
Sudah seminggu berlalu, dan Johan benar-benar merasa tidak sabar lagi dengan hasil tesnya. Bagaimana tidak? Demi apa pun, ia sangat rindu dengan sosok Hale-nya yang dulu. Gadis itu kini berubah sangat dingin, bahkan benar-benar seperti saat mereka pertama kali dekat.
Tapi meski begitu, ia tetap berusaha memaklumi. Masih mending Halsey ingin memberinya waktu, terlebih jika mengingat bahwa ini merupakan kali kedua ia mengecewakan Gadis itu.
"Hale? Ayo, sini. Aku akan menyuapimu," bujuk Johan lagi, entah sudah ke berapa kian kalinya.
"Hale?"
"Aku sudah menolak berkali-kali," balas Halsey dingin. Pandangannya tetap fokus pada buku di tangannya, dan itu sudah sejak tadi. Tak sekali pun ia pernah sudi bahkan hanya sekedar balas menatap Johan.
"Tapi aku tidak mau ditolak!"
Hening.
"Hale? Ayolah. Kumohon jangan seperti ini terus," bujuk Johan lagi.
"Hale?"
"Hey, Sayang?"
"Hale?"
"Ya Allah, Hale? Berhenti mengabaikanku!"
"Ck! Berisik!" bentak Halsey kesal.
Menyaksikan itu, Johan hanya bisa merengut sebal sembari menggigit roti di tangannya malas. Sampai kapan mereka akan seperti ini? "Eh, Hale? Mau ke mana?" tanyanya cepat.
"Kembali ke kel-"
Dengan gesit, Johan bangkit dari duduknya kemudian langsung mengulurkan tangan pada Halsey. Ia bahkan tidak mau peduli lagi bahwa kotak bekal rotinya sudah terjatuh ke rumput begitu saja.
"Terima kasih, tapi aku bisa sendiri," balas Halsey dingin kemudian berlalu pergi begitu saja.
Johan merengut semakin sebal. Memandangi tangannya yang terabaikan, kemudian berbalik lagi dan memandangi punggung Halsey yang sudah mulai menjauh. "Kau jahat, Hale! Jahat!"
Dengan bibir yang mengerucut sebal, ia membungkuk meraih kotak bekal roti tadi kemudian menyusul langkah Halsey lagi. Andai Allah memberinya kekuatan untuk memutar waktu, maka sudah jelas ia takkan membiarkan semua ini terjadi. Ia tidak akan pernah mau menginjakkan kakinya di kelab, atau bahkan memajukan hari hingga tak perlu menunggu seperti sekarang lagi.
"Hale? Tunggu aku!"
Johan menyaksikan Halsey berbelok masuk ke kelasnya. Beberapa detik kemudian, seorang Pria tua dengan perut buncitnya juga ikut melangkah masuk. Wah. Timing yang pas!
"Sial! Argh!"
Dengan perasaan kesal yang menggebu-gebu, Johan pun memacu langkah menuju kelasnya. Mengapa, sih, ia tak punya kekuatan untuk bisa memutar waktu? HAH?!
"Siapa pun, tolong buatkan aku soal Matematika! Sekarang!"
Suasana kelas menjadi hening. Semuanya menoleh ke arah Johan, dan memandangi Pria itu dengan sorot bingung sekaligus geli.
"Kau mau apa?" tanya Tasha, Gadis imut yang sudah menyukai Johan setahun terakhir ini.
"Tasha? Tolong buatkan, ya. Tulis di sini saja," balas Johan sembari mengulurkan selembar kertas pada Tasha. Detik berikutnya, ia menghampiri Alan dan Reyhan yang kini tampak duduk di pojok ruangan.
"Kau mau apa dengan soal itu?" tanya Alan kemudian.
"Rahasia!" balas Johan sembari mulutnya yang mulai sibuk mengunyah permen karet.
***
Sesuai rencana, Johan kini telah berdiri tepat di hadapan kediaman keluarga Bamatara. Wajahnya terlihat bersemangat, begitupun juga kakinya yang melangkah lebar. "Assalamualaikum!" salamnya kemudian.
Setelah beberapa saat, muncul sosok Halsey dari balik juntaian tangga dengan sorot tatapannya yang terlihat kaget.
"Waalaikumsalam. Kau mau apa?"
Johan mengerucutkan bibir sebal. Bukannya disuruh masuk, malah diberi pertanyaan begitu dulu.
"Aku kesulitan mengerjakan tugas Matematika-ku, Hale. Kau bersedia membantuku, kan?"
Selain ini, tak ada jalan lain lagi. Halsey pasti menolak mentah-mentah jika ia nekat mengajak jalan-jalan. Jadi ... nikmati saja. Yang penting bersama Hale-nya, Matematika pun akan jadi hal yang menyenangkan.
