Johale'S Destiny

Johale'S Destiny
Zara



"Itu semua gara-gara kalian berdua!"


"Ya, ampun! Tidak perlu memaksakan, Alan! Hahahahahh!"


"Benar, benar. Kau mungkin memang penyuka sejenis, Sayang. Terima kenyataan saja, ya? Aku dan Rey tidak akan menjauhimu-"


Bugh!


Bugh!


"MASIH MAU BICARA SEPERTI TADI?! HAH?!"


Johan tetap betah terkekeh meski Alan kini telah mencengkeram erat kerah bajunya. Astaga! Siapa yang tidak akan tertawa jika tahu bahwa Alan dipukuli oleh seorang pria hanya karena kebiasaannya mencium pacar orang sembarangan?


"Aku sudah melakukan segala cara, Johan, Rey. Mengapa?! Aku bahkan mencium asal gadis cantik mana pun, sampai-sampai harus rela dipukuli hingga bonyok begini!" curhat Alan sembari kedua tangannya meremas kepala frustrasi.


Tapi, bukannya berusaha menghibur, Johan dan Reyhan malah semakin tertawa keras mendengar curhatan Alan. Johan bahkan sudah tertawa terpingkal-pingkal di lantai, tak peduli bahwa seragamnya bisa kotor setelah ini.


"Ayolah! Ini sama sekali tidak lucu ...!"


Berbeda dengan Johan, Reyhan tampaknya sudah lebih mendingan. Tawanya sudah mereda, meski air di sudut matanya masih tampak jelas.


"Johan? Rey? Kumohon bantu aku ...!" pinta Alan lagi eembari menatap Johan dan Reyhan bergantian dengan sorot memohon.


Sesaat ..., hening.


"Baiklah. Dengarkan aku." Reyhan mengubah posisinya menghadap Alan kemudian mulai menatap Pria itu serius. "Menurutku, kau hanya belum menemukan gadis yang tepat saja, kok. Mungkin nanti, makanya jangan putus asa dulu!"


"Iya, aku setuju. Dan juga ... jangan mencari gadis cantik yang sexy melulu! Mereka mungkin membuatmu bernafsu, tapi ... cinta tidak selalunya harus berlandaskan itu, Alan. Sesekali, cobalah untuk mencari gadis sederhana," timbrung Johan juga.


"Jadi kalian percaya bahwa aku bukan penyuka sejenis?!" tanya Alan dengan nada tak percaya. Penuh haru, astaga.


Johan dan Reyhan saling memandang beberapa saat kemudian mengangguk bersamaan.


"Kalau kau penyuka sejenis, harusnya sudah sejak lama kau memperkosaku dan Rey."


"Astaga. Aku jijik!" seru Reyhan cepat.


"Memangnya kau saja?!" balas Alan juga.


Johan terkekeh kemudian melirik jam tangannya sekilas. Detik berikutnya, ia lalu bangkit berdiri dan mulai melangkah menjauh. "Aku duluan, ya!"


Dengan gesit, Johan menyusuri anak-anak tangga menuju kelas Hale-nya. Kelas Gadis itu mungkin sudah berakhir, tapi jika belum, kan tinggal menunggu lagi.


Kebetulan hari ini adalah Jumat, makanya sekolah berakhir lebih cepat dari biasanya. Johan sudah berdiri di hadapan pintu kelas Halsey, dan mendapati Gadis itu tengah sibuk berdebat dengan cara bicaranya yang lancar dan sangat tepat. Astaga. Geniusnya benar-benar tampak.


"Baiklah, cukup. Diskusinya akan kita lanjutkan dipertemuan selanjutnya. Silakan disiapkan."


Satu-persatu, siswa-siswi di kelas Halsey bergegas keluar, begitu juga dengan Gadis itu.


"Apa kau butuh air?" tanya Johan kemudian.


Halsey menggeleng pelan.


"Bagaimana dengan kecupan?"


"Ssst!"


