Johale'S Destiny

Johale'S Destiny
Hamparan Rumput Emas



Mobil Johan baru saja memasuki pelataran sekolah. Setelah memarkirkannya dengan benar, lekas ia bergerak keluar, begitupun Halsey. Keduanya menyusuri koridor sekolah dengan langkah beriringan.


"Ngomong-ngomong ... bagaimana keadaan Baila?"


Halsey menoleh sekilas. "Mereka sudah putus."


"Itu bagus."


"Tapi aku sangat merasa bersalah. Harusnya ... sejak awal saja aku mengatakan segalanya pada Baila. Seharusnya sebelum ia sudah terlalu cinta."


Johan tersenyum lembut dengan tangannya yang terulur membelai rambut Halsey. "Jangan seperti itu, Sayang. Aku yakin Baila bisa mendapatkan pria yang lebih baik dari sialan itu."


Halsey hanya mengangguk. Kini, mereka telah berhasil tiba di depan kelas Halsey.


"Nanti kujemput saat jam istirahat. Aku pergi dulu, ya."


"Jangan membolos lagi, Johan."


"Iya, Sayang. Tidak akan," balas Johan.


Halsey mengangguk dan mulai berbalik. Setelah menyaksikan Gadis itu duduk di kursinya, Johan ikut berbalik kemudian berlalu dari sana.


Tangannya kini tampak merogoh saku celana dan mengeluarkan sebuah ponsel dari sana.


Terdengar nada sambungan.


"Halo?"


"Apa kau sudah sampai?"


"Aku di rooftop. Kemarilah."


"Kita akan membolos?"


"Tentu saja. Memangnya apa lagi?"


"Baiklah. Tunggu aku di sana."


Johan memasukkan ponselnya ke dalam saku celana lagi sembari memacu langkah. Sepanjang perjalanan, ia membalas beberapa sapaan dengan senyum hangatnya, berusaha tetap menebar pesona.


Terkahir, kakinya berhasil menapak di lantai rooftop. Bisa ia dapati dua orang Pria duduk berdampingan sambil menjuntaikan kaki ke bawah dengan posisi memunggunginya.


"Aku tidak ingin ikut membolos dulu," ujar Johan sembari melangkah mendekat. Bokongnya ia daratkan tepat di sisi kanan Reyhan, dengan kakinya yang ikut ia juntaikan.


Alan dan Reyhan menoleh bersama.


"Kenapa?"


"Hale melarangku. Lagi pula, kita sudah hampir seminggu tidak pernah ikut pelajaran di kelas," balas Johan seraya mengeluarkan sebungkus rokok dari saku seragamnya. Ia mulai membakar gulungan tembakau tersebut kemudian menghisapnya pelan.


"Halsey benar-benar membawa perubahan banyak padamu, Johan," ujar Reyhan.


"Benar. Kau bahkan sudah melaksanakan salat hahaha!" timbrung Alan juga.


"Dasar sialan! Memangnya ada yang lucu?" tanya Johan ketus.


"Menurutku itu hebat," balas Reyhan santai.


Johan mengangguk. "Aku hanya berusaha memantaskan diri untuknya. Sudah cukup bibir dan junior-ku saja yang tidak suci lagi."


"Dasar bucin!" cibir Alan.


"Aku memang butuh cinta."


"Butuh cinta sekaligus budak cinta hahahaha!"


Bugh!


"Kurobek mulutmu baru tahu rasa, ya? kau!" teriak Johan kesal. "Aku doakan, setelah kau merasakan jatuh cinta, kau akan menjadi lebih parah dariku. Semoga kau jatuh cinta dengan gadis jelek hahahahah."


Alan hanya bisa menelan saliva berat sembari berdoa dalam hati agar doa Johan sialan itu tidak sampai diijabah. Sungguh itu terdengar sangat mengerikan.


Dirinya terlalu tampan, hiks.


***


Seperti biasa, Johan dan Halsey akan duduk berdua di bangku taman sembari menikmati roti yang setiap harinya tak pernah absen dibawakan Gadis itu.


Johan mengulurkan potongan roti di tangannya pada Halsey kemudian berbalik menggigitnya lagi.


