Johale'S Destiny

Johale'S Destiny
Mawar Putih



"Alan! Rey! Cepat, bangun!"


Alan tampak semakin mengeratkan gelungan tangannya di perut Reyhan seraya terus menggosok-gosokkan kepalanya di badan Pria itu, berusaha mencari posisi ternyamannya.


Plak!


"Bangun!"


"Ada apa, sih, subuh-subuh begini malah memukuli pantatku?!" tanya Alan kesal seraya mendudukkan dirinya dengan mata yang masih terpejam.


Johan menoyor kepala Pria itu gemas. "Ini sudah pukul 12 siang, Sayang! Cepat pulang ke rumah kalian masing-masing."


Reyhan ikut mendudukkan dirinya dengan mata yang masih memejam. "Ck! Apa sih masalahmu? Lagi pula ini Minggu, Johan. Kita masih sangat mengantuk!"


Reyhan menarik tubuh Alan kembali berbaring kemudian saling memeluk melanjutkan tidur.


Katakan saja jika kesadarannya belum terlalu pulih, sebab biasanya, ia sangat benci jika menyaksikan Alan dan Johan berbuat serupa.


"Sial! Kalian benar-benar terlihat seperti sepasang gay yang saling mencintai!" gumam Johan dengan ekspresi jijik, berusaha mengembalikan kalimat Reyhan.


Setelahnya, ia mendesah kemudian bangkit berdiri lalu berjalan menuju cermin besar di sudut dinding. "Baiklah. Lanjutkan tidur kalian. Aku akan mengajak Hale-ku jalan-jalan siang ini," ujarnya kemudian.


"Kau benar-benar melupakan kami semenjak mengenal Gadis itu, ya. Semalam saja kau bahkan tak mau ikut ke kelab," sahut Alan dengan suara serak.


"Ck! Memangnya kalian penting, apa?" Johan berbalik lagi. "Aku akan pergi. Seperti biasa, bersihkan kamarku ini, jangan habiskan makananku, dan jangan sampai kalian meminjam celana kolorku lagi! Assalamualaikum~"


Johan berlalu pergi kemudian menutup kembali pintu apartemennya. Setelah selesai, ia kembali memacu langkahnya hingga tiba di hadapan lift. Setelah pintu terbuka, ia segera melangkah masuk hingga pintu kembali tertutup dan lift mulai bergerak.


Setelah beberapa menit, lift mulai berhenti hingga pintu kembali terbuka. Johan melangkah keluar lalu segera menghampiri di mana mobilnya terparkir. Setelah bokongnya terduduk sempurna di jok kemudi, perlahan ia melajukan mobilnya hingga meninggalkan pelataran apartement.


Sekitar beberapa lama melaju, Johan menepikan mobilnya di pelataran sebuah toko aneka bunga. Ia lalu bergegas keluar dari mobilnya kemudian menghampiri toko bunga tadi.


"Ada yang bisa saya bantu?"


"Saya ingin mawar putih, tapi setangkai saja," balas Johan ramah.


Wanita tadi kembali dengan setangkai mawar putih sesuai pesanan Johan. Setelah menyelesaikan pembayaran, Johan mulai berbalik lalu berjalan kembali menghampiri mobilnya.


Bersamaan dengan bokongnya yang telah melekat sempurna di jok kemudi, ia meletakkan mawar putih tadi tepat di jok sampingnya dengan hati-hati.


Mobilnya telah kembali melaju membelah jalan yang siang itu tak terlalu padat. Setelah beberapa menit lamanya, laju mobil Johan kian melambat hingga benar-benar berhenti tepat di depan gerbang rumah mewah keluarga Bamatara.


Setelah meraih mawar putih tadi, ia langsung bergegas keluar dari mobil kemudian berjalan hingga tiba di pintu utama rumah.


"Assalamualaikum!"


Tak ada sahutan.


"Assalamu-"


"Waalaikumsalam." Seseroang terdengar menyahut, bersamaan dengan sosok Baila yang kemudian muncul.


"Johan? Masuklah."