Johan terkekeh pelan sembari mulai menyesuaikan langkahnya dengan Halsey. Tangannya membelai rambut Gadis itu dari samping. Memainkannya pelan, agar tidak sampai berantakan.


"Apa kau membolos?" tanya Halsey melirik sekilas.


"Aku, kan, sudah berjanji tidak akan membolos lagi."


Halsey tersenyum lembut. "Kalau kau kesulitan mengerjakan tugas, jangan ragu bilang, ya. Aku mungkin bisa membantu."


"Iya, Sayang. Terima kasih."


Setelah tiba di parkiran, keduanya bergegas masuk ke mobil dan duduk di jok masing-masing. Perlahan, Johan mulai melajukan mobilnya hingga berhasil meninggalkan pelataran sekolah.


"Hari ini Jumat, bukan?" tanya Halsey kemudian.


"Hm. Aku akan mampir salat dulu di depan sana."


Setelah beberapa saat, Johan pun menepikan mobilnya hingga memasuki pelataran sebuah masjid yang siang itu sudah tampak ramai oleh kau adam. Halsey hanya menunggu di mobil, tentu saja, sementara Johan sudah sejak tadi berlalu pergi dari sana.


Sembari menunggu Johan kembali, Halsey menyibukkan dirinya dengan mempelajari buku resep makanan yang hari itu ia beli dengan Johan. Entah mengapa, tapi ia benar-benar merasa antusias untuk segera pandai memasak. Lain kali, ia mungkin harus membuat dua porsi jika ingin makan dengan Johan. Yang pedas untuknya, dan tidak pedas untuk pria mesum itu.


Setelah menyadari suasana yang kian ramai, Halsey mendongak menitikkan pandangannya ke arah pintu utama masjid. Beberapa orang sudah berhambur keluar, bahkan juga bisa ia dapati sosok Johan di sana. Pria itu tengah mengenakan sepatunya lagi, hingga beberapa saat kemudian, seorang wanita yang agaknya lebih tua beberapa tahun tampak menghampirinya. Mereka berbincang sesaat, dan setelah itu, wanita tadi juga mengekori Johan berjalan menuju mobil.


Halsey menarik napas panjang tatkala matanya menangkap sesuatu. Perasaannya sudah tidak enak, tapi ia berharap bukan ini alasan mengapa dirinya sulit tidur belakangan ini.


"Hale?"


Dengan perasaan kaget, Halsey lekas menoleh kemudian balas menatap Johan. "I-iya?"


"Wanita itu ingin membicarakan sesuatu denganku, tapi aku menolak dan mengatakan ada urusan dulu," jelas Johan sembari tetap membiarkan pintu mobilnya terbuka.


"Bicara apa?"


"Tidak tahu juga."


"Kalau begitu antar aku pulang dulu."


"Tidak mungkin, Hale. Kau itu kekasihku!"


Halsey mendengus. "Memangnya kenapa? Kalian, kan, hanya perlu berbincang."


"Kalau kau tidak ikut, maka aku akan menolak saja."


Halsey mengangguk. "Baiklah. Tanyakan padanya dulu."


Johan bergegas keluar kemudian menghampiri wanita tadi. Mereka tampak berbincang lagi, hingga detik berikutnya, Johan menuntun mendekat ke arah mobil kemudian membukakan pintu untuk wanita itu.


"Kita akan berbincang di cafe saja," jelas Johan sembari mulai melajukan mobilnya.


Halsey terdiam tanpa sekali pun pernah menoleh ke belakang. Sepertinya ... ia harus mempersiapkan diri dari sekarang. "Aku harus kuat," batinnya.


"? Kau kenapa?"


"Tidak apa-apa."


Johan mengangguk mengerti. Hingga beberapa saat kemudian, mobilnya berbelok memasuki pelataran sebuah cafe. Ketiganya bergegas keluar, sementara Johan, ia langsung menjemput Halsey di muka mobil kemudian menggandeng tangan Gadis itu memasuki pintu utama cafe.