"Johan?"


"Iya, Sayang?"


Halsey menyelesaikan kunyahan di mulutnya kemudian mendongak sedikit untuk menatap Johan. "Bisa aku bertanya?"


"Apa pun untukmu," balas Johan sembari mengulurkan potongan roti ke mulut Halsey lagi.


"Sudah berapa banyak kali kau berciuman?"


"Sudah berkali-kali."


"Kalau melakukan 'itu'?"


"Itu apa?"


"Aku tahu kau mengerti maksudku."


"Eum ... jelasnya sudah lebih dari dua kali."


Halsey hanya mengangguk-angguk sembari kembali membuka mulutnya.


"Kenapa? Apa kau jijik denganku?"


"Kalau kau saja bisa mencintaiku tanpa menuntut itu, mengapa aku tidak? Bukan hanya saling melengkapi, tapi cinta juga harus bisa berusaha saling menerima."


Johan menatap Halsey sendu. Selagi bisa, ia akan berusaha keras mempertahankan Gadis di hadapannya itu. "Aku mencintaimu, Hale."


Halsey hanya mengangguk.


"Oh, ya. Apa kau sudah merasa lebih mendingan?"


"Jika iya, aku berniat mengajakmu ke sebuah tempat sepulang sekolah nanti."


"Di mana?"


"Kau belum menjawab pertanyaanku, Sayang."


Halsey mengangguk. "Aku hanya merasakan sakit saat hari pertama dan kedua."


"Baiklah. Sepulang sekolah nanti, kita akan pergi ke sana. Ini." Johan kembali mengulurkan potongan roti ke mulut Halsey kemudian membantu Gadis itu minum.


"Apa kau ingin kuantar ke kelas sekarang?"


Halsey melirik arlojinya sekilas. "Jam istirahat masih berlangsung, Johan. Di kelas pasti sangat berisik."


"Baiklah. Kita duduk di sini dulu saja," ujar Johan sembari mengubah posisi duduknya menghadap ke depan. Ia menumpukan tubuhnya di sandaran kursi, sementara satu kakinya ia letakkan di atas kaki lainnya.


"Entah kenapa, akhir-akhir ini aku selalu memimpikan mommy datang dalam mimpiku."


Halsey menoleh kemudian menatap wajah Johan dari samping. "Apa dia terlihat bahagia?"


"Iya, bahkan sangat bahagia. Apa itu kebetulan, Hale?" tanya Johan balas menatap Halsey.


"Kau mungkin rindu atau terlalu sering memikirkannya."


"Aku merindukannya setiap saat. Memikirkannya juga setiap hari, sebelum aku akan tidur."


Halsey tersenyum lembut kemudian meraih dan membelai tangan besar Johan. "Mommy pasti bangga padamu, Johan. Jangan lupa untuk selalu mengirimkannya doa."


Johan mengangguk sembari menatap netra madu Halsey dalam-dalam. Jemarinya yang saling bertaut ia dekatkan ke bibir, mengecup dalam tangan Gadis itu dengan mata yang memejam.


"Ngomong-ngomong, bagaimana hubunganmu dengan daddy-mu?" Halsey kembali bertanya.


"Masih sama."


"Sama bagaimana?"


"Aku tidak pernah bertemu dengannya lagi sejak hari itu, Hale."


"Kau bukan apa-apa tanpanya, Johan. Berusahalah ikhlas. Jika kau menjadi dia, kau pasti akan melakukan hal yang sama. Maksudku ... kau akan memilih menikah dengan wanita yang kau cintai. Kau akan berusaha mencari bahagiamu juga."


Johan mendesah berat. "Tapi, Hale ... dia ... dia tak punya hati. Kematian mommy belum cukup seminggu, dan dia bahkan sudah menikah lagi."


"Bagaimana jika kau mencintaiku, tapi kau malah menikah bukan denganku?" tanya Halsey.


"Aku akan mencari segala cara agar tetap menikah denganmu. Tak ada yang berhak mengatur keputusanku, Hale," balas Johan semakin kukuh.