Johan mengangguk lalu mengekori Baila hingga terduduk di sofa.


"Haruskah kubuatkan minuman?"


Johan terkekeh. Ia tahu makna tersirat dari ucapan Gadis di hadapannya itu. "Haha tidak perlu repot-repot."


"Sungguh Pria yang baik," balas Baila ikut terkekeh.


"Ngomong-ngomong di mana om Mahesa dan tante Shiren?" tanya Johan kemudian.


"Mereka sedang keluar bersama."


Johan mengangguk mengerti. "Aku izin membawa Hale jalan-jalan."


"Tentu saja. Aku panggilkan seben-"


"Eh, Baila!"


Niat Baila beranjak tertahan. "Kenapa?"


"Begini ... maksudku ... biarkan aku yang menghampiri Hale, tapi hanya sampai depan pintu kamarnya saja, kok."


Baila terdiam seraya mengamati Johan.


"Aku hanya ingin mengejutkannya. Itu pun jika kau tak keberatan," sambung Johan salah tingkah seraya menggaruk tengkuknya.


Baila kembali mendudukkan dirinya di sofa dengan satu kaki yang ia letakkan di atas kaki lainnya. "Baiklah. Tapi awas jika kau macam-macam," ancamnya dengan mata memicing.


Johan terkekeh. "Aku, sih, mau, tapi Hale-nya yang-  ya ... begitulah."


Baila ikut tertawa. "Ya, ya, Aku mengerti."


Johan bangkit diikuti Baila.


"Wah, romantis sekali. Apa Hale mengatakan padamu bahwa dia menyukai mawar putih?" tanya Baila tatkala mendapati setangkai mawar di tangan kanan Johan.


"Aku yang mencari tahu," balas Johan menyengir.


"Oh, astaga. Ya, sudah. Cepat naik sana!"


Johan tersenyum seraya mengangguk. Ia lalu berjalan menuju juntaian tangga, menyusuri anak-anaknya pelan, hingga kakinya mentok telah berpijak di lantai dua. Ia mengamati sekitarnya beberapa saat lebih dulu, hingga terakhir, manik matanya terjatuh pada sebidang pintu berbalut cat warna putih yang terletak tak jauh dari tangga.


Perlahan kakinya melangkah mendekat ke pintu tersebut, hingga ....


Tok!


Tok!


"Iya, sebentar," sahut Halsey dari dalam.


Ceklek!


"Selamat pagi, Sayang," sapa Johan menggoda dengan tangannya yang sudah terlurur di hadapan Halsey.


Halsey malah terdiam dengan tatapan bingungnya tertuju pada setangkai mawar putih di tangan Johan. "Ini sudah siang," balasnya kemudian. "Dan ... apa yang kaulakukan di sini?" tanyanya lagi.


Johan masih betah tersenyum. "Aku sudah rindu, Hale. Ini!" balasnya seraya semakin mendekatkan bunga mawar tadi pada Halsey.


Halsey menerimanya dengan senyum tipis.


Memandangi bunga di tangannya beberapa saat lalu berpindah menghirup baunya dalam. "Bagaimana kau bi- Oh, iya, aku lupa. Kau, kan, orang hebat."


Johan terkekeh seraya mengacak-acak surai hitam milik Halsey gemas. "Iya, Sayang. Sekarang ayo mulai bersiap, aku akan menunggumu di bawah," ujarnya kemudian.


"Bersiap untuk apa?"


"Mobil-mobil."


"Lagi?"


"Yep!"


Halsey mengangguk lalu melangkah mundur, bersiap menutup pintu kamarnya kembali.


"Ada apa?" tanyanya setelah mendapati Johan mendorong pintu agar tetap terbuka.


"Menunggumu di dalam juga tak masalah."


"Dasar sinting!"


Brak!


Johan terkekeh sendiri setelah Halsey menutup pintu kamarnya keras. Ia lalu berbalik kemudian berjalan menyusuri anak-anak tangga hingga tiba di lantai bawah.


"Apa Hale menerima ajakanmu?" tanya Baila sembari tetap asik menonton televisi.


