pilihan lain, makanya ****** itu mau menuruti tawaranku dan mengakui Johan sebagai pria yang telah menghamilinya."
"Aku untung berlipat-lipat, bukan? Bebas dari tanggung jawabku, sementara kau dan Johan juga berpisah."
Tangan Sam semakin turun saja, bahkan sudah sampai pada kancing ke tiga dari seragam Halsey.
"J-jadi ... bukan Johan yang menghamili gadis itu ...?" tanya Halsey lirih.
Sam mengangguk pelan.
"M-MENGAPA KAU BEGITU JAHAT, SAM?! HAH?!"
"Hahah! Aku memang jahat, Hale ...! Kaulah penyebabnya!" balas Sam terkekeh enteng. "Tapi jika itu denganmu ... aku janji akan tanggung jawab. Aku hanya akan mengakui anakku jika aku membuatnya denganmu, Sayang, jadi ...."
Halsey memberontak keras tatkala tangan Sam sudah benar-benar sampai pada kancing terakhir seragamnya. "S-SAM?! SADAR, SAM! Hiks, hiks. Kumohon, Sam ...! Jangan ... hiks, hiks ...."
Sam seolah tuli, bahkan kini ia sudah berhasil melepas seragam Halsey dari tubuh Gadis itu. "Jika aku tidak bisa memiliki ragamu, maka ... setidaknya ini. Aku akan jadi orang pertama yang merebut paksa keperaw-"
"Sadar, Sam ...! Kumohon jangan lakukan itu, hiks ...."
Dengan lembut yang penuh gairah, Sam menarik pelan bukaan tank top Halsey hingga perlahan menampakkan tali bra milik Gadis itu. Halsey semakin menggeleng. Terisak keras dengan matanya yang memejam tak rela. Ia tidak bisa apa-apa dengan posisinya yang diikat begitu, tapi ....
"Jangan, Sam! Sam?! SAM?! JANG-"
"Aku akan melepas kebatan tali ini, tapi kau harus janji tidak akan memberontak dan membiarkanku mengerjakanmu, mengerti?" sergah Sam tegas.
"KAU GILA, SAM! Hiks, hiks ...."
Sam terkekeh. "Kau tidak tahu nikmatnya menjadi gila karena cinta, Sayang ...! Andai saja kau mau menerimaku sejak tadi, maka ini tidak akan terja-"
"Jangan, Sam ...! Sam?! Kumohon jang-"
Krak!
"Sudah terlanjur!"
Tank top Halsey sudah robek sepenuhnya, menyisakan pemandangan bra milik Gadis itu.
"Kau benar-benar seksi, Sayang. Tidak sia-sia aku jadi gila karenamu," bisik Sam terkekeh puas. Cepat, ia mulai melepas kebatan tali di kaki Halsey hingga sebagiannya sudah berhasil terbuka.
Sementara Halsey, Gadis itu hanya bisa menangis keras. Demi apa pun, ia tidak akan pernah mau terima dengan kenyataan selanjutnya, tidak akan. Setelah Sam berhasil membuka seluruh kebatan di tangan dan kakinya itu, maka ia akan langsung melawan. Persetan jika kekuatannya tidak sebanding sama sekali, yang jelas ia harus melakukan perlawanan demi kehormatannya yang selama ini sangat ia jaga dan pertahankan.
"Jangan berani memberontak atau akan mengerjakanmu dengan kasar. Mengerti?" ancam Sam benar-benar serius.
"PERSETAN, BRENG*EK!"
"Menurut saja dan berusaha nikmati. Hanya dengan cara ini kita bisa bersama. Jadi setelahnya, kau akan hamil dan aku pasti bertanggung jawab."
Tanpa melepas kebatan tali di tangan Halsey, Sam langsung saja membopong tubuh Gadis itu dan membantingnya ke atas kasur.
Halsey baru saja hendak berusaha mengelak, tapi sayangnya, Sam sudah lebih dulu menariknya kemudian mengungkungnya di bawah tubuh. "LEPASKAN AKU, SAM! LEPASKAN! Hiks, hiks ...."
"Ssssttt!"