"Ayo."
Johan langsung mengangguk senang, dan mengekori langkah Halsey yang agaknya akan berakhir di taman belakang rumah. "Terima kasih telah mengirimkan pacar yang genius, Ya Allah!" ujarnya berteriak. Anggap saja disengaja.
Halsey lalu mengambil tempat untuk duduk di bangku taman, diikuti Johan. Awalnya mereka duduk berdampingan, namun detik berikutnya, Halsey langsung bangkit berdiri kemudian mendaratkan bokongnya di bangku seberang Johan.
"Jahatnyaaaaa," gumam Johan menyindir.
Masih dengan wajah datarnya, Halsey merebut buku dan pulpen di tangan Johan kemudian mulai menuliskan jawaban.
Sementara Johan, ia menopang dagunya lesu. Memandangi wajah serius Halsey, dengan bibirnya yang terus mengerucut dan menggerutu kesal. Sampai kapan mereka akan tetap begini, sih? HUH?!
"Berhenti memandangiku dan dengarkan baik-baik agar kau mengerti." Halsey menyadarkan.
"Iya, Sayang. Aku akan perhatikan," balas Johan sembari menegapkan posisi tubuhnya.
Perlahan, Halsey menarik napas panjang kemudian mulai menjelaskan jawaban dari soal tadi pada Johan. Dan ... Johan? Salahkan angin saja, ya. Siapa suruh berhembus di saat-saat seperti ini? Rambut Halsey, kan, jadi beterbangan. Menambah kesan cantik di wajah Gadis itu, hingga ia harus terpesona dan berakhir gagal fokus saja. Belum lagi dengan bibirnya ya-
"Johan?! Kau mendengarkan, tidak, sih?!"
Johan tersentak kaget seolah baru tersadar dari pikirannya barusan. "Iya, Sayang. Ulangi lagi, ulangi lagi. Jangan terlalu cepat, ya."
Halsey menatap kesal beberapa saat kemudian berusaha untuk menjelaskan lagi dengan cara yang lebih pelan. "... jadi, di sini kita pindahkan ruas, sehingga hasilnya adalah ini. Mengerti, tidak?"
Dengan mulutnya yang berbentuk bulat, Johan mengangguk-angguk mengerti. Tidak, ya. Kecerdasan Pria mesum itu juga tidak bisa diragukan. Otaknya encer, bahkan lumayan, hanya saja, faktor malaslah yang membuatnya seperti itu. "Iya, Sayang. Aku sudah mengerti. Terima kasih."
Halsey mengangguk kemudian bangkit berdiri. "Kalau begitu silakan pulang. Aku harus mengerjakan sesuatu."
Lagi-lagi, Johan hanya bisa termangu menyaksikan Halsey sudah berlalu pergi. Mengapa ia begitu diperlakukan tidak hormat? Kalau sudah begini, maka keinginannya untuk bisa memutar waktu akan semakin menggebu-gebu.
Sementara di balik tirai, Halsey tampak mengintip Johan berjalan mendekat ke arah mobilnya. Kecewa? Jangan tanyakan lagi. Itu sudah jelas ia rasakan.
Ingin marah juga rasanya ... sulit. Hubungan mereka yang berubah merenggang tentu saja menyakitinya, tapi tak ada jalan lain. Ia hanya berusaha untuk berhenti terbiasa dengan kehadiran Johan, agar setelah waktunya tiba nanti, merelakan mungkin tak akan terasa sangat berat lagi.
Halsey berdehem sesaat sembari tangannya mengusap pipi pelan. Selanjutnya, ia berjalan dengan langkah gontai menuju kamar mandi, niat menunaikan salat asar guna menenangkan pikiran.
***
Setelah menunaikan salat isya dan membersihkan tubuh seperti biasa, kini Halsey tampak duduk di tepi kasurnya bersiap tidur. Ia merenung sesaat, entah apa. Tapi ... belakangan ini matanya kembali sulit terlelap.
Ponselnya yang terletak di atas nakas bergetar singkat. Halsey mengulurkan tangan, meraihnya pelan, kemudian memandangi isi pesan yang tertera di balik layar.
+62xxxxxxxxxxxx
Selamat tidur:)
21.35 PM
Johan mengganti nomor ponselnya, ya? Emojinya juga berubah kalem. Sangat tidak menggambarkan sosoknya yang sebenarnya.
Tidak ingin berpikir jauh, Halsey mengangkat bahu tak acuh kemudian meletakkan ponselnya kembali. Selanjutnya ia mulai merebah. Menarik selimutnya hingga dada, kemudian mematikan lampu kamarnya juga. Hm. Seperti yang sering Johan katakan.
❀❀❀