"Tak ada yang sanggup menolakku," balas Johan santai seraya ikut mendudukkan dirinya di sofa seberang Baila.


"Ngomong-ngomong ... kalian berdua berpacaran, ya?" tanya Baila lagi.


"Iya, tapi nanti," balas Johan dengan tangannya yang menelusup masuk pada toples di pangkuan Baila.


"Kenapa?"


"Aku bahkan belum tahu bagaimana perasaan Hale padaku."


"Tapi itu bukan masalah. Yang terpenting adalah, dia sudah cukup membuka diri," lanjut Johan lagi.


Baila manggut-manggut mengerti. "Hale memang tidak sembarang dekat dengan Pria. Seingatku, hanya ada tiga Pria di bumi ini yang cukup dekat dengannya."


Wajah Johan berubah antusias. "Benarkah? Coba sebutkan."


Baila tampak menyelesaikan kunyahannya beberapa saat. "Dia adalah kau, ayah, dan-"


"Aku sudah selesai."


Keduanya menoleh dan mendapati Halsey telah selesai bersiap.


"Selalu cantik," gumam Johan dengan senyum lembutnya. Ia lalu bangkit dari duduk. "Baiklah. Kami pamit, Baila," ujarnya kemudian menyusul Halsey.


Keduanya lalu berjalan melampaui pintu utama rumah kemudian beriringan hingga tiba di sisi tubuh mobil Johan.


Setelah berhasil duduk di jok masing-masing, Johan perlahan melajukan mobilnya santai.


"Tempat seperti apa yang akan kita datangi?" tanya Halsey melirik Johan, seperti biasa.


"Kita akan pergi ke mall."


"Apa? Tapi ... aku tidak begitu nyaman dengan tempat ramai. Kau pasti tahu, bukan?"


Johan ikut menoleh. "Aku bersamamu, Hale. Tenang saja, oke?" bujuknya berusaha menenangkan.


"Kau tidak mengerti, Johan. Itu- sungguh, aku ...."


"Aku selalu di sini, Hale. Aku akan selalu berusaha memahami betapa pun sulitnya dirimu," balas Johan tersenyum lembut seraya meremas pelan jemari Halsey.


Sembari tetap fokus dengan kemudinya, Johan menyempatkan untuk membelai surai hitam Halsey dengan lembut. Gadis itu juga tampak membalas tatapannya dengan sorot bimbang, hingga detik berikutnya ia memalingkan wajah kemudian melempar pandangannya keluar jendela.


"Hale-"


"Apa kau sudah mulai salat?" potong Halsey setelah menoleh.


"Belum, Sayang. Aku berniat membeli buku panduan salat sekalian nanti," balas Johan.


Halsey mengangguk mengerti. Keduanya lalu saling larut dengan pikiran masing-masing, hingga terakhir, mobil Johan berbelok pada pelataran sebuah mall yang siang itu mulai tampak ramai. Setelah selesai memarkirkan mobilnya, mereka saling turun kemudian bertemu di bagian punggung mobil.


"Kau pasti bisa mengatasinya," ujar Johan seraya membelai rambut Halsey. "Aku akan menggenggam jemari-"


"Tidak, tidak perlu. Aku sudah sering dalam situasi ini," tolak Halsey dengan senyum tipis.


Johan mengangguk mengerti. Mereka lalu berjalan beriringan memasuki pintu utama mall dengan kondisi seperti biasa. Halsey dengan gaya jalan anggunnya, dan Johan dengan gaya jalannya yang cool-nya.


"Johan? Kau ingin membeli apa?" tanya Halsey seraya mendongak sekilas.


"Ayo membeli pakaian untukmu," balas Johan seraya langsung menggandeng tangan Halsey.


Tentu saja ia merasa risih, belum lagi saat mendapati beberapa orang di sekitarnya yang memperhatikan mereka. "Kurasa lebih baik tanpa bergandengan tangan, bukan?" sindir Halsey berbisik dengan gerakan menarik tangannya.


"Tentu saja, Sayang," balas Johan seraya menggetil pipi Halsey pelan.


❀❀❀