Setelah sampai di dalam, mereka memilih untuk duduk di kursi pojok. Selain karena suasananya lebih nyaman, sangat sedikit kemungkinan untuk pengunjung lain bisa mendengar perbincangan mereka.


Johan memetik jari sekali, hingga seorang waiter datang dan langsung menuliskan pesanannya. "Jadi ... apa yang akan kau katakan?" tanyanya kemudian.


Wanita itu berdehem. "Eum ... namaku Zara."


Johan mengangguk mengerti, sementara Halsey sejak tadi tetap betah membungkam.


"Jadi ... dia kekasihmu?" Zara menatap Halsey beberapa saat kemudian berpindah pada Johan lagi.


"A-apa?"


"Maaf? Bisa tolong langsung katakan tujuanmu?" sela Halsey dingin.


Bersamaan dengan itu, pesanan mereka sudah datang. Zara mengaduk minumannya gelisah, benar-benar tidak nyaman dengan tatapan intimidasi Halsey. Bukan intimidasi juga, tapi ... sorot tatapan Halsey memang sedang sangat dingin, sekarang.


"Zara? Ayo, katakan," timbrung Johan juga.


Zara menarik napas panjang kemudian mengangkat wajah dan menatap Johan dan Halsey bergantian. "Aku ... aku hanya ingin bilang, bahwa ...."


"Bahwa?"


"Bahwa ...." Zara meremas jemarinya erat dengan mata yang memejam tak kuat.


"Bahwa ap-"


"Bahwa aku hamil, dan Johan lah yang bertanggung jawab."


Halsey menarik napas banyak-banyak. Berusaha untuk tetap terlihat tenang, meski dadanya sudah sangat sesak setelah mendengar kebenarannya. Jadi ini alasan mengapa ia sulit tidur belakangan ini? Mungkin memang akan sukar diterima, tapi ... ia akan berusaha sekuat tenaga.


"A-apa?! Jangan bercanda, Zara!" Johan langsung bangkit dari duduknya, kemudian memandangi Zara yang hanya bisa menunduk dan memejam menangis. Ekspresinya sangat shock, bahkan terlihat murka saking tak percayanya.


"Jawab, Zara! Jangan diam saja!" bentak Johan lagi.


"I-iya, Johan .... hiks, hiks ...." Zara menggigit bibir bawahnya keras. "A-aku diusir dari rumah sejak kebenaran ini terungkap. Ayah memukuliku, dan ibu sama sekali tak ada niat untuk membelaku."


Johan kembali duduk sembari meremas kepalanya frustrasi. Mengapa ... mengapa semua itu terjadi? Mengapa dirinya benar-benar bodoh?! Huh?!


"Aku bukan seorang ******, Johan, Halsey .... Aku hanya Gadis polos yang ditinggalkan kekasihku karena selalu menolak ajakannya untuk bercinta ... hiks. Dia ... dia berselingkuh terang-terangan. Membuatku merasa sangat terhina hingga aku nekat datang ke kelab untuk pertama kalinya."


Halsey tetap diam pada posisinya. Tak melakukan pergerakan sama sekali, bahkan hanya untuk sekedar mengusap lelehan yang kian mengalir di kedua pipi mulusnya.


"A-aku kacau, bahkan langsung meneguk habis isi gelas yang kukira hanya air putih itu." Zara mengangkat wajahnya perlahan. Berpindah menatap Johan yang kini hanya bisa terduduk lesu, dengan pandangannya yang terlempar kosong ke lantai porselen. "Sampai akhirnya ... kau datang dan mengecupi punggungku hingga kita berakhir dengan keadaan yang sama-sama mabuk. Maafkan aku ... aku menyesal, hiks ... hiks ...."


"Hiks."


Persetan!


Halsey tetap saja memacu langkahnya lebih lebar hingga berhasil keluar dari cafe tadi. Hamil? Johan mungkin sangat jarang menyakitinya, tapi sekali begitu ... mengapa harus sesakit ini?!


"Hale? Dengarkan penjelasanku dulu, Hale!"