"Ini hanya perumpamaan, Johan. Posisikan dirimu sebagai dirinya. Jangan bersikap egois. Aku juga awalnya tidak begitu terima dengan keputusan ayah, tapi aku berusaha. Aku berusaha untuk tidak egois dan membiarkannya meraih bahagia. Semua orang berhak menentukan pilihan sendiri, begitupun daddy-mu."


"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Johan kemudian.


Halsey menatap Johan beberapa saat kemudian membelai tangan Pria itu lagi. "Datang padanya, Johan. Berusahalah berdamai."


Johan tampak berpikir. Beberapa saat setelahnya, ia mengangguk mantap kemudian menatap Halsey dengan senyum hangat. "Kalau begitu aku antar ke kelas sekarang, ya? Sebentar lagi jam istirahat akan berakhir."


Halsey mengangguk sembari ikut berdiri. Detik berikutnya, mereka telah berjalan beriringan dengan jemari yang masih saling bertaut.


***


"Johan ...."


Halsey termangu dengan pemandangan yang terpampang di hadapannya. Hamparan lapangan yang lumayan luas dengan beberapa pohon besar menjulang tinggi ke atas.


Daun-daunnya sudah berguguran, begitupun dengan rumput-rumput yang hampir seluruhnya berwarna keemasan. Mentari sore juga angin yang berhembus pelan membuat suasana terasa begitu hangat dan damai. Demi apa pun, ia benar-benar suka semua ini.


"Mengapa kau selalu saja hebat dalam hal begini?" tanyanya sembari mendongak menatap Johan.


Johan hanya tersenyum simpul. Tangannya terulur mengacak-acak rambut Halsey gemas, sungguh gemas dengan ekspresi takjub Gadis itu. "Ayo."


Keduanya mulai berjalan beriringan dengan tangan saling bertaut. Sebuah digital camera tampak menggantung di leher Johan.


"Hal paling indah adalah mencipta banyak kenangan dengan manusia kesukaannmu." Johan kembali berujar, hingga Halsey sontak menoleh dan mendongak.


"Manusia kesukaan?"


Johan mengangguk. Menarik Halsey mendekat, dan mendaratkan kecupan singkat di kening Gadis itu. "Hm. You're my favorite person."


Bugh!


"Kau semakin sering menciumku saja! Sana, menjauh!" bentak Halsey sembari mendorong tubuh Johan menjauh.


Johan terkekeh tanpa dosa. "Memangnya salah jika mencium pacarku sendiri?"


Halsey tak menanggapi. Gadis itu kini berlari ke arah sebuah ayunan kayu yang menggantung dari atas pohon.


"Jangan berlari, Hale! Kau bisa jatuh."


"Aku senang, Johan. Terima kasih!" balas Halsey setelah bokongnya terduduk sempurna di ayunan kayu. Tubuhnya mulai tampak melayang pelan.


Johan yang menyaksikan itu ikut tersenyum. Perlahan, ia mengangkat kamera digitalnya kemudian mengambil gambar Halsey tengah tersenyum lebar.


Harapannya benar-benar terwujud. Dulu, ia pernah berkata akan merasa sebagai Pria paling bahagia di bumi jika berhasil membuat Gadis dingin itu tersenyum. Tersenyum karenanya, tertawa sangat lebar.


"Bagaimana kau menunjukkan rasa terima kasih itu? Apa hanya diucapkan saja?" tanya Johan sembari ikut duduk di ayunan lain sebelah Halsey.


"Memangnya harus seperti apa lagi?"


"TIDAK! Jangan bilang kau minta dicium, ya. Aku akan lebih memilih tidak berterima kasih saja," lanjut Halsey cepat.


Johan terkekeh. Tangannya terulur pada Halsey, seolah meminta Gadis itu untuk ikut menyatukan jemarinya.


"Baiklah," balas Halsey sembari ikut mengulurkan tangannya, menyatukan jemarinya dengan milik Johan.


Setelah beberapa saat saling memandang, keduanya mulai menggerakkan ayunan masing-masing. Tubuh saling melayang, begitupun rambut yang ikut terbang karena terpaan angin.


"Hale?"


❀❀❀