Halsey semakin memberontak keras. "AKU BERSUMPAH JOHAN AKAN MEMBUNUHMU JIKA DIA DATANG! JOHAN AKAN MEMBUNUHMU, BRENG*EK! AKU BERSUMP-"
"Tempat ini terpencil, Sayang. Lagi pula ia tidak mungkin bisa melawan empat orang pria yang saling membawa senjata di saku mereka. Teman-temanku sudah berjaga di luar, jadi itu berarti Johan harus rela mati jika bersikeras untuk masuk kemari," balas Sam terkekeh jahat.
"Aku mohon lepaskan aku, Sam ...! Sadarlah, hiks, hiks ...."
"Selamat menikmati, Sayangku."
Perlahan, Sam membelai rambut Halsey. Lembut. Penuh gairah. Semakin turun ke wajah Gadis itu, menyusuri lehernya pelan-pelan, bahkan sengaja menyentuh bra Halsey hingga tangannya sudah sampai di perut Gadis itu. Kekehannya terdengar. "Kau merinding, Sayang," bisiknya menggoda.
"Hentikan, Sam. Kumohon hentikan ...!" pinta Halsey memohon keras.
Tanpa niat mengindahkan, Sam malah membungkukkan tubuhnya perlahan. Beberapa saat, matanya memandangi sekujur tubuh Halsey dengan sorot lapar. Dengan sorot tidak tahan. Sampai-sampai tegukan salivanya terdengar mengisi kosongnya ruangan. "Hale ...?"
Sam mendekat pada Halsey, kemudian mengecup dalam pundak Gadis itu hingga menyisakan bercak-bercak merah. "Ini tanda bahwa kau adalah milikku, hm?"
"Hiks, Sam ...? Kumohon, jangan lakukan ini, Sam. Kumohon jangan ...," bisik Halsey semakin memelas. Matanya yang sudah basah benar-benar sarat akan ketidakrelaan. Gadis itu sudah terlihat sangat pasrah, tidak tahu akan berbuat apa.
"Maafkan aku." Sam mengusap lembut pipi Halsey dengan jemarinya. "Kau mau, kan, melakukan ini denganku? Kita harus melakukan ini, Hale. Hanya ini jalan satu-satunya. Hanya dengan cara ini kita bisa bersama, lalu kita akan menikah dan hidup bahagia. Kau mau, kan? Aku janji akan melepaskanmu, lalu kita akan membuat buah cinta kita atas dasar suka sama suka, hm?"
Setelah sekian detik lamanya terdiam, Halsey membuka pejaman. Balas menatap Sam dengan sorot tak terbaca, sebelum akhirnya ....
Gadis itu mengangguk mantap. "Tapi kau akan melepaskanku, kan?"
"Iya, Sayang. Aku tidak ingin menyakitimu. Aku tidak ingin kau semakin membenciku," balas Sam tersenyum.
"Iya, Sam. Aku juga mencintaimu. Aku akan melakukan ini denganmu."
Mendengar balasan itu, senyum Sam langsung mekar. Apalagi setelah mendapati jika Halsey juga turut tersenyum padanya. "Aku juga, Hale. Aku lebih mencintaimu." Dan Sam perlahan membungkukkan tubuh, hingga Halsey yang menyadari itu sontak memejam bersamaan dengan air matanya yang kian meleleh.
"Setidaknya, aku hanya memberikan yang pertama kali itu untukmu, Johan. Maafkan aku, hiks."
Cup!
Setelah merasakan bibir Sam sudah benar-benar bersentuhan dengan miliknya, Halsey diam-diam meraih pisau yang terselip di saku celana Pria itu. Menariknya pelan-pelan, sembari bibirnya yang perlahan ikut bergerak, membalas lumatan Sam.
Menjijikkan!
Halsey bersumpah akan mencuci bibirnya dengan segala jenis air suci jika ia berhasil menggenggam pisau itu, dan menancapkannya di punggung Sam tanpa belas kasihan.
"Iya, Sayang," balas Halsey pelan. Penuh kesan meyakinkan.
Demi apa ia benar-benar benci dengan dirinya sendiri?