Halsey semakin memacu langkah, dan menghentak beberapa kali saat Johan niat mencekal pergelangan tangannya.


"Hale? Dengarkan dulu, Say-"


"Lepaskan, Johan. Hiks."


"Hale? Kumo-"


"LEPASKAN, JOHAN! Lepaskan ... hiks, hiks ...."


Johan langsung menarik tangan Halsey kemudian menuntun Gadis itu sedikit menjauh dari keramaian. Zara juga sejak tadi terus mengekori, bahkan sangat merasa bersalah menyaksikan betapa kacaunya Halsey sekarang. Sungguh, ia juga tidak tega, tapi ... harus bagaimana lagi? Tidak mungkin bayinya harus lahir tanpa seorang ayah, kan?


"Hale? Dengarkan aku dulu, Sayang. Kumohon ...."


Halsey memegang kedua tangan Johan yang kini sudah membingkai wajahnya. Berusaha untuk berhenti terisak, meski rasa sesak di dadanya sudah terasa sangat ingin meledak.


"Hale-"


"Dengar, Johan ... hiks. Kau ... kau harus tanggung jawab, mengerti? Kita lebih baik berakhir-"


"Kita masih harus membuktikan kebenarannya, Sayang. Kumohon jangan ...," potong Johan tidak terima.


"Kebenaran apa, Johan? Sudah jelas kau yang telah menghamili Wanita ini, kan?"


Johan menggeleng mantap. "Tes DNA. Kita harus melakukan tes DNA dulu."


Halsey berpindah menatap Zara beberapa saat kemudian kembali pada Johan lagi.


"Aku akan menyerah atas keputusanmu setelah hasilnya keluar. Tapi untuk sekarang ..., kumohon, Hale. Membangun hubungan kita tidak sesingkat seperti saat hendak memutuskannya!"


Halsey mengusap pipinya pelan kemudian berpindah menatap Zara lagi. "Berapa usia kandunganmu?"


"Sebelas minggu."


"Baiklah. Silakan lakukan tes DNA," ujar Halsey sembari mulai berbalik pergi.


"Hale? Aku akan mengantar-"


"Aku butuh waktu sendiri!" Halsey tetap memacu langkahnya begitu saja. Membiarkan lelehan-lelehan terus membasahi pipinya, tanpa mau mengindahkan tatapan-tatapan manusia-manusia yang ia lalui.


***


Me


Hasilnya akan keluar sekitar 14 hari lagi, Hale.


20.18 PM


Setelah mengklik 'send', Johan melemparkan ponselnya ke sembarang arah kemudian sibuk merenung lagi setelahnya.


Benar, ya.


Mempertahankan memang tak semudah memulai.


"Ayolah, Johan. Aku yakin kau bisa melewati ini," hibur Alan tulus sembari tangannya yang juga ikut menepuk bahu Johan sekali.


"Hm ...."


"Tapi, Johan. Masa, sih, secepat itu? Seingatku ... kau tidak sampai melakukan 'itu' saat aku dan Alan datang kemudian langsung memukulimu," celetuk Reyhan juga.


Johan menggeleng lesu. "Memang bukan yang itu ...," balasnya.


"Lalu yang mana?"


"Aku ingat melakukan itu dulu saat daddy memukuliku karena habis berkelahi lagi. Tepatnya mungkin saat mommy pulang." Johan kembali meremas kepalanya frustrasi. Ia ... ia benar-benar tidak mengerti akan jalan hidupnya yang terlalu banyak cobaan.


"Berapa usia kandungannya?" Reyhan kembali bertanya.


"Sebelas minggu."


"Johan?"


Johan mengangkat wajahnya lesu kemudian memandangi Reyhan dengan sorot bertanya.


"Ayo salat bersama!"


Senyumnya terbit begitu saja. Dalam hati, Johan sangat-sangat bersyukur karena masih memiliki Alan dan Reyhan dalam hidupnya. Merekalah yang selalu ada, tak peduli betapa pelik pun keadaan yang tengah menimpanya.


❀❀❀