Halsey bersumpah, setelah hari ini, ia akan memanggil Johan dengan sebutan sayang, bahkan hingga sejuta kali banyaknya dalam sehari. Ia tidak akan pernah memendam dan bersikap gengsi lagi. Ia berjanji.
"Tapi jangan mengkhianatiku, ya, Hale? Kau tahu aku akan bersikap nekat jika kau melakukan itu," bisik Sam lagi.
"Iya, Sam. Kau tahu aku sangat kecewa jika kau meragukanku seper-"
Brak!
Pintu terbuka, bersamaan dengan munculnya sosok Johan.
"BRENGSEK!"
BUGH!
BUGH!
BUGH!
BRAK!
"SIALAN KAU, SAM!"
BUGH!
BUGH!
Johan bangkit dari posisinya lagi. Setelah puas memukuli wajah Sam, ia kini berpindah menendang dan menginjak-injak tubuh Pria itu penuh dendam dan amarah.
Belum puas, ia kembali duduk di atas perut Sam kemudian memukuli wajah Pria itu lagi. Tanpa jeda, bahkan terlihat sangat membabi buta.
"J-Johan? Hiks ...."
Sontak, Johan menoleh pada Halsey dan langsung ternganga setelah mendapati kondisi Gadis itu. "H-Hale ...?!"
BUGH!
BUGH!
BUGH!
"KAU APAKAN DIA, SAM BRENGSEK? HAH?!"
"B*JINGAN!"
Johan langsung melepas seragamnya kemudian menggunakan benda itu untuk menutupi tubuh Halsey.
"Johan ...?!"
Johan merengkuh tubuh Halsey dalam dekapannya. Mengecup puncak kepala Gadis itu berkali-kali, dengan raut geramnya yang sama sekali belum terganti.
"Dia hampir menjamah tubuhku, Johan ...! Aku sudah kotor, hiks. Aku sudah kotor, Johan ...!"
"Tidak, Sayang. Tidak. Kumohon jangan pernah berkata begitu ...," bisik Johan lembut. Tangannya terus menarik Halsey bersandar di dada telanjangnya, kemudian lanjut mengecup puncak kepala Gadis itu lagi beberapa kali. "Maaf karena lama. Maafkan aku," bisiknya lagi.
"Hiks ... hiks. A-aku rindu, Johan ...."
Johan langsung menarik kepala Halsey hingga mendongak menatapnya. Mengusap pipi Gadis itu pelan, kemudian mengecup kedua kelopak matanya bergantian.
"Johan .... Hiks, hiks ...."
Netra Johan terhenti pada bercak kemerahan di pundak Halsey. Ia berusaha mengukir senyum, meski tak bisa mengelakkan rasa perih yang kini terasa menjalari sisi hatinya. "Tidak masalah, Sayang. Jangan menangis lagi, hm?"
Halsey mengangguk lemah masih dengan isakannya yang masih mengalun keras.
"Ayo, kita harus segera pulang. Aku gendong, ya?"
Halsey bergerak ke tepi ranjang, sementara Johan langsung bersimpuh di hadapannya. Tangannya langsung terulur merapikan seragamnya di tubuh Gadis itu. Memasangkan kancingnya dengan benar, kemudian bangkit berdiri lagi setelahnya.
Jleb!
Jleb!
Jleb!
Jleb!
"H-Hale ...?"
❀❀❀
**Hayo, itu kenapa kira-kira? 😱
Komen yang banyak, ya. Bebas, kok. Boleh marah-marah, ngomel-ngomel, atau bahkan maki-maki selama semuanya ditujukan buat Sam. 😂 Jangan buat Johan atau Hale, apalagi Author. Kenapa? Saya balas, nanti. 😌🤣
Oh iya. Mau di-up kapan, nih? Sekarang, hari ini juga, besok, lusa, minggu depan, bulan depan, atau tahun depan?
Yaudah, kasih target, gimana?
Jadi, sebelum jam 3 sore nanti komennya bisa nembus minimal 350, aku bakal up langsung. Tapi kalau lewat dari itu, berarti nunggu sampe jam 10 malam lagi. Oke, deal! :D
See u! 😗**